Kematian Yang Bersahaja
Kepada ibuku yang tersayang…
Aku sungguh berterimakasih sekali karena Ibu mau membesarkanku sampai aku hidup. Bila aku mati, Ibu jangan sedih karena aku akan masuk surga.
Aku cinta Ibu
Begitulah surat yang ditulis oleh seorang anak berusia 8 tahun bernama Angelia Kezia Diani sebelum ia meninggal dunia. Ia juga sempat berkata pada bapaknya, “Pak bolehkan Kakak mengatakan sesuatu? Kakak ingin dimakamkan di dekat makam Kakek di Jepara.”
Bahkan ketika melihat ibunya menangis melihat keadaannya, gadis kecil itu berkata, “Kenapa Ibu menangis? Ibu tidak boleh sedih.”
Angel menderita kanker MPNST, kanker yang menempel di organ-organ tubuh bagian dalam. Setelah 10 bulan menderita penyakit itu, dokter memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan. Tapi sulung yang cantik itu berkata, “Aku mau dioperasi Tuhan saja. Dokter tidak akan bisa karena sudah lengket.”
Yang tak kalah mengharukan, ia begitu penuh semangat. Meski sedang sakit, ia tetap berusaha ikut ujian di sekolah meski harus digendong oleh bapaknya. Ia juga rajin mencatat jadwal kemoterapi yang harus dijalaninya. Ia juga memiliki jiwa dermawan. Pada ulang tahunnya yang ke delapan kemarin ia ingin berbagi makanan dengan anak-anak jalanan. Katanya, “Kasihan mereka, aku senang bila mereka bisa makan enak.”
Begitulah Angel, gadis cilik yang begitu tegar menghadapi kematiannya. Lima menit sebelum menghembuskan napas terakhir, ia minta didudukkan dan dipeluk erat oleh ibunya.
Kini, gadis kecil yang pintar itu sudah kembali ke pangkuan-Nya dengan penuh bersahaja. Menghadapi kematiannya dengan jiwa besar.
Saya jadi ingat Gito Rollies yang juga menutup usianya dengan bersahaja, menjemput kematiannya sepulang dari aktifitas dakwah di Sumatera. Begitupun Erna Libbi yang menghembuskan napas terakhirnya di atas sajadah seusai shalat. Subhanallah, buat saya itu adalah gambaran kecil dari sebuah kamatian yang indah. Wajah-wajah mereka begitu tenang berbalut senyum tipis penuh keikhlasan. Padahal sebagai artis yang juga manusia biasa, bisa saja semasa hidup mereka dulu banyak diisi dengan dosa dan kesia-siaan. Tapi mereka sudah mengakhiri hidupnya dengan indah, seburuk apapun mereka di masa lalu. Bukankah yang paling penting itu adalah bagaimana kita mengakhiri hidup ini, bukan bagaimana kita di masa lalu.
Dan untuk mendapatkan akhir yang indah seperti ini tentu bukan hal yang mudah. Selain karena rahmat Allah yang Maha luas, usaha kita untuk bisa berakhir baik tentu juga sangat dibutuhkan. Tapi karena kita tak pernah tahu kapan dan bagaimana kematian itu menjemput, maka kita harus mengisi hidup ini dengan amal kebaikan, berharap mendapat akhir yang mulia. Amin. (V)








