Ikatlah ilmu dengan menuliskannya!

Golput… enggak… golput…. enggak…

Written on 11 Maret 2009 – 03:52 | by Via |

pemiluPemilu makin dekat, kampanye partai mulai melakukan pemanasan. Iklan di TV dan internet kian rame, partai-partai mendadak jadi idealis semua. Jalan-jalan mulai bertaburan foto-foto caleg dan lambang partai. Pemilu benar-benar sebuah pesta kenegaraan.

Mendadak hati kecil saya bergumam, “Berapa ya biaya kampanye dan iklan itu?”

Konon pemegang ranking tertinggi adalah Gerindra dengan dana awal 15 miliar. Pantes, iklannya kenceng banget. Seorang temen yang ikut menangani iklan partai baru ini mengatakan bahwa ia ikut mengerjakan proyek iklan di Sumatra. Wuih! Tidak heran kalau begitu. Bikin iklannya aja antar pulau, gitu loh!

Ini kan baru satu partai, kalau dihitung semua partai yang ikut kampanye, berapa ya biaya keseluruhannya? Ini baru yang mengaku, yang tidak mengakui secara terus-terang tentu juga ada. Dan jumlah dana kampanye ini pasti membuat rakyat Indonesia yang miskin tak sanggup menghitungnya saking besarnya. Lha wong tiap hari yang dihitung cuma angka ribuan, ratusan ribu, dan paling banter sampai jutaan doang. Mana kenal angka miliaran. Berapa jumlah nolnya saja masih mikir-mikir, takut salah hitung :-)

Yah, semoga saja penggelontoran dana yang demikian besar tak hanya menghasilkan pemubaziran dan kesia-siaan, sekadar modal awal untuk mengorupsi jumlah yang lebih besar lagi, yang pada akhirnya berakibat pada pemelaratan yang lebih akut bagi bangsa ini. Ya, semoga tidak. Seperti harapan saya yang sederhana, agar nanti seusai kampanye dan pemilu, jalan-jalan kembali dibersihkan dari foto-foto dan lambang partai yang jelas mengotori dan merusak keindahan. Pesan dari sponsor saya; tolong gunakan bahan daur ulang untuk iklan kampanye demi Indonesia yang lebih hijau!

Meski begitu banyak rasa prihatin di hati, saya masih menimbang-nimbang untuk mengikuti ajakan seorang teman agar saya memilih Golput saja di pemilu nanti. Bukan sok tahu, tapi hati kecil saya nggak rela satu suara milik saya malah disalah gunakan oleh oknum tertentu nantinya. Lagi pula saya masih punya setitik harapan untuk memiliki wakil yang baik di parlemen. Masa semuanya buruk, sih? Siapa tahu orang yang saya coblos nanti, yang saya yakini sebagai orang baik itu, benar-benar bisa dipercaya sebagai wakil rakyat. Itu harapan besar saya. Semoga dia bukan tipe orang yang gelap hati ketika memiliki jabatan dan tidak gelap mata ketika memiliki kekayaan.

Maklum, gaji anggota legislatif itu kan buesar banget. Bayangkan, anggota legislatif dari PKS saja masih menerima gaji puluhan juta perbulan padahal sudah dipotong cukup besar oleh partainya. Bagaimana dengan anggota partai lain yang mungkin tidak melakukan pemotongan gaji seperti di PKS?

Wajar jika saya prihatin, karena kata Nabi, harta itu ibarat air laut, makin diminum makin membuat haus. Makin kaya seseorang, makin rakus ia akan kekayaan.

Tapi sekali lagi, tentu tidak semua orang seperti itu. Ada yang masih punya iman, iman yang bisa mengontrol kerakusan akan harta, serta tetap membuat mereka ingat akan amanah dan kewajiban awal sebagai pejuang nasib rakyat.

Terlepas dari pro-kontra Golput, saya menganggap ini sebagai sebuah pilihan. Dan saya memilih untuk tetap berikhtiar, berharap dan berdoa, karena Allah melarang hamba-Nya berputus asa. Dan saya, Insya Allah, masih belum putus asa, tuh! (V)

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

  • Share/Bookmark

Related Posts

Put your related posts code here

Post a Comment


Salam

Selamat datang di web pribadi saya! Semoga kita sama-sama mendapat manfaat darinya... More


Status YM

Internet Sehat

lencana


Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Find entries :