(Hanya) Teori Kepenulisan; Penokohan
Lagi-lagi bicara soal teori, nih. Tokoh adalah sentral dari sebuah cerita, dialah yang berperan penting dalam menghidupkan cerita. Tapi untuk bisa menghidupkan cerita, tentu si Tokoh ini juga perlu dihidupkan terlebih dahulu. Nah, dalam menulis cerita fiksi, ada beberapa teknik untuk bisa menghidupkan tokoh yang kita mainkan.
1. Teknik Uraian
Teknik ini bersifat langsung dan banyak digunakan penulis pada masa awal pertumbuhan karya sastra di tanah air. Di sini, tokoh-tokoh yang ada dalam sebuah cerpen digambarkan secara eksplisit melaui uraian, penjelasan dan pendeskripsian langsung hingga pembaca tak perlu bersusah payah mengidentikikasi sifat, bentuk, perasaan dan sebagainya. Cara ini juga terkesan sederhana dan ekonomis, namun kelemahannya, pembaca tidak dibiarkan aktif berimajinasi tentang tokoh yang ia baca. Cara ini juga dianggap tidak alami dan agak membodohi pembaca.
2. Teknik Dramatis.
Teknik ini bersifat tidak langsung, dimana para tokoh digambarkan perlahan-lahan sejalan dengan alur cerita. Penggambaran itu bisa melalui dialog, tindakan, gerak-gerik atau peristiwa yang dialami para tokoh. Cara ini terasa lebih alamiah dan memiliki hubungan dengan unsur-unsur pembangun cerita yang lain. Dalam hal ini, pembaca juga bisa bersikap aktif, kreatif dan imajinatif dalam memahami karakter para tokoh. Kelemahan cara ini adalah penggambaran yang tidak ekonomis tentang diri tokohnya. Cara ini memerlukan lebih banyak kalimat untuk menjelaskan.
Secara umum, penggabungan kedua teknik diatas, dapat dianggap lebih efektif dan mendekati nilai-nilai estetika.
Sebenarnya ada beberapa prinsip yang membuat karakter seorang tokoh menjadi semakin kuat dan mudah diingat oleh pembaca yaitu:
a. Prinsip Pengulangan
Prinsip ini akan memberikan gambaran tentang tokoh secara berulang-ulang. Misalnya pada bagian awal melalui dialog, pada bagian tengah melaui narasi dan pada bagian akhir melalui reaksi tokoh tersebut. Bahkan untuk cerita panjang sejenis novel, kesemua teknik tersebut diatas bisa saja digunakan untuk melukiskan karakter tokoh yang diciptakan.
b. Prinsip Pengumpulan
Prinsip ini memberikan gambaran tentang diri tokoh melalui pengumpulan informasi-informasi yang berceceran di sepanjang penceritaan dari awal sampai akhir. Di bagian akhir inilah akan semakin terlihat bagaimana karakter tokoh tersebut, karena semua jati dirinya telah terangkum secara utuh di depan pembaca.
c. Prinsip Kemiripan dan Pertentangan
Prinsip ini juga membantu menggambarkan jati diri tokoh dalam cerita. Seseorang yang memiliki kemiripan karakter dengan tokoh tersebut akan membuat karakter tokoh semakin mudah diingat. Begitu pula sebaliknya, seseorang yang memiliki pertentangan karakter dengan tokoh akan membuat karakter tokoh tersebut semakin kontras di hadapan pembaca.
Hal-hal lain yang bisa mendukung teknik penokohan ini adalah: Tingkah laku tokoh itu sendiri, pikiran dan perasaan si Tokoh , reaksi tokoh tersebut terhadap tokoh lain, reaksi tokoh lain terhadap tokoh itu sendiri, pelukisan latar di mana si Tokoh berada, pelukisan fisik si Tokoh dan masih banyak yang lainnya. (V)









4 Responses to “(Hanya) Teori Kepenulisan; Penokohan”
By Rima on Agu 11, 2009 | Reply
Assalamualaikum.
mba tulisan ni ambil resensi dari buku apa?
kebetulan saya lagi mempelajari penokohan.
trimakasih.
By Via on Agu 11, 2009 | Reply
walaikumsalam Rima…
ini tulisan lama, tapi kalau gak salah saya ambil dari berbagai sumber (buku2 panduan menulis cerpen/fiksi)
By mufita on Apr 6, 2010 | Reply
assalamu’alaikum.. saya hnya menmbhkan sja. pda tlsan tntng pnkohan mgkn bsa dbri teori pnkohannya jga.
By Via on Apr 7, 2010 | Reply
Waalaikumsalam…Oh iya, terimakasih masukannya mufita