Tiga Diva Mencari Arjuna
Kenapa Diva? Karena ketiga perempuan yang akan saya ceritakan ini memang memiliki kelebihan menonjol di bidang masing-masing. Mereka teman-teman saya, sudah cukup matang secara usia. Dan kini mereka sedang mencari pendamping hidupnya.
Teman yang pertama (C) memiliki kelebihan pada fisiknya. Tak hanya wajahnya yang cantik bak manohara, tapi bodynya juga sliming singset bak model catwalk. Pokoknya sekali mata memandang, rasanya ingin memandang terus. Karena itulah dia layak disebut Diva.
Teman yang kedua (P) memiliki otak yang encer dan pendidikan lumayan tinggi. Sedang menyelesaikan S3 di perguruan tinggi terkenal. Jadi diapun layak kita sebut Diva di bidang pendidikan bukan?
Terus teman ketiga (K) memiliki kemapanan global. Maksudnya? Dia tak hanya mapan secara pribadi, tapi ortu dan keluarga besarnya adalah orang-orang kaya semua. Pokoknya tajir habis! Jadi wajar toh kalau kita sebuat dia Diva di bidang kekayaan?
Meski berbeda versi, namun ketiga teman saya ini memiliki keluhan yang sama yaitu sulit menemukan pendamping hidup. Bukan karena mereka yang gak mau tapi justru calon-calonnya lah yang mengundurkan diri. Minder? Entahlah. Tapi sepertinya para calon itu menggumamkan hal yang sama, “Maaf, bukan kamu yang aku cari!”
Teman saya si C mengaku begini, “Dia sih nggak ngomong langsung, tapi dari info terpercaya aku dengar bahwa dia mengundurkan diri dari perjodohan kami lantaran khawatir akan kecantikan saya. Dia takut kelak jadi fitnah baginya. Takut perasaannya tidak nyaman karena saya digoda dan ditatapi banyak lelaki. Dia takut dengan rasa cemburunya kelak. Ada beberapa teman kantor yang berusaha mendekati aku, tapi dari pandangannya aja sudah ketahuan isi otaknya nafsu melulu, sebel!”
Dan teman saya si P dengan cerita yang sedikit berbeda, “Saya berpikir bahwa pendidikan tinggi ternyata bukan jaminan untuk mendapatkan jodoh dengan mudah. Ia malah membuat saya sering tersandung karena ternyata calon-calon yang pernah diajukan ke saya kebanyakan menolak karena enggan beristri terlalu pintar apalagi jika pendidikan mereka di bawah saya.”
Lalu teman saya si K juga menuturkan, “Kadang saya menyesal terlahir dalam keluarga kaya yang kemudian mengantarkan saya juga sebagai seorang pebisnis di usia yang masih muda. Karena ternyata kekayaan saya menjadi sesuatu yang menakutkan bagi setiap laki-laki yang hendak melamar saya. Mungkin dia takut keluarga saya tidak menghargainya hingga lebih memilih mundur. Ada juga yang merasa tidak sanggup mengikuti gaya hidup saya. Ada sih yang ngejar-ngejar, tapi keliatan banget dia cuma ngincar harta.”
Itulah yang dialami oleh tiga teman saya. Segala kelebihan mereka justru terasa bagai bumerang bagi perjalanan jodoh mereka. Di sisi lain mungkin banyak para wanita yang mengimpikan kecantikan, kepintaran dan kekayaan seperti mereka, tapi bagi tiga teman saya justru sebaliknya.
Mungkin di mata kita, para lelaki yang pernah mendekati mereka akan kita anggap sebagai lelaki pengecut. Masa untuk alasan yang tidak syar’i begitu mereka mundur? Benarkah begitu?
Mungkin tidak juga. Ada sisi-sisi yang mungkin sulit dipahami oleh kita kaum wanita, sisi yang kadang sengaja ditutupi oleh kaum lelaki. Kaum lelaki, sesungguhnya tak beda dengan perempuan dalam hal kebutuhan akan rasa nyaman. Bahkan mereka mungkin lebih membutuhkan rasa nyaman itu ketimbang kita kaum wanita yang lebih suka mengalah.
Ketika seorang laki-laki (yang biasa-biasa saja) harus menikah dengan seorang perempuan yang berbeda jauh dengannya, maka hal itu tentu akan mengusik rasa nyamannya. Seorang lelaki pada dasarnya menginginkan dirinya tetap ‘lebih’ dibanding istrinya, karena itulah yang akan membuat harga dirinya sebagai seorang kepala rumah tangga terasa afdhol dan eksis. Ia akan nyaman ketika posisinya benar-benar diakui.
Mereka akan merasa tidak nyaman ketika sepanjang hari harus mengkhawatirkan istrinya yang cantik harus dipandangi oleh banyak kaum laki-laki, belum lagi godaan-godaan yang kadang berlebihan. Sebagian suami mungkin bangga istrinya dikagumi oleh banyak mata lelaki, tapi seorang lelaki sejati justru tidak menyukai itu. Ia ingin istrinya aman dari semua itu dan tidak mau kecantikan istrinya menjadi fitnah bagi banyak orang.
Begitu pun ketika memiliki istri yang jauh lebih kaya dan pendidikan yang lebih tinggi. Misalnya ketika ia memberikan uang belanja kepada istrinya. Ratusan ribu rupiah yang diterima si istri dengan penuh syukur dan gembira karena memang sangat membutuhkannya, jauh lebih membanggakan seorang suami ketimbang jutaan rupiah yang diterima istrinya dengan biasa-biasa saja karena si istri sudah punya uang yang jauh lebih banyak.
Mungkin kejadian yang dialami teman-teman saya di atas bisa diantisipasi dengan meyakinkan si calon suami, bahwa kecantikan, kekayaan, dan kepintarannya bukanlah ‘ancaman’. Bagaimana caranya? Hanya dengan meyakinkan bahwa keimanan si wanita jauh melebihi kecantikan, kekayaan dan kepintarannya.
Nah, sekarang itulah yang sulit ditemukan, kecantikan, kekayaan dan kepintaran seseorang seringkali melebihi nilai keimanannya hingga sering pula kecantikan, kekayaan dan kepintarannya membuat ia tak cukup pandai menempatkan diri di hadapan suaminya yang hanya biasa-biasa saja. Jadi siapa yang salah ketika si calon itu berkata, “Maaf, bukan kamu yang aku cari!” (V)









1 Trackback(s)