Hilangnya Tas Maemunah
Rabu, Agustus 13th, 2008
Meski bukan penggemar sinetron, tapi kadangkala saya ikut juga menonton tayangan yang satu ini. Namun satu hal yang menjadi kebiasaan saya saat menonton sinetron adalah mengamati segala sesuatu dalam tayangan tersebut. Sejujurnya, kalau soal jalan cerita, sama sekali tidak menarik minat dan rasa penasaran saya. Biasa, kebanyakan sinetron kan ceritanya gampang ditebak dan juga sering mengada-ada alias dipaksakan.
Yang lebih menjadi ‘daya tarik’ buat saya justru kejanggalan-kejanggalan (saya menyebutnya keajaiban) yang banyak bertebaran dalam sinetron-sinetron tanah air tersebut. Kejanggalan yang juga banyak dirasakan oleh penonton-penonton lain tentunya. Setidaknya itu yang saya baca dalam rubrik Surat Pembaca di tabloid atau majalah. Simak saja di antaranya!
“Awalnya sih sinetron itu keliatan beda dan menarik ide ceritanya, tapi ternyata cuma di episode-episode awal saja, selanjutnya sudah sama saja dengan yang lainnya, perebutan cinta, sirik-sirikan, hasut, dendam, fitnah dan jalan cerita yang bertele-tele.”
“Sekarang sinetron kan sudah jadi produk industri, mutu sudah nggak penting, yang penting iklan. Ceritanya bisa melebar kemana-mana, eh ending-nya malah terkesan gampang banget. Apa penulis ceritanya sudah nggak bisa mengembangkan ide lagi? Atau karena striping, jadi nggak punya kesempatan untuk mikir?”
“Kok tempat kejadian dalam sinetron itu kayak gitu-gitu mulu, sih? Pohonnya yang itu-itu juga padahal dalam ceritanya lingkungan mereka beda. Masa tempat tinggal orang kaya dan orang miskin sama-sama kayak dikelilingi taman dan pohon yang sama? Ngarang banget, ya?”
Apapun komentar orang-orang, namun produksi toh jalan terus. Apalagi para pembuat sinetron itu yakin kok kalau mereka bekerja secara profesional, tidak mengabaikan kualitas dan pintar menyiasati kekurangan-kekurangan (yang pasti terjadi) pada sebuah sinetron kejar tayang. Jadi, yang suka silakan nonton, yang muak silakan minggir!
Saya pun begitu juga. Meski geleng-geleng kepala melihat ekspresi bintang sinetron saat marah (alis naik turun bergantian, bibir komat-kamit, sorot mata tajam melotot, dan ekspresi ini akan disorot cukup lama oleh kamera demi meyakinkan pemirsa tentunya, ‘begini loh kalau orang marah’), namun saya terus saja menonton, mengamati setiap detil tayangan yang banjir iklan itu.
Hingga suatu malam, saat menemani ibu saya menonton, tawa geli saya benar-benar tak bisa ditahan. Ada yang lucu? Tentu saja. Bahkan inilah yang saya sebut keajaiban itu. Bagaimana tidak, tokoh perempuan yang bernama Maemunah tiba-tiba kehilangan tasnya. Si Maemunah sendiri malah tak sadar akan hal itu, justru saya yang merasakan (melihat) kehilangan itu. Anehnya lagi, tas itu cuma hilang saat Maemunah di-shoot dari arah belakang. Saat di-shoot dari depan, tasnya nongol lagi di pundak. Apa tidak aneh bin ajaib?
Jadi, jika anda ingin melihat keajaiban lainnya, silakan temukan pada televisi anda! (V)







