Bayangan Lenggini, Syaamil 2005
Jantung Mundil berdetak semakin keras ketika ia tinggal beberapa langkah lagi untuk sampai di depan Gua Lenggini. “Sialan! Kenapa tidak ada jalan lain untuk naik ke lereng bukit ini?” gerutu Mundil kesal. Meski ia tak berhasil menenangkan deburan di dadanya, Mundil tetap mengayun langkahnya melewati gua tersebut.
Selangkah… dua langkah… tiga langkah…
Hening.
Kekhawatiran yang tadi sempat mewarnai perasaan Mundil mulai menyusut ketika ternyata ia bisa melewati bagian depan gua itu dengan aman. Bahkan saat jarak langkahnya dengan gua tersebut semakin jauh, Mundil sama sekali tak mengalami kejadian apapun. Senyum kelegaan perlahan terukir di bibir tuanya.
Tapi tiba-tiba, “Berhenti!”
Mundil tersentak. Secepat kilat ia menoleh berkeliling, memastikan arah datangnya suara serak tersebut. Namun belum sempat kepalanya berputar sempurna, sosok bertubuh bungkuk yang ditakuti itu telah berdiri tepat di belakangnya. LENGGINI!
Satu-satunya yang sempat tertangkap oleh mata Mundil adalah untaian rambut Lenggini yang panjang dan menutupi sebagian mukanya. Inilah pertama kalinya dalam hidup Mundil berhadapan langsung dengan perempuan tua itu. Perempuan yang diakui oleh penduduk di Buangan sebagai Peramal Hari-hari Buruk.
Dan ternyata, nyali Mundil tidak cukup besar untuk terus bertahan di atas kedua tungkainya, sebab tiba-tiba saja ia rubuh tak sadarkan diri. Benar rupanya, sosok Lenggini memang luar biasa mengerikan bagi penduduk di Buangan, termasuk bagi Mundil.
Catatan:
Novel ini bercerita tentang sosok yang sangat ditakuti di sebuah kampung, sosok yang menyebut dirinya Peramal Hari-hari Buruk. Dialah Lenggini! Sosok bertubuh bungkuk dengan dua sosok lain yang selalu menyertainya laksana bayang-bayang. Makhluk apakah yang ada di belakang Lenggini itu?
Meski sosok Lenggini sangat ditakuti oleh penduduk di sana, namun ada satu sosok lain yang selalu mencelanya dengan kata-kata pedas, yaitu Kasah. Perempuan tua yang tak mau percaya pada ramalan Lenggini dan menyebutnya sebagai pembual besar.
Namun garis besar dari novel ini sebenarnya adalah tentang nilai-nilai ketuhanan yang makin bergeser dari kehidupan manusia tanpa mereka sadari. Bahkan nilai kemanusiaan sendiri ikut tergerus akibat lemahnya hati mereka.
Novel Bayangan Lenggini ini adalah ‘pyuuur’ hasil imajinasi. Tak ada buku-buku referensi apalagi survey mendalam. Inilah pengalaman pertama saya menulis novel tanpa harus repot-repot membuka-buka buku lain atau surfing di internet mencari-cari data. Bukan malas, tapi keadaan yang menuntut saya waktu itu.
Saat menulis novel ini saya baru saja melahirkan anak pertama. Keinginan untuk tetap menjaga semangat menulis lah yang membuat saya memaksakan diri menulis novel ini. Di tengah kondisi yang serba repot saya berusaha mencuri waktu tengah malam untuk menulis. Targetnya, sehari minimal 5 halaman.
Dengan kondisi seperti itu saya tidak mau direpotkan lagi oleh segala macam referensi. Maka imajinasilah yang digeber habis. Tapi jujur, saya sangat menikmati proses menulis kali ini. Alhamdulillah, sebulan kemudian novel inipun jadi. Tugas selanjutnya adalah membaca ulang dan merevisi. Maka jadilah novel bergender misteri-misterian ini, hehe…(V)









