Ikatlah ilmu dengan menuliskannya!

Jadilah Seorang Penulis!

Written on 4 Juli 2008 – 14:58 | by Via |

42-16474038Mengapa harus jadi penulis? Toh banyak profesi lain yang bisa digeluti, bahkan terasa lebih urgen daripada jadi penulis. Judul di atas tentu tidak melarang Anda memilih profesi lain seperti dokter, arsitek dan sebagainya. Melainkan mengajak Anda untuk menimbang, bukankah sangat hebat jika Anda bisa menjadi seorang dokter atau arsitek yang juga penulis?

Mengikat ilmu dengan menulis

Ali bin Abi Thalib pernah berkata; Ikatlah ilmu itu dengan menuliskannya! Kalimat ini sangatlah tepat jika kita jadikan sebagai landasan berpikir, kenapa menulis itu (layaknya) menjadi sebuah keharusan bagi kita. Ilmu yang tersimpan secara tertulis dapat dimanfaatkan kapan saja kita butuhkan. Ia bisa menjadi ‘bank naskah’ yang akan mengatasi kelemahan memori kita dalam mengingat sesuatu di masa lampau. Sungguh sulit bagi kita mempelajari suatu sejarah jika tidak ada tulisan-tulisan yang tersimpan tentang sejarah tersebut. Tulisan-tulisan yang bisa dijadikan bukti otentik dan bertanggung jawab. Di sini akan terasa betapa pentingnya menuliskan sesuatu.

Menulis sambil membaca

Orang mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Ketika budaya membaca terpinggirkan, jangan heran jika kemudian kita menemukan orang-orang yang berpikiran kerdil, sempit dan sok tahu. Bagus sekali apa yang ditulis Penerbit Mizan dalam sebuah stikernya; Banyak membaca jadi serba tahu, kurang membaca jadi sok tahu. Bagaimana dengan kita sendiri? Jika dikalkulasi, berapa jam kah waktu yang kita pakai dalam sehari untuk membaca?
Kaitannya dengan menulis tentu sudah cukup jelas, menulis dan membaca adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Potensi menulis hanya bisa didukung dengan kebiasaan membaca. Seorang penulis akan merasa tulisannya kering ketika ia kurang membaca, sebab membaca adalah salah satu yang membuat wawasannya terus berkembang. Boleh dikatakan bahwa budaya membaca bisa saja berjalan tanpa menulis, tapi budaya menulis – tidak bisa tidak – harus diiringi dengan membaca. Sebab menulis memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dibanding membaca.

Budaya Menulis Yang Payah

Sangat disayangkan ketika mata pelajaran menulis bagi pelajar SD sampai SMA dikurangi oleh pemerintah. Tak heran jika kemudian banyak dosen yang mengeluhkan betapa buruknya kemampuan menulis mahasiswa saat ini.
Marry Leonhardt, seorang guru Bahasa Inggris di Amerika mengatakan bahwa pelajar yang suka menulis baik di sekolah atau di luar sekolah, lebih tahu cara menulis yang fokus dan tajam, hingga ia juga bisa menyusun gagasannya dengan jernih dan kuat. Marry juga sependapat dengan Shakuntala Devi -seorang pemerhati anak dari India- bahwa seseorang yang terbiasa menulis akan mempunyai keuntungan luar biasa dalam berbagai bidang pekerjaan. Sebab mereka tak hanya lebih memiliki wawasan, tapi juga mampu mengungkapkan pemikiran mereka dengan fokus yang tepat dan beraturan, entah itu secara lisan maupun tulisan.

Budaya menulis di negeri ini kian ‘payah’ ketika bermunculan televisi-televisi swasta. Masyarakat jadi lebih tergiring untuk duduk menonton daripada membaca, apalagi menulis. Padahal jika dilihat dari tayangan-tayangan televisi sekarang – yang sangat tidak mendidik – maka menonton televisi tidak bisa dijadikan alternatif pengganti bagi budaya membaca.
Apalagi jika kita membandingkan proses masuknya sebuah informasi ke dalam otak. Dengan menonton, prioritas kita adalah ‘mata’ hingga kita cenderung menerima semua yang terpampang sebagai sebuah informasi. Dalam hal ini, otak lebih bersifat pasif. Sedangkan ketika kita membaca, setiap informasi yang masuk akan dicerna dan disaring secara aktif dan lebih ketat oleh ‘akal’ kita. Proses pencernaan dan penyaringan inilah yang akan mempertajam akal seseorang.

Mengagumkan ketika saya melihat di televisi seorang artis pria diwawancarai tentang kebiasaan barunya. Ia mengatakan bahwa sekarang kebiasaan menontonnya telah ia alihkan kepada membaca. Katanya, menonton membuat mata dan otaknya lelah hingga berakibat pada kelelahan fisik. Dan sejak ia menggeluti kebiasaan barunya yaitu membaca, ia merasa sangat berbeda. Otak jadi terasa segar dan terasah, apalagi buku-buku yang ia baca kebanyakan adalah buku-buku ilmiah dan agama. Nah, bagaimana dengan kita? (V)

  • Share/Bookmark

Related Posts

Put your related posts code here

Post a Comment


Salam

Selamat datang di web pribadi saya! Semoga kita sama-sama mendapat manfaat darinya... More


Status YM

Internet Sehat

lencana


Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Find entries :