Senin, Desember 15th, 2008
Dulu, waktu SMP ada seorang teman perempuan yang bernama Yusra, seangkatan dengan saya namun beda kelas. Satu hal yang saya ingat betul, dia sering memandang saya diam-diam. Dan tiap kali kepergok, dia akan cepat-cepat mengalihkan pandangan. Terus-terang saja saya jadi tidak suka dengan perbuatanya itu meski saya tidak rugi apa-apa juga.
Mungkin karena masih SMP, saya kurang bisa menyikapi hal itu dengan dewasa. Saya malah membencinya dan itu diketahui oleh sebagian teman dekat saya. Sampai kami tamat SMP, saya tak kunjung tahu kenapa dia sering menatap saya diam-diam.
Ketika saya masuk SMA, tiba-tiba saya mendapat kabar bahwa Yusra sudah meninggal akibat sakit jantung. Saya terhenyak! Meninggal? Bayangan masa lalu katika di SMP pun berkelebat di benak saya. Tentang tatapannya yang aneh dan tentang rasa benci saya terhadapnya.
Duh, kenapa semuanya jadi begitu menyesakkan? Saya merasa bersalah meski saya juga tidak yakin bahwa dia tahu akan kebencian saya terhadap dirinya. Ah, kenapa saya tidak berpikir saja bahwa dia menatap saya mungkin karena saya mirip dengan orang yang disayanginya? Atau karena ingin bersahabat tapi tidak tahu caranya? Kenapa pikiran positif itu dulu tidak muncul hingga saya bisa melangkah mendekatinya dan mengulurkan tangan sambil menegurnya dengan senyum hangat, “Kenalan, yuk!”
Dan itu sudah jauh berlalu.
Slide berikutnya yang sering muncul di pikiran saya adalah sepupu saya, Esi, yang dulu tingga di Riau. Ketika dia datang ke Jakarta untuk mengobati penyakit kanker rahim yang ia derita, kondisinya sudah cukup parah. Tubuhnya sudah sangat kurus. Waktu itu dia sempat menunggu saya di rumah hingga sore. Katanya dia ingin bertemu saya. Namun saya tak kunjung pulang karena memang malam itu saya menginap di rumah teman.
Kata ibu saya, dia sampai tiduran di kamar saya karena capek menunggu. Jujur, jika ingat hal itu saya ingin menangis, menyesal karena tak menyempatkan diri menemuinya. Padahal dengan kondisinya yang sudah lemah itu, tentu cukup melelahkan menunggu berjam-jam. Apalagi saat itu dia juga membawa anaknya yang masih kecil. Dan kami benar-benar tidak jadi bertemu. Bahkan sampai ia balik lagi ke Riau dan meninggal di sana.
Dan itupun sudah lama berlalu, meninggalkan sesak tersendiri di dada.
Selanjutnya seorang teman, Arlen, pernah datang ke rumah saya, menyampaikan salam dari seorang teman FLP Aceh, Diana Roswita. Salam itu belum sempat saya balas karena ternyata Diana sudah meninggal waktu bencana Tsunami melanda Aceh tahun 2006 kemarin. Dan salam itu baru saya terima sesudahnya.
Dan lagi-lagi semuanya sudah berlalu, menyisakan sebongkah haru yang membiru.
Ya, apapun rasa yang tertinggal dari peristiwa-peristiwa itu, saya tetap berharap Allah mengampuni kekhilafan saya dan menempatkan mereka-mereka itu di sisi-Nya secara layak. Amin. (V)
(Teriring doa dan cinta untuk Yusra, Esi dan Diana)
Posted in curhaTTok! | No Comments »
Kamis, November 13th, 2008
Kepada ibuku yang tersayang…
Aku sungguh berterimakasih sekali karena Ibu mau membesarkanku sampai aku hidup. Bila aku mati, Ibu jangan sedih karena aku akan masuk surga.
Aku cinta Ibu
Begitulah surat yang ditulis oleh seorang anak berusia 8 tahun bernama Angelia Kezia Diani sebelum ia meninggal dunia. Ia juga sempat berkata pada bapaknya, “Pak bolehkan Kakak mengatakan sesuatu? Kakak ingin dimakamkan di dekat makam Kakek di Jepara.”
Bahkan ketika melihat ibunya menangis melihat keadaannya, gadis kecil itu berkata, “Kenapa Ibu menangis? Ibu tidak boleh sedih.”
Angel menderita kanker MPNST, kanker yang menempel di organ-organ tubuh bagian dalam. Setelah 10 bulan menderita penyakit itu, dokter memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan. Tapi sulung yang cantik itu berkata, “Aku mau dioperasi Tuhan saja. Dokter tidak akan bisa karena sudah lengket.”
Yang tak kalah mengharukan, ia begitu penuh semangat. Meski sedang sakit, ia tetap berusaha ikut ujian di sekolah meski harus digendong oleh bapaknya. Ia juga rajin mencatat jadwal kemoterapi yang harus dijalaninya. Ia juga memiliki jiwa dermawan. Pada ulang tahunnya yang ke delapan kemarin ia ingin berbagi makanan dengan anak-anak jalanan. Katanya, “Kasihan mereka, aku senang bila mereka bisa makan enak.”
Begitulah Angel, gadis cilik yang begitu tegar menghadapi kematiannya. Lima menit sebelum menghembuskan napas terakhir, ia minta didudukkan dan dipeluk erat oleh ibunya.
Kini, gadis kecil yang pintar itu sudah kembali ke pangkuan-Nya dengan penuh bersahaja. Menghadapi kematiannya dengan jiwa besar.
Saya jadi ingat Gito Rollies yang juga menutup usianya dengan bersahaja, menjemput kematiannya sepulang dari aktifitas dakwah di Sumatera. Begitupun Erna Libbi yang menghembuskan napas terakhirnya di atas sajadah seusai shalat. Subhanallah, buat saya itu adalah gambaran kecil dari sebuah kamatian yang indah. Wajah-wajah mereka begitu tenang berbalut senyum tipis penuh keikhlasan. Padahal sebagai artis yang juga manusia biasa, bisa saja semasa hidup mereka dulu banyak diisi dengan dosa dan kesia-siaan. Tapi mereka sudah mengakhiri hidupnya dengan indah, seburuk apapun mereka di masa lalu. Bukankah yang paling penting itu adalah bagaimana kita mengakhiri hidup ini, bukan bagaimana kita di masa lalu.
Dan untuk mendapatkan akhir yang indah seperti ini tentu bukan hal yang mudah. Selain karena rahmat Allah yang Maha luas, usaha kita untuk bisa berakhir baik tentu juga sangat dibutuhkan. Tapi karena kita tak pernah tahu kapan dan bagaimana kematian itu menjemput, maka kita harus mengisi hidup ini dengan amal kebaikan, berharap mendapat akhir yang mulia. Amin. (V)
Posted in curhaTTok! | No Comments »
Rabu, Agustus 20th, 2008

Sebut saja namanya Iwang. Teman sekelas waktu kuliah dulu. Ada sepenggal kisah yang tak bisa saya lupakan tentang sosok yang satu ini. Karena skenario Allah atas dirinya begitu mengesankan. Kenapa?
Di kampus saya, ada sebuah peraturan yang cukup ketat. Jika saat ujian berlangsung ada yang ketahuan menyontek atau berbuat curang di satu mata kuliah, maka ia dianggap gagal untuk semua mata kuliah pada semester itu. Gawat, kan?
Tak hanya itu, upaya menggalakkan budaya malu juga tak tanggung-tanggung dilakukan. Setiap mahasiswa yang tertangkap menyontek, akan dipajang fotonya di papan pengumuman dengan judul ‘Raja Contek’. Lengkap dengan biodatanya.
Nah, teman saya yang bernama Iwang ini menjadi salah satu mahasiswa bernasib malang. Dia ketahuan membuat ‘jimat’ di telapak tangannya pada saat ujian mata kuliah Manajemen Informatika. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, kan? Ya, foto dan data dirinya muncul di papan pengumuman keesokan harinya. Seluruh mata kuliah yang diikutinya pada semester tersebut gugur semuanya.
Hati saya dan juga teman-teman lainnya terasa miris. Bagaimana tidak, dia bukan termasuk orang berada, untuk biaya kuliah saja ia harus kerja sampingan segala. Kini biaya satu semester hangus akibat ulahnya sendiri. Kasihan, belum lagi rasa malu yang harus ditanggungnya.
Masa ujian pun berlalu. Saya memasuki semester selanjutnya dan mulai melupakan kejadian yang menimpa Iwang tersebut. Tapi apa yang terjadi? Baru memasuki hari kedua di semester baru, saya kembali menemukan foto di papan pengumuman. Apakah foto Iwang masih belum diturunkan? Benar! Foto Iwang masih terpajang di sana. Perasaan kemarin, di hari pertama, saya sudah tidak melihat foto itu di sana. Kok hari ini ada lagi?
Saya mengamati lebih teliti. Astaghfirullah! Apakah ini tidak salah? Judulnya bukan lagi ‘Raja Contek’, melainkan ‘Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun’. Saya tersentak. Jadi foto kali ini adalah foto pengumuman atas kematian teman sekelas saya itu? Allahu Akbar! Begitu ganjilnya perasaan saya memaknai peristiwa yang satu ini. Keganjilan yang terpendam hingga hari ini. (V)
Posted in menoreHHikmah | 1 Comment »