Lelaki Berbaju Biru
Kami bertemu di sebuah situs pertemanan yang lagi banyak digandrungi saat ini. Awalnya sekadar saling komentar status, lama-lama kami jadi saling kirim pesan di inbox pribadi. Saling menanti komentar atau pesan pribadi, merasa dekat satu sama lain. Kalau akhirnya kami saling merindu tidak ada salahnya, bukan? Toh di statusnya dia belum menikah dan aku juga masih lajang.
Sampai akhirnya kami memutuskan untuk bertemu. Janji pun dibuat, berikut jam dan tempat yang tepat. Hm, apakah ini pertanda jodohku sudah dekat? Rasanya sudah bosan meniti hari-hari sendirian. Aku butuh seorang teman, seorang belahan jiwa yang siap saling berbagi. Ah, indahnya…
Akhirnya hari yang ditunggu itu datang juga. Sabtu sore, di sebuah food counter yang tidak terlalu ramai dan bernuansa romantis, aku menunggu lelaki itu. Lelaki yang sepakat memakai baju berwarna biru seperti yang kupakai saat ini. Warna kesukaan kami berdua. Hal lain yang membuat kami sama adalah keengganan untuk memasang foto secara jelas di jejaring pertemanan itu.
Aku memasang foto waktu ramai-ramai dengan temanku, hingga sulit melihat wajahku secara jelas. Kadang kuganti dengan foto ponakan yang lucu atau foto kucing kesayanganku. Sementara dia memasang foto waktu hiking, hingga sosoknya tampak sangat kecil di tengah pemandangan gunung dan hutan. Sudah kucoba memperbesar zoomnya tapi tetap tidak begitu jelas apalagi kepalanya ditutup topi gunung yang rapat. Hih, jadi penasaran deh!
Sejenak kutoleh sekitarku, hanya ada beberapa pengunjung yang tampak duduk menikmati minuman mereka. Tak ada yang berbaju biru kecuali seorang perempuan muda di pojokan. Sembari menunggu, kualihkan rasa canggung dengan menyalakan note book. Mumpung di hotspot area, lumayan bisa surfing sekaligus mengurangi debar di dada. Namun mataku tetap awas menandai setiap orang yang masuk dan keluar.
Sore makin merambat, pengunjung food counter juga semakin beragam yang datang dan yang pergi, namun lelaki berbaju biru itu belum terlihat juga batang hidungnya. Memang tadi ada seorang lelaki berkemeja biru, tapi sudah setengah baya, jelas bukan lelaki yang kumaksud.
Sekitar jam lima sore, aku mulai uring-uringan, gelisah jika dia tak muncul. Aku paling benci orang yang tidak konsekuen, apalagi pembohong. Jika dia terlambat atau tidak bisa datang, toh dia bisa menghubungiku di ponsel. Di tengah rasa gelisah itu, tiba-tiba seorang lelaki muncul di hadapanku. Tentu bukan dia yang kutunggu, bajunya tidak biru, dia memakai jaket warna coklat dengan kaos dalaman berwarna merah bata.
“Maaf, kamu Mia, ya?” sapanya sopan seraya melempar senyum akrab. Aku mengangguk kecil. Mendadak aku punya firasat, dialah sosok yang aku tunggu-tunggu sejak tadi, tapi…
“Maaf, aku tidak memakai baju biru,” Ia seperti menebak pikiranku. Tanpa kusuruh, ia langsung mengambil tempat duduk di hadapanku.
“Entah kenapa aku jadi tidak pede memakai baju warna biru. Tapi sudahlah, yang penting kita sudah ketemu, iya kan?” Dia tersenyum jenaka. Aku lagi-lagi hanya mengangguk.
Obrolan terus bergulir, meski dia lah yang lebih banyak bicara. Aku menyimak sambil mengamati setiap gerak-gerik dan ekspresi wajahnya. Lelaki bertubuh tinggi, memiliki mata yang jenaka dengan senyum menawan. Kurasa dia sosok yang menyenangkan, punya selera humor yang bagus. Tapi entah kenapa aku seperti kehilangan gairah untuk melanjutkan pertemuan kami lebih lama lagi.
Dia sempat menawarkan makan malam berdua di tempat lain, tapi aku menolak. Aku ingin pulang, merebahkan segenap penat yang mulai merayapi setiap otot dan persendianku. Ah, kurasa batinku pun merasa letih dan butuh rebah di keheningan. Aku pun pamit pulang, dia mengantarku sampai ke taxi yang membawaku menuju jalan pulang.
Kurasa aku memang tak perlu lagi memupuk harapan yang terlanjur mencuat. Aku benci pembohong sebagaimana benciku pada orang yang dengan mudah mencari alasan saat mungkir dari kesepakatan. Begitu pula benciku pada lelaki yang berjanji datang dengan baju biru tapi malah muncul dengan baju warna lain, membiarkan aku menunggu lama sementara dia asyik mengamatiku diam-diam untuk memastikan apakah aku cukup pantas ditemuinya atau tidak. Ya, dia mungkin tidak sadar bahwa aku menghapal setiap pengunjung yang masuk ke food counter itu. (V)
Note: Bukan cerpen bukan kisah nyata, cuma sebuah catatan kecil








