Ikatlah ilmu dengan menuliskannya!

Hari-hari Berat

Senin, Juli 20th, 2009

Malam itu saya diliputi ketegangan luar biasa. Begitu sulit memejamkan mata. Bukan cuma karena kondisi saya yang terasa lemah tak berdaya, tapi lebih karena melihat kondisi Dinda. Bagaimana tidak, malam itu saya, suami dan putri saya Dinda sedang sakit. Kata dokter kami semua terkena thypus. Hm, sepertinya kami harus lebih berhati-hati belanja makanan :-)

Malam itu yang membuat saya khawatir adalah kondisi Dinda yg cukup panas. Meski menurut hasil tes di RS kami sama-sama dinyatakan kena thypus tapi cuma Dinda yang benar-benar panas. Saya tidak tega melihatnya mengigau-igau karena demam. Melihat jam di dinding, saya kian gelisah, jam 12 malam. (lagi…)

  • Share/Bookmark

Awasi pembantu!

Rabu, Juni 3rd, 2009

Video ini hanya salah satu contoh betapa anak-anak kita butuh perhatian dan penjagaan lebih dari kita, jangan sampai menyesal di kemudian hari…

Anak adalah amanah Allah. Jagalah mereka dengan sebaik-baiknya. Jika anda adalah seorang ibu pekerja, sebaiknya ikuti beberapa tips berikut demi buah hati anda:

1. Jangan meninggalkan anak hanya dengan pembantu. Usahakan ada keluarga yang lain di rumah.

2. Jangan terlalu membebani pembantu dengan pekerjaan yang banyak, karena itu bisa membuatnya stress dan takut dimarahi majikan jika pekerjaannya tidak beres, hingga ketika anak-anak rewel, emosinya langsung tersulut.

3. Sebagai majikan berusahalah untuk sabar dan tidak gampang marah pada pembantu, karena bisa jadi kemarahan yang ia terima akan dilimpahkannya pula pada anak-anak anda yang masih kecil dan belum bisa melawan.

4. Jika mungkin, pasanglah kamera (CCTV) seperti rekaman di atas untuk memastikan bagaimana perilaku pembantu saat anda tidak di rumah.

5. Ingat, pekerjaan dan uang yang anda peroleh tidak sebanding dengan keselamatan anak-anak, jadi jika tidak terlalu mendesak sebaiknya asuh sendiri anak-anak dan tinggalkan dulu pekerjaan di luar rumah sampai mereka cukup besar untuk ditinggal.

  • Share/Bookmark

Hi, Bush! How are you?

Kamis, April 30th, 2009

bush

Bukan bermaksud menambah popularitas Bush, cuma heran aja, kok dia bisa berpose kayak gitu, sih? Pose langka untuk seorang presiden :-)

  • Share/Bookmark

Wedding Anniversary, 16 April

Kamis, April 16th, 2009

anniversary

MENUJU UPACARA KHIDMAT

Tak ada barisan para punggawa… Tak ada arak-arakan kereta kencana… Tak ada janur dan panji yang berjela-jela… Tak ada tabuhan genderang atau tiupan terompet yang menggema… Tak ada lenggokan gemulai dan senandung merdu para penari dan penyanyi wanita… Sungguh tak ada!

Karena ini adalah upacara khidmat yang digelar oleh kalangan istana, khusus untuk dua mempelai yang akan mewarisi Kerajaan KesejatianJadi…

Jangan berharap bisa melihat deretan tamu yang datang menjura… Jangan berharap melihat hidangan mewah yang melimpah ruah… Jangan berharap!Karena yang akan kau temukan hanyalah taburan bunga Shion di sekeliling halaman istana, yang disemaikan oleh tangan-tangan para dayang yang penuh dzikir

Hanya itu!


abc

KETIKA

Ketika mimpi-mimpi sederhana kami terwujud menjadi kenyataan

Ketika keinginan untuk merawat bunga di taman hati telah coba kami mulai

Maka, saat itulah sujud syukur kami haturkan kepada-Nya, karena hanya Dia yang mampu menegarkan kaki-kaki kecil kami dalam menapaki jalan ini

Dan ketika kami telah saling mengisi hati, maka saat itulah doa restu kami pintakan untuk kesejatian ini

(Dari dua taman hati, lima tahun yg lalu)

  • Share/Bookmark

Saya capek!

Senin, Maret 30th, 2009

bertigaSaat perempuan lain bisa melenggang ke luar rumah dengan bebas, maka saya tidak demikian. Saya harus membawa anak-anak dengan segala tetek-bengeknya yang merepotkan. Saat perempuan lain bisa aktif di berbagai kegiatan, maka saya tidak demikian. Saya harus puas dengan aktifitas rumahan yang menjenuhkan. Saat perempuan lain bisa bekerja kantoran, berangkat pagi pulang sore, saya justru berkutat dengan urusan dapur, bersih-bersih, sampai mengurusi keperluan anak dan suami yang tak ada habisnya.

Huah! Saya capek! Jenuh! Terkungkung! Kehilangan eksistensi diri! Krisis percaya diri!

Saya mulai bersungut-sungut sendiri, membiarkan rumah tak tersentuh layaknya kapal pecah. Membiarkan dapur tanpa nyala kompor, itu artinya saya ogah masak!

Biar saja. Biarkan semuanya seperti itu. Saya hanya ingin diam tanpa dipasung oleh aktifitas yang menjemukan itu. Saya tidak sudi dipaksa oleh keadaan. Saya akan mengabaikan setiap suara yang meminta, memerintah, atau merengek sekalipun! Toh saya bukan pembantu, bukan babu yang harus melayani setiap orang di rumah ini, tanpa peduli akan kelelahan saya sendiri. Kenapa  semuanya harus saya? Bukankah mengambil makan dan minum serta hal-hal kecil itu bisa mereka lakukan sendiri. Kenapa harus selalu menyuruh, menyuruh dan menyuruh?

Bukankah sebenarnya saya ‘ratu’ dalam rumah ini? Masa ratu diperintah-perintah? Ratu juga perlu bersantai, ke salon, shopping dan sebagainya tanpa dibebani seharian oleh rentetan kewajiban-kewajiban.

“Bunda, ambilin HP Ayah dong!” Tuh, suara suami saya. Cuma mengambil HP, kenapa harus saya?

“Bunda, pakein baju dong!” Itu suara putri saya, Dinda, yang berusia 4 tahun lebih. Padahal biasanya dia bisa bergonta-ganti baju sendiri sampai isi lemarinya berantakan tak karuan. Kenapa sekarang minta dipakein segala?

Belum lagi si kecil Ken yang berusia 9 bulan, setiap tangisannya adalah ‘perintah’ buat saya.

Huah! Lagi-lagi huah! Benar-benar melelahkan! Tapi biarkan saja, saya tidak akan beranjak! Biar suami saya mengambil sendiri HP-nya, biar putri saya tak pakai baju kalau dia tidak mau memakainya sendiri. Biar bungsu saya menangis sepuasnya, toh  kata dokter menangis juga bagus untuk paru-parunya.  Memangnya saya robot yang nggak kenal lelah? Robot saja bisa terbakar kalau dipaksa kerja terus-menerus.

Tapi suara tangis Ken terdengar kian kencang. Huh, berisik juga. Jangan-jangan dia kesakitan… naluri keibuan saya mulai bekerja. Dan karena naluri itu juga tiba-tiba saya tersentak. Bangun! Oalah, kok saya pake tertidur segala? Mimpi lagi. Ya,  ternyata saya tertidur di samping Dinda yang tadi minta dikeloni. Sementara Ken yang tidur di kamar sebelah rupanya sudah terbangun. Suara tangisnya yang kian kencang membuat saya bergegas menemuinya.

O-o! Rupanya anak laki-laki saya itu sudah mandi keringat, kegerahan… Olala! saya baru sadar kalau dia belum mandi sore. Sudah jam lima, euy! Langsung saya siapkan handuk, sabun dan bak mandi mungilnya. Seperti biasa, dia terlihat gembira berendam sambil memukul-mukul air. Keceriaan di bening bola matanya, tawa riangnya… ah!

Saya tertegun menatapnya. Terseret sisa-sisa mimpi tadi…

“Kamu beruntung,” kata seorang teman di jendela obrolan Facebook saya. “Punya keluarga, suami dan anak-anak yang lucu. Sementara saya masih sendiri, melarikan kesepian pada kesibukan kerja. Capek lahir batin!”

Di lain waktu dengan teman yang lain, “Kamu beruntung diberi anak-anak yang sehat, sementara anak saya sakit-sakitan dan mengalami keterbelakangan mental, repot sekali mengasuh ‘bayi’ bertahun-tahun,” tulisnya sedih.

“Meskipun sudah punya rumah sendiri, nggak ngontrak lagi kayak kamu, tapi kurasa kamu lebih bahagia.  Rumahku sepi, nggak ada suara anak-anak yang menceriakannya,” tulis teman yang lain lagi dengan nada tak kalah sedih.

“Kamu jangan mengeluh, Via, meski nggak ada orang tua atau pembantu yang meringankan tugasmu. Kamu tuh beruntung lagi, karena kondisimu itu akan membuatmu jauh lebih mandiri dan sigap menangani semua persoalan rumah tangga dibanding aku yang selalu dibantu ibu dan seorang baby sitter. Aku gagap jika harus merapikan rumah yang berantakan apalagi jika si kecil rewel,” tulis teman lain yang tahu kerepotan saya sejak pembantu saya pulkam.

Seorang teman lama juga berkomentar, “Aku malah ngimpiin kayak dirimu itu. Bisa mengatur kerjaan, karena di rumah kan kita yang jadi bos. Kalau bosan bisa ngenet, berhaha-hihi sama teman tanpa harus capek-capek keluar, berjibaku dengan berbagai jenis manusia di dalam angkot atau bis. Tetep bisa nulis tanpa harus khawatir anak-anak dibawah asuhan orang lain.”

Ya, mereka senada, mengatakan saya beruntung! Dan sebenarnya saya memang beruntung. Punya suami yang tak meminta (apalagi mengharuskan) istrinya bekerja di luar rumah, karena kami sama-sama berkeyakinan, rizki saya sudah dititipkan Allah padanya. Dan sebagai kepala rumah tangga, dialah yang berkewajiban menjemput rizki itu.

Alhamdulilah, saya langsung dikaruniai buah hati tanpa perlu menunggu lama, buah hati yang sehat, tidak cacat.

Alhamdulillah, Allah anugerahi saya kepandaian dalam menulis, hingga bisa melakukan kegiatan yang saya senangi itu di rumah.

Alhamdulillah juga, internet di rumah online sepanjang hari hingga di tengah kerepotan mengasuh kedua buah hati yang masih balita, saya tetap bisa menyalurkan hobby menulis di web dan blog, atau sekadar bertukar kabar dengan teman-teman.

Sekali lagi alhamdulillah, meski tak ada orang tua atau pembantu yang mendampingi saya, masih ada pembantu part time yang datang tiap pagi untuk mencuci, menggosok, mengepel, cuci piring dan buang sampah. Hingga tugas saya tinggal memasak dan mengurus anak-anak.

Alhamdulillah lagi, di sela-sela rasa jenuh itu suami saya masih rajin mengajak saya jalan-jalan, bersama anak-anak tentunya. Bahkan tak perlu menunggu week end seperti orang lain, asal ada waktu luang kami pasti jalan-jalan naik motor. Entah itu ke mal, makan bakso, nyari duren, silaturahmi ke rumah teman dan sebagainya. Mau siang, sore, malam, tetap jalan. Maklum, kami semua hobby jalan-jalan.

Saya memang capek, jenuh…

Tapi saya tak perlu bantuan formal, karena masing-masing sudah memiliki aktifitas dan kelelahan yang berbeda, saya sadari itu. Mungkin yang saya butuhkan hanya kalimat-kalimat ringan yang membahagiakan…

“Bunda pasti capek, maaf ya, Ayah gak bisa bantu…” Itu suami saya.

“Bunda lagi masak ya, Dinda bantuin, ya?” Ini tentu suara Dinda.

“Bunda, mau dibeliin apa? Sate? Martabak?” Suami saya lagi, saat hendak keluar rumah.

“Bunda, ayo kita sholat, yuk!” Dinda lagi, siap dengan mukenanya.

“Bunda mau dipanggilin tukang pijat?” Tawaran suami saya, menarik sekali.

“Aku sayang sama Bunda.” Pasti Dinda, sambil mencium pipi saya.

“Ba…ba…ba…” Aha! Itu pasti Ken, sambil tertawa ceria.

Alhamdulillah…

Begitu banyak pujian untuk Allah, yang telah memberi saya begitu banyak anugerah di tengah-tengah kesempatan menuai pahala saat melayani anak-anak dan suami, di tengah-tengah kerepotan yang mendewasakan, dan di tengah-tengah keletihan yang membahagiakan. Andai saya bisa selalu bersyukur, tentu segala keluh-kesah itu tak perlu ada… meskipun hanya dalam mimpi! (V)

  • Share/Bookmark

Dongeng Sebelum Tidur

Minggu, Maret 15th, 2009

dongengKebiasaan mendongengkan anak sebelum tidur sepertinya tidak mentradisi dalam keluarga saya. Entahlah, mungkin karena itu bukan kebiasaan orang-orang di kampung saya. Jadi dongeng Cinderella dan Putri Salju itu hanya saya dapatkan dari buku-buku cerita saja, bukan dari penuturan orang tua saya. Bagi kami, ketika tiba waktunya tidur, maka kami akan berangkat ke tempat tidur tanpa ada dongeng yang mengantar kami ke alam mimpi.

Tapi saya memiliki kenangan tersendiri tentang dongeng waktu kecil. Dongeng yang selalu saya dengar pada malam hari, meski tidak tiap malam dan bukan pula sebelum tidur. Bukan tentang Cinderella, Putri Salju dan berbagai dongeng indah lainnya. Melainkan tentang cerita hantu!

Ya, cerita hantu itu sangat sering saya simak ketika kecil dari mulut orang tua-tua. Yang paling sering menceritakannya pada saya adalah seorang bibi yang saya panggil Odang. Meski selalu takut mendengarnya, tapi saya pula yang sering meminta beliau bercerita. Dan meskipun ceritanya itu-itu saja, saya seakan tak pernah bosan mendengarnya.

Cerita yang paling saya ingat adalah tentang seorang perempuan yang suka menumbuk pada malam hari. Bunyi lesung yang beradu dengan alu sebenarnya tak begitu berisik jika yang ditumbuk cuma beras atau padi. Tapi orang tersebut selalu mengeluarkan suara berisik jika menumbuk, apalagi ia menumbuk pada malam hari, dimana orang-orang sudah berselimut dalam malam. Apakah yang ditumbuk perempuan itu malam-malam begini? Kenapa suara benda yang ditumbuknya begitu keras seperti suara…

Tulang! Itulah yang sedang ditumbuknya. Ternyata perempuan itu bukanlah manusia. Dia adalah hantu! Hantu yang selalu berkata, “Lalu angin, lalu den…”

Artinya kira-kira begini; jika ada lobang sekecil apapun yang bisa dilewati angin maka ia akan bisa pula melewatinya bersama angin yang bertiup itu. Hiiiyyy… jiwa kanak-kanak saya selalu bergidik membayangkannya. Angin yang bertiup dari ventilasi rumah mendadak terasa lebih dingin dan mistis, hehehe…

Jangan bayangkan kampung saya terang benderang di malam hari seperti di kota. Tidak, kampung saya waktu itu belum kenal PLN. Malam dan keheningannya yang mutlak masih menjadi selimut kegelapan yang mencekam. Kondisi yang sangat membangun bagi cerita yang didongengkan oleh Odang saya tadi.

Ada lagi cerita berkesan, yaitu tentang sekelompok orang yang menggotong mayat di tengah malam. Wih, ceritanya nggak kalah serem dibanding yang tadi. Namun seperti yang saya katakan di atas, meski takut dan tidak berani tidur sendirian, saya tidak bosan meminta beliau mengulang-ulang ceritanya.

Dan bagi saya, itulah dongeng yang  sangat saya nikmati ketika kecil. Bukan Cinderella atau Putri Salju, melainkan cerita hantu! (V)

  • Share/Bookmark

Duniaku Semakin Sempit

Senin, Maret 9th, 2009

21sc018Setelah bertahun-tahun kenal internet (lho, kok jadi singkatan nama temen2 saya; Indra, Terry, dan Neti) saya baru nyadar begitu banyak kejutan yang saya temui.

Terutama bertemunya saya dengan teman-teman lama, teman-teman sekampung (maksudnya satu daerah asal, bukan semua orang kampung), teman-teman sekolah yang udah lamaaaa banget nggak ketemu. Benar-benar mendadak jumpa!

Surprise banget, karena ternyata masing-masing sudah banyak berubah, namun tetap akrab diajak ngobrol. Anehnya, mereka pada bingung, kok saya bisa-bisanya jadi penulis? Padahal dulu kayaknya lebih berpotensi jadi model, hahaha… (ups!)

Setelah semakin banyak bertemu orang-orang dari masa lalu, saya mendadak nggak pede. Dunia saya jadi terasa sempit. Saya nggak leluasa lagi berekspresi. Takut jika tiba-tiba ada temen lama yg nyeletuk, “Via, elo dulu kan begini-begini.”

Ah, jika sudah begini, baru terasa beratnya jadi seleb (halah, ini mah geer yg keliwatan!). Hehe gak ding, seingat saya, saya nggak punya jejak silam yang kelam kok. Semuanya masih normal-normal aja, kayak yang lain-lain. Kelamnya paling saat saya keluar rumah dan PLN belum masuk ke desa saya. Dih! Jaka Sembung lewat, gak nyambung gawat, hehe…

Yang penting saya sebenarnya masih bangga kok jika ada yg tahu saya adalah seorang anak yang dilahirkan dan dibesarkan di sebuah desa yang rada-rada terpelosok. Namanya Padang Kandis, di sebuah kecamatan bernama Guguk dalam wilayah kabupaten 50 Kota.

Ya, jika dihitung-hitung, sudah belasan temen lama yg saya jumpai di dunia maya ini. Ada yg lewat milis SMA Dangung-Dangung (nama SMA saya unik, ya?), lewat milis daerah, facebook, multiply, dan ada lagi grup-grup lain yg mempertemukan saya dengan temen-teman lama tadi.

Kadang geli bin surprise juga saat pertama bertemu, soalnya ada yang sudah belasan tahun nggak ketemu, eh mendadak jumpa di milis. Atau ada lagi tetangga sebelah rumah saya di kampung, yang juga teman sejak SD, ketemunya malah di facebook.

Trus ada lagi temen ngebreak alias cuap-cuap di udara yang ketemu di sebuah milis dan dia masih ingat sama saya. Begitu tau siapa saya, dia langsung menyapa, “Ini Amoy yang dulu bla…bla…bla…”

Hehe, saya pun dengan bersemangat menjawab, “Indian Yongky Oscar, ganti!”

Yang lebih seru lagi, saya ketemu ponakan juga, yang masih ABG dan ngefans berat sama saya hihihi… Ini sih bukan kejutan tapi mempersempit dunia saya aja. Masih banyak lagi teman yang saya jumpai di internet (kali ini singkatan dari Indah, Terang dan Netral, apaan coba?) yang terlalu panjang jika saya sebutkan satu persatu.

Intinya, dunia terasa semakin kecil dan sempit namun juga semakin asyik :-)
Sekarang tinggal menunggu, siapa lagi ya temen lama yang bakal ketemu… (V)

  • Share/Bookmark

Kontraktor atau Nomaden?

Kamis, Oktober 9th, 2008

Pernah membayangkan pindah-pindah rumah? Tak hanya sekali dua kali, tapi berkali-kali? Kalau saya, tak hanya membayangkan tapi mengalami. Berapa kali saya pindah rumah? Coba hitung sendiri, deh!

Di awal pernikahan, saya dan suami menempati sebuah rumah petak di kawasan Pramuka, Jakarta Pusat. Lumayan mahal, karena kawasan tersebut memang cukup strategis dan di tengah kota. Kami hanya mengontrak selama 6 bulan.

Setelah 6 bulan kami pindah. Masih di kawasan yang sama, tidak begitu jauh dari rumah yang pertama. Alhamdulillah, rumah kedua ini lebih nyaman dan lebih luas meski masih bertitel rumah petak. Juga tidak sepadat rumah sebelumnya. Hanya saja, atap bagian belakang yang bocor besar membuat saya sering kesal. Maklum saat itu saya lagi hamil berat, sudah memasuki trimester ketiga. Terbangun tengah malam gara-gara atap yang bocor dan buru-buru mengamankan barang seringkali saya alami hingga tekanan darah saya meningkat akibat istirahat terganggu. Bidan pun mulai mewanti-wanti agar saya menjaga tekanan darah. Alhamdulillah, di rumah kedua inilah saya mengasuh dan merawat bayi pertama saya, Dinda Hilwa Syahidah. 

Setelah 1 tahun tinggal di sana, kami kembali pindah. Kali ini ke daerah Cipinang Besar agar lebih dekat dengan keluarga saya. Pindah ke sebuah rumah (yang lagi-lagi) petakan. Biarpun rumah petak, tapi rumah ketiga ini memiliki ruang tamu yang lumayan, kamar tertutup dengan jendela mungil, sebuah ruang keluarga dan dapur serta kamar mandi yang luas. Satu-satunya yang membuat tidak nyaman adalah miskinnya ventilasi di rumah tersebut. Hanya ada ventilasi di ruang tamu, itupun udaranya tidak leluasa karena ada bangunan SD bertingkat, dua meter di depannya. Jadilah rumah itu terasa panas sepanjang hari.

Takdir ternyata hanya mengizinkan kami menempati rumah itu selama 3 bulan. Suami saya yang saat itu bekerja di Ciputat jatuh sakit. Lumayan parah. Sepertinya dia terlalu kecapaian bolak-balik Ciputat-Cipinang tiap hari. Akhirnya kami putuskan pindah ke Ciputat. Tapi bagaimana dengan rumah kami yang baru ditempati 3 bulan? Tidak mungkin rasanya meminta uang kembali. Alhamdulillah, Allah Maha Pemberi jalan, ada sebuah keluarga yang baru kena gusur sedang mencari rumah kontrakan. Maka terjadilah over kontrak di antara kami. Lumayan, uang kami bisa balik sesuai perhitungan.

Ya, akhirnya kami kembali pindah. Rumah keempat ini tidak jauh dari kampus UIN. Di sebuah gang yang lumayan sempit dan padat. Tapi justru di sinilah saya merasa lebih membaur dengan tetangga sekitar. Enam bulan kemudian kami pindah ke rumah sebelahnya. Inilah kepindahan kelima dan terdekat yang kami alami, cuma berjarak satu dinding J

Loh, kok latah banget pindah sedekat itu? Jangan salah, biarpun cuma beda dinding, ternyata air di rumah sebelah lebih bersih dari rumah sebelumnya. Dan ini alasan yang sangat urgen untuk pindah.

Awal 2007 kami pindah ke daerah Kranji, biasalah tuntutan pekerjaan. Rumah petak lagi? O, tentu saja! Rumah keenam ini lumayan keren dengan bangunan yang sangat baru. Tapi… hidup memang tak ada yang sempurna. Rumah baru kami itu ternyata sangat didemenin lalat. Begitu banyak lalat setiap harinya sampai-sampai saya tak tega membuka pintu depan, takut ruang tamu dipenuhi lalat. Ternyata tidak jauh dari rumah tersebut ada tempat pembuangan sampah yang lumayan besar. Duh, kok tidak tahu dari awal, ya? Tapi itulah kenyataannya. Dalam hati saya bergumam, untung kami cuma ngontrak bulanan dan barang-barang pun tidak banyak. Jadi jika harus pindah lagi tidak terlalu repot.

Lagi-lagi takdir bicara. Tiba-tiba suami saya dapat telepon dari salah seorang Dekan UNAND. Beliau meminta suami saya untuk datang ke Padang. Biasalah, soal pekerjaan. Mungkin karena memang hobby jalan-jalan dan suka tantangan, suami saya dengan senang hati menyanggupi tapi tentunya juga dengan beberapa syarat. Maka berangkatlah ia ke Padang sendirian. Saya dan putri kami masih tetap di Jakarta. Sebulan kemudian kami menyusul ke Padang. Kalau ini, mungkin dorongan kerinduan terhadap kampung halaman yang telah bertahun-tahun tak ditengok J

Maka itu artinya lagi-lagi pindah rumah. Dan ini untuk ketujuh kalinya. Saya sempat berpikir semoga ini kepindahan terakhir kami karena saya ingin sekali membangun masa depan di kampung halaman saya. Ehm, ini keinginan yang wajar, kan?

Tapi kita memang tak pernah bisa menduga apa yang akan terjadi, termasuk soal perasaan. Entah kenapa, saya justru merasa tidak kerasan setelah kembali ke pangkuan tanah kelahiran. Kota Padang yang panas, gempa yang sedang heboh-hebohnya, suara hentakan musik yang hingar-bingar (berpotensi merontokkan jantung) nyaris di setiap angkot dan metro mini di kota Padang, adalah sebagian alasan ketidakbetahan saya.

Tapi saya tentu tidak bisa ujug-ujug minta balik ke Jakarta, kan? Suami saya masih terikat pekerjaan. Sekali lagi, Allah Maha Pemurah. Di saat pekerjaan suami saya sudah longgar, tiba-tiba ia mendapat panggilan kerja di Jakarta. Jelas itu mencerahkan perasaan saya. Maka menjelang Ramadhan 2007 kami pun kembali boyong ke Ibu Kota yang pengap dan macet namun tetap dirindu. Kami mengontrak sebuah rumah (alhamdulillah, lagi-lagi petakan) di daerah Cipinang Besar, tidak jauh dari yang dulu. Inilah rumah kami yang kedelapan.

Baru 2 bulan tinggal di rumah tersebut, suami saya dipinang lagi oleh sebuah penerbit di Bandung. Oya, waktu jomblo dulu, saya pernah lho pingin tinggal di Bandung. Makanya saya jadi berpikir, jangan-jangan ini kesempatan yang dibukakan Allah untuk mewujudkan keinginan itu. Berhubung kami ngontraknya bulanan, maka tanpa kendala kami hijrah ke Bandung. Ini artinya kami akan menempati rumah kesembilan.

Tapi begitu memasuki rumah tersebut, hati saya begitu sulit diajak kompromi untuk berlapang dada. Padahal sebelumnya saya cukup qonaah menempati rumah manapun. Entahlah, mungkin karena lagi hamil muda dengan bawaan mual dan pusing, saya menganggap rumah itu tidak layak kami tempati. Ruangan yang terasa lembab, kamar mandi yang tanpa pintu, dapur yang tak memadai, air yang sangat keruh dan bau, jemuran yang terletak di loteng, jarak yang jauh dari jalan raya, adalah sebagian dari hal-hal yang saya anggap akan merepotkan saya. Bukan apa-apa, dengan kondisi hamil dan memiliki seorang anak balita, saya menginginkan tempat tinggal yang cukup sehat.

Tapi saya tidak tega ngotot pada suami saya karena dia sudah repot-repot selama beberapa hari mencari rumah untuk kami. Begitu masuk waktu Magrib, lampu pun dinyalakan. Tiba-tiba keluarlah gerombolan laron memenuhi ruangan tersebut. Rupanya mereka bersarang di kayu penyangga jendela dan itu tak mungkin kami atasi dalam waktu singkat.

Suami saya mulai tidak nyaman. Malam itu juga kami keluar ditemani gerimis. Menyusuri pematang sawah, dengan payung pinjaman tetangga. Tujuannya adalah mencari rumah alternatif. Tapi nihil! Yang ada cuma kos-kosan, tidak menerima suami istri. Terus-terang saya sangat kasihan pada suami dan anak saya. Karena itulah saya berusaha untuk tidak banyak mengeluh meski kondisi fisik saya yang sedang mual-mual sangat memberatkan saya saat itu.

Maka terpaksalah malam itu kami tidur di rumah yang lembab dan gelap karena lampu harus dimatikan demi mengusir laron. Keesokan harinya suami saya kembali hunting rumah. Alhamdulillah dapat. Maka kami kembali mengepak barang-barang. Untung rumah tersebut baru dibayar panjarnya saja, jadi kami hanya perlu minta maaf karena tidak jadi melanjutkan kontrak. Maka itulah rumah yang paling singkat kami tempati, hanya semalam saja.

Lalu kami memasuki rumah kesepuluh di dekat kompleks PLN, di jalan M. Toha. Sebuah kamar layaknya kos-kosan pelajar, dengan dapur dan kamar mandi yang digunakan bersama seorang mahasiswi yang mengontrak di kamar depan. Tidak apa-apa, saya jauh lebih nyaman di sini dibandingkan rumah sebelumnya. Yang penting rumahnya bersih dan lingkungannya sehat. Apalagi pemilik rumah juga sangat baik dan putri saya juga senang bermain bersama beliau. Lingkungan yang cukup religius membuat saya merasa lebih tentram meski hanya menempati sepetak kamar di tengah rasa mual yang sedang hebat-hebatnya. Saya bahkan tidak begitu tertarik saat suami saya menawarkan rumah yang lebih leluasa untuk keluarga kecil kami. Saya sudah kadung nyaman dan malas pindah-pindah lagi. Maka jadilah ini tempat tinggal terkecil yang pernah kami tinggali.

Memasuki trimester ketiga kehamilan saya, saya mulai berpikir kembali ke Jakarta untuk melahirkan di sana. Hm, setelah dipikir dan dirasa, saya dan suami sepakat untuk kembali ke Jakarta. Ternyata Bandung pun bukan tempat yang cocok untuk membangun impian meski dulu saya sangat menginginkannya. Saya malah sempat merasa kerepotan gara-gara sulitnya taxi yang nyaman plus aman di Bandung. Duh, maaf nih buat warga Bandung J

Setelah mencari rumah yang cocok, maka saya pun pindah duluan ke Jakarta. Kali ini di daerah Jombang, tidak jauh dari Bintaro. Inilah rumah kami yang kesebelas. Lumayan luas dengan dua kamar di bawah dan satu kamar di atas untuk pembantu. Ya, kami akhirnya menggaji seorang pembantu berhubung kondisi saya yang semakin berat dan suami saya yang masih bolak-balik Jakarta-Bandung. Terlalu berisiko jika saya hanya berdua dengan putri saya.

Seminggu sebelum melahirkan, suami saya memutuskan berhenti dari pekerjaannya di Bandung. Selain capek bolak-balik tiap minggu, ia juga mengkhawatirkan keadaan saya. Di rumah kesebelas inilah putra kedua saya, Ken Najmi Syuhada, menempati rumah pertamanya. Tapi sayang, baru enam bulan kami kembali harus pindah. Kali ini gara-gara ada masalah interen pemilik rumah yang tidak kami ketahui sebelumnya.

Capek? Hm… terus-terang dulu saya asyik-asyik aja jika pindah rumah. Tapi kini, setelah punya dua anak, rasanya kok mulai capek, ya? Kasihan juga anak-anak. Mudah-mudahan kami tidak perlu sering-sering pindah lagi.

Bismillah, kami pun memasuki rumah keduabelas di kompleks Taman Kedaung, Ciputat. Rumah yang ini rasanya pas sekali dengan keluarga kecil kami. Dengan dua kamar, halaman luas, lingkungan yang lumayan banyak pohon, dekat ke pasar Ciputat dan yang pasti lebih dekat ke kantor suami saya. Itu artinya suami saya bisa lebih enjoy pulang-pergi kerja. Anak-anak juga bisa main di halaman dengan nyaman. Apalagi ada TK dan Play Grup dekat rumah. Putri sulung saya sudah lama ingin sekolah dan mudah-mudahan ini kesempatan baik baginya.

Oya, apa dong kekurangan rumah yang sekarang? Ah, bukankah tak ada yang sempurna di dunia ini. Apapun kekurangannya, juga kekurangan rumah-rumah kami sebelumnya, saya selalu berusaha bersyukur atas nikmat Allah yang sesungguhnya telah berlimpah Dia berikan pada kami, hanya kesyukuran kami lah mungkin yang masih sangat kurang terhadap-Nya. Ya Allah, ajarilah kami berterimakasih pada-Mu dengan cara yang layak…

Namun jika ada yang penasaran, satu-satunya kekurangan yang sangat nyata dari rumah kami sekarang adalah; rumah ini bukan milik kami! J

Jadi, berapa kali kami pindah rumah? Trus, cocoknya disebut nomaden atau kontraktor, ya? (V)

  • Share/Bookmark

Yang Penting Banyak

Kamis, Juli 24th, 2008

kebersamaanBeberapa hari yang lalu pembantu saya membuat teh seperti biasa. Hanya saja saat saya tuang ke dalam gelas dan mencicipinya, sama sekali tidak seperti biasa. Yang terasa di lidah hanya rasa manis tanpa aroma khas teh. Saya jadi tidak berselera. Padahal dia membuat teh itu nyaris satu teko penuh.

“Kebanyakan air kayaknya, Bunda,” katanya menjelaskan.

Saya hanya mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ingatan saya melayang pada sesuatu.

Dulu, saat saya masih di kampung, ada sebuah keluarga yang selalu mengutamakan banyaknya jumlah makanan ketimbang rasanya. Karena kondisi keuangan yang sulit sementara anggota keluarga tersebut cukup ramai, maka saat membeli makanan mereka harus mempertimbangkan dua hal tersebut.

Jika berbelanja ke pasar, yang mereka beli adalah makanan murah-murah agar bisa membeli dalam jumlah banyak seperti kerupuk misalnya. Jika membeli roti maka roti yang mereka beli adalah jenis roti bantal yang besar-besar yang memang berharga murah. Atau jika membeli sate, maka yang banyak adalah ketupat dan kuahnya, sementara dagingnya cukup satu tusuk perbungkus. Begitupun jika membeli cendol, yang banyak adalah airnya agar semua anggota keluarga bisa mencicipi.

Saya tersenyum mengingat semua itu. Karena sekarang keluarga tersebut sudah diberi rizki lebih oleh Allah. Mereka sudah bisa membeli makanan berdasarkan rasanya bukan lagi bergantung pada jumlah. Namun kenangan masa lalu yang penuh kesulitan itu tetaplah jadi kenangan yang indah bagi mereka karena pada saat itu, rasa kebersamaan sangatlah terasa. Dan itu tidak sebanding dengan rasa lezat sebuah makanan tentunya. (V)

  • Share/Bookmark

Salam

Selamat datang di web pribadi saya! Semoga kita sama-sama mendapat manfaat darinya... More


Status YM

Internet Sehat

lencana


Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Find entries :