Wahsyi
Sabtu, Agustus 23rd, 2008
Di tengah kecamuk perang itu, di atas bumi Yamamah, Wahsyi tampak sedang mengedarkan pandangan ke segenap penjuru. Berdiri di atas reruntuhan tembok dengan gagah berani hingga menemukan seseorang yang dicarinya. Seketika Wahsyi berteriak lantang, “Itu dia orangnya, Musailamah al Kadzab!”
Dia menggenggam erat tombaknya, senjata yang juga dia pakai untuk membunuh Hamzah pada perang Uhud. Pada saat yang tepat, ia lepaskan senjatanya dan segera menghunjam di dada Musailamah, tembus hingga ke balik bahu. Ia pun jatuh tersungkur di atas tanah. Peperangan itupun berakhir dan dimenangkan oleh pasukan kebenaran.
Wahsyi menyeret tombaknya lalu duduk melepas lelah. “Tombak inilah yang dahulu membunuh sebaik-baik manusia setelah Muhammad, Hamzah bin Abdul Muthalib. Dan kini menghabisi manusia paling jahat saat ini, Musailamah si Pendusta.”
Sejenak dia tertidur untuk melepaskan penat tubuh dan matanya yang tak terpejam sepanjang malam. Tapi tak lama kemudian ia kembali terbangun dengan perasaan bahagia yang menyelimuti segenap perasaan dan jiwanya. Dengan wajah berseri-seri ia berteriak, “Allahu Akbar! Allahu Akbar!”
Yang lain bertanya, “Apa yang terjadi denganmu, hai Wahsyi?”
Tatapan matanya yang bening menatap cakrawala. Dia bagaikan berada dalam mimpi yang sangat indah, “Aku telah melihatnya dalam tidurku. Dia tampakkan senyumnya padaku. Pada awalnya aku ketakutan, tapi dia segera memelukku erat dan menciumku. Dia katakan bahwa kelak aku akan bersamanya dalam surga.”
“Siapa dia itu, hai Wahsyi?”
“Hamzah bin Abdul Muthalib! Paman sang Kekasih, Rasulullah SAW. Kami menyaksikan di sekitar kami taman indah menghijau dengan aroma semerbak mewangi dan alunan nada yang indah menawan. Benar, cahaya telah terbit menampakkan kebenaran. Dan dia akan menampakkan keindahannya saat dibalut kejujuran dan kebersihan.”
Catatan:
Inilah karya Najib Kailani yang sangat memukau diterbitkan oleh Penerbit Syaamil. Novel sejarah Islam yang mengangkat seorang tokoh penting namun jarang dikenal secara dekat oleh kaum Muslimin. Dialah Wahsyi, seorang budak kulit hitam selain Bilal yang mengukir namanya dalam sejarah. Dia menjadi penting karena keberadaannya sebagai pembunuh Hamzah, paman Rasulullah atas bayaran Hindun. Simaklah ucapan Wahsyi berikut, “Telah kutebus kemerdekaanku dengan membunuh Hamzah paman Muhammad, namun mengapa aku masih merasa sebagai seorang budak? Dimanakah kebebasan hakiki itu?”
Wahsyi ternyata tidak menikmati kemerdekaan yang diberikan Hindun setelah membunuh Hamzah. Ia justru selalu ketakutan, merasa dikejar-kejar oleh bayangan mengerikan. Ia sering berteriak-teriak seolah melihat Hamzah mendatanginya. Bahkan ia sempat ingin kembali menjadi budak seperti dulu, karena ternyata setiap orang masih tetap merendahkannya meskipun kemerdekaan telah diraihnya.
Disinilah sebuah catatan bisa kita petik, bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu bukanlah terletak pada raga yang bebas berkeliaran kesana-kemari, tapi pada jiwa yang memiliki keimanan dan bebas meyakini, mencintai serta mentaati Rabb sang Pencipta langit dan bumi.
Seperti Wahsyi, ia telah menyerahkan sisa hidupnya dalam pelukan Islam, tempat dimana ia baru bisa merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Ia pun baru merasa lega setelah menukar nyawa Hamzah dengan nyawa Musailamah al Kadzab, seorang laki-laki yang mengaku sebagai Nabi setelah Rasulullah meninggal.
Gaya penuturan novel ini sangat khas Najib Kailani. Penuh semangat perjuangan dan mengaduk-aduk emosi pembaca, namun tetap tak kehilangan nilai sastra. (V)








