Mengapa Saya Menulis?
Saya bukan mau bercerita tentang diri saya, tapi berikut ini adalah catatan seorang teman dan senior saya, penulis produktif bernama Ifa Afianti yang saya copy dari Facebook-nya, tentunya dengan meminta ijin terlebih dahulu. Beliau ini adalah seorang istri, ibu, dan penulis. Baru (baca: Sudah-red) menerbitkan 20 buku karya sendiri dan 18 antologi, serta menulis di beberapa media massa nasional. Senang belajar, bergaul, denger musik, nonton film, creative arts, kopi, teh, dan hujan. Hm… Mbak Ifa ini emang kompit plit, hehe…
Berikut curhatnya…
Mengapa Saya Menulis?
Sering saya menemukan pertanyaan ini. Hampir di tiap acara dimana saya jadi narasumber atau bahkan datang sebagai penggembira doang.
“Mbak, Teh, Jeung, Bu, kenapa menulis?”
Awalnya, I just wondered why. Ada yang salah dengan seseorang yang menulis? Tapi mungkin itu dikaitkan dengan educational background saya yang lulusan FT jurusan Metalurgi pula
. Dari SMA saya sudah masuk jurusan fisika, yang gak ada roman-romannya. Tambahan lagi, nilai bahasa Indonesia saya sejak dulu gak pernah bergeser dari 7-8. Biasa aja. Bukan yang bright.
Tapi kemudian saya menyadari bahwa antara minat dan latar belakang pendidikan bisa jadi adalah 2 hal yg berbeda.
Ya, saya menulis karena HOBI. Belakangan saya membaca, bahwa seseorang yang memilih profesi karena minat dan hobi lebih besar kemungkinannya dia akan sukses. Karena dia bekerja dengan cinta.
Kedua, saya suka belajar. Apa-apa saya masukkan ke dalam otak saya yang kecil dan sangat terbatas ini. Akibatnya otak saya jadi overload. Hang. Error. Dan menjadilah saya seorang yang dodol. Nah, daripada kepala saya meledak, kepenuhan beban, maka menulislah saya. Saya tulis semuuaaaa yang saya tau, yang saya mau, dan yang saya harus tulis!
Ketiga, saya punya kendala dalam berbahasa lisan. Intonasi saya gak jelas, ngomong kumur-kumur, dan cepet banget. Daripada orang pada pusing denger saya ngomong, menulislah saya!
Keempat, saya gak terlalu bisa curhat lisan sama orang. Lucunya lagi, banyak yang suka curhat sama saya. Daripada saya pusing mau curhat kemana, menulislah saya.
Kelima, penulis adalah profesi fleksibel. Dari segi ruang, waktu, dan kesempatan melakukan perbaikan. Jieee… bahasanyaaa
Kelima, jujur, saya menemukan kepuasan dengan portofolio dan financial gain-nya. Puas banget sih ya belum. Tapi saya bersyukur sekali untuk itu.
Keenam, saya senang meneliti. Dan profesi penulis selalu memberi kesempatan saya untuk meneliti banyak hal. Seorang penulis juga seorang peneliti.
Ketujuh (bener gak sih?), saya sangat menyukai proses menggarap sebuah karya kreatif. Dan menulis selalu menghadirkan challenge bagi saya untuk menghayati setiap proses melahirkan karya.
Hehehe, saya ternyata sudah menemukan alasan saya menulis dan menjadikan penulis sebagai profesi. Bagaimana dengan temen-teman?
Begitulah Ifa Afianti dengan sejembreng alasannya. Saya rasa saya gak jauh beda (ehm, ntar kapan-kapan saya juga akan tulis alasan kenapa saya tercemplung ke dunia para penulis ini) dan setuju banget dengan Mbak Ifa. Pertanyaan buat Mbak Ifa, kapan ya kita bisa ketemu lagi? Kok janjian mulu, hehe… (V)







