Ikatlah ilmu dengan menuliskannya!

Ya Allah, bantu diriku…

Selasa, Februari 10th, 2009

tulis4Huaaaaa! Asli, saya gak tau, penyakit saya yang sejati saat ini adalah repot atau malas ya? Kok mau nulis buku sebiji aja susahnya minta ampyun! Beberapa hari yang lalu saya chatting dengan seorang teman, Arlen Ara Guci namanya, mengabarkan kalau cerpen saya sudah selesai. Dia itu kalau chatting sama saya pasti ngobrolnya soal nulis melulu. Ujung-ujungnya selalu nyemangatin saya biar nulis, nulis dan nulis!

Nah, kira-kira dua bulan yang lalu kami juga chatting. Seperti biasa, dia menanyakan apa yang sedang saya tulis saat ini. Dan seperti biasa juga, jawaban saya tak beranjak dari kalimat berikut, “Gak tau nih, cuma nulis blog doang. Lagi males!”

Dia mungkin geleng-geleng kepala di Malaysia sana (soalnya doi kan lagi di Malaysia) membaca jawaban saya, sambil mikir, “Nih orang penulis atau pemalas, sih?” Hehehe… kalau dua-duanya bisa digabung, maka itulah saya.

Akhirnya karena udah kebanyakan alasan, saya pun mengiyakan, “Oke deh, 1 cerpen dalam 1 bulan.”

Sebenarnya kelewatan banget, 1 cerpen doang nulisnya segitu lama. Tapi dari pada enggak sama sekali, hayo? Begitulah janji saya.

Akhirnya setelah dua-tiga minggu berlalu, saya baru ingat dengan janji itu. Tepatnya, ingat bahwa saya harus menepati janji hehe… Maka mulailah malam itu, setelah dua buah hati saya terlelap, saya membawa laptop ke kamar dan mulai sibuk sendiri. Kadang terhenti begitu melihat si kecil menggeliat, mungkin terganggu mendengar suara tuts keyboard.

Singkatnya, saya pun akhirnya menyelesaikan cerpen itu beberapa hari kemudian. Yang penting enggak lewat 1 bulan seperti janji saya. Alhamdulillah. Dan cerpen itu langsung saya kirim ke milis FLP DKI, biar yang lain baca dan tau, inilah cerpen pertama yang saya tulis setelah blank sejak pertengahan 2007. What?! 2007?! Iya, sejak 2007!

Sebenarnya suami saya tercinta juga sering nyemangatin biar saya nulis buku lagi. Dia bahkan juga nyodorin naskah untuk saya edit. Cuma ngedit doang, gak nulis! Tapi toh saya tetap gak bergerak dari titik yang sama.

Oya, ada juga sih yang saya tulis belakangan ini, yaitu kisah sejati kayak di buku La Tahzan for Mothers bareng Mbak Asma itu. Heheh itu pun karena nulisnya gak ribet, cuma nulis curhatan doang.

Puncaknya barusan ini, sesaat setelah Penerbit Mizan nelpon, nanya-nanya kabar dan… ujungnya pastilah soal tulisan saya. Whooo… my God! Saya gak punya stok tulisan apapun! Saya juga gak punya sepotong tulisan yang belum selesai pun! Yang ada adalah halaman kosong!

Padahal sebelum dapat telpon itu saya baru aja nulis di Facebook kalo saya mau nulis sebuah buku yang ceritanya heroik tapi romantik ala Najib Kailani, penulis favorit saya. Ya, baru sebatas niat dan rencana. Duh, apa saya bisa merealisasikannya, ya? Ayo dong, buat yang baca tulisan ini, minta doanya ya…

Dan semoga Allah memudahkan saya… Amin. (V)

  • Share/Bookmark

Jadilah Seorang Penulis!

Jumat, Juli 4th, 2008

42-16474038Mengapa harus jadi penulis? Toh banyak profesi lain yang bisa digeluti, bahkan terasa lebih urgen daripada jadi penulis. Judul di atas tentu tidak melarang Anda memilih profesi lain seperti dokter, arsitek dan sebagainya. Melainkan mengajak Anda untuk menimbang, bukankah sangat hebat jika Anda bisa menjadi seorang dokter atau arsitek yang juga penulis?

Mengikat ilmu dengan menulis

Ali bin Abi Thalib pernah berkata; Ikatlah ilmu itu dengan menuliskannya! Kalimat ini sangatlah tepat jika kita jadikan sebagai landasan berpikir, kenapa menulis itu (layaknya) menjadi sebuah keharusan bagi kita. Ilmu yang tersimpan secara tertulis dapat dimanfaatkan kapan saja kita butuhkan. Ia bisa menjadi ‘bank naskah’ yang akan mengatasi kelemahan memori kita dalam mengingat sesuatu di masa lampau. Sungguh sulit bagi kita mempelajari suatu sejarah jika tidak ada tulisan-tulisan yang tersimpan tentang sejarah tersebut. Tulisan-tulisan yang bisa dijadikan bukti otentik dan bertanggung jawab. Di sini akan terasa betapa pentingnya menuliskan sesuatu.

Menulis sambil membaca

Orang mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Ketika budaya membaca terpinggirkan, jangan heran jika kemudian kita menemukan orang-orang yang berpikiran kerdil, sempit dan sok tahu. Bagus sekali apa yang ditulis Penerbit Mizan dalam sebuah stikernya; Banyak membaca jadi serba tahu, kurang membaca jadi sok tahu. Bagaimana dengan kita sendiri? Jika dikalkulasi, berapa jam kah waktu yang kita pakai dalam sehari untuk membaca?
Kaitannya dengan menulis tentu sudah cukup jelas, menulis dan membaca adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Potensi menulis hanya bisa didukung dengan kebiasaan membaca. Seorang penulis akan merasa tulisannya kering ketika ia kurang membaca, sebab membaca adalah salah satu yang membuat wawasannya terus berkembang. Boleh dikatakan bahwa budaya membaca bisa saja berjalan tanpa menulis, tapi budaya menulis – tidak bisa tidak – harus diiringi dengan membaca. Sebab menulis memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dibanding membaca.

Budaya Menulis Yang Payah

Sangat disayangkan ketika mata pelajaran menulis bagi pelajar SD sampai SMA dikurangi oleh pemerintah. Tak heran jika kemudian banyak dosen yang mengeluhkan betapa buruknya kemampuan menulis mahasiswa saat ini.
Marry Leonhardt, seorang guru Bahasa Inggris di Amerika mengatakan bahwa pelajar yang suka menulis baik di sekolah atau di luar sekolah, lebih tahu cara menulis yang fokus dan tajam, hingga ia juga bisa menyusun gagasannya dengan jernih dan kuat. Marry juga sependapat dengan Shakuntala Devi -seorang pemerhati anak dari India- bahwa seseorang yang terbiasa menulis akan mempunyai keuntungan luar biasa dalam berbagai bidang pekerjaan. Sebab mereka tak hanya lebih memiliki wawasan, tapi juga mampu mengungkapkan pemikiran mereka dengan fokus yang tepat dan beraturan, entah itu secara lisan maupun tulisan.

Budaya menulis di negeri ini kian ‘payah’ ketika bermunculan televisi-televisi swasta. Masyarakat jadi lebih tergiring untuk duduk menonton daripada membaca, apalagi menulis. Padahal jika dilihat dari tayangan-tayangan televisi sekarang – yang sangat tidak mendidik – maka menonton televisi tidak bisa dijadikan alternatif pengganti bagi budaya membaca.
Apalagi jika kita membandingkan proses masuknya sebuah informasi ke dalam otak. Dengan menonton, prioritas kita adalah ‘mata’ hingga kita cenderung menerima semua yang terpampang sebagai sebuah informasi. Dalam hal ini, otak lebih bersifat pasif. Sedangkan ketika kita membaca, setiap informasi yang masuk akan dicerna dan disaring secara aktif dan lebih ketat oleh ‘akal’ kita. Proses pencernaan dan penyaringan inilah yang akan mempertajam akal seseorang.

Mengagumkan ketika saya melihat di televisi seorang artis pria diwawancarai tentang kebiasaan barunya. Ia mengatakan bahwa sekarang kebiasaan menontonnya telah ia alihkan kepada membaca. Katanya, menonton membuat mata dan otaknya lelah hingga berakibat pada kelelahan fisik. Dan sejak ia menggeluti kebiasaan barunya yaitu membaca, ia merasa sangat berbeda. Otak jadi terasa segar dan terasah, apalagi buku-buku yang ia baca kebanyakan adalah buku-buku ilmiah dan agama. Nah, bagaimana dengan kita? (V)

  • Share/Bookmark

Baca! Baca! Dan Membacalah!

Selasa, Juni 24th, 2008

42-16472638Saya sangat tertarik pada apa yang ditulis Arys Hilman di Republika tanggal 3 Agustus 2003 silam, bahwa di Jepang tidak kurang dari 65 ribu buku diterbitkan setiap tahunnya, dan puluhan juta eksemplar koran lahir setiap harinya. Jangan ditanya jumlah toko buku atau perpustakaan di Negeri Sakura tersebut, yang ternyata mampu menyaingi jumlah supermarket. Di stasiun-stasiun, mal, dan tempat-tempat strategis lainnya kita bisa menjumpai toko buku atau perpustakaan yang buka sampai tengah malam.

Di sana, setiap orang selalu membawa buku di dalam tasnya untuk dibaca saat menunggu bis atau kereta dan dilanjutkan lagi saat dalam perjalanan. Hal ini mengingatkan saya pada apa yang dilakukan Imam Hasan al-Banna. Beliau juga selalu memanfaatkan waktu luang -semisal dalam kereta api- untuk membaca. Sikap yang berbanding lurus dengan ucapan beliau bahwa waktu yang tersedia tidak sebanyak kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan.

Saat Bill Clinton menjadi presiden, ia mengaku terganggu karena ternyata 40% dari anak-anak Amerika usia 8 tahun tidak bisa membaca. Maka ia pun meluncurkan program America Reads Challenge, yang menerjunkan satu juta sukarelawan sebagai tutor untuk menjamin agar setiap anak bisa membaca di kelas tiga.Begitupun dengan Belanda. Polemik tentang berkurangnya minat baca di negara itu melahirkan tudingan terhadap televisi yang telah merenggut minat baca anak-anak. Bagi mereka ini adalah pemicu kemiskinan intelektualitas. Menurut penelitian, anak-anak hanya meluangkan waktu untuk membaca selama 4 menit, sementara untuk menonton tidak kurang dari 1,5 jam setiap hari.

Jadi perberbedaannya sekitar 20 kali lipat. Ini membuat pemerintah Belanda jadi berpikir keras untuk menanggulanginya.Lalu bagaimana dengan Indonesia? Goenawan Muhammad mengibaratkan bahwa bangsa ini telah melangkah terlalu lebar, dari dunia visual wayang menuju dunia visual televisi. Dunia baca terlewatkan. Kecuali sekelumit zaman Balai Pustaka.  Tidak heran jika akses masyarakat terhadap koran hanya 2,8%. Belum lagi buku. Bayangkan, SD yang memiliki perpustakaan hanya sekitar 1%, sementara SLTP dan SLTA sekitar 54%. Padahal itu semua adalah lembaga pendidikan. Jika kita bertanya soal pertanggungjawaban pemerintah, mungkin sebagian besar kita akan langsung bersikap pesimis atau bahkan sinis. Sebab sikap pemerintah terhadap pendidikan di negeri ini memang sangat memiriskan. Budaya membaca belum lagi memasyarakat. Jika kita sulit berharap pada pemerintah, bagaimana kalau kita bertanya pada diri sendiri? Sudahkah di rumah kita ada sebuah perpustakaan kecil, minimal untuk diri sendiri? Sudahkah kita menumbuhkan budaya membaca pada diri dan keluarga kita?

Banyak sekali pertanyaan yang seharusnya membuat kita tidak lagi berpikir panjang untuk menentukan sikap. Bahkan dalam al-Quran (surat al-Alaq) sudah memerintahkan hal ini jauh-jauh hari; Baca! Baca! Dan bacalah!Ada beberapa komunitas yang telah merintis usaha cemerlang mencerdaskan anak bangsa dengan mendirikan perpustakaan, kelompok-kelompok membaca dan menulis. Diantaranya adalah komunitas 1001 Buku yang membuka cabang di berbagai daerah. Ada sekitar 700 relawan yang membantu usaha ini yang bertugas mengumpulkan bacaan dari para donatur buku, mendistribusikannya dan melakukan pengelolaan perpustakaan untuk anak-anak. Tidak kurang dari 200.000 buku telah mereka salurkan ke 60 perpustakaan di berbagai daerah.Ada lagi Forum Lingkar Pena (FLP), sebuah organisasi pengaderan kepenulisan.

Organisasi ini sepakat mengusung missi islami dan kemanusiaan dalam tiap tulisan mereka. Kehadiran mereka, selain untuk mengasah kebiasaan membaca dan menulis, juga untuk mengantisipasti dan memberi alternatif bacaan bagi remaja, terutama remaja Islam, yang saat ini didominasi oleh bacaan-bacaan berbau hedonis, borjuis, pornografi, tahayul dan bersifat membodohi serta mendangkalkan aqidah ummat. Saya juga kagum pada usaha beberapa teman yang mendirikan perpustakaan pribadi atau taman bacaan untuk dimanfaatkan oleh anak-anak sekitarnya. Seperti Helvy Tiana Rosa dkk, yang mendirikan Pondok Cahaya (Pondok Baca dan Hasilkan Karya) di Depok dan Penjaringan. Atau Gola Gong dengan PRD (Pustakaloka Rumah Dunia) yang beliau bangun di daerah Serang. Ini hanya dua contoh dari orang-orang yang percaya bahwa intelektualitas bangsa ini harus dimulai dari kebiasaan membaca. Dan semoga akan banyak lagi yang mengikuti usaha-usaha semacam ini. Sebuah usaha non profit namun menjanjikan kecerdasan bagi anak bangsa. Ya, sekaranglah saatnya mengejar ketertinggalan kita! (V)

  • Share/Bookmark

Salam

Selamat datang di web pribadi saya! Semoga kita sama-sama mendapat manfaat darinya... More


Status YM

Internet Sehat

lencana


Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Find entries :