Ikatlah ilmu dengan menuliskannya!

Saya vs Dinda

Sabtu, Juni 20th, 2009

“Terimakasih, Bunda!” Dinda, dengan wajah ceria.
“He-eh…” Saya, sambil lalu.
“Sama-sama dong, jangan cuma he-eh!” Dinda, protes.
“Eh iya, sama-sama, Sayang!” Saya, meralat.

“Thank you, Mami!” Dinda, lagi-lagi dengan cerianya.
“Iya.” Saya, seadanya.
“You are welcome, dong!” Dinda, kembali protes.
“Oh iya, you are welcome!” Saya, tersipu malu.

“Mom, are you okay?” Dinda lagi, sambil mengetuk pintu kamar mandi.
“Iya, ada apa sih ketok-ketok?” Saya, agak sewot.
“Are you okay?” Dinda, dengan nada lebih tegas.
“Iya, emang kenapa sih?” Saya, mulai manyun sendiri. (Paling malas tanya-jawab di kamar mandi)
“Bunda jawabnya yg betul, dong! Iam okay, gitu!” Dinda, terdengar mulai kesal.
“Yes! Iam okay!” Saya, nyaris berteriak. (lagi…)

  • Share/Bookmark

Lebaran Dimana? Dengan Siapa? Ngapain Aja?

Selasa, Desember 9th, 2008

Idul Adha kali ini kita sekeluarga meluncur ke Cileduk, menuju rumahnya Era-Taufan yang memang udah disepakati sebagai tempat ngumpul untuk reunian dengan teman-teman FLP DKI angkatan sepuh. Gimana gak sepuh, lha wong sekarang FLP DKI sudah sampai pada angkatan ke 10 sementara kita-kita yang ngumpul kemaren adalah angkatan awal-awal :-) Ups! Diralat, yang betul sekarang sudah angkatan ke 12, demikian penjelasan terakhir dari Lia.

Nah, dari sekian undangan yang disebar (oalah! kawinan kali) maka yang jadi datang adalah yang tampangnya nongol di foto ini.

Yang datang awal sudah pasti yang terkenal rajin, Elen, disusul Echa dan Elshi. Saya yang rajin ngomporin baru nongol jam satu siang padahal janjiannya habis sholat Ied langsung meluncur. Tapi kan bisa dimaklumi lah, kami kan empat orang, masing-masing perlu diurusin dulu sebelum berangkat hehehe…ngecap! Semakin siang nongol lagi Sokat dan yang terakhir Dala.

Trus ngapain aja? Yang pasti makan. Perut yang emang dikosongin dari rumah (sebenarnya emang belum sempet masak, gara-gara gas habis) langsung dijamu sop, rendang, ketupat dan lain-lain. Pokoke puas deh! Apalagi perjalanan menuju TKP lumayan jauh. Tapi yang asyik, sawah dan pohon masih banyak, pake turun hujan lagi. Makan jadi makin enak. Malah ada yang makan dua kali. Eh siapa ya kemaren yang makan lagi sebelum pulang? Alasannya sih hujan yang lama bikin perut laper lagi :-)

Hehe tapi emang iya kali ya, Ken aja tidurnya pules dan lama banget selama di sana. Kalo Dinda jangan diharap, dia tidurnya musti di motor. Di sana dia malah sibuk ngerepotin Era. Menggambar lah, nyari mangga lah, disuapin makan lah. Tau aja dia tantenya itu kurang kerjaan hihihi…

Eh, tapi emang lucu juga lho, sejak ketemu, Dinda itu langsung klik sama Era. Padahal dia kan agak (atau sangat ya?) menjaga jarak sama orang-orang yang baru dikenalnya. Apalagi saya sama Era kan gak ada hubungan darah hehe… Dulu juga saya sempat heran lho, waktu Dinda masih agak bayi, mana mau dia dideketin orang lain, diliatin dan disapa aja gak mau. Eh pas digendong Era kok mau.

Dan pas ketemu lagi beberapa waktu yang lalu, Dinda juga langsung klop aja. Dia jadi sering ngomongin Tante Era-nya itu dan minta ditelponin. Waktu diajak ke rumah Era lebaran kemaren dia juga semangat. Yah, mungkin itulah feeling, namanya juga perasaan, cocok gak cocoknya cuma bisa dirasa, gak bisa direkayasa. Namun satu yang pasti, seandainya Era tinggal di rumah saya, sepertinya saya bakalan santai booo, gak perlu repot ngurus Dinda lagi hohoho…(V)

  • Share/Bookmark

Dinda Sekolah?

Selasa, November 4th, 2008

Yup!  Keinginannya untuk sekolah terwujud sudah. Wajahnya terlihat begitu riang saat pertama kali mengenakan seragam. Tak lupa ia minta difoto saking bangganya :-)

Dan sudah bisa ditebak, di hari pertama sekolah ia begitu bersemangat,  enggan saat diajak pulang padahal teman-temannya sudah pada pulang. Untung sekolahnya dekat dari rumah.

Begitu pulang ke rumah, ia tak mau melepas seragamnya. Maklum, masih sangat menikmati status baru :-) (V)

  • Share/Bookmark

Karya Dinda

Senin, Oktober 6th, 2008

 

Kebiasaan mencoret-coret dinding dan sebagainya ternyata sulit sekali dihindarkan dari putri saya, Dinda. Dari sekadar gambar benang kusut, akhirnya coretannya mulai berbentuk. Di bawah ini adalah contoh perkembangan kreatifitasnya :-)

  • Share/Bookmark

Ayo Kita Minum Berdua!

Senin, September 15th, 2008

“Bunda, ayo kita minum berdua!”

Itulah kalimat yang cukup sering dilontarkan buah hati saya yang sulung, Dinda. Usianya kini 3,5 tahun. Tentunya seraya menyodorkan segelas minuman, entah itu teh, sirup, jus dan sebagainya. Tak ketinggalan, dia akan menyediakan dua sedotan di gelas tersebut.

Dan seperti biasa, saya akan tersenyum melihat sikap ‘bersahabat’ yang tulus dan mimik ramahnya. Dengan senang hati saya akan menerima tawaran manisnya itu, bersama-sama minum di gelas yang sama.

“Kita enak ya, Bunda!” Begitulah selalu ia mengomentari kebersamaan kami yang satu itu. Indah, itulah perasaan saya. Memiliki seorang putri yang cerdas dan suka bersikap mesra dan akrab pada saya. Semoga Allah menjadikannya anak sholehah, yang akan menjadi kebanggan banyak orang di kemudian hari kelak. (V)

  • Share/Bookmark

Hari-hari Yang Hilang

Rabu, Juli 16th, 2008

dindaKesibukan mengurus si kecil benar-benar menyita waktu. Siang malam tak ada bedanya. Lahir batin tercurah untuk menggendong, memandikan, mengganti popok, menyusui, berjemur di pagi hari, jalan-jalan di waktu sore dan sebaginya… dan sebagainya…

Namun di tengah kesibukan itu, saya sempat tercenung. Di tengah suasana baru ini ada yang diam-diam mengusik rasa keibuan saya dan membuat sudut-sudut mata saya berlinang. Sesungguhnya, ada yang hilang dari hari-hari saya.

Ya, saya kehilangan kebersamaan dengan putri pertama saya, Dinda. Mungkin bukan kehilangan tapi berkurang. Namun tetap saja bagi saya itu seperti sebuah kehilangan. Karena saya jadi merindukan suasana yang dulu, saat saya menciumnya hampir di setiap waktu yang ada, saat saya mengusap-usap tubuhnya tiap hendak terlelap, saat saya memeluk dan memangku tiap kali ia ingin bermanja… ya, saya merindukan itu setiap saat, sepanjang waktu yang ada…

Seperti hari-hari yang lalu, saya ingin sesering mungkin mengatakan, “Bunda sayang sama Dinda.”

Sebagaimana saya merindukan jawaban polosnya, “Aku juga sayang sama Bunda.”

Itulah kalimat terindah yang ingin selalu saya dengar. Setiap saat, sampai kapanpun! (V)

  • Share/Bookmark

Salam

Selamat datang di web pribadi saya! Semoga kita sama-sama mendapat manfaat darinya... More


Status YM

Internet Sehat

lencana


Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Find entries :