Ikatlah ilmu dengan menuliskannya!

Yang Mengharubiru

Written on 15 Desember 2008 – 06:39 | by Via |

Dulu, waktu SMP ada seorang teman perempuan yang bernama Yusra, seangkatan dengan saya namun beda kelas. Satu hal yang saya ingat betul, dia sering memandang saya diam-diam. Dan tiap kali kepergok, dia akan cepat-cepat mengalihkan pandangan. Terus-terang saja saya jadi tidak suka dengan perbuatanya itu meski saya tidak rugi apa-apa juga.

Mungkin karena masih SMP, saya kurang bisa menyikapi hal itu dengan dewasa. Saya malah membencinya dan itu diketahui oleh sebagian teman dekat saya. Sampai kami tamat SMP, saya tak kunjung tahu kenapa dia sering menatap saya diam-diam.

Ketika saya masuk SMA, tiba-tiba saya mendapat kabar bahwa Yusra sudah meninggal akibat sakit jantung. Saya terhenyak! Meninggal? Bayangan masa lalu katika di SMP pun berkelebat di benak saya. Tentang tatapannya yang aneh dan tentang rasa benci saya terhadapnya.

Duh, kenapa semuanya jadi begitu menyesakkan? Saya merasa bersalah meski saya juga tidak yakin bahwa dia tahu akan kebencian saya terhadap dirinya. Ah, kenapa saya tidak berpikir saja bahwa dia menatap saya mungkin karena saya mirip dengan orang yang disayanginya? Atau karena ingin bersahabat tapi tidak tahu caranya? Kenapa pikiran positif itu dulu tidak muncul hingga saya bisa melangkah mendekatinya dan mengulurkan tangan sambil menegurnya dengan senyum hangat, “Kenalan, yuk!”

Dan itu sudah jauh berlalu.

Slide berikutnya yang sering muncul di pikiran saya adalah sepupu saya, Esi, yang dulu tingga di Riau. Ketika dia datang ke Jakarta untuk mengobati penyakit kanker rahim yang ia derita, kondisinya sudah cukup parah. Tubuhnya sudah sangat kurus. Waktu itu dia sempat menunggu saya di rumah hingga sore. Katanya dia ingin bertemu saya. Namun saya tak kunjung pulang karena memang malam itu saya menginap di rumah teman.

Kata ibu saya, dia sampai tiduran di kamar saya karena capek menunggu. Jujur, jika ingat hal itu saya ingin menangis, menyesal karena tak menyempatkan diri menemuinya. Padahal dengan kondisinya yang sudah lemah itu, tentu cukup melelahkan menunggu berjam-jam. Apalagi saat itu dia juga membawa anaknya yang masih kecil. Dan kami benar-benar tidak jadi bertemu. Bahkan sampai ia balik lagi ke Riau dan meninggal di sana.

Dan itupun sudah lama berlalu, meninggalkan sesak tersendiri di dada.

Selanjutnya seorang teman, Arlen,  pernah datang ke rumah saya, menyampaikan salam dari seorang teman FLP Aceh, Diana Roswita. Salam itu belum sempat saya balas karena ternyata Diana sudah meninggal waktu bencana Tsunami melanda Aceh tahun 2006 kemarin. Dan salam itu baru saya terima sesudahnya.

Dan lagi-lagi semuanya sudah berlalu, menyisakan sebongkah haru yang membiru.

Ya, apapun rasa yang tertinggal dari peristiwa-peristiwa itu, saya tetap berharap Allah mengampuni kekhilafan saya dan menempatkan mereka-mereka itu di sisi-Nya secara layak. Amin. (V)

(Teriring doa dan cinta untuk Yusra, Esi dan Diana)

  • Share/Bookmark

Related Posts

Put your related posts code here

Post a Comment


Salam

Selamat datang di web pribadi saya! Semoga kita sama-sama mendapat manfaat darinya... More


Status YM

Internet Sehat

lencana


Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Find entries :