Senin, April 13th, 2009
Pemilu sudah berlalu, menyisakan banyak ketidakpuasan. Banyak orang yang kecewa karena tidak terdaftar di wilayahnya padahal dia sudah puluhan tahun tinggal di daerah tersebut. Ada pula yang meluapkan ketidak-percayaannya dengan memilih GOLPUT, semacam boikot untuk pemilu. Banyak juga yang bersikap pesimis dan sinis pada sistem pemilu dan demokrasi di negara ini yang katanya produk sekuler.
Yang lebih parah, para caleg yang ikut mempromosikan diri ternyata banyak dari produk instan. Mereka tidak paham politik, tidak paham visi missi partai, tau-tau sudah tercetak di lembar pemilih.
Ada contoh kasus yang sangat kacau, tentang caleg-caleg dengan identitas muslim (berjilbab gitu loh!) tapi terdaftar sebagai caleg partai non muslim.
Alasannya sederhana, “Saya cocok dengan sikap pluralisme partai tersebut. Saya sudah mempelajari semua agama!”
Pluralisme yang mana, jika nyata-nyata ada lambang keagamaan di logo partainya? Lalu kalau dia sudah mempelajari semua agama, apakah itu artinya dia menerima semua agama sebagai keyakinannya? Itukah pluralisme?
Caleg yang satu lagi beralasan, “Saya jadi caleg di partai tersebut karena tidak dipungut biaya untuk modal kampanye, makanya saya bersedia jadi caleg di sana.”
Jika alasannya memang cuma itu apakah masih kurang jelas bahwa dia adalah caleg asal jadi. Sekadar pendongkrak suara atau jalan pintas untuk jadi kaya? Entahlah. Yang pasti caleg tersebut muncul tanpa pemahaman dan visi missi yang jelas. Yang penting jadi anggota DPR!
Sementara partai yang dimaksud tadi, meski dulu mengusung nama agama sebagai azas partainya, kini mengaku sudah berubah haluan menjadi partai yang terbuka untuk siapa saja, pluralisme! Lalu dengan lambang yang tetap sama, partai tersebut mencoba menafsirkan lambang partainya sesuka hati, yang penting terkesan plural lah!
Lalu haruskah kita pertaruhkan masa depan bangsa ini di tangan orang-orang seperti itu? Bukan sentimen keagamaan, tapi sikap yang tidak jelas inilah yang membuat pemilu tambah kacau. Mbok ya jangan plin-plan, jangan merekayasa apalagi memperalat orang lain untuk kepentingan golongan dan pribadi. Ini akan menimbulkan ketegangan dan kesalahpahaman antar masyarakat.
Tapi ada juga yang hebat dari kisah pemilu kali ini. Rumah Sakit Jiwa Pekanbaru, sudah menyiapkan ruang khusus untuk menampung para caleg yang stres dan terganggu mentalnya karena kalah. Kepada keluarga caleg, sejak dini sudah diminta mewaspadai gejala stres pascapemilu. Jika terlihat tanda-tanda stres (seperti susah tidur, gelisah, paranoid, sering keluar keringat dingin, jantung berdebar-debar dan sebagainya) mereka diminta segera berkonsultasi dengan dokter jiwa atau psikolog.
Maklum, bagi caleg yang sudah keluar modal besar (ada yang sampai berhutang, menggadaikan rumah, tanah dsb) ditambah impian muluk untuk duduk di kursi legislatif, plus lupanya menanamkan keimanan dan keikhlasan yang tinggi, maka tentu cukup sudah alasan untuk sakit jiwa.
Istilah kasarnya; sukses berarti kaya, gagal berarati gila.
Waspadalah! (V)
Posted in curhaTTok! | No Comments »
Rabu, Maret 11th, 2009
Pemilu makin dekat, kampanye partai mulai melakukan pemanasan. Iklan di TV dan internet kian rame, partai-partai mendadak jadi idealis semua. Jalan-jalan mulai bertaburan foto-foto caleg dan lambang partai. Pemilu benar-benar sebuah pesta kenegaraan.
Mendadak hati kecil saya bergumam, “Berapa ya biaya kampanye dan iklan itu?”
Konon pemegang ranking tertinggi adalah Gerindra dengan dana awal 15 miliar. Pantes, iklannya kenceng banget. Seorang temen yang ikut menangani iklan partai baru ini mengatakan bahwa ia ikut mengerjakan proyek iklan di Sumatra. Wuih! Tidak heran kalau begitu. Bikin iklannya aja antar pulau, gitu loh!
Ini kan baru satu partai, kalau dihitung semua partai yang ikut kampanye, berapa ya biaya keseluruhannya? Ini baru yang mengaku, yang tidak mengakui secara terus-terang tentu juga ada. Dan jumlah dana kampanye ini pasti membuat rakyat Indonesia yang miskin tak sanggup menghitungnya saking besarnya. Lha wong tiap hari yang dihitung cuma angka ribuan, ratusan ribu, dan paling banter sampai jutaan doang. Mana kenal angka miliaran. Berapa jumlah nolnya saja masih mikir-mikir, takut salah hitung
Yah, semoga saja penggelontoran dana yang demikian besar tak hanya menghasilkan pemubaziran dan kesia-siaan, sekadar modal awal untuk mengorupsi jumlah yang lebih besar lagi, yang pada akhirnya berakibat pada pemelaratan yang lebih akut bagi bangsa ini. Ya, semoga tidak. Seperti harapan saya yang sederhana, agar nanti seusai kampanye dan pemilu, jalan-jalan kembali dibersihkan dari foto-foto dan lambang partai yang jelas mengotori dan merusak keindahan. Pesan dari sponsor saya; tolong gunakan bahan daur ulang untuk iklan kampanye demi Indonesia yang lebih hijau!
Meski begitu banyak rasa prihatin di hati, saya masih menimbang-nimbang untuk mengikuti ajakan seorang teman agar saya memilih Golput saja di pemilu nanti. Bukan sok tahu, tapi hati kecil saya nggak rela satu suara milik saya malah disalah gunakan oleh oknum tertentu nantinya. Lagi pula saya masih punya setitik harapan untuk memiliki wakil yang baik di parlemen. Masa semuanya buruk, sih? Siapa tahu orang yang saya coblos nanti, yang saya yakini sebagai orang baik itu, benar-benar bisa dipercaya sebagai wakil rakyat. Itu harapan besar saya. Semoga dia bukan tipe orang yang gelap hati ketika memiliki jabatan dan tidak gelap mata ketika memiliki kekayaan.
Maklum, gaji anggota legislatif itu kan buesar banget. Bayangkan, anggota legislatif dari PKS saja masih menerima gaji puluhan juta perbulan padahal sudah dipotong cukup besar oleh partainya. Bagaimana dengan anggota partai lain yang mungkin tidak melakukan pemotongan gaji seperti di PKS?
Wajar jika saya prihatin, karena kata Nabi, harta itu ibarat air laut, makin diminum makin membuat haus. Makin kaya seseorang, makin rakus ia akan kekayaan.
Tapi sekali lagi, tentu tidak semua orang seperti itu. Ada yang masih punya iman, iman yang bisa mengontrol kerakusan akan harta, serta tetap membuat mereka ingat akan amanah dan kewajiban awal sebagai pejuang nasib rakyat.
Terlepas dari pro-kontra Golput, saya menganggap ini sebagai sebuah pilihan. Dan saya memilih untuk tetap berikhtiar, berharap dan berdoa, karena Allah melarang hamba-Nya berputus asa. Dan saya, Insya Allah, masih belum putus asa, tuh! (V)
Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.
Posted in curhaTTok! | No Comments »