Jumat, Februari 26th, 2010
Keanehan yang menimpa Ucok benar-benar membuatku heran. Bahkan seluruh penduduk di kampung mulai mengatakan bahwa dia sudah tidak waras. Ada denyut nyeri menyengat dadaku mendengar hal itu.
“Coba kau bayangkan, Yan. Setiap hari dia mengurung diri di surau. Melantunkan zikir yang entah apa maksudnya. Lalu malam hari dia ngelantak mengitari kampung, sambil mengoceh sendirian,” lapor sepupuku, Togar. “Bahkan Nande-nya pun sudah tak sanggup melihat kelakuan anaknya itu.”
“Memangnya apa sih, Gar, yang dia lakukan? Kok sampai begitu?” tanyaku heran. Maklum, aku sudah empat tahun tidak pulang ke kampung ini.
“Dia ikut suluk di surau Haji Ahmad. Padahal orang-orang tua sudah bilang bahwa anak muda macam kita ini, belum boleh ikut suluk. Masih banyak keinginan duniawi, begitu katanya,” jelas Togar bersemangat. “Tapi si Ucok keras kepala. Ikut juga dia suluk 40 hari itu. Akibatnya, sakit saraf lah dia! Majedup kata orang-orang!”
“Hus! Maseh ngerana! Terdengar orang nanti, bisa celaka kau! Kecilkan dikit bicara kau itu!” kibasku mengingatkan.
Tapi aku jadi berpikir juga. Surau Haji Ahmad? Haji Ahmad yang telah meninggal puluhan tahun silam itu? Ya, aku sering mendengar nama itu. Beliau dikenal sebagai tokoh tarekat yang konon telah mencapai maqam wali. Tentunya dengan berbagai macam karomah yang dimilikinya. Entah benar entah tidak, tak ada yang bisa memastikan.
Namun yang jelas orang-orang di kampung pernah bercerita bahwa semasa hidupnya, Haji Ahmad sering terlihat keluar dari suraunya dalam keadaan telanjang bulat. Entah apa maksudnya, tak seorangpun yang tahu. Konon pula tingkah ganjil seperti itu memang biasa dilakukan oleh seorang sufi. Bah! Aku sendiri merasa itu adalah kelakuan sufi yang konyol. Tidak pantas disebut sebagai wali Allah.
Tapi kenyataannya, sampai sekarang masih banyak orang yang datang berziarah ke makamnya. Juga mengambil tarekat di surau tersebut.
“Masa sih, Gar, Ucok seperti itu?” Aku masih tak percaya.
“Bah! Semua orang di kampung ini pun sudah taunya itu! Kawan kau itu cuma bikin malu kita saja! Di kampung ini kan cuma keluarga kita dan keluarga dia saja kalak Karo yang Muslim. Bisa dicibir kita sama kalak Karo yang lain! Jadi Muslim kok malah gila!” Togar nampak kesal, suaranya jadi kian keras.
Aku yang akhirnya diam, sibuk memikirkan apa yang sedang menimpa teman akrabku itu. Ya, aku dan Ucok sudah berteman sejak SMP. Tapi setelah tamat SMP, aku melanjutkan SMA di Jakarta dan sekarang kuliah di Bogor. Sementara Ucok, setamat SMP hanya membantu-bantu Nande-nya di ladang. Sebab untuk melanjutkan sekolahnya tidak ada biaya. Maklum, Bapaknya telah lama meninggal.
“Hei! Kau masih dengar aku tidak? Mekkir kau lalap! Mentang-mentang mahasiswa,” sentak Togar mengagetkanku. Aku mendelik kesal pada sepupuku itu. Apa dia tidak tahu kalau aku sedang memikirkan nasib sahabatku?
@@@
Siang itu Togar menemaniku ke rumah Ucok. Kami sengaja menempuh jalan kampung agar bisa sampai lebih cepat. Tapi sebelum sampai ke rumah sahabatku itu, langkah kami terhenti mendadak. Bagaimana tidak, di pinggir jalan kampung yang lengang itu, kami melihat Ucok sedang memanjat sebatang pohon yang cukup tinggi. Lalu duduk di salah satu cabangnya yang paling besar.
Dengan kepala manggak ke langit, sahabatku itu mulai menceracau. “Aku rindu pada-Mu, Tuhan! Tolonglah tunjukkan wujud-Mu padaku! Dimana Engkau berada wahai, Kekasih?” serunya cukup keras.
“Huahaha.., inilah yang membuat perutku geli minta ampun! Kawan kau itu selalu mencari tahu dimana Tuhan berada. Mungkin dipikirnya Tuhan sedang bersantai di pucuk pohon itu,” kata Togar tertawa ngakak.
“Kau ini! Malah ketawa. Kasihan dia!” Aku melotot ke arah sepupuku itu.
“Bagaimana tidak ketawa? Gayanya yang bak penyair itu sangat lucu. Dia lebih lucu dari Ketoprak Humor yang di TV itu,” jawab Togar masih mengumbar tawa.
Aku menarik napas, kembali mengamati Ucok yang kian asyik di atas sana.
“Wahai, Rasulullah yang mulia! Dimanakah dikau kini? Aku rindu menatap wajahmu yang bak bulan purnama, rindu mencium tubuhmu yang seharum kesturi. Aku rindu…, sangat merindu!” serunya lagi setengah meratap. Lalu sesaat kemudian kulihat ia tertunduk dalam dengan bahu terguncang. Seperti menangis sesegukan.
“Ya, Allah…, apa yang menimpanya?” gumamku iba.
“Yang pasti dia sedang berkelana, mencari Tuhan. Seperti seorang Arjuna yang sedang mencari cinta,” komentar Togar terkikik. Aku kembali melotot. Anak ini benar-benar tidak punya rasa kasihan. Bah!
“Jangan menatapku macam itu, sepupu! Kau jadi kasihan karena kau baru kali ini melihatnya. Sedang aku sudah hampir enam bulan melihat kawanmu itu begitu. Jadi sudah biasalah. Malah kadang menghibur juga kurasa. Wadaawww..!!” Kusikut keras perutnya. Bicara kok tidak mikir, rutukku dalam hati.
“Kasihan! Anak ah enggo mering. Kapate kita ngenehen ia. Itulah akibatnya kalau salah menjalankan agama. Bisa majedup.” Tiba-tiba seorang lelaki tua berhenti di dekat kami seraya berkomentar iba. Aku dan Togar hanya mengangguk kecil. Setelah itu ia melanjutkan langkahnya, menyusuri jalan kampung yang lengang. (lagi…)
Posted in mediAAksara | No Comments »
Rabu, Mei 27th, 2009
Pantai Losari, 10 Agustus 1950
Sang Orator itu termangu di depan jendela rumahnya, menatap jauh ke tepi fajar Subuh. Debur ombak pantai Losari seakan jadi perlambang gemuruh di dadanya. Dan ia tak sanggup menepis ketika bayang-bayang silam itu hadir menjemputnya. Bayangan yang kadang mengundang seukir senyuman di bibirnya. Yah… betapa masa silam itu begitu bermakna baginya, begitu penuh warna.
Ia tak kan pernah lupa saat mengaduk-aduk seluruh kitab yang tersimpan dalam lemari Ammi Danau, sebutan untuk gurunya di danau Maninjau sana. Kitab-kitab yang sering ia baca tanpa setahu gurunya itu. Hm… Ammi Danau sering memarahinya karena hal itu, tapi ia memang keras kepala. Ia tak peduli meskipun sering dimarahi.
Meskipun bandel dalam hal yang satu itu, tapi sang guru tetap menyayanginya. Bahkan ketika Ammi Danau pindah ke Padang Panjang, ia juga mengajak murid kesayangannya itu. Sang guru yang tak lain adalah seorang ulama besar itu tahu betul bahwa muridnya yang satu ini adalah seorang anak yang baik hati, jujur dan suka menolong, meski sedikit keras hati. Ia seorang murid yang cerdas dan kritis. (lagi…)
Posted in mediAAksara | Comments Off
Sabtu, Agustus 30th, 2008

Senja merambat.
Perempuan itu masih tertegun menatap rintik hujan yang cukup deras di luar sana. Dengan menyibak sedikit tabir jendela, ia bisa mengamati jarum-jarum bening itu meluncur membasahi bumi. Wajahnya terlihat resah, namun sesungguhnya di balik keresahan itu tersemat sebuah asa yang entah bermakna apa. Hanya ia yang tahu, bahwa tetes-tetes hujan di luar itu adalah sesuatu yang sangat dinantikannya.
“Sudah lama… sudah sangat lama aku menantikannya,” gumam perempuan itu di antara desau angin yang menyelinap lewat jendela. “Aku yakin, hari ini aku akan melihatnya. Aku akan melihatnya!” Mata perempuan itu tampak berbinar, binar yang lagi-lagi hanya dia yang tahu maknanya. Ketika orang-orang berharap hujan tak mengguyur bumi karena ancaman banjir yang mencemaskan, maka tidak demikian dengan dirinya. Nyaris dalam setiap ulangan langkah yang diayunnya, terselip sebait doa agar hujan segera turun. Bahkan jika bisa, ia ingin setiap hari yang bergeser adalah hujan, hujan dan hujan. Karena dengan demikian ia merasa setiap hari yang dilaluinya adalah harapan demi harapan. Harapan untuk bertemu dengan impian yang ia rajut dalam keheningan jiwanya.
“Ah, sebentar lagi hujan pasti reda. Dan aku akan bisa melihatnya…” Lagi-lagi ia bergumam. Dan kali ini ada lengkungan senyum tersamar di bibir mungilnya. “Dia… dia akan muncul di penghujung cuaca, aku bisa merasakannya. Ya, aku yakin ia akan muncul hari ini! Menatapku dengan raut pucat dan senyum pasinya.”
Ia semakin merapatkan tubuh ke jendela dan melihat rintik di luar sana semakin mereda. Dadanya seakan berdesir halus melihat senja yang sebentar lagi akan menyelubungi alam. Dan kegelapan akan segera merajai setiap sudut dan ruang. Inilah saat yang ia nanti-nantikan di sepanjang hari yang dilaluinya. Tak ada yang lain.
“Aku bukanlah sosok yang sempurna. Aku hanyalah dedaunan yang tak lagi hijau. Jika kau bersamaku, maka kau tak kan pernah bisa meraih impianmu. Aku tak sanggup hadirkan kesempurnaan itu untukmu, meski seluruh hatiku begitu menginginkanmu. Selalu ingin bersamamu.” Kalimat itu terngiang di telinganya dengan sangat jelas. Sejelas detak jantungnya yang kian bergemuruh.
“Aku tidak menginginkan sebuah kesempurnaan darimu. Aku hanya inginkan kesejatianmu dan berharap selalu ada di sisimu. Itu sudah cukup bagiku,” jawabnya waktu itu.
“Tidak. Kau harus dapatkan impianmu yang sempurna karena kau sendiri adalah kesempurnaan. Kau lihatlah purnama di atas sana, ia begitu indah dan sempurna. Warnanya yang kuning kemasan sangat pantas kaumiliki. Itulah dirimu.”
“Bagaimana kau begitu yakin bahwa impianku seperti itu?”
“Setiap orang selalu bermimpi yang sempurna, seperti purnama itu. Bahkan aku pun dulu memiliki impian sesempurna itu, sebelum akhirnya waktu melibas segalanya dan menyisakan untukku sepotong impian yang telah remuk. Impian yang bagi orang lain hanya akan berbuah cibiran. Tapi itulah bagianku dan itulah aku.”
“Tapi bagaimana jika kukatakan bahwa impianku tak seperti purnama itu?”
“Lalu seperti apa?”
“Aku memiliki impain yang sederhana. Seperti rembulan pucat yang pesonanya bukanlah gemerlap kuning keemasan ditemani gemintang, melainkan kilau pucat pasi ditemani sapuan awan tipis, sisa hujan senja hari.” Ia berusaha menjelaskan.
“Entahlah, aku tidak tahu rembulan seperti apa yang sedang kau bicarakan. Atau kau sedang mengarang cerita tentang kesemuan agar aku terlihat sedikit berharga? Tidak. Aku tetaplah aku, sosok yang telah cacat di mata semua orang. Tapi sudahlah, aku harus pergi, membawa segenap kerinduanku yang mungkin tak kan pernah berakhir padamu.”
“Tunggu. Jangan pergi dulu! Aku ingin tunjukkan padamu seperti apa impian yang kumaksud itu. Bersabarlah sampai musim hujan tiba, dan kau akan melihat rembulan itu,” pintanya sungguh-sungguh.
Namun sosok itu tak peduli. Ia telah kehilangan segalanya, termasuk keyakinan pada dirinya sendiri. Baginya, menghadirkan impian yang sempurna bagi perempuan itu adalah harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi. “Tidak. Maafkan aku. Aku hanya ingin mempersembahkan impian yang sempurna untukmu, karena hanya itu yang pantas bagimu. Sesederhana apapun impian yang kauceritakan itu, aku tak yakin itu bisa membuatmu bahagia. Sebab, ketidaksempurnaan itu hanya bagianku!”
Perempuan itu tertegun menatap sosok yang kini melangkah menjauhinya. Ia berharap sosok itu menghentikan langkahnya dan berbalik. Namun tak seperti harapannya, sosok itu malah semakin menjauh, tertelan malam yang mandi cahaya.
“Ah, andai saja saat itu kau mau sedikit bersabar…” Perempuan itu masih berdiri di depan jendela kamarnya yang tersibak. Belaian angin yang dingin menerpa pipinya. Hujan di luar sana semakin menunjukkan tanda-tanda akan reda. Dan menyadari hal itu, ia kembali mengukir senyum samar di bibirnya. Asa itu, semakin memenuhi ruang hatinya.
“Aku merasakannya… merasakan kehadirannya malam ini…,” gumamnya yakin. Binar di matanya kian terlihat saat senja makin temaram, menjemput malam yang ia nantikan.
Detik dan menit terus berlalu hingga ia merasa sudah saatnya untuk keluar, menerobos udara lembab di awal malam itu. Dan memang benar. Kini langkah-langkah semampainya sudah menapak di halaman yang juga lembab. Sesekali ia melebarkan langkah, menghindari genangan air yang bertebaran. Ia tampak tak sabar ketika menghentikan langkahnya di sudut halaman. Sebagaimana tak sabarnya ia untuk mendongak ke atas, menatap langit yang masih terlihat gelap tertutup sisa mendung.
“Mana dia?” bisiknya sambil mencari-cari. Dan semakin ia mencari, semakin tak ia jumpai apapun selain pekat. “Dia pasti datang. Tidak mungkin kali ini ia mengecewakanku lagi. Sudah berbulan-bulan… berbulan-bulan aku tak melihatnya. Tolong, datanglah untukku malam ini…”
Mata perempuan itu terlihat liar, mencoba menekan kesabaran di dadanya. Malam kian jauh meninggalkan senja, merambat menuju titik nadir yang mencemaskan hati perempuan itu. Genangan air di tanah sudah semakin mengering dan udara malam kian membeku saat helaan napasnya mulai berirama resah. Matanya sudah mulai terlihat letih, mencari-cari di antara ruang langit yang tak bercelah. Ya, langit masih terlihat pekat, meski hujan telah lama berhenti. Bahkan gumpalan mendung yang sudah menipis pun tak menjanjikan wajah rembulan yang ia nantikan itu.
“Kau… mengecewakanku lagi,” desahnya tanpa memedulikan lehernya yang terasa pegal. Ia sadar, waktunya tidak lama lagi. Karena ketika genangan air hujan di tanah mengering, maka ia menganggap penantiannya sudah harus diakhiri untuk malam ini. Baginya, genangan air itu adalah bagian dari impian sederhananya. Ya, genangan air, udara dingin dan lembab, bau tanah yang basah, semerbak wangi kelopak Shion yang diterpa angin, sepenggal rembulan yang pucat, serta sapuan awan sisa mendung senja hari, adalah sebuah kesatuan dari impian yang ia bangun. Jika salah satunya tidak ada, maka baginya itu bukan lagi gambaran dari impian sederhana miliknya.
Dan ketika asa di hatinya kian mengerucut, tiba-tiba sebuah celah terbuka di atas sana. Gumpalan mendung itu menguak perlahan dan… “Oh! Akhirnya kau datang juga!” pekiknya tertahan. Buncahan seri meronai wajahnya. Dan ia seakan tak berkedip ketika perlahan-lahan sang rembulan yang pucat itu muncul, menyapanya dengan senyum pasi.
“Kau… begitu indah! Aku merindukanmu, sangat merindukanmu…” bisikan itu telah berbaur dengan keharuan yang memuncak. Getarnya begitu nyata di sela suaranya yang serak.
“Andai saja orang-orang tahu bahwa kau lebih menggetarkan dari purnama, bahwa kau lebih berharga karena kehadiranmu yang tak senantiasa, maka mereka pasti akan berbaris menunggumu.” Perempuan itu tersenyum penuh arti. Ada cemburu yang syahdu di balik senyumannya.
Namun, senyum di bibirnya itu tiba-tiba menyurut ketika dengan tiba-tiba pula sosok itu berkelebat di ingatannya. Sosok yang telah pergi, dan sampai detik ini masih diharapkannya tuk kembali.
“Andai malam ini kau ada di sini, maka akan kutunjukkan padamu seperti apa impianku itu. Inilah dia! Kau akan melihat pesona yang tiada duanya pada wajah rembulan itu. Dan seharusnya… kau percaya padaku. Karena sesungguhnya aku memandangmu seperti aku memandang impianku yang sederhana. Aku tidak pernah berharap kau jadi sosok yang sempurna dan memberiku impian yang sempurna pula. Sama sekali tidak! Tapi kau tak percaya, kau malah pergi…” Matanya merebak. Memanas.
Dan ia seakan tak rela ketika beberapa jenak kemuadian segumpal awan pekat berarak menelan impian sederhananya; rembulan yang pucat di atas sana. Dan ketika rembulan itu benar-benar lenyap tak bersisa, ia hanya bisa menghela napas dalam. Hari-hari penuh penantian akan kembali dilaluinya, namun tetap dengan satu harapan bahwa rembulan itu akan muncul lagi suatu saat kelak. Perlahan ia mengayun langkahnya, meninggalkan halaman yang masih basah. Tapi…
“Aku telah menyaksikan impian sederhanamu! Dan andai saja aku tahu sejak awal, betapa ia lebih indah dari purnama, maka tak kan pernah aku meninggalkanmu.”
Perempuan itu membalik secepat bayangannya. Sosok itu… kini telah berdiri tepat di hadapannya. “Kau…?”
“Tahukan kau, sejak aku meninggalkanmu kala itu, aku telah kehilangan seluruh rasa di hatiku, karena… sesungguhnya hatiku telah tertinggal bersamamu!”
“Dan kau, kembali hanya untuk mengambil hatimu yang tertinggal itu, lalu pergi lagi?”
“Kenapa aku harus mengambilnya darimu, sementara aku yakin ia lebih damai bersamamu!” Sosok itu tersenyum, penuh rindu. (V)
Posted in mediAAksara | No Comments »