Jenuh Yang Membunuh!
Sejak menjadi seorang ibu, ada satu hal yang sering saya keluhkan. Saya jenuh! Jenuh dengan aktifitas rumahan yang itu-itu saja. Mau jalan-jalan pun repot karena punya anak kecil. Setelah anak kedua lahir, kejenuhan saya seakan bertambah dua kali lipat. Makin lama makin menumpuk dan nyaris mencapai titik kulminasi yang membuat saya uring-uringan.
Saat perempuan lain bisa melenggang ke luar rumah dengan bebas, maka saya tidak demikian. Saya harus membawa anak-anak dengan segala tetek-bengeknya yang merepotkan. Saat perempuan lain bisa aktif di berbagai kegiatan, maka saya tidak demikian. Saya harus puas dengan aktifitas rumahan yang menjenuhkan. Saat perempuan lain bisa bekerja kantoran, berangkat pagi pulang sore, saya justru berkutat dengan urusan dapur, bersih-bersih, sampai mengurusi keperluan anak dan suami yang tak ada habisnya.
Huah! Saya capek! Jenuh! Terkungkung! Kehilangan eksistensi diri! Krisis percaya diri!
Saya ingin jalan-jalan seperti yang lain! Saya rindu kembali menulis seperti dulu! Saya butuh ruang untuk diri saya sendiri! Saya jenuh dan ingin meluahkan segala sesak di dada! Ya, lama-lama kejenuhan ini bisa membunuh kesadaran saya!
Syukurlah di tengah kecamuk batin itu saya dan suami punya ide membeli sebuah modem untuk dipakai di rumah. Mendadak hati saya sumringah. Ya, kenapa saya tidak mencoba mengusir kejenuhan ini dengan berinternet? Bukankah sebelum menikah dulu saya sangat suka menulis blog dan menjajaki milis-milis?
Saya pernah punya pengalaman beberapa tahun silam, saat mem-posting artikel di sebuah website. Belakangan saya baru sadar ternyata tulisan itu begitu banyak di-forward dan di-posting ulang oleh orang lain. Padahal jelas mereka tidak kenal siapa saya. Dari sana saya jadi berpikir, sebuah tulisan yang berkesan bagi orang lain akan menyebar begitu cepat dan luas di internet tanpa peduli siapa penulisnya. Jika demikian, sesungguhnya jalan untuk menebar manfaat di dunia maya ini sangatlah lempang alias praktis dan efektif. Begitupun sebaliknya, saya bisa mengambil banyak manfaat untuk kepentingan saya sebagai individu dan sebagai seorang ibu tentunya.
Saya bisa ngelayap (baca: surfing) kesana-kemari tanpa harus keluar rumah. Saya tetap bisa bersilaturahim dengan teman-teman di chatroom atau jejaring pertemanan tanpa harus menenteng anak-anak dengan segala kerepotannya. Hari-hari saya tentu akan lebih berwarna, tak lagi hanya diisi dengan urusan rumah tangga yang itu-itu saja.
Lalu dengan membuat blog maka saya bisa membuat sebuah ruang pribadi di dunia maya. Dimana saya bisa menuangkan pikiran, perasaan dan pengalaman saya. Dan apa yg saya tulis itu bisa dibaca oleh orang lain di mana pun berada, dan itu sangatlah menyenangkan. Selain bisa saling bersilaturahim, saling bertukar informasi, kita juga bisa saling menasihati. Banyak hal-hal menarik yang bisa jadi inspirasi, banyak pula kisah-kisah menyentuh yang bisa dijadikan pembelajaran diri.
Akhirnya… Bismillah! Saya pun mulai merintis www.noviasyahidah.com sebagai ruang pribadi saya. 
Ternyata setelah mulai keasyikan dengan aktifitas baru ini, begitu banyak yang saya dapatkan. Tak hanya mengusir rasa jenuh tapi juga melecut semangat menulis yang sempat terseok-seok sejak jadi ibu. Saya juga kembali bersemangat menggali bacaan-bacaan yang telah cukup lama saya tinggalkan. Hati dan otak juga jadi lebih terisi dan terasah. Semacam recharge buat saya.
Waktu yang tidak begitu leluasa membuat saya tak banyak mengikuti milis-milis. Hanya milis kepenulisan dan kesehatan. Saya lebih banyak mengunjungi langsung situs-situs yang saya butuhkan. Misalnya saat putra bungsu saya sakit kuping, saya langsung mencari berbagai informasi untuk menghilangkan kekhawatiran dan mencari solusi. Hasil pengumpulan info itu biasanya saya posting di blog dan berharap ada manfaatnya bagi yang membaca.
Di blog itu saya juga membuat link ke alamat web-web yang bagus dan bermanfaat untuk orang banyak. Misalnya web tentang ASI, gizi, panduan mendidik anak, kepenulisan dan sebagainya. Namun manfaat terbesar yang saya rasakan adalah saat bisa bersilaturahmi dan share dengan teman-teman. Ternyata kejenuhan yang saya rasakan selama ini belum ada apa-apanya dibanding apa yang mereka rasakan.
“Kamu beruntung,” kata seorang teman di jendela obrolan Facebook saya. “Punya keluarga, suami dan anak-anak yang lucu. Sementara saya masih sendiri, melarikan kesepian pada kesibukan kerja. Capek lahir batin!”
“Kamu jangan mengeluh, Via, karena kondisimu itu akan membuatmu jauh lebih mandiri dan sigap menangani semua persoalan rumah tangga dibanding aku yang selalu harus dibantu ibu dan seorang baby sitter. Aku gagap jika harus merapikan rumah yang berantakan apalagi jika si kecil rewel,” tulis teman lain di YM.
Seorang teman lama juga berkomentar, “Aku malah ingin kayak dirimu itu. Bisa mengatur kerjaan, karena di rumah kan kita yang jadi bos. Kamu tetap bisa menambah wawasan secara online dan bertemu teman-teman tanpa harus capek-capek keluar, berjibaku dengan berbagai jenis manusia di dalam angkot atau bis. Tetep bisa nulis tanpa harus khawatir anak-anak di bawah asuhan orang lain.”
Ya, mereka senada, mengatakan saya beruntung! Dan sebenarnya saya memang beruntung. Punya suami yang tak meminta (apalagi mengharuskan) istrinya bekerja di luar rumah, karena kami sama-sama berkeyakinan, rizki saya sudah dititipkan Allah padanya. Dan sebagai kepala rumah tangga, dialah yang berkewajiban menjemput rizki itu selagi ia mampu. Suami saya tentu juga merasa tenang bekerja karena tahu anak-anaknya ada di tangan yang tepat, yaitu ibu mereka.
Alhamdulillah juga, sekarang internet di rumah bisa online sepanjang hari hingga di tengah kerepotan mengasuh dua buah hati yang masih balita, saya tetap bisa menyalurkan hobby menulis di blog, bertukar kabar dengan teman-teman serta menggali dan mengumpulkan berbagai info untuk terus mencerdaskan diri serta bekal saya membesarkan buah hati. Dan yang pasti, kejenuhan itu tak perlu sampai membunuh kesadaran saya, apalagi membunuh rasa syukur saya. (V)








