Norak? Lu aja kali. Gue enggak!
Selasa, Desember 2nd, 2008Kadang kita suka geli melihat orang yang menurut kita norak, entah itu tingkah laku, penampilan atau kata-kata dan gaya bicaranya. Padahal yang punya diri gak ngerasa norak sama sekali. Teman saya yang tidak mau disebutkan namanya (cieee… kayak nara sumber penting aja) mengatakan, “Contoh sikap yang norak itu misalnya seseorang yang baru pegang HP, trus kemana-mana ‘berlagak’ nelpon melulu padahal gak ada siapa-siapa di seberang sana.”
Hm… emang norak juga kayaknya ya… apalagi kalau nelponnya sambil jalan-jalan, di sepanjang jalan, salah jalan lagi.
Lalu apa pendapat sohib-sohib saya?
Menurut Ummu Najla, sohib saya yang dulu ngundang saya ke Lombok, “Norak itu sama dengan kampungan alias udik. Kalau korak mah anak nakal yang sok metal padahal jiwanya cuma jiwa epigon alias tukang ikut-ikutan.”
Lain lagi pendapat Dala. Mantan Ketua FLP DKI yang kini sibuk dengan karir pengacaranya ini bilang, “Norak itu seperti ‘terkaget-kaget’ pada sesuatu yang baru buat orang bersangkutan, padahal buat orang lain hal itu sudah biasa. Tapi ada juga yang ngartiin norak itu aneh, lain dari yang lain.”
Nah, yang ini pendapat Ani, sohib saya yang kini jadi guru Bahasa Inggris di daerah Cileungsi sono, “In my opinion, norak itu tidak sesuai antara penampilan dan situasi kondisi yang ada. Misal nih, pergi kondangan pake baju balet hehehe… Oya, ada lagi, yaitu gak matching dalam berpakaian, misalnya atasan pake tuxedo tapi bawahannya training hahaha…”
Berikut komen sohib saya yang sekarang lagi berkarir di dunia broadcasting, Tary, “Norak itu gak tau etika, gak wajar, gak sama dengan orang lain. Norak itu bercitra negatif dan kampungan.”
Trus apa kata Ipal alias Palris Jaya, cerpenis kondang yang sering jadi juara lomba? Berikut komentarnya, “Menurut saya, norak itu kalau seseorang pengen dianggap eksis tapi bukan dengan prestasi. Melainkan dengan cara dangkal, misalnya dengan ikut geng-gengan, penampilan sok borju, perilaku petantang-petenteng dengan merendahkan orang lain dari sisi kekayaan.”
Sekarang kita simak pendapat Kania, sohib saya yang manis dan kalem, “Norak apa ya? Mungkin ketika kita melakukan sesuatu di luar kewajaran atau kepantasan kali ya. Saya pernah merasa norak waktu pake baju dengan tangan lebar. Mode sih, lama-lama dipikir, ihhh…norak!”
Yang paling menarik adalah pendapat Lamuna alias Aa Mumun, jagoannya FLP DKI yang juga jago matematika ini, “Norak itu artinya gak punya rak.”
Huahaha… saya langsung ngakak pas baca pendapat dia. Asli, orangnya memang lucu, meski lucunya masih kalah jauh dibanding bungsu saya, Ken.
Untunglah beliau ini segera meralat pendapatnya yang norak itu, “Norak itu artinya membanggakan sesuatu yang dalam pandangan umum itu biasa.”
Hm…lebih masuk akal kan dibanding gak punya rak
Nah yang berikut adalah pendapat Dina, sohib saya yang mungil dan identik dengan wajah cerianya, “Ada lagi norak yang laen, misalnya orang yang baru liat monas atau baru ke mall, pasti orang itu akan teriak-teriak girang. Atau orang yang baru liat barang canggih kayak laptop, lift or alat-alat yang ada di rumah gedongan dan hotel seperti shower, bath tub dll, orang itu pasti takjub dan terbengong-bengong.”
Lalu coba simak pendapat luar biasa dari sohib saya (pernah ngaku kembaran karena lahirnya bareng) Zaenal Radar yang kian kondang sebagai penulis skenario, “Norak itu sebenarnya sebuah antiklimaks dari sebuah persoalan absurd yang terejawantahkan oleh sikap-sikap tabu dan legar. Menurut Jhon Marks, dalam bukunya Rolling the Door, dikatakan bahwa; Norak adalah sebuah kekerdilan atas nama penampilan. Ini sesuai dengan yang dikatakan sahabat saya, Markum, kehidupan tanpa norak adalah sebuah kealpaan fantastis. Jadi menurut saya, norak berarti keniscayaan dalam kegopohan (mampus lo pada bingung!!)”.
Eh, bener gak sih kita pada bingung? Enggak juga tuh, karena ternyata inilah contoh pendapat paling norak sesudah ‘gak ada rak’ nya Aa Mumun
Berikut pendapat Echa (biasanya ditulis Iecha, gak tau mana yang bener), aktifis FLP DKI yang rajin banget, “Afwan, kemaren ga bales sms karena lagi ga punya pulsa. Aku setuju sama Mba Tary. Norak itu sesuatu yang kampyungan, dan sok pamer. Misalkan aja, ada orang yang tulisannya dimuat di salah satu media (yang gak terkenal) trus dia posting di milis supaya orang lain ngucapin selamat. Wuah… menurutku itu norak banget. Kasih tau ke orang kalo dirinya lagi gak punya pulsa juga termasuk hal norak
(gw banget!)
Eit, sebelum postingan ini ditutup, kita simak dulu pendapat sohib saya selanjutnya, Salman Iskandar, yang baru mendapatkan seorang putri cantik, “Norak itu persepsi orang terhadap sesuatu dan itu sangat manusiawi. Karena persepsi setiap orang berbeda. Makanya Allah menurunkan syariat untuk menyamakan persepsi itu. Misalnya seorang muslimah yang sudah baligh tidak mengenakan jilbab, tapi malah berkaos dan berjeans ketat, kita bisa bilang dia norak karena bertolak belakang dengan kelaziman seorang muslimah menurut syariat.”
Itulah gambaran kata NORAK dari sohib-sohib saya yang kreatif. Dan kayaknya kita bisa menyimpulkan bahwa norak itu adalah sikap yang seharusnya membuat si empunya sikap merasa malu atas sikapnya. Hmm… tapi pertanyaannya, seberapa banyak sih orang yang masih punya rasa malu?
Hehe, gak usah terlalu dipikirkan, ini cuma intermezo, penyambung kangen sama sohib-sohib saya di atas. Habis dah lama gak pada ketemu. (V)
Pssst… katanya mau reunian, kapan nih?







