Ikatlah ilmu dengan menuliskannya!

Saya capek!

Written on 30 Maret 2009 – 13:54 | by Via |

bertigaSaat perempuan lain bisa melenggang ke luar rumah dengan bebas, maka saya tidak demikian. Saya harus membawa anak-anak dengan segala tetek-bengeknya yang merepotkan. Saat perempuan lain bisa aktif di berbagai kegiatan, maka saya tidak demikian. Saya harus puas dengan aktifitas rumahan yang menjenuhkan. Saat perempuan lain bisa bekerja kantoran, berangkat pagi pulang sore, saya justru berkutat dengan urusan dapur, bersih-bersih, sampai mengurusi keperluan anak dan suami yang tak ada habisnya.

Huah! Saya capek! Jenuh! Terkungkung! Kehilangan eksistensi diri! Krisis percaya diri!

Saya mulai bersungut-sungut sendiri, membiarkan rumah tak tersentuh layaknya kapal pecah. Membiarkan dapur tanpa nyala kompor, itu artinya saya ogah masak!

Biar saja. Biarkan semuanya seperti itu. Saya hanya ingin diam tanpa dipasung oleh aktifitas yang menjemukan itu. Saya tidak sudi dipaksa oleh keadaan. Saya akan mengabaikan setiap suara yang meminta, memerintah, atau merengek sekalipun! Toh saya bukan pembantu, bukan babu yang harus melayani setiap orang di rumah ini, tanpa peduli akan kelelahan saya sendiri. Kenapa  semuanya harus saya? Bukankah mengambil makan dan minum serta hal-hal kecil itu bisa mereka lakukan sendiri. Kenapa harus selalu menyuruh, menyuruh dan menyuruh?

Bukankah sebenarnya saya ‘ratu’ dalam rumah ini? Masa ratu diperintah-perintah? Ratu juga perlu bersantai, ke salon, shopping dan sebagainya tanpa dibebani seharian oleh rentetan kewajiban-kewajiban.

“Bunda, ambilin HP Ayah dong!” Tuh, suara suami saya. Cuma mengambil HP, kenapa harus saya?

“Bunda, pakein baju dong!” Itu suara putri saya, Dinda, yang berusia 4 tahun lebih. Padahal biasanya dia bisa bergonta-ganti baju sendiri sampai isi lemarinya berantakan tak karuan. Kenapa sekarang minta dipakein segala?

Belum lagi si kecil Ken yang berusia 9 bulan, setiap tangisannya adalah ‘perintah’ buat saya.

Huah! Lagi-lagi huah! Benar-benar melelahkan! Tapi biarkan saja, saya tidak akan beranjak! Biar suami saya mengambil sendiri HP-nya, biar putri saya tak pakai baju kalau dia tidak mau memakainya sendiri. Biar bungsu saya menangis sepuasnya, toh  kata dokter menangis juga bagus untuk paru-parunya.  Memangnya saya robot yang nggak kenal lelah? Robot saja bisa terbakar kalau dipaksa kerja terus-menerus.

Tapi suara tangis Ken terdengar kian kencang. Huh, berisik juga. Jangan-jangan dia kesakitan… naluri keibuan saya mulai bekerja. Dan karena naluri itu juga tiba-tiba saya tersentak. Bangun! Oalah, kok saya pake tertidur segala? Mimpi lagi. Ya,  ternyata saya tertidur di samping Dinda yang tadi minta dikeloni. Sementara Ken yang tidur di kamar sebelah rupanya sudah terbangun. Suara tangisnya yang kian kencang membuat saya bergegas menemuinya.

O-o! Rupanya anak laki-laki saya itu sudah mandi keringat, kegerahan… Olala! saya baru sadar kalau dia belum mandi sore. Sudah jam lima, euy! Langsung saya siapkan handuk, sabun dan bak mandi mungilnya. Seperti biasa, dia terlihat gembira berendam sambil memukul-mukul air. Keceriaan di bening bola matanya, tawa riangnya… ah!

Saya tertegun menatapnya. Terseret sisa-sisa mimpi tadi…

“Kamu beruntung,” kata seorang teman di jendela obrolan Facebook saya. “Punya keluarga, suami dan anak-anak yang lucu. Sementara saya masih sendiri, melarikan kesepian pada kesibukan kerja. Capek lahir batin!”

Di lain waktu dengan teman yang lain, “Kamu beruntung diberi anak-anak yang sehat, sementara anak saya sakit-sakitan dan mengalami keterbelakangan mental, repot sekali mengasuh ‘bayi’ bertahun-tahun,” tulisnya sedih.

“Meskipun sudah punya rumah sendiri, nggak ngontrak lagi kayak kamu, tapi kurasa kamu lebih bahagia.  Rumahku sepi, nggak ada suara anak-anak yang menceriakannya,” tulis teman yang lain lagi dengan nada tak kalah sedih.

“Kamu jangan mengeluh, Via, meski nggak ada orang tua atau pembantu yang meringankan tugasmu. Kamu tuh beruntung lagi, karena kondisimu itu akan membuatmu jauh lebih mandiri dan sigap menangani semua persoalan rumah tangga dibanding aku yang selalu dibantu ibu dan seorang baby sitter. Aku gagap jika harus merapikan rumah yang berantakan apalagi jika si kecil rewel,” tulis teman lain yang tahu kerepotan saya sejak pembantu saya pulkam.

Seorang teman lama juga berkomentar, “Aku malah ngimpiin kayak dirimu itu. Bisa mengatur kerjaan, karena di rumah kan kita yang jadi bos. Kalau bosan bisa ngenet, berhaha-hihi sama teman tanpa harus capek-capek keluar, berjibaku dengan berbagai jenis manusia di dalam angkot atau bis. Tetep bisa nulis tanpa harus khawatir anak-anak dibawah asuhan orang lain.”

Ya, mereka senada, mengatakan saya beruntung! Dan sebenarnya saya memang beruntung. Punya suami yang tak meminta (apalagi mengharuskan) istrinya bekerja di luar rumah, karena kami sama-sama berkeyakinan, rizki saya sudah dititipkan Allah padanya. Dan sebagai kepala rumah tangga, dialah yang berkewajiban menjemput rizki itu.

Alhamdulilah, saya langsung dikaruniai buah hati tanpa perlu menunggu lama, buah hati yang sehat, tidak cacat.

Alhamdulillah, Allah anugerahi saya kepandaian dalam menulis, hingga bisa melakukan kegiatan yang saya senangi itu di rumah.

Alhamdulillah juga, internet di rumah online sepanjang hari hingga di tengah kerepotan mengasuh kedua buah hati yang masih balita, saya tetap bisa menyalurkan hobby menulis di web dan blog, atau sekadar bertukar kabar dengan teman-teman.

Sekali lagi alhamdulillah, meski tak ada orang tua atau pembantu yang mendampingi saya, masih ada pembantu part time yang datang tiap pagi untuk mencuci, menggosok, mengepel, cuci piring dan buang sampah. Hingga tugas saya tinggal memasak dan mengurus anak-anak.

Alhamdulillah lagi, di sela-sela rasa jenuh itu suami saya masih rajin mengajak saya jalan-jalan, bersama anak-anak tentunya. Bahkan tak perlu menunggu week end seperti orang lain, asal ada waktu luang kami pasti jalan-jalan naik motor. Entah itu ke mal, makan bakso, nyari duren, silaturahmi ke rumah teman dan sebagainya. Mau siang, sore, malam, tetap jalan. Maklum, kami semua hobby jalan-jalan.

Saya memang capek, jenuh…

Tapi saya tak perlu bantuan formal, karena masing-masing sudah memiliki aktifitas dan kelelahan yang berbeda, saya sadari itu. Mungkin yang saya butuhkan hanya kalimat-kalimat ringan yang membahagiakan…

“Bunda pasti capek, maaf ya, Ayah gak bisa bantu…” Itu suami saya.

“Bunda lagi masak ya, Dinda bantuin, ya?” Ini tentu suara Dinda.

“Bunda, mau dibeliin apa? Sate? Martabak?” Suami saya lagi, saat hendak keluar rumah.

“Bunda, ayo kita sholat, yuk!” Dinda lagi, siap dengan mukenanya.

“Bunda mau dipanggilin tukang pijat?” Tawaran suami saya, menarik sekali.

“Aku sayang sama Bunda.” Pasti Dinda, sambil mencium pipi saya.

“Ba…ba…ba…” Aha! Itu pasti Ken, sambil tertawa ceria.

Alhamdulillah…

Begitu banyak pujian untuk Allah, yang telah memberi saya begitu banyak anugerah di tengah-tengah kesempatan menuai pahala saat melayani anak-anak dan suami, di tengah-tengah kerepotan yang mendewasakan, dan di tengah-tengah keletihan yang membahagiakan. Andai saya bisa selalu bersyukur, tentu segala keluh-kesah itu tak perlu ada… meskipun hanya dalam mimpi! (V)

  • Share/Bookmark

Related Posts

Put your related posts code here

Post a Comment


Salam

Selamat datang di web pribadi saya! Semoga kita sama-sama mendapat manfaat darinya... More


Status YM

Internet Sehat

lencana


Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Find entries :