Yang Penting Banyak
Beberapa hari yang lalu pembantu saya membuat teh seperti biasa. Hanya saja saat saya tuang ke dalam gelas dan mencicipinya, sama sekali tidak seperti biasa. Yang terasa di lidah hanya rasa manis tanpa aroma khas teh. Saya jadi tidak berselera. Padahal dia membuat teh itu nyaris satu teko penuh.
“Kebanyakan air kayaknya, Bunda,” katanya menjelaskan.
Saya hanya mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ingatan saya melayang pada sesuatu.
Dulu, saat saya masih di kampung, ada sebuah keluarga yang selalu mengutamakan banyaknya jumlah makanan ketimbang rasanya. Karena kondisi keuangan yang sulit sementara anggota keluarga tersebut cukup ramai, maka saat membeli makanan mereka harus mempertimbangkan dua hal tersebut.
Jika berbelanja ke pasar, yang mereka beli adalah makanan murah-murah agar bisa membeli dalam jumlah banyak seperti kerupuk misalnya. Jika membeli roti maka roti yang mereka beli adalah jenis roti bantal yang besar-besar yang memang berharga murah. Atau jika membeli sate, maka yang banyak adalah ketupat dan kuahnya, sementara dagingnya cukup satu tusuk perbungkus. Begitupun jika membeli cendol, yang banyak adalah airnya agar semua anggota keluarga bisa mencicipi.
Saya tersenyum mengingat semua itu. Karena sekarang keluarga tersebut sudah diberi rizki lebih oleh Allah. Mereka sudah bisa membeli makanan berdasarkan rasanya bukan lagi bergantung pada jumlah. Namun kenangan masa lalu yang penuh kesulitan itu tetaplah jadi kenangan yang indah bagi mereka karena pada saat itu, rasa kebersamaan sangatlah terasa. Dan itu tidak sebanding dengan rasa lezat sebuah makanan tentunya. (V)








