Ikatlah ilmu dengan menuliskannya!

Termehek-mehek di Hari Minggu…

Senin, Januari 19th, 2009

termehekKemarin Minggu tanggal 18 Januari, saya dibuat termehek-mehek beneran menyaksikan tayangan reality show Termehek-mehek. Gak tau kenapa, saya suka menonton acara yang satu ini. Mungkin karena dibanding acara reality show lainnya, Termehek-mehek lebih realistis, gak tampak unsur rekayasanya, tapi penuh kejutan. Sejauh yang saya tonton, kisahnya selalu dramatis dan kadang malah tragis. Dan tayangan hari Minggu kemarin itu adalah yang terhebat menurut saya. Bagi yang nggak nonton dan nggak minat nonton acara semacam ini, boleh dong disimak dulu :-)

Hari itu yang jadi kliennya adalah seorang remaja cowok (sekitar 18-20 tahun) bernama Deni. Sosoknya agak kurus dengan wajah innocent. Dia minta dicarikan pacarnya yang bernama Dita. Katanya Dita sudah menghilang selama setahun tanpa kabar berita. Awalnya saya berpikir, idih cuma nyari pacar doang, gak seru ah! Tapi saya nonton terus. Soalnya dalam setiap tayangan Termehek-mehek ini selalu ada kejutan yang tidak diduga sebelumnya.

Maka dimulailah pencarian di hari pertama itu. Rumah yang mereka tuju adalah rumah sahabat Dita bernama A. Waktu sampai di sana, Deni tidak mau turun. Alasannya takut si A tidak mau memberikan informasi. Akhirnya Mandala dan Panda sebagai host acara ini turun berdua menemui A. Tidak banyak info yang mereka dapat, sebab A juga sudah lama tidak bertemu Dita.

Waktu Mandala dan Panda kembali ke mobil, A mengikutinya. Rupanya ia penasaran dengan klien Termehek-mehek. Saat melihat sosok Deni di dalam mobil, A langsung berteriak-teriak histeris sambil menyuruh tim Termehek-mehek segera membawa Deni pergi dari rumahnya. Hal itu membuat Mandala dan Panda curiga. Tapi waktu ditanya ke Deni ada masalah apa, Deni dengan wajah polosnya berkata, “Gue juga nggak ngerti ada apa. Gue nggak tahu apa-apa.”

Akhirnya pencarian dilanjutkan kembali. Kali ini ke tempat sahabat Dita yang lain, bernama B. Mandala dan Panda memaksa Deni untuk ikut menemui B di sanggar lukisnya. Meski awalnya menolak, akhirnya Deni mau juga turun. Tak beda dengan A, reaksi B juga langsung panik dan sambil menaiki tangga menuju lantai dua B bilang, “Cepat bawa dia pergi dari sini! Gue nggak mau punya urusan apapun sama dia!”

B bahkan tidak mau diajak bicara apapun oleh Mandala dan Panda. Alhasil tak ada informasi apapun yang mereka dapat. Lalu kemana lagi?

Keesokan harinya, Deni mengusulkan pergi ke tempat C, mantan pacar Dita. Karena tidak ada pilihan lain, mereka pun berangkat ke sana. C yang bertubuh lumayan besar, begitu melihat sosok Deni langsung bergegas masuk ke dalam. Wajahnya tak kalah tegang dibanding wajah A dan B tempo hari. Waktu ditanya oleh Mandala dan Panda ia hanya menjawab tidak mau berurusan dengan Deni. Dua teman C yang ada di luar berusaha mendorong Deni menjauhi tempat itu. Melihat reaksi orang-orang yang mereka temui terhadap Deni, Mandala dan Panda jadi curiga. Ada apa sebenarnya dengan Deni? Kok C yang bertubuh lebih besar saja begitu takutnya melihat sosok Deni yang kurus itu? Pasti ada apa-apanya nih!

“Dia itu Psiko!” seru C sebelum menutup pintu rapat-rapat. Psikopat? Masa sih?

Keesokan harinya, mereka sengaja mengatakan pada Deni bahwa hari ini tidak ada shooting pencarian. Soalnya Tim Termehek-mehek ingin menyelidiki dulu, ada apa sebenarnya. Orang yang ingin mereka temui adalah B, sahabat Dita yang punya sanggar lukis kemarin. Tapi B tidak ada di tempat, mereka hanya bisa bertemu temannya yang bernama D. Tapi D juga menolak begitu tahu yang dibicarakan adalah soal Dita dan Deni. D berkeras untuk pergi, tapi ditahan terus  oleh Mandala dan Panda dengan mengatakan bahwa Deni tidak ikut bersama mereka. Tapi D tetap tidak mau bicara. Mandala dan Panda berusaha membujuk. Hanya satu yang dikatakan oleh D sebelum buru-buru pergi, bahwa Dita itu adalah kakaknya Deni. Hah? Dia nyari pacar atau kakaknya sih? Atau kakak dijadikan pacar? Makin bingung, kan? Penasaran? Baca terus! (lagi…)

  • Share/Bookmark

Hilangnya Tas Maemunah

Rabu, Agustus 13th, 2008

media1Meski bukan penggemar sinetron, tapi kadangkala saya ikut juga menonton tayangan yang satu ini. Namun satu hal yang menjadi kebiasaan saya saat menonton sinetron adalah mengamati segala sesuatu dalam tayangan tersebut. Sejujurnya, kalau soal jalan cerita, sama sekali tidak menarik minat dan rasa penasaran saya. Biasa, kebanyakan sinetron kan ceritanya gampang ditebak dan juga sering mengada-ada alias dipaksakan.

Yang lebih menjadi ‘daya tarik’ buat saya justru kejanggalan-kejanggalan (saya menyebutnya keajaiban) yang banyak bertebaran dalam sinetron-sinetron tanah air tersebut. Kejanggalan yang juga banyak dirasakan oleh penonton-penonton lain tentunya. Setidaknya itu yang saya baca dalam rubrik Surat Pembaca di tabloid atau majalah. Simak saja di antaranya!

“Awalnya sih sinetron itu keliatan beda dan menarik ide ceritanya, tapi ternyata cuma di episode-episode awal saja, selanjutnya sudah sama saja dengan yang lainnya, perebutan cinta, sirik-sirikan, hasut, dendam, fitnah dan jalan cerita yang bertele-tele.”

“Sekarang sinetron kan sudah jadi produk industri, mutu sudah nggak penting, yang penting iklan. Ceritanya bisa melebar kemana-mana, eh ending-nya malah terkesan gampang banget. Apa penulis ceritanya sudah nggak bisa mengembangkan ide lagi? Atau karena striping, jadi nggak punya kesempatan untuk mikir?”

“Kok tempat kejadian dalam sinetron itu kayak gitu-gitu mulu, sih? Pohonnya yang itu-itu juga padahal dalam ceritanya lingkungan mereka beda. Masa tempat tinggal orang kaya dan orang miskin sama-sama kayak dikelilingi taman dan pohon yang sama? Ngarang banget, ya?”

Apapun komentar orang-orang, namun produksi toh jalan terus. Apalagi para pembuat sinetron itu yakin kok kalau mereka bekerja secara profesional, tidak mengabaikan kualitas dan pintar menyiasati kekurangan-kekurangan (yang pasti terjadi) pada sebuah sinetron kejar tayang. Jadi, yang suka silakan nonton, yang muak silakan minggir!

Saya pun begitu juga. Meski geleng-geleng kepala melihat ekspresi bintang sinetron saat marah (alis naik turun bergantian, bibir komat-kamit, sorot mata tajam melotot, dan ekspresi ini akan disorot cukup lama oleh kamera demi meyakinkan pemirsa tentunya, ‘begini loh kalau orang marah’), namun saya terus saja menonton, mengamati setiap detil tayangan yang banjir iklan itu.

Hingga suatu malam, saat menemani ibu saya menonton, tawa geli saya benar-benar tak bisa ditahan. Ada yang lucu? Tentu saja. Bahkan inilah yang saya sebut keajaiban itu. Bagaimana tidak, tokoh perempuan yang bernama Maemunah tiba-tiba kehilangan tasnya. Si Maemunah sendiri malah tak sadar akan hal itu, justru saya yang merasakan (melihat) kehilangan itu. Anehnya lagi, tas itu cuma hilang saat Maemunah di-shoot dari arah belakang. Saat di-shoot dari depan, tasnya nongol lagi di pundak. Apa tidak aneh bin ajaib?

Jadi, jika anda ingin melihat keajaiban lainnya, silakan temukan pada televisi anda! (V)

  • Share/Bookmark

Salam

Selamat datang di web pribadi saya! Semoga kita sama-sama mendapat manfaat darinya... More


Status YM

Internet Sehat

lencana


Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Find entries :