Untuk Yang Punya Balita; Seberapa Berhargakah Anak Anda?
Anak adalah cahaya mata, mutiara hati, belahan jiwa dan berbagai istilah mulia lainnya. Pokoknya anak itu adalah harta yang tak ternilai harganya dalam kehidupan kita. Tapi benarkah?
Saya ingat sebuah tayangan di TV beberapa waktu yang lalu. Ketika seorang bapak memukul anaknya karena anak itu dianggapnya nakal. Ia memukul dengan tujuan memberi pelajaran. “Kalau anak salah, membangkang dan durhaka, masa kita diamkan saja?” begitu alasannya. Pemukulan itu dianggapnya sebuah ‘pembelajaran’ bagi si anak.
Entah salahnya di mana, yang jelas sejak ‘pembelajaran’ itu, kondisi si anak jadi drop. Jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Barulah setelah ditahan polisi si bapak mengaku, “Saya khilaf. Saya emosi melihat dia menolak perintah saya. Kalau dibilangin suka membantah. Pokoknya saya sering dibuat jengkel karena kenakalannya.”
Tahukah anda, anak yang sedang kita bicarakan ini berusia kurang dari 5 tahun. Masih balita! Untuk anak balita, pelajaran apa sih yang bisa diterapkan dengan cara kekerasan? Sebuah kata-kata mutiara mengatakan; Anak yang dibesarkan dengan kekerasan akan tumbuh jadi pribadi pemberontak dan pendendam. Apakah pelajaran ini yang hendak ditanamkan si bapak tadi pada anaknya? Entahlah…
Ukur Usia dan Kemampuan Anak
Kita memang sering lupa mengukur kemampuan anak dengan keinginan kita, kita lupa menghitung usia anak dengan peraturan-peraturan yang kita terapkan. Padahal menurut seorang psikolog, cara paling baik dan paling efektif untuk mengajari anak balita adalah dengan memberi contoh dan teladan. Bukan dengan kata-kata verbal. Karena anak di usia tersebut sedang senang-senangnya meniru.
Karena lupa mengukur usia dan kemampuan anak tadi, kita jadi sering lepas kontrol saat menghadapi polah si kecil yang menurut kita menjengkelkan, pembangkang, nakal dan sebagainya itu. Padahal di sisi lain, kita malah lupa untuk mencari tahu penyebab kenapa ia bertingkah seperti itu.
Satu contoh, anak balita seringkali tidak menyadari kalau ia lapar. Akibat rasa lapar itu, ia jadi rewel. Yang ada kita langsung membentak dan ikut-ikutan tidak sadar kalau anak kita sedang lapar. Padahal sebenarnya kita lah yang pantas dibentak karena tidak menyiapkan dan menyuapi makannya.
Lebih Berharga Yang Mana?
Kita para orang tua yang mengakui bahwa anak adalah segalanya, seringkali bersikap berlebihan. Hanya karena air yang tumpah, piring yang pecah atau buku yang rusak akibat ‘ketidaksengajaan’ si anak, langsung emosi dan memarahinya. Padahal seberapa berharga sih benda-benda itu dibanding anak kita?
Atau untuk barang yang lebih berharga misalnya. Komputer kita diutak-atik sampai error, atau TV pecah akibat lemparan batu baterai dari tangan kecilnya. Jika kita tipe orang yang pendek akal tapi bertemperamen tinggi, anak yang masih lemah itu bisa saja babak belur kena hajar. Lalu, seberapa berharga sih komputer dan TV itu dibanding buah hati kita?
Padahal, jika yang melakukan perbuatan-perbuatan di atas adalah teman kita misalnya, saya yakin kita tidak akan langsung marah apalagi menghajarnya. Tapi perasaan ‘berkuasa’ atas diri si anak yang notabene kecil dan lemah, membuat para orang tua begitu leluasa meluapkan emosinya. Padahal lagi, justru pada anak sekecil dan selemah itulah kita harus ekstra menjaganya, baik dari cedera fisik ataupun cedera batin.
Dan naifnya, ketika si anak sudah tergeletak sakit tak berdaya (terlebih akibat perbuatan kita) yang ada justru penyesalan dan sepenggal kalimat tak berguna, “Ah, andai saja saya bisa menggantikan posisinya, biarlah saya yang menanggung semua sakitnya. Kalau perlu nyawanya akan saya gantikan dengan nyawa saya.”
Ya, karena memang di saat kita menyadari bahwa kita bisa kehilangan sosok mungil yang kita cintai itu, barulah kita merasakan betapa berharganya ia, betapa tak ternilainya ia. Bagaimana jika ternyata anak kita itu memang tidak lama hidup bersama kita? Bagaimana jika Allah mengambilnya dengan cepat? Tentu sangat menyedihkan jika kita mengisi kebersamaan yang singkat itu dengan kemarahan, emosi dan kekerasan, bukan?
Anak Adalah Amanah Allah
Mungkin saran berikut bisa membantu kita dalam mengontrol diri saat menghadapi si kecil. Ketika anda melihat anak anda melakukan perbuatan yang tidak anda sukai, maka janganlah cepat-cepat menghampirinya. Tahan diri anda, dan cukup memandangnya dari jarak yang tak terjangkau oleh tangan. Lalu telan ludah anda pelan-pelan, tarik napas dalam-dalam dan segeralah beristighfar seraya katakan pada diri anda, “Saya tidak akan melakukan hal-hal yang akan saya sesali nantinya!”
Makanya sangat bijak jika kita menanamkan pada diri kita bahwa anak bukan hanya harta tak ternilai, ia juga amanah yang dititipkan Allah pada kita. Setiap anak itu dilahirkan suci, maka kitalah yang akan memberi pengaruh dan didikan, kemana arah hidupnya kelak.
Dalam hal ini, yang dinilai Allah adalah usaha dan cara kita mendidik anak, bukan hasilnya kelak. Meski sebesar apapun usaha kita untuk menjadikannya baik, namun jika kelak ia ternyata jauh dari harapan, maka kita tak perlu menyesali karena tanggung jawab kita di hadapan Allah sudah selesai. Kita kan suka terbalik, amanah manusia dijaga sebaik mungkin, sementara amanah Allah seringkali diabaikan.
Nah, jika belum apa-apa kita sudah menyakiti hati dan fisiknya, pertanggungjawaban macam apakah yang akan kita persembahkan di hadapan Allah kelak? Anak yang belum tahu apa-apa, yang masih suci dan dijaminkan surga oleh Allah itu, sudah harus menerima perlakuan dan didikan yang tidak layak dari kita.
Saya sebagai seorang ibu, memang sering juga merasakan naiknya emosi ke ubun-ubun, terlebih ketika rasa lelah dan jenuh merongrong saya. Apalagi kedua anak saya masih balita. Kadang jika sedang lemah hati, saya malah menangis duluan sebelum amarah saya terluapkan. Tapi sebisa mungkin saya terus mencoba saran di atas. Ketika kemarahan saya terpantik saat melihat ulah anak saya, saya tahan diri sekuat mungkin untuk tidak mendekatinya. Kadang saya sengaja menjauh dari tempat itu untuk menghindari luapan emosi yang tak semestinya.
Sebab memang benar, jika kita langsung mendekatinya, sulit untuk tidak menjewer, mencubit atau memukulnya. Dan sebenarnya, kita memang hanya butuh waktu beberapa detik saja untuk menghindari ‘lonjakan’ emosi yang tak terkontrol itu, sebelum akhirnya akal sehat kita kembali pulih. Rasulullah juga mengatakan bahwa yang dikatakan sabar itu adalah ketika kita mampu mengendalikan diri di saat-saat awal kemarahan itu terpantik. Karena pada saat itulah orang seringkali hilang kesadaran dan lepas kontrol.
Dan saya juga merasakan, ketika saya kelepasan, ujung-ujungnya saya akan sangat menyesal dan tak jarang menangis sendiri karena merasa saya masih belum bisa jadi ibu yang baik dan amanah. Tapi saya akan terus mencoba dan mencoba, terus belajar dan belajar, untuk jadi ibu terbaik bagi mereka. Karena saya punya satu cita-cita; jadi idola bagi anak-anak saya! Amin. (V)
(Rekan-rekan sekalian, doakan saya ya…)








