Ikatlah ilmu dengan menuliskannya!

MAJEDUP

Written on 26 Februari 2010 – 09:41 | by Via |

Keanehan yang menimpa Ucok benar-benar membuatku heran. Bahkan seluruh penduduk di kampung mulai mengatakan bahwa dia sudah tidak waras. Ada denyut nyeri menyengat dadaku mendengar hal itu.

“Coba kau bayangkan, Yan. Setiap hari dia mengurung diri di surau. Melantunkan zikir yang entah apa maksudnya. Lalu malam hari dia ngelantak mengitari kampung, sambil mengoceh sendirian,” lapor sepupuku, Togar. “Bahkan Nande-nya pun sudah tak sanggup melihat kelakuan anaknya itu.”

“Memangnya apa sih, Gar, yang dia lakukan? Kok sampai begitu?” tanyaku heran. Maklum, aku sudah empat tahun tidak pulang ke kampung ini.

“Dia ikut suluk di surau Haji Ahmad. Padahal orang-orang tua sudah bilang bahwa anak muda macam kita ini, belum boleh ikut suluk. Masih banyak keinginan duniawi, begitu katanya,” jelas Togar bersemangat. “Tapi si Ucok keras kepala. Ikut juga dia suluk 40 hari itu. Akibatnya, sakit saraf lah dia! Majedup kata orang-orang!”

“Hus! Maseh ngerana! Terdengar orang nanti, bisa celaka kau! Kecilkan dikit bicara kau itu!” kibasku mengingatkan.
Tapi aku jadi berpikir juga. Surau Haji Ahmad? Haji Ahmad yang telah meninggal puluhan tahun silam itu? Ya, aku sering mendengar nama itu. Beliau dikenal sebagai tokoh tarekat yang konon telah mencapai maqam wali. Tentunya dengan berbagai macam karomah yang dimilikinya. Entah benar entah tidak, tak ada yang bisa memastikan.

Namun yang jelas orang-orang di kampung pernah bercerita bahwa semasa hidupnya, Haji Ahmad sering terlihat keluar dari suraunya dalam keadaan telanjang bulat. Entah apa maksudnya, tak seorangpun yang tahu. Konon pula tingkah ganjil seperti itu memang biasa dilakukan oleh seorang sufi. Bah! Aku sendiri  merasa itu adalah kelakuan sufi yang konyol. Tidak pantas disebut sebagai wali Allah.

Tapi kenyataannya, sampai sekarang masih banyak orang yang datang berziarah ke makamnya. Juga mengambil tarekat di surau tersebut.

“Masa sih, Gar, Ucok seperti itu?” Aku masih tak percaya.
“Bah! Semua orang di kampung ini pun sudah taunya itu! Kawan kau itu cuma bikin malu kita saja! Di kampung ini kan cuma keluarga kita dan keluarga dia saja kalak Karo yang Muslim. Bisa dicibir kita sama kalak Karo yang lain! Jadi Muslim kok malah gila!” Togar nampak kesal, suaranya jadi kian keras.

Aku yang akhirnya diam, sibuk memikirkan apa yang sedang menimpa teman akrabku itu. Ya, aku dan Ucok sudah berteman sejak SMP. Tapi setelah tamat SMP, aku melanjutkan SMA di Jakarta dan sekarang kuliah di Bogor. Sementara Ucok, setamat SMP hanya membantu-bantu Nande-nya di ladang. Sebab untuk melanjutkan sekolahnya tidak ada biaya. Maklum, Bapaknya telah lama meninggal.

“Hei! Kau masih dengar aku tidak? Mekkir kau lalap! Mentang-mentang mahasiswa,” sentak Togar mengagetkanku. Aku mendelik kesal pada sepupuku itu. Apa dia tidak tahu kalau aku sedang memikirkan nasib sahabatku?

@@@

Siang itu Togar menemaniku ke rumah Ucok. Kami sengaja menempuh jalan kampung agar bisa sampai lebih cepat. Tapi sebelum sampai ke rumah sahabatku itu, langkah kami terhenti mendadak. Bagaimana tidak, di pinggir jalan kampung yang lengang itu, kami melihat Ucok sedang memanjat sebatang pohon yang cukup tinggi. Lalu duduk di salah satu cabangnya yang paling besar.

Dengan kepala manggak ke langit, sahabatku itu mulai menceracau. “Aku rindu pada-Mu, Tuhan! Tolonglah tunjukkan wujud-Mu padaku! Dimana Engkau berada wahai, Kekasih?” serunya cukup keras.

“Huahaha.., inilah yang membuat perutku geli minta ampun! Kawan kau itu selalu mencari tahu dimana Tuhan berada. Mungkin dipikirnya Tuhan sedang bersantai di pucuk pohon itu,” kata Togar tertawa ngakak.

“Kau ini! Malah ketawa. Kasihan dia!” Aku melotot ke arah sepupuku itu.
“Bagaimana tidak ketawa? Gayanya yang bak penyair itu sangat lucu. Dia lebih lucu dari Ketoprak Humor yang di TV itu,” jawab Togar masih mengumbar tawa.

Aku menarik napas, kembali mengamati Ucok yang kian asyik di atas sana.

“Wahai, Rasulullah yang mulia! Dimanakah dikau kini? Aku rindu menatap wajahmu yang bak bulan purnama, rindu mencium tubuhmu yang seharum kesturi. Aku rindu…, sangat merindu!” serunya lagi setengah meratap. Lalu sesaat kemudian kulihat ia tertunduk dalam dengan bahu terguncang. Seperti menangis sesegukan.

“Ya, Allah…, apa yang menimpanya?” gumamku iba.
“Yang pasti dia sedang berkelana, mencari Tuhan. Seperti seorang Arjuna yang sedang mencari cinta,” komentar Togar terkikik. Aku kembali melotot. Anak ini benar-benar tidak punya rasa kasihan. Bah!

“Jangan menatapku macam itu, sepupu! Kau jadi kasihan karena kau baru kali ini melihatnya. Sedang aku sudah hampir enam bulan melihat kawanmu itu begitu. Jadi sudah biasalah. Malah kadang menghibur juga kurasa. Wadaawww..!!” Kusikut keras perutnya. Bicara kok tidak mikir, rutukku dalam hati.

“Kasihan! Anak ah enggo mering. Kapate kita ngenehen ia. Itulah akibatnya kalau salah menjalankan agama. Bisa majedup.” Tiba-tiba seorang lelaki tua berhenti di dekat kami seraya berkomentar iba. Aku dan Togar hanya mengangguk kecil. Setelah itu ia melanjutkan langkahnya, menyusuri jalan kampung yang lengang.

“Ayo kita dekati dia!” ajakku pada Togar. Lalu perlahan kami mendekati pokok pohon tersebut.
“Biar aku yang panggil, pasti dia langsung menoleh.” Togar menawarkan diri. “Hei, hamba Allah! Lihatlah ke bawah!” teriaknya kencang. Aku melongo. Hamba Allah? Harus begitukah memanggilnya?
“Lihat! Dia melihat ke bawah,” tunjuk Togar senang.

Benar. Ucok langsung menoleh ke arah kami. Tampak ia sibuk mengusap matanya yang basah.

“Ayo, turunlah! Ada hambaku, eh, hamba Allah mencarimu!” Kembali Togar berteriak, tak lupa menyelipkan leluconnya yang tak lucu itu. Meski agak sebal mendengarnya namun aku bisa melihat bagaimana Ucok langsung bergegas turun.

“Sebentar! Aku akan turun menemuinya!” Ia menjawab sambil meluncur turun. Dan begitu sampai di bawah, matanya langsung menatap kami bergantian.

“Ini yang mencarimu,” kata Togar seperti sudah sangat mengenal kondisi kejiwaan Ucok dengan baik.
“Kau?” Ia menatapku sambil membetulkan peci putih di kepalanya. Celana ngutung dan gamis selutut yang dikenakannya nampak agak kusut.

“Cok, kau tak kenal aku lagi?” tanyaku pelan. Ia menatapku agak lama. Tatapan yang nampak asing dan sedikit memiriskan hatiku. Sejenak ia mengusap jenggot lebat yang tumbuh liar di dagunya. Benar-benar tampak dekil.

“Kau ingat aku, kan? Sofyan! Sahabatmu yang dulu!” Aku membantunya mengingat. Ia menatapku tak berkedip. Sungguh, aku tak bisa percaya dia sudah lupa padaku, padahal baru 4 tahun kami tak bertemu.

Kam kepeken, Sofyan! Tentu saja aku ingat!” serunya. Ia langsung memelukku erat, tindakan yang tak kuduga sama sekali. Tapi sepertinya ini masih normal. Aku merasa bahwa dia masih Ucok yang dulu meski beda penampilan. Sedikit kelegaan mewarnai hatiku.

Kai berita?” tanyanya tersenyum.
“Baik. Dan kau?” Aku balik bertanya.
“Aku juga baik,” jawabnya tersenyum. Lega rasanya melihat wajah sumringahnya itu.
“Masya Allah, kau masih tetap jahiliyah!” serunya tiba-tiba. Aku terkesiap. Matanya menatap penampilanku dari atas sampai ke bawah.

“Kau sama seperti orang-orang di kampung ini, tidak menjalankan sunnah Rasulullah,” kecamnya kecewa. “Kaos oblong, celana gunung, dagu licin…, benar-benar seperti orang kafir!” Ia terus mengoceh dengan nada menyesali. “Kenapa kau tidak memelihara jenggot dan memakai gamis?”

“Juga menunggang onta…,” bisik Togar di telingaku. Untunglah lirikan tajamku mampu membungkamnya. Ia langsung menutup mulut, menahan geli. Aku sedang tak berminat meladeni gurauan konyolnya itu. Aku lebih tertarik mengamati wajah Ucok yang nampak berubah kecewa, seiring dengan semakin asingnya ia di mataku.

“Cok, kenapa kau tega menuduh aku seperti itu?” tanyaku setenang mungkin. Ia memalingkan muka seraya duduk di atas rerumputan. Aku dan Togar mengikuti, duduk di sampingnya.

“Hmm, maafkan aku. Tapi bagiku batas antara yang halal dan yang haram itu sangat jelas, Yan! Begitu pun antara yang haq dan yang bathil! Dan selamanya kedua hal itu tidak bisa disatukan atau dicampur-adukkan!” Bicaranya sangat tegas.

Belum sempat aku memilih kalimat terbaik untuk mengomentari kata-katanya, ia sudah kembali berujar. “Oya, apakah kau bulan Ramadhan ini akan di kampung?”

Aku menggeleng. “Aku harus masuk kuliah pada minggu kedua Ramadhan,” jawabku.

Mukanya langsung nampak kecewa. “Yan, kau rela menghabiskan waktumu selama bertahun-tahun hanya untuk mencari ilmu duniawi yang tidak akan kau bawa mati. Sementara ilmu akhirat kau lupakan. Benar-benar menyedihkan,” katanya membuatku agak terperangah.

Ia menatapku tajam. “Ingatlah, kawan. Dunia ini adalah sesuatu yang fana, sesuatu yang melalaikan! Dan kau telah masuk ke dalam perangkapnya. Kenapa kau harus berlomba-lomba dengan orang kafir untuk meraih sesuatu yang semu? Dunia ini penjara bagi orang-orang Muslim dan surga bagi orang-orang kafir! Pertibi enda ingan singgah ngenca!” katanya tegas.

Aku mengangguk membenarkan. “Ya, aku tahu. Tapi ilmu itu bisa bermanfaat untuk akhirat kalau kita meniatkannya lillahi ta’ala. Juga jika dimanfaatkan untuk kemaslahatan ummat dan kejayaan Islam. Kalau hanya orang kafir saja yang menguasai ilmu dunia sementara kita membiarkan diri kita dalam kebodohan, bukankah itu berarti bahwa kita telah membiarkan ladang amal kita digarap habis oleh orang kafir? Lalu kita pun akan dijadikan budak-budak mereka di dunia. Jika demikian kapan waktu kita untuk beribadah?” jawabku diplomatis.

Ia menggeleng-geleng seperti meremehkan pendapatku. “Cobalah masuk tarekat, Yan! Dan jalani suluk selama 40 hari penuh. Kau pasti akan berkata lain. Kau akan menemukan sesuatu yang luar biasa.” Ia meyakinkanku dengan sungguh-sungguh.

Kurasa aku tidak berniat memperdebatkan masalah-masalah agama dengannya. Sebab aku memang bukan ahlinya. Yang kuinginkan saat ini hanya mengeluarkannya dari lingkaran majedup ini.

“Cok, kita sudah berteman sangat lama, kan? Kurasa kau telah mengenal aku dengan baik. Aku juga tahu bahwa semua yang kau sampaikan itu benar. Tapi bukan berarti kau bisa dengan mudah menyalahkan orang lain dan menganggap hanya dirimu sendiri yang benar. Sementara kau sendiri tidak berusaha melakukan sesuatu agar mereka yang kau anggap salah itu bisa menjadi baik!” tambahku.

“Aku sudah mengajak mereka ikut suluk, masuk tarekat!” bantahnya seakan tidak terima disalahkan.
“Kau hanya mengajak mereka masuk tarekat dan ikut suluk. Tapi kau tidak menumbuhkan motifasi pada mereka. Sama saja artinya kau mengajak orang berenang tapi kau tidak mengajari mereka cara berenang dan tidak memberitahu mereka apa manfaat dari berenang itu sendiri. Jelas mereka menolakmu!” Aku mencoba menalarkan lebih jauh.

“Kau jangan salah, Yan! Aku sudah jelaskan manfaat dari tarekat ini. Aku juga sudah jelaskan tujuan suluk itu pada mereka, tapi mereka saja yang tidak mau!” Ucok mengedikkan bahu.

“Baiklah. Anggaplah kau sudah menjelaskannya. Sekarang aku mau tanya. Sebenarnya kau sendiri, apa tujuanmu masuk tarekat dan ikut suluk itu?” tanyaku memancing.

“Jelas untuk merasakan keberadaan Allah di setiap langkahku, di sepanjang aliran darahku dan di setiap tarikan napasku!” Ia menjawab mantap.

“Tepat sekali!” kataku cepat. “Tapi orang-orang melihat sendiri bagaimana kau menggapai di lereng-lereng, memanjat pohon-pohon, atau mengarungi sungai-sungai di kampung ini, hanya untuk menemukan Tuhan! Jika kau yakin bahwa suluk bisa membuatmu dekat dengan Tuhan, lalu untuk apa kau mencarinya di luar?”

“Aku…”
“Kita sudah berteman lama, Cok. Aku sangat mengenalmu! Ini bukan dirimu yang sesungguhnya!” Aku sedikit menekannya.
“Semua orang bisa saja berubah, kan?” jawabnya cepat.

“Cok, jangan membohongiku! Kau telah merusak dirimu sendiri dengan membiarkan orang-orang menganggapmu gila! Majedup! Kau jalani sesuatu yang hanya ada dalam angan-anganmu tanpa mencoba melihat realita. Kawan, Islam tidak sesempit dan sejumud yang kau bayangkan! Jangan mengkaji Islam hanya dengan berpegang pada satu bagian saja,” ujarku panjang lebar.

Ucok menatapku dalam diam. Diam yang membuatku jadi sangat iba.

“Hebat juga, kau! Aku yang sekolah di pesantren, malah kau yang jadi ustadz,” bisik Togar di kupingku. Bah! Kusikut perutnya. Membuat konsentrasiku pecah saja dia.

“Cok, mau kemana? Tunggu!” seruku saat tiba-tiba Ucok berdiri dan berjalan cepat meninggalkan kami.
“Jangan ikuti aku!” ujarnya setengah membentak. Aku terperangah. Melongo menatap punggungnya yang terus menjauh.

“Bah! Ini gara-gara kau!” Kutimpuk bahu Togar dengan tinjuku.
“Wadauu! Macam mana pula kau ini? Kok aku yang disalahkan? Dasar kau saja yang tak pandai mendekatinya. Makanya jangan berlagak jadi ustadz kalau sekolah kau tidak mendukung. Lebih baik kau pindah saja ke pesantrenku! Bah! Tak sudi aku punya sepupu macam kau!” Togar terus mengomel sambil mengikuti langkahku, pulang.

@@@

Siang itu aku datang menemui Ucok di surau Haji Ahmad yang terlihat sepi. Tampak pemuda itu sedang memegang tasbih panjangnya. Tasbih yang biasa digunakan oleh peserta suluk jika melakukan dzikir. Alhamdulillah, tak kulihat warna kemarahan di wajah sahabatku itu.

“Sebagai sahabatmu, tolong jawab aku dengan jujur, Cok. Apakah kau merasa tenang selama ini?” tanyaku sambil menatap matanya lekat-lekat.

“Bagaimana aku bisa tenang jika aku tak pernah bisa menemukan Tuhan?” jawabnya sendu.
“Cok, maafkan aku atas kata-kataku kemaren. Tapi semua itu kukatakan demi kebaikanmu. Karna kau sahabatku!” kataku meyakinkannya.

Ucok menarik napas sejenak. “Tidak apa-apa. Tapi jika kau memang merasa benar, tolong katakan padaku, dimana kita bisa menemukan Tuhan? Dan bagaimana kita bisa merasakan keberadaannya setiap saat?” Ia menyipitkan mata. Mungkin bermaksud memancingku.

“Cok, Allah itu ada di sini!” Aku menunjuk dadaku. “Kau tidak perlu mencarinya kemana-mana. Kau sendiri yang mengatakan bahwa kita harus bisa merasakan keberadaannya, kan? Hanya merasakan, Cok! Bukan melihat atau bertemu dengannya! Iya, kan?” kataku penuh semangat.

“Dan kau bisa merasakan keberadaan-Nya setiap saat! Setiap kali kau melakukan sesuatu yang diniatkan untuk keridhaan-Nya. Setiap kali kau menatap hasil ciptaan-Nya lalu kau memuji keagungan-Nya. Setiap kali kau teringat akan dosa-dosamu lalu kau segera memohon ampun pada-Nya. Dan setiap kali kau merasa rindu kepada-Nya lalu kau menyebut-Nya dengan segenap kecintaan yang ada. Maka pada saat itu Dia akan hadir untukmu, Cok. Di sini!” Kudekapkan telapak tanganku ke dadanya.

Ia terpana. “Di sini…?” Ia meraba dadanya tak percaya. Rautnya tiba-tiba terlihat begitu lugu. Aku mengangguk. Untuk beberapa saat ia terdiam menatapku. Entah apa yang ada dalam pikirannya ketika itu. Namun yang pasti, sampai saat ini aku masih sangat mencintainya.

Dia adalah sahabat terbaikku sejak dulu! Ucok yang selalu tersugesti untuk mengukuhkan maghrifah-nya terhadap Allah. Yang selalu hanyut tiap kali mendengar cerita ustadz di mesjid tentang Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Juga yang selalu menyempatkan diri melakukan i’tikaf meski harus menerima omelan dari Nande-nya. Ya, inilah sahabatku itu! Yang kuharap akan segera kembali dari ‘berkelana’.

“Aku pun belum mampu menjadi seorang hamba yang baik, Cok. Karena itulah aku tidak mau menganggap diriku paling benar. Apalagi sampai menuduh orang lain sesat atau kafir. Sebab hanya Allah yang berhak menilai hal itu. Kita tidak boleh sembarangan mengatakannya, hukumnya sangat berat. Jika apa yang kita katakan itu salah, maka tuduhan itu akan dikembalikan Allah pada kita. Na’udzubillahi min dzalik,” kataku agak serak.

Ia masih terdiam menatapku. Kugenggam tangannya erat, mengalirkan keyakinan ke dalam hatinya bahwa aku masih sahabatnya yang dulu.

“Kau masih ingat ketika dulu kita sama-sama tersugesti untuk menjadi kalak Karo yang shaleh? Yang bisa menjadi teladan bagi kalak Muslim di kampung ini? Meskipun keluarga kita mu’alaf tapi kita bertekad untuk menjadi kalak Muslim terbaik. Bahkan lebih baik dari kalak Tapanuli yang sudah menganut Islam sejak lahir. Kau ingat?” tanyaku.

Ucok menatapku sejenak sebelum kemudian menunduk menatap lantai. “Yan…,” ujarnya nyaris mendesah. “Aku sangat kecewa atas kepergianmu. Karena aku kehilangan teman berbagi. Aku… aku juga sangat kecewa karena tidak bisa melanjutkan sekolahku. Bahkan cita-cita terakhirku untuk menjadi seorang kalak Karo yang shaleh juga tidak kesampaian karena tidak bisa masuk pesantren. Aku harus bekerja di sawah setiap hari membantu Nande! Aku kecewa dengan hidupku yang sangat tidak beruntung ini, Yan…!” ujar Ucok dengan kepala kian tertunduk. Ah, akhirnya ia meluahkan juga  jelaga yang menutupi hatinya.

Aku pun menarik napas panjang. “Cok, membantu Nande di sawah itu adalah suatu bakti yang sangat besar. Lebih besar dari pada kau pergi jauh meninggalkannya demi mengejar keinginanmu, sementara di rumah tidak ada yang membantu dan merawat beliau. Bahkan pergi berjihad ke medan perang pun kau dilarang jika masih ada Nande-mu yang sangat membutuhkanmu!” kataku menjelaskan.

“Kau bisa belajar dari ustadz-ustadz di kampung ini. Bahkan kalau perlu, bantulah mereka mendakwahkan Islam pada kalak Karo yang lain. Pahalanya sangat besar, Cok! Bukankah sejak dulu kau ingin melihat seluruh kalak Karo di kampung ini menjadi Muslim?” tambahku lagi.

Ucok menatapku dengan mata berkaca-kaca. Dan tiba-tiba saja ia menghambur memelukku. “Kau memang sahabat terbaikku, Yan,” bisiknya dengan suara basah. Aku tersedak sesaat, sebelum membalas pelukannya dengan dada yang sesak oleh keharuan.

Astaghfirullah…, tiba-tiba aku menyadari betapa aku telah melupakan sahabatku itu selama empat tahun ini. Aku tak pernah mengiriminya surat, menanyakan kabarnya atau sekedar berkirim salam pun tidak. Aku terlalu disibukkan oleh kegiatanku hingga mengabaikan tali silaturrahmi di antara kami. Ya Allah, semoga itu tidak akan terulang lagi, do’aku dalam hati. (V)

• majedup = sakit jiwa karna keliru dalam menjalankan agama
• suluk = berdiam di suatu tempat khusus untuk beribadah, biasanya selama 40 hari
• maqam = tingkatan
• karomah = keajaiban yang diberikan Allah pada orang-orang shaleh

(Cerpen ini telah dimuat dalam buku antologi Gadis Lembah Tsang Po terbitan Asy Syaamil)

  • Share/Bookmark

Related Posts

Put your related posts code here

Post a Comment


Salam

Selamat datang di web pribadi saya! Semoga kita sama-sama mendapat manfaat darinya... More


Status YM

Internet Sehat

lencana


Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Find entries :