Kamis, Januari 29th, 2009
Konflik
Dalam sebuah cerita ada peralihan suatu keadaan menuju keadaan berikutnya. Dari peristiwa peralihan itulah bisa lahir konflik. Misalnya nih, ketika seseorang naik ke sebuah angkot, tiba-tiba kepalanya terbentur bagian atas pintu. Akibat benturan itu kepalanya jadi sakit, bengkak, infeksi dan seterusnya. Kondisi kepalanya yang sakit ini bisa menjadi konflik tersendiri bagi orang tersebut.
Konflik ini bisa berupa konflik fisik seperti contoh di atas, konflik batin dan konflik sosial. Bisa juga gabungan dari ketiganya.
Berikut beberapa macam peristiwa yang ikut membangun konflik:
1. Peristiwa Fungsional
Urutan-urutan peristiwa fungsional merupakan inti cerita sebuah karya fiksi. Dengan demikian, kehadiran peristiwa fungsional adalah suatu keharusan. Jika dihilangkan salah satunya, maka jalan cerita jadi tidak logis.
2. Peristiwa Selingan
Peristiwa ini hanya sebagai jeda yang akan membuat cerita jadi berfariasi dan menarik, namun ia tak mempengaruhi jalan cerita secara umum. Boleh dibilang kehadirannya hanya sebagai pemanis dan pelengkap.
3. Peristiwa Acuan
Ini adalah peristiwa yang berkaitan dengan suasana batin tokoh-tokoh yang ada dalam cerita. Penggambaran suasana batin ini akan membantu pembaca untuk melihat lebih luas isi cerita. Meski tidak menjadi penyebab terjadinya sebuah peristiwa, namun ia bisa menjadi acuan atau isyarat terhadap peristiwa yang akan berlangsung.
Trus bagaimana cara membangun konflik?
Semua peristiwa di atas merupakan langkah awal untuk menimbulkan konflik. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa konflik meliputi: konflik fisik, konflik batin dan konflik sosial. Ada juga konflik utama dan konflik tambahan. Konflik fisik adalah konflik yang menimpa diri tokoh dalam cerita. Misalnya si Tokoh mengalami sakit, kecelakaan, dan sebagainya. Lalu konflik sosial, merupakan konflik yang terjadi antara tokoh cerita dengan orang-orang di sekelilingnya. Misalnya pertentangan seseorang dengan adat di daerahnya, dengan lingkungan kerjanya dan sebagainya. Sementara konflik batin adalah konflik yang terjadi dalam jiwa si Tokoh berupa kesedihan, kekecewaan, sakit hati, dan sebagainya.
Ketiga macam konflik tersebut bisa saja terjadi pada diri satu orang tokoh atau lebih. Bisa pula terjadi dalam waktu yang bersamaan atau tidak. Ini tergantung pada bentuk bangunan konflik yang akan dibuat oleh penulis cerita. Namun kepiawaian penulis dalam menggabungkan ketiga jenis konflik diatas akan sangat menentukan menarik atau tidaknya sebuah cerita.
Dan boleh dikatakan bahwa membuat sebuah karya fiksi sesungguhnya adalah menciptakan kompleksitas konflik terhadap tokoh utama. Semakin kompleks sebuah konflik, maka pembaca akan semakin tertarik. Namun jangan lupa bahwa konflik yang berlebihan akan membuat sebuah cerita menjadi tidak logis. Maka di sini sangat diperlukan kejelian penulis dalam menyusun dan membangun konflik.
Klimaks
Ketika semua konflik sudah sampai pada tahap puncak, maka akan terjadilah klimaks dalam cerita. Pada saat klimaks, semua konflik akan diketahui muaranya, meski tak selalu bisa dipastikan ending-nya. Pada saat klimaks juga nasib tokoh utama akan ditentukan. Klimaks itu sendiri mungkin akan muncul lebih dari sekali, tergantung panjang pendeknya sebuah cerita.
Kita ambil contoh di atas tadi, setelah kepala si Tokoh tersebut mengalami infeksi parah yang memakan waktu lama, maka klimaksnya dia meninggal karena infeksinya sudah menjalar kemana-mana. Tragis banget ya, cuma gara-gara kejeduq pintu angkot, dia akhirnya meninggal. Pesan dari cerita ini adalah, hati-hati naik angkot, jangan lupa membungkuk, terutama kalau kamu berpostur lumayan tinggi, hehehe… (V)
Posted in mediAAksara | No Comments »
Jumat, Januari 23rd, 2009
Lagi-lagi bicara soal teori, nih. Tokoh adalah sentral dari sebuah cerita, dialah yang berperan penting dalam menghidupkan cerita. Tapi untuk bisa menghidupkan cerita, tentu si Tokoh ini juga perlu dihidupkan terlebih dahulu. Nah, dalam menulis cerita fiksi, ada beberapa teknik untuk bisa menghidupkan tokoh yang kita mainkan.
1. Teknik Uraian
Teknik ini bersifat langsung dan banyak digunakan penulis pada masa awal pertumbuhan karya sastra di tanah air. Di sini, tokoh-tokoh yang ada dalam sebuah cerpen digambarkan secara eksplisit melaui uraian, penjelasan dan pendeskripsian langsung hingga pembaca tak perlu bersusah payah mengidentikikasi sifat, bentuk, perasaan dan sebagainya. Cara ini juga terkesan sederhana dan ekonomis, namun kelemahannya, pembaca tidak dibiarkan aktif berimajinasi tentang tokoh yang ia baca. Cara ini juga dianggap tidak alami dan agak membodohi pembaca.
2. Teknik Dramatis.
Teknik ini bersifat tidak langsung, dimana para tokoh digambarkan perlahan-lahan sejalan dengan alur cerita. Penggambaran itu bisa melalui dialog, tindakan, gerak-gerik atau peristiwa yang dialami para tokoh. Cara ini terasa lebih alamiah dan memiliki hubungan dengan unsur-unsur pembangun cerita yang lain. Dalam hal ini, pembaca juga bisa bersikap aktif, kreatif dan imajinatif dalam memahami karakter para tokoh. Kelemahan cara ini adalah penggambaran yang tidak ekonomis tentang diri tokohnya. Cara ini memerlukan lebih banyak kalimat untuk menjelaskan.
Secara umum, penggabungan kedua teknik diatas, dapat dianggap lebih efektif dan mendekati nilai-nilai estetika.
Sebenarnya ada beberapa prinsip yang membuat karakter seorang tokoh menjadi semakin kuat dan mudah diingat oleh pembaca yaitu:
a. Prinsip Pengulangan
Prinsip ini akan memberikan gambaran tentang tokoh secara berulang-ulang. Misalnya pada bagian awal melalui dialog, pada bagian tengah melaui narasi dan pada bagian akhir melalui reaksi tokoh tersebut. Bahkan untuk cerita panjang sejenis novel, kesemua teknik tersebut diatas bisa saja digunakan untuk melukiskan karakter tokoh yang diciptakan.
b. Prinsip Pengumpulan
Prinsip ini memberikan gambaran tentang diri tokoh melalui pengumpulan informasi-informasi yang berceceran di sepanjang penceritaan dari awal sampai akhir. Di bagian akhir inilah akan semakin terlihat bagaimana karakter tokoh tersebut, karena semua jati dirinya telah terangkum secara utuh di depan pembaca.
c. Prinsip Kemiripan dan Pertentangan
Prinsip ini juga membantu menggambarkan jati diri tokoh dalam cerita. Seseorang yang memiliki kemiripan karakter dengan tokoh tersebut akan membuat karakter tokoh semakin mudah diingat. Begitu pula sebaliknya, seseorang yang memiliki pertentangan karakter dengan tokoh akan membuat karakter tokoh tersebut semakin kontras di hadapan pembaca.
Hal-hal lain yang bisa mendukung teknik penokohan ini adalah: Tingkah laku tokoh itu sendiri, pikiran dan perasaan si Tokoh , reaksi tokoh tersebut terhadap tokoh lain, reaksi tokoh lain terhadap tokoh itu sendiri, pelukisan latar di mana si Tokoh berada, pelukisan fisik si Tokoh dan masih banyak yang lainnya. (V)
Posted in mediAAksara | 2 Comments »
Senin, Januari 5th, 2009
Latar merupakan background sebuah cerita, tempat kejadian, daerah penuturan atau wilayah yang melingkupi sebuah cerita.
Latar ini bisa kita bedakan menjadi empat;
Latar Tempat
Latar tempat menggambarkan lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah cerita. Penggambaran latar tempat ini hendaklah tidak bertentangan dengan realita tempat yang bersangkutan, hingga pembaca (terutama yang mengenal tempat tersebut) menjadi tidak yakin dengan apa yang kita sampaikan. Kecuali kalau kita memang ingin menciptakan tempat yang benar-benar fiktif seperti novel saya, Bayangan Lenggini. Kok contohnya karya saya lagi, ya? Hehe biasa, demi menghindari resiko jika salah menyebutkan karya orang lain. Atau promosi? Ah, itu pastilah!
Latar Waktu
Latar Waktu menggambarkan kapan sebuah peristiwa itu terjadi. Dalam sebuah cerita sejarah, hal ini penting diperhatikan. Sebab waktu yang tidak konsisten akan menyebabkan rancunya sejarah itu sendiri. Latar waktu juga meliputi lamanya proses penceritaan. Nah, kalau ini contoh yang tepat adalah novel Titip Rindu Buat Ibu. Karya siapa? Ya pastinya Novia Syahidah dong, hihi… Itu kan novel. Cerpen? Ada kok cerpen yang menceritakan kisah si Tokoh dari lahir sampai meninggal, ada juga yang hanya menceritakan peristiwa selama satu malam, satu jam, bahkan bisa juga lebih singkat dari itu.
Latar Sosial
Latar sosial mencakup hal-hal yang berhubungan dengan kondisi tokoh atau masyarakat yang diceritakan dalam sebuah cerita. Termasuk di dalamnya adat istiadat, keyakinan, perilaku, budaya, dan sebagainya. Latar sosial sangat penting diketahui secara benar sebagaimana latar tempat, sebab hal ini berkaitan erat dengan nama, bahasa dan status tokoh dalam cerita.
Latar Emosional
Latar emosional lebih sering muncul saat membangun konflik, hingga ia memiliki peran yang sangat penting dalam sebuah cerita. Ada cerita yang secara keseluruhan hanya bercerita tentang konflik emosi seorang tokoh, hingga latar cerita pun total berupa emosi. Latar emosi ini biasanya terbaca melalui dialog-dialog, perenungan dan kecamuk perasaan si Tokoh.
Nah, kira-kira mana latar cerita yang kamu sukai, silakan pilih sendiri! (V)
Posted in mediAAksara | 2 Comments »
Minggu, Desember 28th, 2008
Alur atau plot dalam sebuah cerita memiliki pengertian yang cukup luas. Tapi kurang lebih pengertiannya adalah sebagai berikut:
Alur adalah jalan cerita yang memaparkan apa, bagaimana, dan mengapa sebuah cerita. Atau ringkasnya, alur itu adalah bentuk dari sebuah jalan cerita.
Hm, biar lebih paham dan tidak pusing, kita lihat saja bagaimana kaidah dalam pengaluran sebuah cerita.
Dalam pembangunan sebuah cerita yang memiliki kekuatan dalam pengaluran, sedikitnya ada 4 kaidah yang harus diperhatikan.
Kebolehjadian (Plausibility)
Sebuah cerita walaupun tidak masuk akal haruslah memiliki unsur kebolehjadian. Dalam artian, cerita tersebut memiliki nilai kebenaran untuk dirinya sendiri. Sebuah cerita dikatakan plausibel (memiliki logika) jika tokoh-tokohnya dan dunianya serta jalinan peristiwa-peristiwa yang dikemukakan mungkin saja dapat terjadi. Karena itu sebuah cerita haruslah memiliki sifat konsisten.
Tegangan (Suspense)
Sebuah cerita yang baik adalah cerita yang membuat pembacanya tidak berhenti membacanya sampai cerita itu selesai. Karena itu, cerita yang baik pastilah memiliki kadar suspense yang tinggi dan terjaga. Banyak yang beranggapan bahwa tegangan merupakan hal yang berhubungan dengan ketidaktahuan pembaca terhadap lanjutan cerita. Tetapi sebenarnya tegangan juga meliputi rasa empatik pembaca terhadap kelanjutan nasib si Tokoh.
Beberapa cara untuk membangun suspense:
- Dengan memberikan isyarat (foreshadowing)
- Dengan membangun empati pembaca terhadap tokoh
- Dengan menyimpan sebuah informasi penting dari pembaca dan mengungkapkannya di akhir cerita
Kejutan (Surprise)
Kejutan juga merupakan unsur yang membuat cerita menjadi menarik. Plot sebuah karya fiksi dikatakan memiliki kejutan jika sesuatu yang dikisahkan ditampilkan menyimpang atau bahkan bertentangan dengan harapan pembaca. Cerita-cerita detektif umumnya banyak mengandung unsur kejutan.
Untuk membangun kejutan ini, biasanya diceritakan dulu jalan cerita yang konvensional. Lalu kemudian dihapus dan dirubah jalan cerita itu sebesar 180 derajat. Perubahan itu bisa saja terjadi dalam alur, karakter, ending dan sebagainya.
Kesatuan (Fokus)
Keterpaduan antara alur, karakter, konflik dan unsur-unsur lainnya akan sangat membantu untuk mempertahankan cerita. Jika tidak ada keterkaitan peristiwa yang satu dengan yang lainnya, maka bangunan cerita akan rapuh dan tidak bulat. Dengan demikian, ketegangan akan sulit tercipta. Pembaca akan merasa mengambang dalam menghubungkan bagaimana satu peristiwa dengan peristiwa lainnya bisa terjadi.
Nah, berikut jenis-jenis Alur:
Alur Konfrontasional
Alur ini dapat diciptakan karena adanya konflik antar tokoh. Umumnya adalah Protagonis melawan Antagonis. Satu yang perlu ditekankan di sini adalah yang namanya tokoh itu tidak harus manusia. Ia bisa saja alam, kondisi sosial, dll.
Alur Non Konfrontasional
Alur ini disebut juga alur non konvensional. Alur ini biasanya berupa Biografi, Kisah Perjalanan, dsb
Alur Kombinasi
Merupakan paduan kedua alur sebelumnya.
Alur atau Plot memiliki kepadatan yang berbeda di setiap cerita. Tergantung pilihan penulisnya. Nah, kepadatan alur ini terbagi dua: Alur Padat (Cerita disajikan secara cepat) dan Alur Longgar (Cerita disajikan secara lambat).
Kalau berdasarkan urutan waktu, maka alur dibagi tiga; Alur Maju, Alur Mundur (flash-back) dan Alur Campuran
Trus, bagaimana cara membuat alur yang baik?
Dari Setting
Saya biasa membentuk alur dari latar (setting). Kondisi sosial dan budaya merupakan latar yang biasa biasa saya pilih dalam membangun alur cerita. Sebab saya menemukan kemudahan dengan cara seperti ini dibanding cara lain. Selain karena masalah budaya merupakan sumber yang tidak habis-habisnya untuk dieksplorasi, saya juga mendapat pengayaan wawasan.
Dari Tokoh
Ada beberapa penulis yang alur ceritanya lahir dari tokohnya sendiri. Mereka dalam menulis tidak pernah membuat kerangka dan menentukan ending ceritanya dari awal. Tetapi jalan cerita itu muncul dan mengalir bersamaan dengan proses penulisan. Inilah yang dimaksud dengan tokoh menemukan alurnya sendiri.
Josip Novakovich dalam bukunya Berguru kepada Sastrawan Dunia, memberikan rumus terbentuknya plot sbb: SETTING+TOKOH=PLOT
Dari Cerita Lain yang diparodikan
Cerita lain yang diparodikan biasanya dibuat sebagai latihan menulis. Ismail Marahimin (Dosen FIB UI) menerapkannya kepada mahasiswanya. Latihan memparodikan cerita lain selain melatih kemampuan pengeplotan, juga melatih kemampuan pengembangan tema.
Kira-kira demikian uraian soal ALUR. Cukup singkat, padat dan…bingung? Hehe, yang penting nulis aja, ini kan hanya teori. (V)
Posted in mediAAksara | 1 Comment »
Selasa, Desember 23rd, 2008
Sudut pandang secara sederhana dapat diartikan ‘posisi pengarang dalam tulisannya’. Kita bisa memerankan salah seorang tokoh (orang pertama), atau menceritakan tokoh-tokoh dalam cerita kepada pembaca, seolah-olah pembaca adalah salah satu tokohnya (orang kedua), atau dia hanya sebagai seorang pencerita (narator) yang tidak terlibat langsung dalam sebuah cerita yang dia tulis (orang lain).
1. Penulis sebagai orang pertama (Aku)
Penulis sebagai orang pertama mempunyai ikatan dengan apa yang dia tulis. Penulis bisa mengungkapkan secara teliti perasaan, sikap, cara bertutur, terlebih lagi peristiwa dan konflik yang terjadi sepanjang cerita, namun tentunya yang berhubungan langsung dengan tokoh ‘aku’ saja.
Kelebihannya, pembaca merasa terlibat langsung ke dalam nuansa tokoh ‘aku’ dan dapat menangkap inti cerita, dan yang lebih penting, kalau penulis piawai dalam bercerita maka pembaca akan merasakan emosi tokoh ‘aku’ dan merasa seolah-olah dia adalah tokoh ‘aku’ tersebut.
Kekurangannya, tokoh aku tidak tahu secara detil perasaan tokoh lain kecuali sekadar gambaran dan terkaan. Ia juga tidak leluasa mengungkapkan peristiwa yang tidak berhubungan dengan dirinya, kecuali melalui pemberitahuan dari tokoh lain. Jadi tokoh ‘aku’ mempunyai pengetahuan terbatas dan interaksi terbatas dengan tokoh lain dalam cerita.
Kita ambil contoh cerpen saya aja ya:
Aku memperhatikan ayah membongkar aqals yang kami tempati selama seminggu ini. Sementara ibu nampak sibuk membenahi peralatan dapur yang bertebaran di dekat aqals.
“Cepat sedikit, Omar! Matahari sudah tinggi!” seru ayah sambil mengikat kayu-kayu penyangga aqals yang telah selesai dibongkarnya. Aku menepuk-nepuk kepala unta di hadapanku agar cepat menghabiskan minumnya. Setelah binatang tersebut mengangkat kepalanya, cepat-cepat kuambil ember tempat minumnya dan menyerahkannya pada ibu.
“Ayah, sekarang kita akan kemana? Kita kan baru seminggu di sini,” kataku bingung. Aku memang tidak mengerti kenapa tiba-tiba ayah mengajak kami pindah padahal rumput di sekitar tempat ini masih cukup subur dan banyak untuk makanan domba-domba kami.
(Dikutip dari kumpulan cerpen Gadis Lembah Tsang Po)
2. Penulis Sebagai Orang Kedua
Sudut pandang yang satu ini agak jarang dipakai tapi sebenarnya sangat menarik karena kita memposisikan pembaca sebagai lawan bicara hingga pembaca bisa merasakan keterlibatannya dalam cerita yang kita bangun. Bahkan di sini pembaca lah yang jadi tokoh utamanya dan penulis sebagai orang kedua.
Berikut contoh penggalannya:
Sayang, aku tahu kau tidak suka dengan kedatanganku ini. Kedatangan yang hanya mengantarkan raut letih bercampur rindu ke hadapanmu. Tapi… seharusnya kau juga tahu bahwa tak ada tempat lain yang lebih kusukai selain di sini. Di sisimu. Mengusap dan membelai batu nisanmu yang telah mulai berlumut. Tahukah kau, Sayang, aku baru pulang kemarin dari Jakarta. Uh, Jakarta sangat pengap! Rasanya aku ingin tetap ada di kota kita yang sejuk ini. Kota yang telah merengkuh jasadmu dengan erat.
“Kenapa kau belum juga menikah, Dinda? Jangan biarkan usiamu berlalu sia-sia! Kau harus melupakan aku!”
Kau pasti akan mengatakan itu, kan? Meski jasadmu yang telah beku itu tak pernah mengucapkannya, namun aku tahu kau selalu mempertanyakan hal itu. Dan aku, sungguh benci mendengar pertanyaan yang satu itu. Kenapa kau tidak menanyakan tentang perasaan sayangku yang tak pernah pudar padamu? Kenapa tidak kau tanyakan tentang masa-masa indah kita dulu?
(Dikutup dari kumpulan cerpen Sepotong Kata Cinta)
3. Penulis sebagai orang lain
Penulis menceritakan tokoh ceritanya berikut dengan karakternya, peristiwa yang terjadi serta konfilik yang ada. Juga dapat menceritakan tokoh lain dalam waktu yang bersamaan, lengkap dengan karakter dan peristiwa yang menyertainya. Penulis bisa berlaku sebagai orang yang serba tahu, termasuk mengetahui pikiran dan isi hati tokoh cerita. Penulis juga bisa berlaku sebagai narator saja, sekadar menggambarkan apa yang tampak dari luar seperti gerak-gerik dan kata-kata tokoh cerita.
Kelebihannya, penulis dapat leluasa bercerita terhadap berbagai peristiwa, berbagai tokoh cerita, dan beragam konflik yang menyertai masing-masing tokoh dalam cerita. Kelemahannya (mungkin) penulis kurang leluasa mengekspresikan emosi dan perasaan tokohnya.
Contohnya nih:
Sudah dua hari Ranti pamit ke rumah orangtuanya di Bogor. Meninggalkan Awang seorang diri di rumah mereka yang mungil. Dan bagi Awang, ini adalah pengalaman teramat menyesakkan seumur hidupnya. Selama setahun ini ia telah terbiasa dengan keberadaan Ranti. Terbiasa dengan senyum manisnya, gelak candanya, juga segala perhatiannya.
Ia bahkan telah terbiasa dengan kecerewetan Ranti jika melihatnya telat makan atau kurang istirahat. Dan yang terpenting lagi, Ranti tak pernah mengeluh atau berwajah kecut atas gajinya yang tak seberapa, dan ia selalu tersenyum optimis menerima keadaan mereka yang memang masih sangat sederhana.
Ranti, perempuan itu kini sudah tak ada. Dan tiba-tiba Awang jadi begitu merindukannya. Rumah mungil mereka terasa sangat sepi tanpa kehadiran Ranti.
“Apakah aku memang terlalu egois? Hanya karena sepotong kata cinta itu aku harus kehilangan segala kebahagiaanku di rumah ini,” bisik hatinya bernada sesal.
(Dikutip dari kumpulan cerpen Sepotong Kata Cinta)
Nah kira-kira begitu sedikit teori tentang sudut pandang saat kita menulis sebuah cerita. (V)
Posted in mediAAksara | 4 Comments »
Jumat, Desember 19th, 2008
Nah, sekarang kita lanjutkan lagi pembicaraan mengenai TEMA.
Setelah kita memiliki banyak alternatif tema yang akan ditulis, langkah berikutnya adalah memilih tema mana yang paling menarik untuk ditulis. Setidaknya ada 4 Kriteria untuk itu:
-Baru
“Ah basi!” Komentar itu sering kita dengar dari orang yang baru selesai membaca sebuah cerita Hal ini karena ternyata banyak sekali cerita-cerita yang ‘itu-itu aja’. Contohnya : seorang begajulan, terlibat konflik, ikut ngaji, dapat hidayah trus tobat. Cerita ini sudah tidak menarik. Karena itu seorang penulis perlu melihat sesuatu dengan kacamata yang berbeda hingga sesuata yang biasa menjadi suatu hal yang baru.
-Aneh atau unik
Sesuatu yang aneh atau unik juga merupakan sebab cerita itu menjadi menarik. Sebab segala hal yang aneh atau unik selalu menjadi pusat perhatian orang banyak.
-Populer atau dekat dengan keseharian
Seorang pembaca cenderung untuk membaca bacaan yang berkaitan dengan dirinya atau setidaknya memiliki ikatan emosional dengan dirinya. Contohnya ketika kita dihadapkan dengan dua buah berita pembunuhan, maka kita cenderung untuk membaca berita yang terjadi di daerah kita. Hal ini mungkin yang menjadi penyebab redaksi memilih cerita yang berkaitan dengan moment-moment tertentu. Misalnya moment Lebaran, Hari Ibu dan sebagainya.
-Luar Biasa
Cerita-cerita yang berbeda dengan biasanya juga merupakan daya tarik tersendiri. Unsur tragis, dahsyat yang merupakan indikasi dari kejadian luar biasa pasti selalu menarik untuk disimak dan menimbulkan rasa penasaran.
Berikutnya kita kembangkan tema yang akan kita tuliskan menjadi tulisan yang baik. Ada dua cara untuk mengembangkan tema menjadi tulisan yang baik.
Menggunakan peta pikiran
Yaitu dengan menuliskan pokok-pokok pikiran pada selembar kertas yang kita tempelkan di dinding.
Menggunakan gaya penulisan bebas dan spontan
Kita bisa menulis apapun yang terlintas di kepala, langsung di komputer atau di atas kertas. Biarkan emosi dan pikiran anda bekerjasama untuk menyelesaikannya. Biasanya dalam kondisi ini emosi lebih dominan. Hingga tulisan jadi kurang terkontrol. Tapi jangan khawatir, hasil tulisan yang kurang di sana-sini itu bisa kok kita edit lagi setelah semua yang ada di kepala tertuangkan.
Jadi, kira-kira demikianlah uraian simpel tentang tema atau ide tulisan. Nanti kita bicarakan aspek lain dari teori kepenulisan ini. (V)
Posted in mediAAksara | No Comments »
Jumat, Desember 19th, 2008
Menulis teori kepenulisan di blog ini rasanya basi banget, deh. Tapi…mungkin basi bagi mereka yang sudah biasa menulis dan sering mendengar atau membaca teori-teori kepenulisan. Bagi mereka yang baru masuk ke dunia ini kayaknya tidak ada kata basi. Apalagi jika mereka tahu bahwa blog ini adalah milik seorang penulis (cieee…ehm!)
Oke, mulai edisi ini, saya akan coba selipkan postingan tentang teori kepenulisan di sini, meski gak detail, mudah-mudahan bisa jadi suluh kecil di kegelapan (hm…apalagi ini?) bagi calon penulis yang benar-benar masih gelap dengan dunia penuh kata dan imajinasi ini.
Yup! Kita mulai dengan TEMA dulu, ya…
Banyak penulis pemula yang bingung untuk memulai menulis. Padahal mereka memiliki semangat yang menggebu-gebu untuk menulis. Tetapi ketika mereka mulai duduk di depan komputer (ssst…ada yang masih pakai mesin tik gak? Jangan malu untuk ngaku ya!) tiba-tiba pikiran mereka menjadi blank. Bingung tidak tahu apa yang harus ditulis.
Novelis Claude Simone memberikan mantra untuk para penulis yang mengalami masalah ini, yaitu: “Tulislah apa yang kau ketahui”
Ya! Hanya itu! Tema merupakan gagasan atau ide pokok dari sebuah tulisan. Tema juga merupakan daya tarik atau daya pikat pertama dari sebuah tulisan.
Nah, sekarang gimana cara mencari dan mengumpulkan tema atau ide? Tentunya agar menjadi layak untuk ditulis. Dari mana ide itu didapat sehingga bisa diolah menjadi cerita yang baik?
Sebenarnya banyak cara atau tempat kita menemukan ide yang bisa digunakan untuk membangun cerita. diantaranya adalah
Pertama; Pengalaman Pribadi
Pengalaman pribadi, apalagi yang paling berkesan (termasuk riset) merupakan sumber ide yang bisa digunakan untuk membuat cerita. Novel NH Dini yang berjudul Pada Sebuah Kapal merupakan sebuah contoh. Begitu juga Balada si Roy-nya Gola Gong.
Ernest Hemingway menyulap pengalaman pribadinya sebagai serdadu dalam peperangan-peperangan yang pernah diikutinya menjadi sebuah karya monumental. Leo Tosloy menjadi pengarang terkenal setelah menulis triloginya, Childhood, Boyhood, Youth, yang mengambil pengalaman masa kecilnya sebagai bahan cerita.
Kedua; Pengalaman Orang Lain
Kita tentu sering mendengar curhat dari orang lain dengan masalahnya yang cukup pelik. Hal tersebut juga merupakan sumber ide yang cukup menarik untuk dituliskan menjadi sebuah cerita. Seperti kata William Faulkner yang menegaskan prinsipnya dalam memperoleh gagasan cerita, “Seorang seninam memang tidak bermoral dalam arti ia tidak segan-segan merampok, meminjam, meminta atau mencuri dari orang lain agar bisa berkarya.”
Ketiga; Imajinasi, Gagasan, Keinginan, Angan-angan, Impian
Secara umum diakui bahwa sebuah cerita merupakan hasil imajinasi. Harry Potter merupakan cerita yang mengedepankan imajinasi penulisnya. Cerita dan film-film kartun dan animasi merupakan contoh cerita yang kebanyakan bersumber dari angan-angan.
Keempat; Tokoh
Tokoh yang nyentrik dan khas juga merupakan sumber inspirasi yang tak pernah kering. Lupus-nya Hilman merupakan contoh real dari kategori ini. Si Doel Anak Betawi juga contoh populer lainnya.
Kelima; Setting
Suasana suatu tempat atau daerah juga merupakan sumber cerita yang bisa dikembangkan. Saya membuat novel Di Selubung Malam sepulangnya saya dari perjalanan ke Nusa Tenggara Barat. Masih banyak novel-novel lain yang idenya berangkat dari setting
Keenam; Cerita Rakyat
Kita tentu pernah mendengar cerita Malin Kundang, bagaimana sekiranya Malin Kundang ternyata tidak menolak ibunya saat bertemu? Tentu cerita ini akan jadi cerita yan.g baru meski terkesan kontraversi tapi selagi tidak mengandung unsur SARA dan pelecehan maka itu sah-sah saja.
Ketujuh; Judul Cerita Lain
Misalnya: dari Badai Pasti Berlalu, dapat saja kita membuat cerita dengan judul Bajaj Pasti Berlalu. Atau dari Anak Perawan di Sarang Penyamun menjadi Anak Penyamun di Sarang Perawan. Contoh terkini adalah buku Ayat Amat Cinta yang merupakan plesetan dari Ayat-Ayat Cinta.
Kedelapan; Sejarah
Banyak cerita rekaan yang bersumber dari sejarah, misalkan novel-novel Najib Kailani favorit saya, atau kebanyakan cerita-cerita Kho Ping Ho.
Kesembilan; Koran atau majalah
Berita kriminal dapat pula dijadikan sebuah cerita yang menarik. Misalkan tentang gadis yang diperkosa, dari berita itu dapat pula dikembangkan menjadi cerita tentang anaknya yang dibuang di panti asuhan misalnya.
Kita dapat menambahkan berapapun item untuk menentukan dari mana sumber inspirasi itu didapat. Karena itu, tulislah apa yang kita ketahui. Makin banyak yang kita ketahui, makin banyak pula alternatif tema yang dapat kita tulis. Karena itu pula, banyak-banyaklah membaca. Makin banyak yang kita baca, maka makin banyak pula yang kita ketahui.
Nah, sekarang bagaimana memilih dan menyisihkan ide yang sudah kita dapat tadi? Berhubung postingannya sudah lumayan panjang, kita sambung ke part 2 aja, ya! (V)
Posted in mediAAksara | No Comments »