Kenapa Mereka Jadi Penulis? (Rahasia Hati Para Penulis hehe…)
Begitu banyak teman-teman lama yang heran dan bertanya, kok saya bisa jadi penulis? Seolah-olah saya adalah penulis jadi-jadian hihihi… Pingin sebenarnya menjawab keheranan mereka dengan sebuah uraian panjang, kenapa saya akhirnya terjun ke dunia penulisan tapi sulit sekali menjelaskannya karena memang banyak sekali alasan yang ingin saya kemukakan (selain karena merasa belum pede disebut penulis).
Akhirnya dari pada pusing sendiri, saya tanya teman-teman penulis lainnya, apakah mereka memiliki alasan yang sama dengan saya. Ternyata mereka memiliki alasan yang jauh lebih beragam. Hingga otomatis alasan saya pun bertambah hehe…plagiator! Nah, bagi yang masih penasaran lebih baik simak alasan teman-teman saya yang sengaja nggak saya edit berikut:
Azwar, mantan ketua FLP Sumbar mengatakan:
“Uni Via, sepertinya tema Munas kemarin cocok untuk menjawabnya,
menulis sebagai obat luka-luka bangsa,
tapi bagi saya Ni..
menulis sebagai obat luka-luka jiwa
he…
buat buku lagi ya Ni…”
Lain lagi jawaban Abba Amri, mantan editor Mizan yang sekarang ngantor di Penerbit Salamadani, juga yang berencana besanan sama saya hihi:
“Tiga alasan napa sy nulis:
1. cinta: sy suka baca, suka diskusi, suka meneliti, & pasti suka nulis.
2. aktualisasi diri: nahnu du’at qabla kulli syai’in… dakwah dgn pena, oiy!
3. kasbul ma’isyah: asyik kan dari nulis dpt honor ataupun royalty. lumayan dpt nambah pnghasilan.”
Boim Lebon (kalo sekarang bagusnya diganti Boim Lebay kali ya hihi…) yang ngetop sebagai playboy cap Duren Tiga di serial Lupus memberikan alasan yang di luar perkiraan saya:
“Saya menulis krn gagal jadi coverboy, hehe…”
Nah, berikut adalah pendapat Arumi, anggota FLP DKI yang pintar ngelukis sepatu dan bercita-cita jadi ilustrator ini:
“Karena aq suka mengarang (bukan berarti suka bohong lho, Mba Via…hehehe…) dan suka berkhayal, berimajinasi…karenanya aku suka banget sama cerita fiksi mba Via, seperti nonton film, baca cerita fiksi dan menulis juga masih sukanya cerita fiksi. Belum mahir nulis non fiksi…walau kadang bisa juga cerita yang kutulis berdasarkan pengalaman sehari2, baik pengalaman sendiri atau pengalaman teman2…bukan imajinasi atau khayalan..dan lumayan bisa jadi sampingan juga…cita2 sih pengen bisa dijadikan profesi utama…hehehe….amiiin.
Oya, dan satu lagi Mba Via, karena menulis hanya butuh program ms.word, nggak seperti gambar arsitektur yang njelimet banget karena harus pakai program autocad dan 3D max…rumit! Gampangan ms. word…nyante…”
Trus jawaban Lamuna, mantan Kepsek FLP DKI cukup singkat:
“Karena aku suka membaca, melamun, belajar, dan berbagi.”
Elenra, ternyata sependapat dengan Lamuna:
“Karena suka ngelamun jg (kaya’ Aa Mumun),suka baca & sering jd tempat curhat para teman…”
Jawaban cukup panjang diberikan oleh Iecha Hakim alias Syeila Chaca:
“Kalo aku siy suka banget nulis soalnya nulis itu bisa bikin aku lebih kenal sama diri aku sendiri. Trus juga, nulis bisa buat sarana perenungan aku, cara aku nyari solusi untuk masalah-masalah yang aku hadapain. Trus juga, nulis ngebantu aku untuk berpikir sistematis dan ngeliat sesuatu bukan cuma dari sudut pandang aku.
Aku ngerasain manfaat nulis yang dahsyat banget buat diri aku sendiri, dan itu bikin aku gak bisa nentuin apakah ini cuma sekadar hobi, profesi utama, atau profesi sampingan. Yang terang, nulis udah jadi kebutuhan aku.
Gitu, Ni…”
Billy, mantan ketua FLP DKI yang sedang mencari belahan jiwanya ini berpendapat:
“Wah,malu nih kalo ga ikut komentar.
saya menulis karena gelisah. salah satu sarana efektif untuk mengentaskan kegelisahan itu dengan menulis. karena saya orang yang selalu gelisah,jadilah saya suka menulis. menulis bukan sekadar hobi. cita2 saya menjadi penulis. dan saya mencari nafkah dengan menulis. alhamdulillah saya konsisten sejak lulus kuliah berprofesi di bidang kepenulisan.”
Seorang teman penyair bernama Ahmad Sekhu menulis pendapatnya yang hebat:
“Saya menulis karena saya ingin menjadi bagian dari sejarah kehidupan manusia. Orang-orang yang dicatat dalam sejarah akan abadi namanya. salut pada orang-orang yang selalu menulis dalam hidupnya.”
Elshia mengaku bisa nulis karena disumpahi maminya:
“Abdi teh nulis karena nggak ada kerjaan sambil minum teh. Awalnya karena disuruh ama ibu guru sewaktu TK. Ampe SD, SMP, SMU, lulus kuliah juga masih gitu. Karena udah telanjur bisa nulis trus persediaan pulpen lumayan banyak (daripada mubazir) ya nulisnya LANJUTKAN! Mau apa lagi. Masak nggak jago, bikin lagu nggak bisa, bikin baju nggak tau gimana bikin polanya. Kalo nulis kan tinggal sebatang pulpen yg ada tintanya plus kertas yg bisa diorat-oret, jadi deh! Mungkin karena sumpah serapah Mama semasa kecil aku menghiasi dinding rumah dengan kaligrafi abstrak, “Dasar Anak Tukang Nulis!” Ucapan seorang ibu itu mustajab. Akhirnya… hiks… aku jadi tukang nulis sekarang.”
Yang berikut adalah jawaban Andro, mantan ketua FLP Ciputat:
“Alasan paling penting, paling unik dan paling menggelitik…
1. paling penting: pingin jadi guru besar (guru besar kan sllu nulis, khususnya yg ilmiah)
2. paling unik: pingin jadi guru besar (guru besar kan paling unik diantara dosen2 yg lain (unik pada gagasan2nya yg trtulis))
3. paling menggelitik: pingin jadi guru besar (guru besar kan kalo nulis isinya menggelitik banget)
Adoh, pingin alasan yg gak panjang ya Bu? Hmmm… ini aja deh…. pingin jadi guru besar. (^_^)”
Ahmad Fuadi, penulis novel Negeri 5 Menara memberikan jawaban yang simpel tapi berisi:
“Saya menulis utk bersyukur kepada Allah dan mengangsur hutang budi kepada orang tua, guru, ustad, kiai, dan semua orang yang baik kepada saya.”
Arlen Ara Guci, penulis yang baru pulang dari negeri jiran menjawab singkat:
“Saya nulis mulanya karena pengen kenal dengan penulis…:)”
Hasif Palajati juga urun jawaban:
“Kalo aku karena keadaan. bagaimana tidak tidak, sejak sekolah aku udah terbiasa menyalin beberapa kitab lantas aku tulis menjadi catatan. eh, berkelanjutan jadi nulis terus kemana-mana…”
Laura Khalida si penulis produktif yang minderan menjawab:
“Jawabannya ada di buku Minder itu Nikmat hahaha… Ntar dulu ya lagi transkrip neh. Menulis karena dulu minder jadi teman sedikit en curhat ke diary, tahunya malah mengasah bakat. En sekarang emang suka dan skill nya di situ jadinya berprofesi sebagai penulis deh…”
Teman saya yang suka nulis skenario dan seksi sibuk, Mila Kartina, menjawab:
“1. krn ga ada itung2annya. secara gue paling ga bs matematik gitu loh; 2. krn bs cari duit dr nulis; 3. krn bs menyampaikan pesan/idealisme/kritik kita ke org lain dng cara yg lbh indah (ga frontal).”
Karina Anggara penulis buku Memoar Spiritual mengaku:
“Dunia kepenulisan adalah sebagai sarana berdakwah untuk memberi inspirasi kepada orang lain”
Terus Taufan E. Prass, ketua FLP DKI yang ngantor di Penerbit Lingkar Pena beralasan:
“Karena gue nggak bisa dapet kerjaan yang laen, hehe… (ini jawaban serius banget!)”
Nah, siapa lagi yang mau urun pendapat, alasan ataupun bagi-bagi jawaban, kenapa kamu jadi penulis? Siapa tahu mereka yang belum punya alasan dan motivasi untuk menulis jadi terpancing untuk jadi penulis juga (ikan kaleee…dipancing hehe…) dan buat yang udah ngasih jawaban tengkyu banget ya, karena saya jadi nambah koleksi motivasinya









Sorry, comments for this entry are closed at this time.