Ketakutan itu memang ada…
Sebagaimana disebutkan dalam laporan harian asy Syarq al Awsath (17/1/09), salah satu target terpenting militer Israel dalam serangannya ke Gaza adalah mendesak kelompok perlawanan agar mau keluar menuju wilayah terbuka, sehingga mereka dapat membunuhnya lebih banyak lagi. Diperkirakan, para pejuang sudah berpengalaman dan tidak mau mengulangi kesalahanya dua kali. Mereka tentu tidak mau menjadi bulan-bulanan pembantaian serdadu Zionis.
Beberapa radio Israel yang berbahasa Ibrani melansir pernyataan sejumlah pemimpin militer di wilayah selatan yang menyebutkan, ada perasaan frustasi yang meliputi sejumlah komandan militer Israel akibat keengganan pihak perlawanan memenuhi pancingan mereka. Sejumlah pasukan perlawanan malah bersembunyi di sejumlah terowongan dan banker atau menyelinap di gang-gang sempit permukiman. Hal ini tentu menyulitkan pesawat pengintai Israel (Apache) mengendus keberadaan mereka. Padahal tujuan meluaskan jangkauan serangan dengan melakukan operasi perang darat adalah memancing pasukan perlawanan agar mau keluar dari persembunyiannya menuju wilayah terbuka, hingga militer Israel dapat dengan bangga mengumumkan tentang kerugian besar yang diderita pasukan perlawanan. (Dikutip dari infopalestina.com)
Majalah Jerman Der Spiegel dalam laporannya menyebut tentara Rezim Zionis Israel ketakutan dan enggan dikirim ke Gaza. Seraya menyebut protes warga Israel atas serangan rezim ini ke Jalur Gaza, Spiegel menulis, orang-orang Israel yang memprotes serangan ke Gaza mengadakan aksi unjuk rasa yang ditindak keras oleh polisi rezim ini. Sejumlah pengunjuk rasa ditangkap dan dijebloskan ke penjara.
Tentara-tentara Israel juga melakukan unjuk rasa di depan Gedung Departemen Peperangan Israel dengan membawa spanduk bertuliskan “Kami tidak ingin pergi perang ke Gaza” dan “Menghancurkan Gaza sangat berbahaya”. Selain ketakukan tentara Israel dikirim ke Gaza ada poin penting lainnya bahwa tentara-tentara Israel sendiri meyakini bahwa serangan yang dilakukan ke Gaza itu bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam lanjutan laporannya Spiegel menyebutkan bahwa di hari pertama serangan ke Gaza, sekitar seribu orang penduduk Tel Aviv melakukan aksi unjuk rasa turun ke jalan-jalan menentang militer rezim ini. Namun setelah berlalu sepekan, jumlah orang yang turun ke jalan melakukan demonstrasi bertambah menjadi lebih dari 10 ribu orang. Para saksi mata menyebut semua yang ikut dalam aksi unjuk rasa itu ditangkap oleh Rezim Zionis Israel.
Spiegel dengan mengutip seorang koordinator aksi unjuk rasa itu menulis, poin penting dari fenomena ini adalah demonstrasi yang dilakukan oleh para tentara di depan Gedung Departemen Peperangan Israel di Tel Aviv. Bayangkan, jumlah tentara yang menolak dikirim ke Gaza mencapai ratusan orang. (Dikutip dari Indonesian Radio)
Apakah ini pertanda bahwa ketakutan itu memang ada? Namun selalu ditutupi dengan kepongahan dan ambisi yang sudah tidak manusiawi? Saya jadi ingat sebuah artikel yang saya baca beberapa tahun silam, bahwa berada di medan perang bagi orang beriman ibarat menjemput kematian yang mulia, bayarannya adalah surga. Sementara bagi orang kafir berada di medan perang laksana menjemput sebuah kematian yang tragis.
Bahkan seorang panglima perang muslim pernah menyatakan, “Kami berperang untuk mendapatkan syahid, sedangkan musuh berperang untuk mempertahankan hidup!”
Tentu sangat bisa dipahami, jika militernya saja takut, apalagi rakyat sipil Israel, pasti memiliki ketakutan akan keselamatan nyawa mereka. Karena mereka juga suka menyakiti orang Palestina yang berada di wilayah mereka. Siapa yang bisa bilang mustahil bahwa roket-roket HAMAS kelak akan menghantam tempat tinggal mereka sebagai sebuah balasan? (V)








