Ikatlah ilmu dengan menuliskannya!

Pernah memanggil arwah?

Kamis, Maret 12th, 2009

alquranPernah main jelangkung? Sebenarnya main beginian kan nggak boleh, bisa merusak aqidah lho! Tapi saya punya pengalaman yang mirip dengan jelangkung-jelangkungan ini. Ceritanya begini…

Dulu waktu masih SMA, saya dan beberapa teman kost sering kehilangan barang-barang seperti sisir, aksesoris, minyak goreng, minyak tanah dan sebagainya. Awalnya kami menyangka ada yang minjem tapi lupa mengembalikan. Tapi lama-lama kok jadi heran dan curiga juga. Setiap barang yang hilang nggak pernah balik lagi. Maka yakinlah kami bahwa ada yang sengaja mengambilnya. Tapi siapa? Meski sebagian kecurigaan sudah menemukan muaranya, namun tak ada bukti yang menguatkannya.

Maka seorang teman mengajukan usul untuk membacakan surat Yasin agar si pengutil itu ketahuan. Perdebatan kecil pun terjadi di antara teman-teman saya.

“Tapi kan tetap nggak ada bukti dengan membacakan Yasin.”

“Minimal kan lebih meyakinkan dari pada sekadar menduga-duga.”

“Tapi serem, nggak?”

“Kita kan rame-rame.”

“Dibacainnya siang atau malam?”

“Ya malam lah!”

“Tuh, serem kan kalo malam.”

“Kalo siang kan nggak afdhol!”

“Ntar yang datang arwah manusia, jin atau malaikat?”

“Terserah, yang penting kita dapat petunjuk!”

“Lho, kalau setan aku nggak mau ah!”

“Ya nggak mungkin lah, setan kan takut sama ayat al Quran.”

“Tapi gimana dulu caranya?”

Maka seorang teman yang sudah berpengalaman menunjukkan caranya. Saya sebagai orang awam dalam hal begituan sempat merinding juga.

Maka akhirnya diputuskan malam itu juga kami akan melakukan ‘upacara’ pemanggilan dan meminta petunjuk dengan cara membacakan surat Yasin.

Malam itu, kami berkumpul bersama di kamar saya sebagai tempat pelaksanaannya. Semuanya kira-kira sepuluh orang. Seperti arisan, setiap nama anak kost ditulis dalam selembar kertas kecil. Lalu diambil lah sebuah al Quran yang diikat dengan tali, dan ujung tali tersebut diikatkan pada sebuah kunci. Dua orang anak kost diminta menahan kunci tersebut dengan telunjuk masing-masing hingga al Quran yang terikat pada kunci itu jadi tergantung di bawahnya.

Lalu salah seorang dari kami membacakan surat Yasin di dekat kunci tersebut setelah satu nama diselipkan ke dalam al Quran yang tergantung tadi. Kami memperhatikan dengan seksama, juga deg-degan tentunya. Tak ada reaksi apa-apa padahal sudah hampir satu halaman dibacakan oleh teman saya tadi.

“Ganti dengan nama lain!” perintah teman yang memegang kunci.

Nama lain pun dimasukkan ke dalam al Quran. Dan surat Yasin kembali dibacakan. Lagi-lagi tak ada sesuatu yang terjadi. Saya, meskipun agak takut tapi tetap penasaran. Terlebih ketika nama saya mendapat giliran. Meski yakin saya bukan ‘terdakwa’ namun hati saya tetap kebat-kebit.

Satu persatu nama anak-anak kost dimasukkan secara bergantian. Hingga sampai pada sebuah nama yang kebetulan tidak mau mengikuti acara malam itu dengan alasan yang saya sudah lupa. Surat Yasin kembali dibacakan, dan baru beberapa ayat saja, tiba-tiba al Quran yang tergantung pada kunci tersebut berputar kencang. Hampir saja terjatuh ke lantai, untung teman yang menahan kunci cukup sigap menangkapnya. Saya menahan napas kaget. Duh, horor banget!

“Tuh kan, bener dia!” celetuk salah seorang teman saya yang memang sudah mencurigai si pemilik nama yang menolak hadir dalam acara kami malam itu.

“Eh, ulangi lagi, siapa tau keliru!” pinta teman yang lain.

“Sudah ah!” ujar saya yang merasakan kehadiran makhluk halus di sekeliling kami. Hiyyy… Perasaan orang yang lagi takut kan emang sensitif, hehe…

Pembacaan Yasin diulang untuk nama tersebut, dan hasilnya sama, al Quran berputar kencang. Begitu diganti dengan nama lain, al Quran diam tak bergerak. Nah!

Percaya nggak percaya, itulah yang terjadi malam itu. Itu jugalah pengalaman pertama yang tidak ingin saya ulangi kedua kali, apalagi sejak itu kasus kehilangan di tempat kost saya juga tidak pernah terjadi lagi. Mungkin si pengutil sudah tahu kejadian kejadian malam itu hingga tidak berani lagi melakukan aksinya.

Dan yang lebih penting lagi, kepercayaan akan hal-hal gaib yang tidak ada anjurannya dalam al Quran atau hadis bisa membawa seseorang pada kemusyrikan. Meskipun aktifitas tersebut melibatkan kitab suci atau ayat-ayat illahi. Naudzubullahi min dzalik! (V)

  • Share/Bookmark

Ketik REG SYIRIK kirim ke mana?

Rabu, Desember 31st, 2008

smsMengawali hari pertama di tahun 2009 ini, saya ingin menyatakan salut untuk KPI yang telah berusaha gigih memantau dan meluruskan tayangan-tayangan ‘bermasalah’ di TV. Menurut saya itu sudah satu langkah positif terlepas dari kelemahan lembaga independen tersebut.

Tapi satu hal belakangan ini sering mengusik rasa keimanan saya (mudah-mudahan juga saudara-saudara seiman lainnya). Apaan tuh? Apalagi kalau bukan berseliwerannya iklan-iklan paranormal yang menyatakan ‘ketahuan’ mereka akan masa depan, jodoh, karir dan sebagainya. Padahal seringkali pula mereka itu ‘ketahuan’ bohongnya alias ngibul bin ngasal.

Nah, dalam agama yang saya anut, mendatangi peramal itu hukumnya syirik. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mempercayai peramal, maka dia terlepas dari apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW.”  (HR. Bukhari)

Diriwayatkan dari Shafiyyah binti Abi Ubaid bahwa Rasulullah bersabda, “Barang siapa mendatangi tukang ramal, lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu lalu ia membenarkannya, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh malam.” (HR Muslim)

Lalu bagaimana dengan iklan SMS yang menghimbau penonton untuk diramal tadi? Memang, selalu dikatakan bahwa isi ramalan itu boleh dipercaya dan boleh tidak. Sebab kalau ada peramal yang mengatakan ramalan itu ‘harus dipercaya’ maka bisa dipastikan orang tersebut akan diseret ke pengadilan.

Tapi sebenarnya justru pada kata ‘boleh percaya’ inilah hawa syirik itu ditiupkan. Karena dalam Islam tidak ada kata ‘boleh’ untuk mempercayai sebuah ramalan.

“Ah, itu kan cuma untuk main-main, seru-seruan aja.” Mungkin begitu kata sebagian orang. Tapi apakah pantas  untuk alasan sepele itu kita mempertaruhkan keyakinan?

Sekarang muncul satu pertanyaan penting; kepada siapa kekhawatiran ini kita alamatkan? Ketik REG SYIRIK kirim ke KPI? Atau ke MUI? Atau ke pemerintah? Entahlah. Karena saya sendiri tidak tahu apakah masing-masing elemen itu merasa bahwa ini wewenang mereka. Sebab seringkali sebuah lembaga menolak ‘mengurusi’ sebuah masalah karena merasa itu bukan wewenangnya.

Mungkin kita butuh ulama yang tegas seperti Buya Hamka, yang mengeluarkan fatwa tanpa diminta. Yang penting beliau sudah melakukan tugasnya sebagai ulama, sebagai tokoh pemerintah dan sebagai individu tentunya.

Selagi kita belum menemukan kemana REG SYIRIK ini akan dikirim, mungkin lebih baik dikirim saja ke diri kita masing-masing.

Sebab Rasulullah pernah berpesan, “Istafti qalbak! (Mintalah fatwa pada hatimu!)”.

Jika kita sudah yakin untuk menjauh dari jurang syirik itu maka ketiklah UNREG SYIRIK dan kirimkan pada Allah sebagai bentuk keyakinan mutlak kita pada-Nya. (V)

(Maaf, mungkin topik ini hanya khusus untuk ummat Islam)

  • Share/Bookmark

Salam

Selamat datang di web pribadi saya! Semoga kita sama-sama mendapat manfaat darinya... More


Status YM

Internet Sehat

lencana


Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Find entries :