Awas! Wilayah Rawan Selingkuh!
Minggu, November 23rd, 2008
Saat perkawinan saya berjalan 11 tahun, saya berselingkuh dengan mantan teman SMA. Seperti pada umumnya perselingkuhan, semua berawal dari curhat-curhatan. Begitu banyak pembenaran-pembenaran yang saya ciptakan sendiri demi memuluskan perselingkuhan itu. Awalnya perselingkuhan itu bisa ditutupi dengan rapi, tapi belakangan, istri selingkuhan saya mengetahuinya. Dia hampir saja melabrak ke rumah saya. Untunglah suaminya berhasil mencegah, jika tidak, maka citra saya sebagai istri dan ibu yang baik akan hancur seketika.
Memang akhirnya kami menghentikan perselingkuhan itu. Tapi efeknya sungguh membuat saya menyesal dan sedih sekali. Laki-laki selingkuhan saya itu sekarang hidup dalam tekanan istrinya. Kemanapun ia pergi selalu diawasi, pulang kerja harus tepat waktu, uang saku dijatah ketat dan sebagainya.
Saya jadi berpikir, seandainya dulu kami tidak curhat-curhatan mungkin keadaan ini akan jauh lebih baik. Saya memang ‘aman’ karena keluarga saya tidak tahu tapi selingkuhan saya sungguh kasihan. Ia juga dibenci oleh anak-anaknya karena mereka pun tahu hal itu saat mendengar orang tua mereka bertengkar. Sungguh, saya merasa sangat bersalah.
Begitulah sebagian curahan hati seorang istri yang saya baca di Tabloid Nova, dalam sebuah rubrik konsultasi psikologi yang diasuh Bu Rieny Hasan. Rubrik ini memang rubrik favorit saya. Banyak pencerahan tentang hubungan antar manusia yang saya dapatkan, tentunya dari sisi psikologis. Hal yang paling sering dibahas adalah soal perselingkuhan dalam sebuah rumah tangga. Saya mencatat satu hal penting di rubrik tersebut, bahwa ada 2 wilayah paling rawan untuk terjadinya sebuah perselingkuhan.
Wilayah rawan pertama adalah tempat kerja. Dimana hubungan yang intensif sering tercipta akibat pekerjaan yang perlu diselesaikan bersama. Disini kesempatan lah yang membentuk tumbuhnya bibit-bibit perselingkuhan itu. Maka sebelum terjebak di dalam sebuah perselingkuhan, sebaiknya dari awal setiap orang sudah menentukan batas-batas interaksi dengan teman kantornya. Mana yang urusan kerja dan mana yang bukan. Sebisa mungkin hindari untuk berduaan saja dengan teman kantor yang berlainan jenis.
Wilayah rawan kedua adalah curhat-curhatan antara laki-laki dan perempuan. Kata Bu Rieny, laki-laki mana sih yang tahan jika tiap hari dijadikan tempat menumpahkan uneg-uneg, kesedihan, dan air mata? Sifat laki-laki yang selalu ingin melindungi dan memberi solusi membuat mereka jadi ‘tidak tega’ untuk meninggalkan si wanita sendirian dalam permasalahannya hingga rasa ketergantungan pun timbul di antara keduanya.
Jadi bagi anda kaum laki-laki yang sudah beristri, hindarilah wilayah-wilayah rawan anda jika tidak ingin terlibat dalam sebuah hubungan terlarang yang akan menghancurkan rumah tangga anda. Hindari para wanita yang suka curhat, apapun alasannya. Ingat, anda bukan satu-satunya kok tempat dia untuk curhat, masih banyak tempat curhat lain yang lebih aman bagi anda dan juga aman bagi dia.
Dan bagi anda kaum wanita, baik yang masih gadis apalagi yang sudah berkeluarga, hindari pula wilayah terlarang anda demi masa depan dan juga anak-anak yang anda cintai. Jangan curhat pada laki-laki yang sudah berkeluarga. Curhat pada ahlinya seperti Bu Rieny Hasan ini tentu jauh lebih tepat dan aman bagi anda. Semempesona apapun seorang laki-laki, jika dia sudah beristri maka suami anda tetaplah yang terbaik bagi anda.
Islam pun sudah sangat mengatur adab bergaul antara laki-laki dan wanita. Hal ini pastinya sudah diketahui oleh Dzat yang Maha Tahu, kenapa aturan itu diturunkan. Tak lain dan tak bukan tentulah karena pergaulan yang tanpa aturan itu akan sangat merusak hubungan antar manusia sendiri. (V)








