Ikatlah ilmu dengan menuliskannya!

Saya vs Dinda

Written on 20 Juni 2009 – 07:22 | by Via |

“Terimakasih, Bunda!” Dinda, dengan wajah ceria.
“He-eh…” Saya, sambil lalu.
“Sama-sama dong, jangan cuma he-eh!” Dinda, protes.
“Eh iya, sama-sama, Sayang!” Saya, meralat.

“Thank you, Mami!” Dinda, lagi-lagi dengan cerianya.
“Iya.” Saya, seadanya.
“You are welcome, dong!” Dinda, kembali protes.
“Oh iya, you are welcome!” Saya, tersipu malu.

“Mom, are you okay?” Dinda lagi, sambil mengetuk pintu kamar mandi.
“Iya, ada apa sih ketok-ketok?” Saya, agak sewot.
“Are you okay?” Dinda, dengan nada lebih tegas.
“Iya, emang kenapa sih?” Saya, mulai manyun sendiri. (Paling malas tanya-jawab di kamar mandi)
“Bunda jawabnya yg betul, dong! Iam okay, gitu!” Dinda, terdengar mulai kesal.
“Yes! Iam okay!” Saya, nyaris berteriak.

“Bunda, aku lapar…” Dinda, agak merengek.
“Iya, sebentar.” Saya, tetap menatap layar monitor.
“Ayo dong, Bunda! Aku lapar nih!” Dinda, dengan nada suara mulai tinggi.
“Iya! Sebentar dong, Sayang, Bunda lagi tanggung nih!” Saya, ikutan bernada tinggi.
“Nanti perut aku sakit lho!” Dinda, mulai merajuk.
“Hiiihhh! Iya, iya!” Saya, beranjak dengan gemas.

“Bunda, baca doanya belum!” Dinda, sambil menunjuk bacaan doa di dinding.
“Kan udah baca bismillah tadi.” Saya, memberi alasan.
“Tapi doanya kan belum! Allohumma bariklana, dong!”
“Iya, ayo! Allohumma….” Saya, memulai doa. (Dinda akan meneruskan denga suara lantang)

Apakah yang terjadi dengan dialog-dialog singkat di atas? Yang terjadi adalah, saya sebagai seorang ibu ternyata masih sering melakukan hal yang ‘kurang’ terutama di mata putri saya, Dinda. Saya sering tak serius menanggapi kata-katanya yang bagi dia adalah sebuah pembelajaran tapi dimata saya sering merepotkan.

Malu? Tentu saja dan itu sudah seharusnya. Saya sering melupakan keteladanan hingga justru ditegur oleh anak sendiri. Itu pula yang membuat saya sering merasa bersalah padanya. Kadang saya merasa terlalu sibuk mengurus Ken, adiknya, hingga agak lalai memperhatikan perkembangan putri sulung saya itu. Perkembangan kecerdasannya sering membuat saya terkaget-kaget sendiri, kok dia bisa ya?

Bahasa Inggris yang ditangkapnya dari film anak-anak, tanpa saya ajari sama sekali, ternyata mampu diserap dan diterapkannya secara tepat. Selera makannya yang cukup baik, adalah sesuatu yang patut saya syukuri. Setidaknya saya tidak perlu berlari mengejar seperti ibu-ibu yang lain saat anaknya tak mau makan.

Di usianya yang sebentar lagi menginjak 4,5 tahun, Dinda tentu akan semakin kritis, semakin pintar dan semakin banyak maunya. Dan saya, di usia yang semakin matang tentunya harus semakin memperhatikan dia, semakin mengenal karakter dan keinginannya, semakin sabar, dan yang tak kalah penting, semakin mengurangi omelan saya yang kadang membuat saya merasa bersalah sendiri.

Hm… menjadi Ibu memang tidaklah mudah, namun saya akan terus belajar.

  • Share/Bookmark

Related Posts

Put your related posts code here

Post a Comment


Salam

Selamat datang di web pribadi saya! Semoga kita sama-sama mendapat manfaat darinya... More


Status YM

Internet Sehat

lencana


Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Find entries :