Hari-hari Berat
Malam itu saya diliputi ketegangan luar biasa. Begitu sulit memejamkan mata. Bukan cuma karena kondisi saya yang terasa lemah tak berdaya, tapi lebih karena melihat kondisi Dinda. Bagaimana tidak, malam itu saya, suami dan putri saya Dinda sedang sakit. Kata dokter kami semua terkena thypus. Hm, sepertinya kami harus lebih berhati-hati belanja makanan
Malam itu yang membuat saya khawatir adalah kondisi Dinda yg cukup panas. Meski menurut hasil tes di RS kami sama-sama dinyatakan kena thypus tapi cuma Dinda yang benar-benar panas. Saya tidak tega melihatnya mengigau-igau karena demam. Melihat jam di dinding, saya kian gelisah, jam 12 malam. Bagaimana jika menjelang pagi panasnya semakin tinggi? Bukankah itu berarti akan semakin repot membawanya ke Rumah Sakit? Mungkin karena terlalu khawatir terjadi hal-hal yg tidak diinginkan, saya berusaha membangunkan suami. Tapi mungkin karena kondisinya juga sedang tidak sehat, ia tampak enggan diganggu. Padahal saya ingin sekali Dinda segera dibawa ke RS sebelum semakin larut.
Saya semakin cemas sendiri. Maka dengan mata berkaca-kaca saya pun beranjak ke kamar sebelah, menemui Mama yg sedang tidur di sana. Beliau adalah ibu mertua saya yang alhamdulillah sedang berkunjung ke Jakarta (beliau tinggal di Pontianak) dan menginap di rumah kami. Dengan mimik khawatir yang tak bisa disembunyikan saya menceritakan kondisi Dinda ke Mama. Beliaupun langsung ke kamar depan untuk melihat. Saya pun menyatakan keinginan membawa Dinda ke RS. Tapi mungkin karena sudah tengah malam, Mama tampak berpikir ulang untuk menuruti keinginan saya.
“Kita bikinin bawang parut aja ya, biar panasnya turun,” usul Mama.
Saya hanya mengangguk. Ya, siapa tau memang bisa membuat keadaan lebih baik. Dengan cepat Mama menyiapkan bawang parut dan masih dengan kekhawatiran yang sama, saya mengoleskannya ke tubuh Dinda.
Setelah itu saya beranjak ke dapur berniat mau minum. Mama mengikuti. Tapi baru beberapa detik di dapur mendadak saya pusing luar biasa. Napas saya langsung sesak dan di dekat ulu hati seakan tertekan sesuatu. Ya Allah, saya kaget sendiri dengan kondisi saya yang juga mengeluarkan keringat dingin.
“Duh, gak kuat nih, Ma!” rintih saya sambil bergegas ke ruang tengah, tidur di samping putra bungsu saya yang memang sengaja saya pisahkan tidurnya dari Dinda biar tidak ketularan demam.
“Via tidur tengkurap aja, biar Mama pijat punggungnya!” perintah Mama. Saya menurut. Dengan cekatan Mama mengambil minyak kayu putih dan memijat punggung saya. Alhamdulillah sakit di dada mulai berkurang. Napas pun mulai teratur. Setelah itu beliau membuatkan saya teh manis hangat, menghangatkan bubur dan menyuruh saya makan dulu. Saya pun menurut.
“Via masuk angin juga tuh, kan makannya lagi nggak selera, sementara Ken masih disusui terus,” komentar Mama kemudian. “Kalau sudah kelamaan memang bisa sakit di dada, kayak ditekan. Itu angin duduk namanya.”
Angin duduk? Rasanya saya pernah dengar. Tapi memang betul, saya baru sadar kalau dua kondisi itulah yang membuat saya semakin lemas dari hari ke hari. Pertama, saya sangat sulit makan sejak sakit. Kedua, saya juga masih menyusui Ken seperti biasa.
Setelah makan dan minum teh hangat itu, saya merasa jauh lebih baikan. Saya juga mencoba untuk tidak terlalu mengkhawatirkan Dinda secara berlebihan agar beban pikiran tidak membuat saya semakin sakit. Berbaik sangka pada takdir bukankah jauh lebih baik? Akhirnya, dini hari itu dengan ditemani Mama tidur di ruang tengah, saya mencoba memejamkan mata.
Satu hal yang sangat saya catat dalam hati dan kepala saya adalah bahwa kehadiran orang tua pada saat kita didera kekhawatiran, kegelisahan, ketakutan dan kesedihan amatlah berarti. Meski bukan ibu kandung saya, tapi Mama sudah berperan sama bagi saya. Selama dua minggu lebih kami sekeluarga sakit, dan Mama sudah banyak membantu meringankan.
Saat Ken terkena cacar pada hari-hari kesembuhan kami bertiga, saya merasa cukup down. Rasanya sisa-sisa sakit yang kemarin belum hilang, kini menyusul Ken dengan cacarnya yang cukup memiriskan saya saat melihatnya. Terus-terang, saya mulai cengeng dan ingin menangis terus. Suami saya juga tak kalah cemas melihat kenyataan itu. Ah, kami memang selalu panik jika anak-anak sakit. Lalu Mama dengan tenang meyakinkan kami bahwa itu tidak perlu dicemaskan. Tak perlu ke dokter, cukup ditangani dan dirawat dengan telaten biar cepat sehat.
Ya, sebenarnya saya juga tahu cacar adalah penyakit biasa yang akan sembuh dengan sendirinya tapi tetap saja saya tak mampu membunuh rasa khawatir itu. Saya tetap sibuk menelepon keluarga yang lain, bertanya ini itu. Dan mereka semua memberi jawaban yang sama bahwa cacar tidak perlu dicemaskan. Maka pada akhirnya saya pun mengandalkan Mama yang ada di samping saya sebagai penasihat.
Saya banyak belajar dari kejadian ini. Juga berterima kasih pada Mama yang sudah dengan setia merawat dan menemani kami selama sakit hingga terpaksa menunda kepulangannya ke Pontianak. Memberi saran dan pandangan tentang penyakit yang kami alami hingga saya menjadi lebih tenang menghadapi musibah ini. Walau bagaimana pun orang tua tentu lebih berpengalaman dan itu yang saya yakini.
Dan bagi saya, Mama tak hanya berperan sebagai mertua yang baik, beliau juga bisa jadi teman berbagi dan bercanda, membuat batas tak berjarak antara menantu dan mertua. Banyak membagi cerita kehidupan pada saya hingga saya belajar dari semua itu. Mama yang cantik dan tetap terlihat cantik meski di usia kepala enam, semoga Allah senantiasa memberinya kesehatan petunjuk dan lindungan. Amin…
(Tuk Mama yang care, terimakasih karena selalu menyiapkan teh manis hangat sebelum saya terbangun)







