SETELAH 15 TAHUN
Perempuan itu menatap foto buram yang tergantung di dinding. Entah sudah berapa kali foto itu ditatapnya, namun tetap saja ia tak jemu-jemu. Seolah-olah ia baru pertama kali melihatnya. Berulangkali pula jemarinya yang mulai keriput mengusap kaca pigura ukuran 10 R tersebut, seakan tak rela secuil debu pun menempel di sana.
“Maafkan aku, Sutan. Aku tidak bisa percaya padamu karena ternyata dia tak pernah lagi kembali,” bisiknya parau. Ah…, ia menghela napas panjang, seperti ingin meluahkan segala sumbat yang menyumpal di tenggorokannya.
“Aku sudah tak berharap lagi…” Kali ini keparauan itu berujung sedu. Ia sudah tak kuasa menahan air bening yang merembes di pelupuk matanya.
Ia hempaskan tubuh rentanya di atas kursi rotan yang tak kalah renta pula. Suara deritnya seperti mengejek duka perempuan itu. Namun ia tak peduli. Jangankan kursi tua itu, seluruh alam bahkan sudah mengejeknya, mengatakan dirinya gila. Dan ia sudah tak pernah peduli dengan semua itu.
“Kau perempuan yang tak tahu menjaga kehormatan! Tak pantas jadi ibu bagi cucu-cucuku!” Makian Tuangku Bijo, ayah mertuanya, masih terus terngiang di telinganya. Dan bayang-bayang silam itu kini seakan mengepungnya, mengaraknya untuk kembali ke masa 30 tahun yang lalu.
@@@
“Damiah! Aku tidak percaya kalau si Jamal itu adalah anakku! Kau pasti telah menghianatiku!” Kalimat pedas itu meluncur dari mulut Angku Banso, suami Damiah.
“Apa maksud, Angku?” Damiah terdongak kaget.
“Masih mau bertanya? Masih pura-pura tidak tahu? Kau telah mengkhianati aku selama aku berada di Pasaman!” Mata Angku Banso membesar, penuh amarah.
Damiah tertegun. “Berkhianat dengan siapa? Sedikitpun saya tidak…”
“Aaah, sudah! Tidak usah mengelak, Damiah! Kau telah merusak rumah tangga kita. Jadi jangan salahkan aku jika mulai detik ini kau bukan istriku lagi! Kau kutalak tiga!”
Petir menyambar jiwa Damiah. Melalap segala harapan di hatinya serta menghanguskan semua kedamaian yang ia rasakan. Untuk beberapa menit ia hanya mematung, menahan oleng yang tiba-tiba datang. Napasnya tertahan di tenggorokan, akibat guncangan di dadanya yang begitu hebat.
Ya, kalimat Angku Banso itu bukanlah kalimat main-main. Tak ada kalimat yang lebih serius dari pada sebuah pernyataan talak dari seorang suami. Talak tiga! Dua kata itu telah menutup pintu harapannya. Siapa lagi yang bisa menyatukan mereka jika talak telah jatuh tiga. Alamat bahtera akan ia layarkan sendiri. Atau akan karam dihempas gelombang. Jika di dunia ini memang ada neraka, maka neraka itulah yang kini sedang bergejolak di depannya.
Damiah benar-benar tidak percaya suaminya tega menuduh sekejam itu. Justru di saat mereka telah dikaruniai tiga orang anak. Mengapa tiba-tiba Angku Banso mengingkari Jamal sebagai darah dagingnya? Jamal yang kini sudah berumur empat tahun, usia dimana ia mulai mengenali siapa ayah dan ibunya. Ya, suaminya memang pernah pergi ke Pasaman beberapa bulan saat ia mengandung putra bungsu mereka. Tapi mengapa baru sekarang suaminya membantah hal itu? Mengapa tidak ketika ia mengandung Jamal dulu?
Dan apalah daya seorang perempuan lemah semacam Damiah? Anak seorang lelaki buta yang telah lama jadi piatu. Ya, perempuan itu hanya bisa menerima nasibnya dengan hati hancur. Dan semakin hancur ketika putra bungsunya bertanya, mengapa ayahnya tak pernah pulang lagi? Mengapa ayahnya tak pernah memberinya uang jajan seperti anak-anak yang lain? Dan mengapa ayahnya tak pernah memangku atau memanggulnya di pundak seperti yang dilakukan ayah teman-temannya? Mengapa? Mengapa?
Semua pertanyaan itu hanya dijawab Damiah dengan mata berkaca-kaca. Ya, Damiah tak pernah bisa menjelaskan semua itu pada si Bungsu. Sebagaimana ia pun tak bisa menjelaskan mengapa Zamri dan Warman, kedua abangnya, diperlakukan berbeda oleh ayah mereka. Mengapa Zamri dan Warman sering diajak ke rumah Datuk mereka, yaitu Tuangku Bijo? Sementara ia hanya diajak Damiah ke rumah Datuknya yang buta.
Rentetan pertanyaan itu senantiasa terlontar sebelum kemudian diredam Damiah dengan seribu satu alasan. Damiah memang tak bisa berbuat apa-apa. Pun ketika bekas suaminya itu menikah lagi, empat bulan setelah ia ditalak. Angku Banso telah menikahi seorang gadis dari kampung sebelah. Gadis dengan tubuh semampai dan wajah rupawan.
Ah, Damiah seakan tertikam untuk kedua kalinya. Gadis yang dinikahi Angku Banso itu tak lain adalah perempuan yang dulu diisukan orang-orang sebagai kekasih gelap Angku Banso. Tapi Damiah selalu membela suaminya di depan orang-orang itu, bahwa Angku Banso tidak mungkin sebejat itu.
Dan kini, setelah bekas suaminya menikahi gadis itu, barulah gejolak amarah itu muncul di hatinya. Gejolak yang kemudian menggumpal menjadi dendam. Ya, dendam yang terus ia simpan sampai kemudian seorang lelaki terpandang bernama Sutan Malin datang padanya.
“Saya sungguh-sungguh, Damiah. Saya tidak memandangmu sebagai seorang janda, tapi saya memandangmu sebagai seorang perempuan berhati mulia. Perempuan setia yang telah dizalimi oleh suaminya sendiri,” kata Sutan Malin sungguh-sungguh.
Damiah terpana. Seorang janda beranak tiga dilamar oleh seorang perjaka terpandang? Sungguh, ia tak percaya.
“Saya tidak akan meminta jawaban secepatnya. Saya akan sabar menunggu sampai kau benar-benar yakin dengan keputusanmu.” Senyum teduh di bibir pemuda itu seakan meluluhkan jiwa Damiah.
“Sutan…” Suara Damiah bergetar. “Saya tidaklah sebaik yang Sutan kira. Hati saya telah dilumuri dendam. Dendam pada bekas suami saya! Saya bukan orang yang layak berada di sisi Sutan.”
Sutan Malin tersenyum arif. “Damiah, saya mengerti. Saya juga yakin, dendam di hatimu tidak akan bertahan selamanya sebab kau tidak pantas memiliki sifat yang keji itu.”
Damiah menunduk dalam. Alangkah ia merasa tersanjung mendengar kalimat itu. Alangkah semua ini seperti mimpi baginya.
“Pikirkanlah, Damiah. Saya akan…”
“Bukan saya yang harus memikirkannya, Sutan. Tapi Sutan lah yang harus berpikir lagi. Jangan sampai Sutan menyesal kelak,” sahut Damiah cepat.
Mata Sutan Malin membulat. “Apakah itu artinya kau tidak keberatan, Damiah?”
Damiah menghela napas panjang sebelum kemudian menunduk dalam.
@@@
“Kau adalah seorang janda, Damiah. Kau lebih berhak memilih pasangan hidupmu selanjutnya. Meskipun mata Ayah buta, namun hati Ayah bisa melihat bahwa lelaki itu adalah orang yang baik,” ujar ayah Damiah bijak. Damiah menatapnya haru. Alangkah sifat arif dan bijak ayahnya tak pernah pudar ditelan masa. Matanya memang buta, tapi hatinya tidak. Dan memandang raut teduh di hadapannya itu, Damiah pun tak lagi ragu-ragu. Ia siap membangun bahtera yang baru dan melayarkannya bersama Sutan Malin.
@@@
Haripun berganti minggu, dan minggupun berganti bulan. Pernikahan kedua Damiah telah membuat perempuan itu seperti menghirup udara segar kembali, setelah tersekap lara selama hampir dua tahun. Namun prahara memang tak pernah usai. Angku Banso kembali hadir mengusik ketenangannya.
“Ho, rupanya dia lelaki yang dulu mencuri kesempatan dariku!” Sinis nada bicara lelaki itu. “Dialah rupanya ayah dari si Jamal. Huh, hebat sekali kau, Damiah. Bisa memikat pemuda terpandang di kampung ini!”
Damiah menatapnya tajam, menahan emosi di dadanya.
“Apakah kau sudah katakan pada si Jamal bahwa lelaki munafik itulah ayahnya?”
“Cukup, Angku! Jangan mencoba merusak rumah tanggaku! Sudah sangat jelas bahwa kaulah pengkhianat itu! Aku memang bodoh telah mempercayaimu!” geram Damiah dengan muka merah padam.
“Hm, sudah bisa melawan kau rupanya sekarang, sejak dapat suami orang terpandang. Baiklah, aku akan pergi. Tapi jangan lupa katakan pada anak harammu itu bahwa ayahnya yang sebenarnya adalah Sutan Malin. Bukan aku!” Angku Banso tersenyum licik sebelum menuruni tangga.
Damiah terkesiap. Wajahnya langsung pucat ketika mendapati Jamal telah berdiri di belakangnya. Anak lelakinya yang kini sudah berusia tujuh tahun itu menatapnya tak berkedip.
“Jamal…?” Damiah mendekat, merunduk di samping bocah itu dengan perasaan tak menentu.
“Anak haram itu apa, Bu? Mengapa Ayah mengatakan Jamal anak haram?”
Damiah kian terkesiap. “Tidak, Nak! Kau bukan anak haram. Jangan hiraukan kata-kata ayahmu itu! Suatu saat nanti kau akan mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kau percaya pada Ibu, kan?”
Jamal hanya diam. Wajahnya menyiratkan rasa asing yang membuat Damiah merasa sangat bersalah. Dan rasa bersalah itu semakin menjadi ketika disadarinya Jamal kemudian tumbuh sebagai anak yang pendiam dan tertutup. Ya, ia lebih suka bermenung dan menyendiri. Perhatian yang dicurahkan Sutan Malin padanya tak membuat anak itu bergeming.
Masalah yang menggempur Damiah tak hanya itu. Sejak ia menikah lagi, Zamri dan Warman ikut berubah. Mereka kini lebih sering ke rumah ayah mereka. Jika dalam sepekan kedua anak itu tidak kesana, maka Angku Banso yang akan datang mencari mereka. Dan entah apa yang terjadi, yang Damiah tahu, kedua anaknya itu kini seakan membencinya. Membenci ibu mereka sendiri. Bahkan ketika Sutan Malin mencoba menasehati mereka, kedua anak lelaki yang mulai remaja itu malah membalas dengan makian.
Hingga suatu hari, Tuangku Bijo datang meminta Zamri dan Warman untuk tinggal bersamanya. Ayah mertuanya itu ingin mengasuh sendiri kedua cucunya.
“Kau perempuan yang tak tahu menjaga kehormatan! Tak pantas jadi ibu bagi cucu-cucuku!” sembur Tuangku Bijo kasar. Sia-sia Damiah membela diri dan mempertahankan anak-anaknya. Sutan Malin yang mencoba menengahi, malah ikut kena maki. Maka sadarlah Damiah, betapa lemahnya ia.
Kini Rumah Gadang itu terasa sangat sunyi. Damiah tidak pernah membayangkan jika setahun kemudian, anak yang tinggal satu-satunya, juga pergi meninggalkannya. Jamal, si Bungsu yang pemurung itu telah pergi entah kemana. Anak yang paling ia cintai itu tiba-tiba saja menghilang tak tahu rimbanya. Sutan Malin telah mencarinya kemana-mana, namun hasilnya nihil.
Damiah merasa dunia mulai gelap baginya. Kalimat-kalimat Sutan Malin yang menghibur tak lagi mampu membuatnya tersenyum. Bahteranya kembali oleng.
@@@
Perempuan itu beranjak menutup jendela, karena senja telah turun. Namun ia tetap membiarkan pintu masuk terbuka lebar. Kebiasaan yang membuat tetangga-tetangganya semakin yakin bahwa ia telah gila. Namun perempuan itu benar-benar sudah tak peduli.
Terngiang lagi ucapan Sutan Malin tiga tahun silam, sebelum suaminya itu berpulang dengan tenang. “Kau boleh menunggu Jamal sampai kapanpun, tapi jangan membiarkan angin malam masuk ke rumah, Damiah. Nanti kau makin sakit-sakitan. Aku tidak mau kau meninggal lebih cepat. Jamal pasti masih ingin bertemu dengan ibunya jika dia kembali kelak.”
Tapi apa yang kemudian terjadi? Sutan Malin malah meninggal lebih dahulu dari dirinya. Bahkan ia dengar, Angku Banso pun kini sedang terbaring sakit menunggu ajal. Mungkin sebentar lagi juga akan mati, tanpa didampingi oleh istri mudanya. Sebab perempuan bertubuh semampai itu telah lama pergi dengan lelaki lain yang lebih kaya.
Ya, semuanya begitu cepat berubah. Lalu buah hatinya? Sudah hampir lima belas tahun ia menghilang, namun sekalipun si Bungsu itu tak pernah datang. Dan Damiah telah letih menunggu.
“Sutan…” Perempuan itu kembali berdiri menghadap dinding, mengusap foto buram Sutan Malin yang tergantung di sana. “Aku sudah tak percaya lagi pada kata-katamu. Mengapa tidak kau katakan saja bahwa kau hanya ingin menghiburku?”
“Tahukan kau, Sutan, dia tak pernah ingin bertemu lagi denganku. Sama seperti Zamri dan Warman, mereka tak lagi menganggapku sebagai ibu mereka.” Mata perempuan itu kembali berlinang. Ia menangkupkan mukanya ke dinding dengan bahu yang mulai terguncang sedu. Ah, sungguh harapan itu benar-benar telah menguap dari hatinya. Andai saja bunuh diri bukan suatu dosa, telah lama ia ingin menyusul Sutan Malin ke alam baka.
“Kata siapa aku tidak ingin bertemu Ibu lagi? Ini aku pulang.”
Perempuan itu kian merapatkankan wajahnya ke dinding. Suara si Bungsu yang menyusupi gendang telinganya barusan bukan kali pertamanya ia dengar. Suara-suara yang hanya lahir dari sebuah halusinasi seorang perempuan tua yang kesepian. Dan ia tahu, semua itu hanyalah hiburan yang muncul dari alam bawah sadarnya. Ya, ia memang selalu berharap Jamal datang dan mengucapkan kalimat itu padanya.
“Berpisah dengan Ibu telah membuatku sadar, betapa tidak dewasanya aku karena telah lari dari kenyataan. Aku telah berdosa karena membiarkan Ibu terluka. Bahkan…, aku tidak tahu bahwa Ayah telah meninggal. Meski aku tahu dia hanyalah ayah tiri bagiku, tapi aku mencintainya karena dia juga mencintai aku, Bu!”
Perempuan itu tersentak. Kalimat itu berbeda! Terdengar sendu dan lebih panjang dari biasanya. Ya, kalimat itu belum pernah melintasi halusinasinya. Cepat ia membalik. Dan perempuan itu kian tersentak mendapati satu sosok gagah berdiri di pintu masuk. Sosok yang kini menatapnya dengan binar kerinduan yang memancar nyata dari mata hitamnya.
“Bu…, saya Jamal!” Sosok tersebut mendekat.
Perempuan itu masih tak bergerak dari tempatnya. Tiba-tiba ia jadi ragu pada dirinya sendiri. Benarkah ia sudah gila seperti kata orang-orang? Sungguh, kini ia merasa sulit mempercayai penglihatan dan pendengarannya sendiri. Ah, pasti kali ini malaikat lah yang datang menghiburku, bisik hatinya yakin. Ia pun seperti mengingat-ingat sesuatu. Jika penglihatan dan pendengarannya sudah tak bisa dipercaya, maka ia harap ingatannya tidak keliru. Benarkah dari sepuluh nama malaikat yang ia hapal ketika kecil, salah satunya memang bernama Jamal? (V)
Note: Cerpen ini telah dibacakan dalam acara Temu Sastrawan Jakarta di Taman Ismail Marzuki dan telah dimuat dalam buku antologi cerpen Kota Bernama dan Tak Bernama yang diterbitkan oleh Bentang Budaya.









One Response to “SETELAH 15 TAHUN”
By Ade Arinia Rasyad on Jan 4, 2010 | Reply
Subhanallah…….