Kontraktor atau Nomaden?
Pernah membayangkan pindah-pindah rumah? Tak hanya sekali dua kali, tapi berkali-kali? Kalau saya, tak hanya membayangkan tapi mengalami. Berapa kali saya pindah rumah? Coba hitung sendiri, deh!
Di awal pernikahan, saya dan suami menempati sebuah rumah petak di kawasan Pramuka, Jakarta Pusat. Lumayan mahal, karena kawasan tersebut memang cukup strategis dan di tengah kota. Kami hanya mengontrak selama 6 bulan.
Setelah 6 bulan kami pindah. Masih di kawasan yang sama, tidak begitu jauh dari rumah yang pertama. Alhamdulillah, rumah kedua ini lebih nyaman dan lebih luas meski masih bertitel rumah petak. Juga tidak sepadat rumah sebelumnya. Hanya saja, atap bagian belakang yang bocor besar membuat saya sering kesal. Maklum saat itu saya lagi hamil berat, sudah memasuki trimester ketiga. Terbangun tengah malam gara-gara atap yang bocor dan buru-buru mengamankan barang seringkali saya alami hingga tekanan darah saya meningkat akibat istirahat terganggu. Bidan pun mulai mewanti-wanti agar saya menjaga tekanan darah. Alhamdulillah, di rumah kedua inilah saya mengasuh dan merawat bayi pertama saya, Dinda Hilwa Syahidah.
Setelah 1 tahun tinggal di sana, kami kembali pindah. Kali ini ke daerah Cipinang Besar agar lebih dekat dengan keluarga saya. Pindah ke sebuah rumah (yang lagi-lagi) petakan. Biarpun rumah petak, tapi rumah ketiga ini memiliki ruang tamu yang lumayan, kamar tertutup dengan jendela mungil, sebuah ruang keluarga dan dapur serta kamar mandi yang luas. Satu-satunya yang membuat tidak nyaman adalah miskinnya ventilasi di rumah tersebut. Hanya ada ventilasi di ruang tamu, itupun udaranya tidak leluasa karena ada bangunan SD bertingkat, dua meter di depannya. Jadilah rumah itu terasa panas sepanjang hari.
Takdir ternyata hanya mengizinkan kami menempati rumah itu selama 3 bulan. Suami saya yang saat itu bekerja di Ciputat jatuh sakit. Lumayan parah. Sepertinya dia terlalu kecapaian bolak-balik Ciputat-Cipinang tiap hari. Akhirnya kami putuskan pindah ke Ciputat. Tapi bagaimana dengan rumah kami yang baru ditempati 3 bulan? Tidak mungkin rasanya meminta uang kembali. Alhamdulillah, Allah Maha Pemberi jalan, ada sebuah keluarga yang baru kena gusur sedang mencari rumah kontrakan. Maka terjadilah over kontrak di antara kami. Lumayan, uang kami bisa balik sesuai perhitungan.
Ya, akhirnya kami kembali pindah. Rumah keempat ini tidak jauh dari kampus UIN. Di sebuah gang yang lumayan sempit dan padat. Tapi justru di sinilah saya merasa lebih membaur dengan tetangga sekitar. Enam bulan kemudian kami pindah ke rumah sebelahnya. Inilah kepindahan kelima dan terdekat yang kami alami, cuma berjarak satu dinding J
Loh, kok latah banget pindah sedekat itu? Jangan salah, biarpun cuma beda dinding, ternyata air di rumah sebelah lebih bersih dari rumah sebelumnya. Dan ini alasan yang sangat urgen untuk pindah.
Awal 2007 kami pindah ke daerah Kranji, biasalah tuntutan pekerjaan. Rumah petak lagi? O, tentu saja! Rumah keenam ini lumayan keren dengan bangunan yang sangat baru. Tapi… hidup memang tak ada yang sempurna. Rumah baru kami itu ternyata sangat didemenin lalat. Begitu banyak lalat setiap harinya sampai-sampai saya tak tega membuka pintu depan, takut ruang tamu dipenuhi lalat. Ternyata tidak jauh dari rumah tersebut ada tempat pembuangan sampah yang lumayan besar. Duh, kok tidak tahu dari awal, ya? Tapi itulah kenyataannya. Dalam hati saya bergumam, untung kami cuma ngontrak bulanan dan barang-barang pun tidak banyak. Jadi jika harus pindah lagi tidak terlalu repot.
Lagi-lagi takdir bicara. Tiba-tiba suami saya dapat telepon dari salah seorang Dekan UNAND. Beliau meminta suami saya untuk datang ke Padang. Biasalah, soal pekerjaan. Mungkin karena memang hobby jalan-jalan dan suka tantangan, suami saya dengan senang hati menyanggupi tapi tentunya juga dengan beberapa syarat. Maka berangkatlah ia ke Padang sendirian. Saya dan putri kami masih tetap di Jakarta. Sebulan kemudian kami menyusul ke Padang. Kalau ini, mungkin dorongan kerinduan terhadap kampung halaman yang telah bertahun-tahun tak ditengok J
Maka itu artinya lagi-lagi pindah rumah. Dan ini untuk ketujuh kalinya. Saya sempat berpikir semoga ini kepindahan terakhir kami karena saya ingin sekali membangun masa depan di kampung halaman saya. Ehm, ini keinginan yang wajar, kan?
Tapi kita memang tak pernah bisa menduga apa yang akan terjadi, termasuk soal perasaan. Entah kenapa, saya justru merasa tidak kerasan setelah kembali ke pangkuan tanah kelahiran. Kota Padang yang panas, gempa yang sedang heboh-hebohnya, suara hentakan musik yang hingar-bingar (berpotensi merontokkan jantung) nyaris di setiap angkot dan metro mini di kota Padang, adalah sebagian alasan ketidakbetahan saya.
Tapi saya tentu tidak bisa ujug-ujug minta balik ke Jakarta, kan? Suami saya masih terikat pekerjaan. Sekali lagi, Allah Maha Pemurah. Di saat pekerjaan suami saya sudah longgar, tiba-tiba ia mendapat panggilan kerja di Jakarta. Jelas itu mencerahkan perasaan saya. Maka menjelang Ramadhan 2007 kami pun kembali boyong ke Ibu Kota yang pengap dan macet namun tetap dirindu. Kami mengontrak sebuah rumah (alhamdulillah, lagi-lagi petakan) di daerah Cipinang Besar, tidak jauh dari yang dulu. Inilah rumah kami yang kedelapan.
Baru 2 bulan tinggal di rumah tersebut, suami saya dipinang lagi oleh sebuah penerbit di Bandung. Oya, waktu jomblo dulu, saya pernah lho pingin tinggal di Bandung. Makanya saya jadi berpikir, jangan-jangan ini kesempatan yang dibukakan Allah untuk mewujudkan keinginan itu. Berhubung kami ngontraknya bulanan, maka tanpa kendala kami hijrah ke Bandung. Ini artinya kami akan menempati rumah kesembilan.
Tapi begitu memasuki rumah tersebut, hati saya begitu sulit diajak kompromi untuk berlapang dada. Padahal sebelumnya saya cukup qonaah menempati rumah manapun. Entahlah, mungkin karena lagi hamil muda dengan bawaan mual dan pusing, saya menganggap rumah itu tidak layak kami tempati. Ruangan yang terasa lembab, kamar mandi yang tanpa pintu, dapur yang tak memadai, air yang sangat keruh dan bau, jemuran yang terletak di loteng, jarak yang jauh dari jalan raya, adalah sebagian dari hal-hal yang saya anggap akan merepotkan saya. Bukan apa-apa, dengan kondisi hamil dan memiliki seorang anak balita, saya menginginkan tempat tinggal yang cukup sehat.
Tapi saya tidak tega ngotot pada suami saya karena dia sudah repot-repot selama beberapa hari mencari rumah untuk kami. Begitu masuk waktu Magrib, lampu pun dinyalakan. Tiba-tiba keluarlah gerombolan laron memenuhi ruangan tersebut. Rupanya mereka bersarang di kayu penyangga jendela dan itu tak mungkin kami atasi dalam waktu singkat.
Suami saya mulai tidak nyaman. Malam itu juga kami keluar ditemani gerimis. Menyusuri pematang sawah, dengan payung pinjaman tetangga. Tujuannya adalah mencari rumah alternatif. Tapi nihil! Yang ada cuma kos-kosan, tidak menerima suami istri. Terus-terang saya sangat kasihan pada suami dan anak saya. Karena itulah saya berusaha untuk tidak banyak mengeluh meski kondisi fisik saya yang sedang mual-mual sangat memberatkan saya saat itu.
Maka terpaksalah malam itu kami tidur di rumah yang lembab dan gelap karena lampu harus dimatikan demi mengusir laron. Keesokan harinya suami saya kembali hunting rumah. Alhamdulillah dapat. Maka kami kembali mengepak barang-barang. Untung rumah tersebut baru dibayar panjarnya saja, jadi kami hanya perlu minta maaf karena tidak jadi melanjutkan kontrak. Maka itulah rumah yang paling singkat kami tempati, hanya semalam saja.
Lalu kami memasuki rumah kesepuluh di dekat kompleks PLN, di jalan M. Toha. Sebuah kamar layaknya kos-kosan pelajar, dengan dapur dan kamar mandi yang digunakan bersama seorang mahasiswi yang mengontrak di kamar depan. Tidak apa-apa, saya jauh lebih nyaman di sini dibandingkan rumah sebelumnya. Yang penting rumahnya bersih dan lingkungannya sehat. Apalagi pemilik rumah juga sangat baik dan putri saya juga senang bermain bersama beliau. Lingkungan yang cukup religius membuat saya merasa lebih tentram meski hanya menempati sepetak kamar di tengah rasa mual yang sedang hebat-hebatnya. Saya bahkan tidak begitu tertarik saat suami saya menawarkan rumah yang lebih leluasa untuk keluarga kecil kami. Saya sudah kadung nyaman dan malas pindah-pindah lagi. Maka jadilah ini tempat tinggal terkecil yang pernah kami tinggali.
Memasuki trimester ketiga kehamilan saya, saya mulai berpikir kembali ke Jakarta untuk melahirkan di sana. Hm, setelah dipikir dan dirasa, saya dan suami sepakat untuk kembali ke Jakarta. Ternyata Bandung pun bukan tempat yang cocok untuk membangun impian meski dulu saya sangat menginginkannya. Saya malah sempat merasa kerepotan gara-gara sulitnya taxi yang nyaman plus aman di Bandung. Duh, maaf nih buat warga Bandung J
Setelah mencari rumah yang cocok, maka saya pun pindah duluan ke Jakarta. Kali ini di daerah Jombang, tidak jauh dari Bintaro. Inilah rumah kami yang kesebelas. Lumayan luas dengan dua kamar di bawah dan satu kamar di atas untuk pembantu. Ya, kami akhirnya menggaji seorang pembantu berhubung kondisi saya yang semakin berat dan suami saya yang masih bolak-balik Jakarta-Bandung. Terlalu berisiko jika saya hanya berdua dengan putri saya.
Seminggu sebelum melahirkan, suami saya memutuskan berhenti dari pekerjaannya di Bandung. Selain capek bolak-balik tiap minggu, ia juga mengkhawatirkan keadaan saya. Di rumah kesebelas inilah putra kedua saya, Ken Najmi Syuhada, menempati rumah pertamanya. Tapi sayang, baru enam bulan kami kembali harus pindah. Kali ini gara-gara ada masalah interen pemilik rumah yang tidak kami ketahui sebelumnya.
Capek? Hm… terus-terang dulu saya asyik-asyik aja jika pindah rumah. Tapi kini, setelah punya dua anak, rasanya kok mulai capek, ya? Kasihan juga anak-anak. Mudah-mudahan kami tidak perlu sering-sering pindah lagi.
Bismillah, kami pun memasuki rumah keduabelas di kompleks Taman Kedaung, Ciputat. Rumah yang ini rasanya pas sekali dengan keluarga kecil kami. Dengan dua kamar, halaman luas, lingkungan yang lumayan banyak pohon, dekat ke pasar Ciputat dan yang pasti lebih dekat ke kantor suami saya. Itu artinya suami saya bisa lebih enjoy pulang-pergi kerja. Anak-anak juga bisa main di halaman dengan nyaman. Apalagi ada TK dan Play Grup dekat rumah. Putri sulung saya sudah lama ingin sekolah dan mudah-mudahan ini kesempatan baik baginya.
Oya, apa dong kekurangan rumah yang sekarang? Ah, bukankah tak ada yang sempurna di dunia ini. Apapun kekurangannya, juga kekurangan rumah-rumah kami sebelumnya, saya selalu berusaha bersyukur atas nikmat Allah yang sesungguhnya telah berlimpah Dia berikan pada kami, hanya kesyukuran kami lah mungkin yang masih sangat kurang terhadap-Nya. Ya Allah, ajarilah kami berterimakasih pada-Mu dengan cara yang layak…
Namun jika ada yang penasaran, satu-satunya kekurangan yang sangat nyata dari rumah kami sekarang adalah; rumah ini bukan milik kami! J
Jadi, berapa kali kami pindah rumah? Trus, cocoknya disebut nomaden atau kontraktor, ya? (V)










2 Responses to “Kontraktor atau Nomaden?”
By didi on Jun 7, 2010 | Reply
saya lagi berencana untuk mengontrak…masih tahap mengumpulkan mental hehe….karna saya dan suami di rumah sekarang (di rumah mama saya yang daerah komplek)jarang (hampir tidak pernah) berinteraksi dgn tetangga, sementara kalau di lingkungan kontrakan -pada umumnya- jika tdk bergaul dgn tetangga kalau kita kenapa2/butuh bantuan mungkin gak akan ditolongin.
takut gak bisa bergaul dengan tetangga nih
punya pengalaman gak mbak bagaimana interaksi dgn tetangga?cara berkenalannya bagaimana ya???
trima kasih
By Via on Jun 10, 2010 | Reply
ayo…semangat tp hati2 milih kontrakan ya