Ikatlah ilmu dengan menuliskannya!

MAGEK MANANDIN

Written on 7 September 2009 – 15:51 | by Via |

rumahgadang2Gelanggang yang dibuka untuk memilih calon suami bagi Puti Nilam Cayo terlihat makin ramai. Dia adalah adik kandung Rajo Duo Baleh yang berkuasa di daerah Singkarak. Mereka yang hadir semakin penasaran, hingga kini, masih belum ada juga pemuda yang terpilih. Padahal sudah masuk minggu ketiga sejak gelanggang itu dibuka. Setiap yang ikut dalam gelanggang itu selalu saja mengalami kekalahan. Bukan kalah bertanding, tapi kalah berjudi dengan Rajo Duo Baleh. Dan hari ini mereka masih menanti munculnya seorang penjudi ulung yang akan menyunting Puti Nilam Cayo.

Ketika matahari naik sepenggalahan, tiba-tiba semua mata mengarah ke Timur. Ke arah munculnya seorang pemuda bertubuh gagah dan wajah tampan menawan. Beberapa perempuan saling berbisik tanpa mengalihkan pandangan mereka dari sosok yang baru datang itu. “Eh, siapakah pemuda tampan itu? Sepertinya hari ini gelanggang akan ditutup. Pemuda itu sangat cocok dengan Puti Nilam Cayo. Dia juga terlihat pintar, pasti bisa mengalahkan Rajo Duo Baleh.”

“Sepertinya begitu. Tapi siapa dia?” tanya yang lain.

“Masa kalian tidak kenal? Itu kan Magek Manandin, putra Datuak Bandaro dan Puti Linduang Bulan.” Seorang perempuan tua berbisik.

Mereka kian melongo. “Oh, benarkah dia Magek Manandin? Kemenakan Rajo Kuaso yang bertahta di daerah Sandiang Baka? Tapi bukankah dia sudah bertunangan dengan Puti Subang Bagelang, putri pamannya sendiri?”

“Benarkah? Lalu untuk apa lagi dia ikut di gelanggang ini?”

Mereka yang hadir jadi bertanya-tanya. Berbeda dengan Magek Manandin yang tampak melenggang tenang ke tengah gelanggang. Pemuda itu tersenyum ketika Rajo Duo Baleh mempersilakannya meletakkan taruhan. Senyumnya baru lenyap ketika semua taruhannya berhasil diraup oleh Rajo Duo Baleh. Ia kalah telak melawan raja licik itu. Magek Manandin penasaran, sejak mengenal judi, belum pernah ia kalah telak seperti ini. Sepeser pun taruhannya tak bersisa, apalagi menangguk keuntungan.

Apa boleh buat, ia pemuda yang pantang menyerah. Sarung dan baju pun ia gadaikan. Namun tetap saja kedua benda itu berhasil diraup oleh Rajo Duo Baleh. Magek Manandin kian penasaran. Meski hari telah malam tapi ia enggan meninggalkan gelanggang itu.

“Kau telah kalah, Magek! Jadi kau tak pantas menajdi pendamping adikku, Puti Nilam Cayo! Sekarang pergilah, hahaha…,” seru Rajo Duo Baleh angkuh. Tampak ia sangat puas mengalahkan Magek Manandin yang terkenal sebagai penjudi ulung di daerah Sandiang Baka itu.

“Aku tak berniat sama sekali pada adikmu! Aku datang kemari hanya ingin menantangmu!” jawab Magek Manandin sebelum meninggalkan gelanggang yang masih terlihat ramai. “Jangan-jangan gelanggang ini kau buka bukan untuk mencari suami bagi adikmu, melainkan untuk kesenanganmu sendiri,” imbuh Magek Manandin sinis.

“Hahaha, apa bedanya kau dan aku? Hanya saja kau tak sepintar aku!” sahut Rajo Duo Baleh sambil melangkah meninggalkan gelanggang, diikuti oleh para dubalang[1] istana.

Magek Manandin meludah. Ia bersumpah akan mengalahkan raja licik itu di lain waktu. Dengan jengkel ia melangkah pergi, dilepas oleh tatapan orang-orang yang masih berdiri di sekitar gelanggang. Tatapan yang seperti menyesali, mengapa pemuda seelok itu menjadi seorang penjudi. Meski di sisi lain mereka juga berharap agar ada seseorang yang bisa mengalahkan Rajo Duo Baleh, karena raja itu sangat licik dan sombong.

@@@

Hari telah larut ketika Magek Manandin memutuskan untuk bermalam di Singkarak. Namun ia bingung harus tidur di mana. Tak ada surau di daerah tersebut karena Rajo Duo Baleh tak suka ada surau di daerah kekuasaannya. Sebab itu artinya ia membiarkan agama tumbuh subur di sana, dan itu sama saja dengan menanam hukum yang akan mengharamkan segala perbuatan tercelanya.

Magek Manadin akhirnya memutuskan untuk tidur di kandang sapi penduduk. Tapi nahas baginya, sapi itu terbangun dan langsung bersuara riuh. Orang-orang pun terbangun dan menangkap Magek Manandin yang disangka maling itu. Dalam gelap, tak seorangpun yang mengenalinya dan ia pun seperti hendak menyembunyikan mukanya dari penglihatan orang banyak. Meski suka berjudi, tapi ia tak pernah membayangkan akan dituduh sebagai pencuri. Dan sungguh celaka, pemuda itu akhirnya babak belur dihajar massa untuk kemudian diikat di balai ronda.

Barulah keesokan harinya orang-orang sadar siapa yang mereka hajar semalam. Mereka pun buru-buru  minta maaf dan melepaskan ikatannya.

“Jangan! Biarkan dia tetap terikat di sana!” Sebuah suara membahana. Suara Rajo Duo Baleh yang baru tiba di tempat teresbut. “Dia pantas menerima hukuman ini. Sebab dia telah mencoba mencuri sapi penduduk untuk dijadikan taruhan!”

“Tapi katanya dia tak bermaksud mencuri, Bagindo[2]. Dia hanya menumpang tidur di sana,” bela seorang lelaki.

“Tahu apa kamu! Seorang penjudi akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan taruhan. Tak terkecuali mencuri dan berbohong! Apa kau hendak melindungi seorang pencuri dan juga pembohong ini?!” bentak Rajo Duo Baleh membuat lelaki itu mengkerut takut.

“Jangan lupa, Bagindo, kau juga seorang penjudi!” Magek Manandin membalas sengit. Rajo Duo Baleh hanya tersenyum penuh kemenangan. Tanpa menjawab ia pun berjalan kembali menuju istananya, diikuti empat orang dubalang-nya. Tinggallah Magek Manandin dalam keadaan terikat tanpa seorang pun berani menolongnya. Hati mereka iba, tapi juga takut pada kemarahan rajanya. Magek Manandin hanya mampu menutup mukanya yang lebam dengan perasaan galau. Bayangan Puti Subang Bagelang yang muncul di ingatannya, membuat hatinya seperti di iris-iris.

“Sebaiknya Kanda tak usah ikut meramaikan gelanggang itu. Itu bukan adu kekuatan atau kepintaran, melainkan pertandingan judi. Belumkah Kanda ingin bertobat dan meninggalkan perbuatan buruk itu? Dan kalaupun Kanda menang, Kanda juga tidak akan bisa menikahi Puti Nilam Cayo itu, sebab kita sudah bertunangan.” Begitu kalimat yang diucapkan tunangannya itu sebelum ia berangkat menuju Singkarak ini. Dan mengingatnya, seperti menyiramkan cuka di setiap lukanya yang membuat Magek Manandin ingin menjerit.

@@@

“Wah, ada angin apa Tuanku Rajo Kuaso datang kemari?” Rajo Duo Baleh menyambut kedatangan Rajo Kuaso yang sebenarnya sudah ia ketahui maksudnya.

“Saya hendak menanyakan kabar kemenakan saya, Magek Manandin yang katanya ikut meramaikan gelanggang Tuan tempo hari,” jawab Rajo Kuaso langsung ke pokok persoalan.

“Oh, hanya itu?”

“Tentu saja tidak. Saya juga membutuhkan beberapa ekor sapi untuk persiapan pernikahan Magek Manandin dengan putri tunggal saya, Puti Subang Bagelang. Bukankah di daerah Tuan ini terkenal sebagai penghasil sapi terbaik?” jelas Rajo Kuaso lagi bersemangat.

Rajo Duo Baleh tertawa. “Betul sekali, Tuan. Soal kemenakan Tuan itu, dia sudah pergi selepas gelanggang ditutup. Dan soal sapi yang Tuan maksud, kami sudah siapkan yang terbaik. Jika Tuan hendak melihatnya, silakan menuju balai ronda,” jawab Rajo Duo Baleh sambil menyimpan senyum. Ia sudah membayangkan apa yang akan terjadi. Sesuatu yang sangat menggembirakan hatinya.

@@@

“Kemenakan cilako[3]! Memalukan!” seru Rajo Kuaso ketika sampai di balai ronda. Sungguh ia tak percaya bahwa yang dimaksud sapi oleh Rajo Duo Baleh itu adalah Magek Manandin, kemenakannya sendiri. Arang pun seakan tercoreng di mukanya. Dengan paksa diseretnya Magek Manandin dari dalam balai ronda tersebut. Pemuda yang sudah tak berdaya itu hanya pasrah ketika tubuhnya diikatkan di punggung kuda salah seorang dubalang Rajo Kuaso.

Orang tua Magek Manandin, yaitu Puti Linduang Bulan dan Datuak Bandaro terkejut mendapati keadaan putra mereka yang begitu menyedihkan. Dan lebih sedih lagi ketika mereka tahu bahwa Rajo Kuaso akan menjatuhkan hukuman pancung bagi Magek Manandin atas perbuatannya yang sangat memalukan keluarga istana. Tangis dan permohonan Puti Linduang Bulan agar memaafkan Magek Manandin tak digubris.

Lalu Rajo Kuaso mengurung Magek Manandin di sebuah kamar untuk melaksanakan hukum pancung. Sebilah pedang jinawi telah disiapkan oleh seorang dubalang. Namun ketika hendak menebaskan pedang tersebut ke leher Magek Manandin, tangan Rajo Kuaso bergetar hebat. Bukan karena takut, tapi karena batinnya tak tega membunuh sang kemenakan dengan tangannya sendiri.

“Celaka! Aku tak sanggup membunuhmu dengan pedangku sendiri,” ujarnya bergetar. “Dubalang! Cepat siapkan kuda!”

Hari itu juga, tanpa disaksikan oleh Puti Linduang Bulan dan Datuak Bandaro, putra mereka dibawa ke hutan oleh Rajo Kuaso. Puti Subang Bagelang, tunangan Magek Manandin, hanya bisa meneteskan air mata melihat ayahnya berbuat demikian. Ia marah! Sakit hati! Tapi sungguh gadis itu tak berdaya melawan kehendak ayahnya sendiri.

“Mamak[4], jika memang jurang ini akan menjadi kuburan saya, maka ijinkanlah saya meminta sesuatu pada Mamak untuk terakhir kali,” mohon Magek Manandin ketika mereka berhenti di bibir sebuah jurang.

“Katakan saja!” sahut Rajo Kuaso tanpa menoleh.

“Tolong jangan nikahkan Puti Subang Bagelang dengan lelaki yang tidak dicintainya.”  Itulah permintaan Magek Manandin sebelum dilemparkan ke dalam jurang.

@@@

Adakah yang lebih membuat hati Puti Subang Bagelang hancur selain kehilangan calon suami yang ia cintai? Dan lebih hancur lagi ketika ayahnya, Rajo Kuaso, bermaksud menikahkannya dengan Rajo Duo Baleh. ‘Demi menebus rasa malu’ adalah alasan yang diberikan oleh Rajo Kuaso. Puti Subang Bagelang hanya mampu menangis dan meratapi nasibnya.

Tapi sesungguhnya Puti Subang Bagelang tak menangis sendiri. Nun di sudut surau yang terletak di pinggir daerah Sandiang Baka, juga menangis seorang pemuda. Ia memakai pakaian yang sederhana, namun tak menutupi ketampanan wajahnya. Ya, dialah Magek Manandin yang telah berhasil menyelamatkan diri saat dibuang ke jurang beberapa bulan yang lalu. Allah masih memberinya kesempatan hidup dan bertobat.

“Terima kasih, ya, Allah! Telah Kau selamatkan nyawaku. Hingga aku bisa menyadari semua dosa-dosaku…,” isaknya penuh penyesalan. Terbayang di matanya bagaimana ia dengan bandelnya kabur dari rumah Datuk Imam belasan tahun silam, saat disuruh belajar mengaji oleh orang tuanya. Ia lebih suka duduk di lapau[5] sambil memainkan kartu judi. Ya, Magek Manandin sadar, sejak dulu kerjanya hanya membuat malu dan menyusahkan hati orang tuanya saja. Apalagi mamak-nya adalah seorang raja yang disegani.

@@@

Menjelang pesta pernikahan Puti Subang Bagelang dan Rajo Duo Baleh digelar, gelanggang kembali dibuka. Rupanya raja penguasa daerah Singkarak itu benar-benar tak bisa lepas dari kesenangannya berjudi. Ia ingin mengundi keberuntungannya terlebih dahulu, sebelum kemudian membuat pesta paling meriah di sepanjang negeri. Dan seperti biasa, di gelanggang judi itu, Rajo Duo Baleh selalu keluar sebagai pemenang karena kelicikannya. Kali ini ia menjadikan sabung ayam sebagai puncak permainan. Barang siapa yang bisa mengalahkan ayam jagonya, maka ia berhak mendapat hadiah besar.

Seorang pemuda maju ke tengah gelanggang. Sebagian wajahnya tertutup kain sarung dan sebagian lagi tertutup rambut. Tanpa bersuara ia melepaskan ayam jagoannya di samping ayam jago milik Rajo Duo Baleh.

“Hai, jika kau kalah apa yang jadi taruhanmu? Maaf, aku tidak menerima pakaian jelekmu itu sebagai taruhannya. Apalagi sarung busukmu itu!” ejek Rajo Duo Baleh lantang.

“Jika Bagindo menang, maka nyawa saya sebagai taruhannya. Itupun kalau Tuhan Mengizinkan, sebab setiap nyawa ada dalam kekuasaan-Nya. Tapi jika saya yang menang, saya tidak minta apa-apa selain meminta agar Bagindo segera insyaf dan menjadi raja yang baik!” Suara pemuda itu tak kalah lantang.

Semua yang hadir tertegun. Alangkah beraninya pemuda miskin itu, batin mereka. Tak seorangpun yang sadar bahwa pemuda itu adalah Magek Manandin. Rajo Duo Baleh jadi geram dilecehkan seperti itu. Segera dibukanya acara sabung ayam tersebut. Entah karena sadar tuannya sedang marah, ayam jago milik Rajo Duo Baleh pun tampak sangat gugup. Tikaman dan patokannya tak pernah mengena.

Justru ayam jago milik Magek Manandin yang terlihat bersemangat. Misainya beberapa kali menggores leher lawannya. Hingga pada akhirnya ayam jago Rajo Duo Baleh harus menerima kekalahannya setelah terhuyung-huyung di pinggir gelanggang. Tubuhnya bermandikan darah segar.

“Bangsat! Ayam keparat itu telah membunuh si Jago kesayanganku! Maka kau sebagai pemiliknya, harus menerima hukumannya!” sentak Rajo Duo Baleh sambil menuding pemuda di hadapannya.

“Jangan salah ucap, Bagindo! Bisa-bisa nyawamu yang melayang.”

Rajo Duo Baleh kian kalap mendengar kata-kata Magek Manandin yang masih belum dikenalinya itu. Sejurus kemudian ia telah menghunuskan pisau bermata dua ke arah Magek Manandin.

“Ini bagianmu, bangsat!” makinya sambil melompat menyerang Magek Manandin. Tapi pemuda itu telah siaga. Sekali tangkis, pisau di tangan Rajo Duo Baleh terlempar ke tanah. Rajo Duo Baleh kian emosi. Ia bergerak meraih pisau itu. Tapi malang, ketika hendak menyerang Magek Manandin untuk kedua kalinya, kakinya tersandung pancang yang tadi digunakan untuk menambatkan tali si Jago kesayangannya.

Raja itupun jatuh terjerembab, tepat menimpa pisau yang masih digenggamnya erat. Maka meraunglah ia menahan sakit yang tak terkira. Saat itu juga nyawa raja zalim tersebut melayang ke alam baka.

@@@

“Magek, Mamak menyesal telah menghukummu secara tidak adil. Mamak minta maaf,” kata Rajo Kuaso saat datang bersama keluarganya menemui Magek Manandin yang kini tampak begitu berbeda. Mata Rajo Kuaso berkaca-kaca.

“Saya yang harus minta maaf, Mak. Sebab sayalah yang telah banyak menyusahkan keluarga kita selama ini. Semoga Mamak tidak malu lagi memiliki kemenakan sekaligus menantu seperti saya,” jawab Magek Manandin menahan haru.

“Tentu saja tidak. Nanti, setelah pernikahan kalian dilangsungkan, Mamak harap kau tidak menolah untuk menjadi raja di daerah Singkarak.”

“Apa? Jadi raja?” Magek Manandin tak percaya.

“Ya. Rakyat di sana sangat berharap padamu, Magek. Mereka bangga karena kau telah mengalahkan Rajo Duo Baleh yang zalim itu. Kau tidak hendak mengecewakan mereka, bukan?” Puti Linduang Bulan, ibunda Magek Manandin, ikut menyemangati putranya. Ayahandanya, Datuak Bandaro mengangguk membenarkan.

Magek Manandin masih membisu. Ya, Allah, inikah ujian-Mu atas keinsyafanku? Sungguh, tanpa pertolongan-Mu, aku tak kan lebih baik dari Rajo Duo Baleh… Batinnya berbisik lirih.

“Mungkin inilah saatnya Kanda menebus semua dosa-dosa masa silam itu. Untuk membuktikan bahwa sekarang Kanda sudah berubah. Dengan menjadi raja yang baik, maka tak hanya dosa-dosa yang bisa Kanda tebus, tapi juga memberikan kemakmuran bagi rakyat Singkarak.” Puti Subang Bagelang yang sejak tadi duduk diam di dekat ibunya, Puti Andam Dewi, kini ikut memberi semangat. Selendang panjang warna merah dengan pita perak yang dililitkan di kepalanya membuat parasnya terlihat kian bersahaja.

Magek Manandin memandangnya terharu. Baru disadarinya bahwa Puti Subang Bagelang hanya pantas mendapatkan seorang pendamping yang baik. Tidak seperti dirinya selama ini. Ah, mengapa baru sekarang ia menyadari hal itu?

“Bagaimana, Magek?” Rajo Kuaso mencari kepastian.

Magek Manandin menarik napas sejenak. “Insya Allah, Mak.”

[1] pengawal

[2] baginda

[3] celaka

[4] paman

[5] kedai

Note: Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku antologi Berlalu Dalam Sunyi

  • Share/Bookmark

Related Posts

Put your related posts code here

Post a Comment


Salam

Selamat datang di web pribadi saya! Semoga kita sama-sama mendapat manfaat darinya... More


Status YM

Internet Sehat

lencana


Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Find entries :