Ikatlah ilmu dengan menuliskannya!

(Hanya) Teori Kepenulisan; Sudut Pandang (Point of View)

Written on 23 Desember 2008 – 05:44 | by Via |

povSudut pandang secara sederhana dapat diartikan ‘posisi pengarang dalam tulisannya’. Kita bisa memerankan salah seorang tokoh (orang pertama), atau menceritakan tokoh-tokoh dalam cerita kepada pembaca, seolah-olah pembaca adalah salah satu tokohnya (orang kedua), atau dia hanya sebagai seorang pencerita (narator) yang tidak terlibat langsung dalam sebuah cerita yang dia tulis (orang lain).

1. Penulis sebagai orang pertama (Aku)

Penulis sebagai orang pertama mempunyai ikatan dengan apa yang dia tulis. Penulis bisa mengungkapkan secara teliti perasaan, sikap, cara bertutur, terlebih lagi peristiwa dan konflik yang terjadi sepanjang cerita, namun tentunya yang berhubungan langsung dengan tokoh ‘aku’ saja.

Kelebihannya, pembaca merasa terlibat langsung ke dalam nuansa tokoh ‘aku’ dan dapat menangkap inti cerita, dan yang lebih penting, kalau penulis piawai dalam bercerita maka pembaca akan merasakan emosi tokoh ‘aku’ dan merasa seolah-olah dia adalah tokoh ‘aku’ tersebut.

Kekurangannya, tokoh aku tidak tahu secara detil perasaan tokoh lain kecuali sekadar gambaran dan terkaan. Ia juga tidak leluasa mengungkapkan peristiwa yang tidak berhubungan dengan dirinya, kecuali melalui pemberitahuan dari tokoh lain. Jadi tokoh ‘aku’ mempunyai pengetahuan terbatas dan interaksi terbatas dengan tokoh lain dalam cerita.

Kita ambil contoh cerpen saya aja ya:

Aku memperhatikan ayah membongkar aqals yang kami tempati selama seminggu ini. Sementara ibu nampak sibuk membenahi peralatan dapur yang bertebaran di dekat aqals.

“Cepat sedikit, Omar! Matahari sudah tinggi!” seru ayah sambil mengikat kayu-kayu penyangga aqals yang telah selesai dibongkarnya. Aku menepuk-nepuk kepala unta di hadapanku agar cepat menghabiskan minumnya. Setelah binatang tersebut mengangkat kepalanya, cepat-cepat kuambil ember tempat minumnya dan menyerahkannya pada ibu.

“Ayah, sekarang kita akan kemana? Kita kan baru seminggu di sini,” kataku bingung. Aku memang tidak mengerti kenapa tiba-tiba ayah mengajak kami pindah padahal rumput di sekitar tempat ini masih cukup subur dan banyak untuk makanan domba-domba kami.

(Dikutip dari kumpulan cerpen Gadis Lembah Tsang Po)

2. Penulis Sebagai Orang Kedua

Sudut pandang yang satu ini agak jarang dipakai tapi sebenarnya sangat menarik karena kita memposisikan pembaca sebagai lawan bicara hingga pembaca bisa merasakan keterlibatannya dalam cerita yang kita bangun. Bahkan di sini pembaca lah yang jadi tokoh utamanya dan penulis sebagai orang kedua.

Berikut contoh penggalannya:

Sayang, aku tahu kau tidak suka dengan kedatanganku ini. Kedatangan yang hanya mengantarkan raut letih bercampur rindu ke hadapanmu. Tapi… seharusnya kau juga tahu bahwa tak ada tempat lain yang lebih kusukai selain di sini. Di sisimu. Mengusap dan membelai batu nisanmu yang telah mulai berlumut. Tahukah kau, Sayang, aku baru pulang kemarin dari Jakarta. Uh, Jakarta sangat pengap! Rasanya aku ingin tetap ada di kota kita yang sejuk ini. Kota yang telah merengkuh jasadmu dengan erat.

“Kenapa kau belum juga menikah, Dinda? Jangan biarkan usiamu berlalu sia-sia! Kau harus melupakan aku!”

Kau pasti akan mengatakan itu, kan? Meski jasadmu yang telah beku itu tak pernah mengucapkannya, namun aku tahu kau selalu mempertanyakan hal itu. Dan aku, sungguh benci mendengar pertanyaan yang satu itu. Kenapa kau tidak menanyakan tentang perasaan sayangku yang tak pernah pudar padamu? Kenapa tidak kau tanyakan tentang masa-masa indah kita dulu?

(Dikutup dari kumpulan cerpen Sepotong Kata Cinta)

3. Penulis sebagai orang lain

Penulis menceritakan tokoh ceritanya berikut dengan karakternya, peristiwa yang terjadi serta konfilik yang ada.  Juga dapat menceritakan tokoh lain dalam waktu yang bersamaan, lengkap dengan karakter dan peristiwa yang menyertainya. Penulis bisa berlaku sebagai orang yang serba tahu, termasuk mengetahui pikiran dan isi hati tokoh cerita. Penulis juga bisa berlaku sebagai narator saja, sekadar menggambarkan apa yang tampak dari luar seperti gerak-gerik dan kata-kata tokoh cerita.

Kelebihannya, penulis dapat leluasa bercerita terhadap berbagai peristiwa, berbagai tokoh cerita, dan beragam konflik yang menyertai masing-masing tokoh dalam cerita. Kelemahannya (mungkin) penulis kurang leluasa mengekspresikan emosi dan perasaan tokohnya.

Contohnya nih:

Sudah dua hari Ranti pamit ke rumah orangtuanya di Bogor. Meninggalkan Awang seorang diri di rumah mereka yang mungil. Dan bagi Awang, ini adalah pengalaman teramat menyesakkan seumur hidupnya. Selama setahun ini ia telah terbiasa dengan keberadaan Ranti. Terbiasa dengan senyum manisnya, gelak candanya, juga segala perhatiannya.

Ia bahkan telah terbiasa dengan kecerewetan Ranti jika melihatnya telat makan atau kurang istirahat. Dan yang terpenting lagi, Ranti tak pernah mengeluh atau berwajah kecut atas gajinya yang tak seberapa, dan ia selalu tersenyum optimis menerima keadaan mereka yang memang masih sangat sederhana.

Ranti, perempuan itu kini sudah tak ada. Dan tiba-tiba Awang jadi begitu merindukannya. Rumah mungil mereka terasa sangat sepi tanpa kehadiran Ranti.

“Apakah aku memang terlalu egois? Hanya karena sepotong kata cinta itu aku harus kehilangan segala kebahagiaanku di rumah ini,” bisik hatinya bernada sesal.

(Dikutip dari kumpulan cerpen Sepotong Kata Cinta)

Nah kira-kira begitu sedikit teori tentang sudut pandang saat kita menulis sebuah cerita. (V)

  • Share/Bookmark

Related Posts

Put your related posts code here
  1. 9 Responses to “(Hanya) Teori Kepenulisan; Sudut Pandang (Point of View)”

  2. By Leaf on Okt 17, 2009 | Reply

    Hai,

    Saya mau nanya, dalam pemakaian sudut pandang orang kedua itu sebenernya boleh memakai kata ‘aku’ ga sih (dengan porsi ‘kau’ mendominasi cerita)?

    Saya membaca di salah satu blog bahwa penggunaan kata ‘aku’ tidak boleh dalam sd. Pandang orang kedua, dan bila dipakai akan jadi sd. Pandang orang pertama.

    Mohon penjelasannya

  3. By Via on Okt 20, 2009 | Reply

    iya, karena sudut pandang itu tergantung pd siapa yg bercerita, dan itu sebaiknya konsisten, tidak berubah2 dari aku menjadi kau misalnya.

  4. By laras on Nov 12, 2009 | Reply

    makasih yah mba atas blognya, jadinya aku ngerti cara bikin novel gitu hihi

  5. By Via on Nov 14, 2009 | Reply

    hehe sama2 mbak laras, sering2 mampir ya…

  6. By hardian on Mar 23, 2010 | Reply

    assalamualaikum, mo nanya ni mbak.. dlm sebuah novel dengan sdt pandang orang ketiga dengan tokoh A, B dan C misalnya, pada saat di tengah cerita dituliskan sebuah sudut pandang orang pertama dari pihak B (sy pernah menjumpainya ditulis dalam satu bab saja); DI satu sisi sptnya penulis gak konsisten tapi saya baca novel itu kayaknya baik2 saja, jd seperti menambah warna novel itu. menurut mbak bagaimana ya?

  7. By Via on Mar 24, 2010 | Reply

    iya, boleh2 saja demikian, malah saya pernah baca POV yg banyak, tiap tokoh bercerita sendiri2. dan mmg dlm menulis fiksi, org bebas bereksperimen kok, asal msh bisa diikuti pembaca saya rasa oke2 saja :-)

  8. By Sazka on Mar 28, 2010 | Reply

    ts / topis starter, nanya dongs hehe.

    kalo yg dimaksud org ketiga itu adalah org yg memposisikan dirinya di luar cerita kan?
    trs, kdg” org bingung gmn membedakan sp org pertama dan sp org kedua. trik” utk cara membedakannya gmn ya?

    terdesak nih, bsk mau UAN soalnya, hehe :D

  9. By Via on Mar 30, 2010 | Reply

    iya, org ketiga adl org yg berada di luar cerita alias tdk terlibat sbg tokoh dlm cerita.

  10. By Bayu Maitra on Mei 22, 2010 | Reply

    Contoh pada penggunaan sudut pandang orang kedua menurut saya kurang tepat, atau setidaknya itu sudah tercampur dengan sudut pandang orang pertama. Seperti kata mas Leaf, kata ‘aku’ lah yang membuat rancu di awal penggalan.

    Penggunaan sudut pandang orang kedua sebaiknya membiarkan pengarang tahu segalanya kecuali tokoh ‘kau’.

Post a Comment


Salam

Selamat datang di web pribadi saya! Semoga kita sama-sama mendapat manfaat darinya... More


Status YM

Internet Sehat

lencana


Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Find entries :