Ikatlah ilmu dengan menuliskannya!

Baca! Baca! Dan Membacalah!

Written on 24 Juni 2008 – 18:36 | by Via |

42-16472638Saya sangat tertarik pada apa yang ditulis Arys Hilman di Republika tanggal 3 Agustus 2003 silam, bahwa di Jepang tidak kurang dari 65 ribu buku diterbitkan setiap tahunnya, dan puluhan juta eksemplar koran lahir setiap harinya. Jangan ditanya jumlah toko buku atau perpustakaan di Negeri Sakura tersebut, yang ternyata mampu menyaingi jumlah supermarket. Di stasiun-stasiun, mal, dan tempat-tempat strategis lainnya kita bisa menjumpai toko buku atau perpustakaan yang buka sampai tengah malam.

Di sana, setiap orang selalu membawa buku di dalam tasnya untuk dibaca saat menunggu bis atau kereta dan dilanjutkan lagi saat dalam perjalanan. Hal ini mengingatkan saya pada apa yang dilakukan Imam Hasan al-Banna. Beliau juga selalu memanfaatkan waktu luang -semisal dalam kereta api- untuk membaca. Sikap yang berbanding lurus dengan ucapan beliau bahwa waktu yang tersedia tidak sebanyak kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan.

Saat Bill Clinton menjadi presiden, ia mengaku terganggu karena ternyata 40% dari anak-anak Amerika usia 8 tahun tidak bisa membaca. Maka ia pun meluncurkan program America Reads Challenge, yang menerjunkan satu juta sukarelawan sebagai tutor untuk menjamin agar setiap anak bisa membaca di kelas tiga.Begitupun dengan Belanda. Polemik tentang berkurangnya minat baca di negara itu melahirkan tudingan terhadap televisi yang telah merenggut minat baca anak-anak. Bagi mereka ini adalah pemicu kemiskinan intelektualitas. Menurut penelitian, anak-anak hanya meluangkan waktu untuk membaca selama 4 menit, sementara untuk menonton tidak kurang dari 1,5 jam setiap hari.

Jadi perberbedaannya sekitar 20 kali lipat. Ini membuat pemerintah Belanda jadi berpikir keras untuk menanggulanginya.Lalu bagaimana dengan Indonesia? Goenawan Muhammad mengibaratkan bahwa bangsa ini telah melangkah terlalu lebar, dari dunia visual wayang menuju dunia visual televisi. Dunia baca terlewatkan. Kecuali sekelumit zaman Balai Pustaka.  Tidak heran jika akses masyarakat terhadap koran hanya 2,8%. Belum lagi buku. Bayangkan, SD yang memiliki perpustakaan hanya sekitar 1%, sementara SLTP dan SLTA sekitar 54%. Padahal itu semua adalah lembaga pendidikan. Jika kita bertanya soal pertanggungjawaban pemerintah, mungkin sebagian besar kita akan langsung bersikap pesimis atau bahkan sinis. Sebab sikap pemerintah terhadap pendidikan di negeri ini memang sangat memiriskan. Budaya membaca belum lagi memasyarakat. Jika kita sulit berharap pada pemerintah, bagaimana kalau kita bertanya pada diri sendiri? Sudahkah di rumah kita ada sebuah perpustakaan kecil, minimal untuk diri sendiri? Sudahkah kita menumbuhkan budaya membaca pada diri dan keluarga kita?

Banyak sekali pertanyaan yang seharusnya membuat kita tidak lagi berpikir panjang untuk menentukan sikap. Bahkan dalam al-Quran (surat al-Alaq) sudah memerintahkan hal ini jauh-jauh hari; Baca! Baca! Dan bacalah!Ada beberapa komunitas yang telah merintis usaha cemerlang mencerdaskan anak bangsa dengan mendirikan perpustakaan, kelompok-kelompok membaca dan menulis. Diantaranya adalah komunitas 1001 Buku yang membuka cabang di berbagai daerah. Ada sekitar 700 relawan yang membantu usaha ini yang bertugas mengumpulkan bacaan dari para donatur buku, mendistribusikannya dan melakukan pengelolaan perpustakaan untuk anak-anak. Tidak kurang dari 200.000 buku telah mereka salurkan ke 60 perpustakaan di berbagai daerah.Ada lagi Forum Lingkar Pena (FLP), sebuah organisasi pengaderan kepenulisan.

Organisasi ini sepakat mengusung missi islami dan kemanusiaan dalam tiap tulisan mereka. Kehadiran mereka, selain untuk mengasah kebiasaan membaca dan menulis, juga untuk mengantisipasti dan memberi alternatif bacaan bagi remaja, terutama remaja Islam, yang saat ini didominasi oleh bacaan-bacaan berbau hedonis, borjuis, pornografi, tahayul dan bersifat membodohi serta mendangkalkan aqidah ummat. Saya juga kagum pada usaha beberapa teman yang mendirikan perpustakaan pribadi atau taman bacaan untuk dimanfaatkan oleh anak-anak sekitarnya. Seperti Helvy Tiana Rosa dkk, yang mendirikan Pondok Cahaya (Pondok Baca dan Hasilkan Karya) di Depok dan Penjaringan. Atau Gola Gong dengan PRD (Pustakaloka Rumah Dunia) yang beliau bangun di daerah Serang. Ini hanya dua contoh dari orang-orang yang percaya bahwa intelektualitas bangsa ini harus dimulai dari kebiasaan membaca. Dan semoga akan banyak lagi yang mengikuti usaha-usaha semacam ini. Sebuah usaha non profit namun menjanjikan kecerdasan bagi anak bangsa. Ya, sekaranglah saatnya mengejar ketertinggalan kita! (V)

  • Share/Bookmark

Related Posts

Put your related posts code here

Post a Comment


Salam

Selamat datang di web pribadi saya! Semoga kita sama-sama mendapat manfaat darinya... More


Status YM

Internet Sehat

lencana


Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Find entries :