Ikatlah ilmu dengan menuliskannya!

Memaknai Takdir dari Sosok Mbah Surip

Written on 6 Agustus 2009 – 04:00 | by Via |

mbahsuripSampai tadi malam saya masih bergumam-gumam dalam hati, kenapa ya Mbah Surip cepat banget perginya? Padahal dibilang cepat juga enggak, karena umurnya yang sudah tua. Mungkin saya menghitungnya dari kepopuleran dan kesuksesan yang diraihnya saat ini.
Lalu kenapa ia baru memperoleh kesuksesan itu di kala tua?
Kenapa Tuhan begitu lama mewujudkan impiannya?
Saya terus bergumam dan bertanya…

Mbah Surip yang berjuang mewujudkan idealismenya sebagai seniman sejak muda, dan baru meraih hasilnya setelah berumur renta.
Mbah Surip yang tak mau bercerita tentang keluarga karena banyak menuai kecewa.
Mbah Surip yang menjalani kesendiriannya dengan tawa jenaka, berharap setiap orang ikut bahagia.
Mbah Surip yang mengungkapkan mimpinya punya helikopter pribadi meskipun dengan nada bercanda.
Mbah Surip yang mendapat tak kurang dari 2 milyar hasil unduhan lagunya namun tetap enjoy naik ojek kemana-mana.

Hei! Kenapa dengan saya?
Bukankah Mbah Surip sudah tiada?
Bukankah Mbah Surip sudah mewariskan kekayaan tak terhingga bagi orang-orang yang dulu memandangnya sebelah mata?
Bukankah Mbah Surip masih naik ojek di akhir usianya seakan tak berminat memanfaatkan kekayaan yang diperolehnya?

Lalu apalagi yang saya risaukan?
Apalagi yang saya sesalkan?
Bukankah Mbah Surip sudah mengisyaratkan satu hal pada saya, bahwa yang ia butuhkan sesungguhnya hanyalah kehadiran orang-orang tercinta, yang sangat ia butuhkan di hari tua?
Bukankah ia sudah mengisyaratkan bahwa yang ia butuhkan sejatinya adalah doa yang tulus saat ia menutup mata?

Masihkan saya mempertanyakan keterlambatan sukses yang diraihnya?
Masihkah saya menyayangkan kepergiannya?
Padahal Allah sudah mengaturnya sedemikian rupa, memberinya waktu yang tepat untuk berada di puncak jaya.
Hingga di saat ajal menjemput, ia tak lagi sebatang kara.
Begitu banyak pelayat, teman dan penggemar yang mengantarnya dengan cinta dan taburan doa.
Kerabat yang dulu acuh karena kemiskinannya kini kembali menyetor muka.
Bahkan saya yang tak mengenalnya pun ikut menyampaikan segumam doa.

Sebuah akhir yang indah bukan?
Dan saya tak lagi ingin bertanya-tanya… (V)

Catatan:

Kesuksesan yg saya tulis di atas tentulah berdasarkan kesuksesan di mata Mbah Surip sbg seorang seniman (artis). Memang sejak awal kontroversi tentang beliau sudah muncul, entah soal umur dsb, namun saya menganggap itu tidak terlalu penting untuk dipastikan. Apalagi titik berat saya sebenarnya adalah kematian Mbah Surip yang di mata saya meninggalkan sebuah pelajaran buat diri saya pribadi, entahlah bagi orang lain, itu tergantung cara pandang kita masing-masing. Mengambil pelajaran bisa kita lakukan kapan dan dimana saja bukan?

Bandingkan dengan artis-artis lain yang meraih kejayaan di masa muda, dan dilupakan setelah tua seiring berlalunya kejayaan itu. Sungguh memiriskan, dulu kita dipuja karena memiliki segalanya, kini disaat renta dan sakit2an kita diacuhkan. Padahal sebagai manusia, kita justru sangat butuh kehadiran orang lain pada saat kita sudah tua tak berdaya. ‘Pertukaran nasib’ itulah yang saya petik dari seorang Mbah Surip. Menurut pikiran positif saya, Allah memilih akhir yg lebih baik buat dia :-)

  • Share/Bookmark

Related Posts

Put your related posts code here

Post a Comment


Salam

Selamat datang di web pribadi saya! Semoga kita sama-sama mendapat manfaat darinya... More


Status YM

Internet Sehat

lencana


Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Find entries :