Gadis Lembah Tsang Po
Gadis belia itu bernama Tritsun. Gadis dengan bola mata berkabut yang menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan berkelana di dataran tinggi Tibet. Ayahnya baru saja meninggal beberapa hari yang lalu akibat sakit paru-paru yang diidapnya. Ayah yang selalu mendampingi hari-harinya meski pun tanpa seorang Ibu. Ya, ibu yang tak pernah ia temui seumur hidupnya.
Ia masih ingat saat potongan-potongan tubuh ayahnya disebarkan beberapa ratus meter dari tempat mereka menetap. Lalu tubuh ayahnya yang sudah dipotong-potong itu diserbu dan disantap oleh beberapa ekor anjing, juga oleh sekawanan burung pemakan bangkai. Sangat tragis!
“Kek, kenapa orang yang mati harus diperlakukan begitu buruk dan menyakitkan?” tanya Tritsun lirih.
Kakek Congka yang duduk di sampingnya menoleh. Dilihatnya luka pada raut wajah cucunya itu. Ah, gadis belia dengan bola mata berkabut itu sangat sering membuatnya bingung. Sejenak lelaki tua itu menarik nafas berat.
“Kenapa kau bicara begitu, Tritsun? Bukankah itu sudah biasa kita saksikan? Setiap orang yang mati, memang harus dipotong-potong, dan disebarkan untuk mangsa hewan. Kecuali mayat para Dalai Lama, Panchen Lama, para Lama dan kaum bangsawan. Itu adalah tradisi nenek moyang kita,” katanya kemudian.
Tritsun menelan ludah. Ia memang sudah biasa melihat hal itu. Dan ketika hal itu terjadi pada orang yang dicintainya, hatinya seakan tersayat. Ya, ia memang berduka atas semua itu. Namun luka atas kematian ayahnya itu belum sepedih saat ia merindukan sosok ibunya. Ibu yang kini telah tenang di surga, begitu kata kakek Congka.
Sejenak ditatapnya wajah kakeknya yang penuh keriput. Kakek yang sangat dekat dengannya. Juga yang sangat sayang padanya. Entah sudah berapa umurnya kini, Tritsun sendiri tidak pernah menanyakannya. Kalau pun ia bertanya, lelaki sepuh itu pasti tidak tahu pula jawabannya.
Tritsun bangkit dari duduknya. Berdiri mematung sambil menatap hamparan ladang sorghum yang luas, tetap dengan bola mata berkabut. Agak jauh dari sana, tampak para gembala menghalau ternak mereka. Sungguh senang melihat puluhan kambing dan domba itu berlarian, seolah saling bercanda satu sama lain. Tritsun menatapnya penuh rasa iri. Binatang saja bisa begitu bahagia, kenapa dirinya tidak?
Kakek Congka yang sedang mengaduk panci berisi tsamba menatap getir padanya. Cucu semata wayangnya itu selalu membuat hatinya risau. Meski selalu nampak murung tapi belum sekali pun ia melihat gadis belianya itu menangis. Inilah yang membuatnya tak habis pikir. Bahkan ketika ayahnya meninggal beberapa hari yang lalu, Tritsun hanya menatapnya terpaku dengan mulut membisu. Tak ada air mata yang menetes di pipinya. Entah apa yang ada dalam pikiran dan perasaannya, lelaki tua itu tak pernah bisa memahaminya.
Angin bertiup cukup kencang menggoyangkan daun-daun pohon liangyu yang rimbun. Bau khasnya sekilas menusuk hidung. Tritsun menyandarkan tubuhnya ke dinding gerobak. Pandangannya menerawang jauh menyapu puncak-puncak pegunungan Himalaya di kejauhan sana. Puncak yang senantiasa diselimuti salju dan seakan selalu mengejek dirinya.
“Hei, Tritsun! Kau tidak berbeda dengan aku! Murung, berkabut, sepi dan dingin!” Begitu kira-kira si raksasa itu mengatainya. Dan Tritsun merasa semakin tidak bergairah membayangkan hal itu. Ia semakin tidak ingin bergaul dengan teman-teman sebayanya dan semakin hanyut dalam arus pikirannya. Ya, Trisun memang seorang gadis yang tak pernah mampu membuka diri. Ia selalu terkurung dalam bayang-bayangnya sendiri.
“Tritsun! Musim dingin sudah dekat. Besok kita berangkat ke lembah,” kata kakeknya mengingatkan. Tritsun tak menoleh. Ia sudah tahu itu. Dan memang begitulah mereka sejak dulu. Jika musim dingin tiba, mereka dan beberapa rombongan yang lainnya akan berbondong-bondong ke Selatan, menuju lembah. Lalu bila musim panas datang, maka mereka akan kembali ke Utara.
Harta dan segala kebutuhan mereka sudah ada dalam gerobak. Gerobak yang juga berfungsi sebagai rumah itu ditarik oleh seekor yak yang bertubuh cukup besar. Yak itu adalah binatang peliharaan kakek Congka yang paling disayanginya, disamping dua ekor domba dan seekor sapi yang selalu ikut kemana pun mereka pergi.
Jika mereka sudah menemukan tempat bermukim, maka di sana lah tenda didirikan. Tenda yang terbuat dari kulit yak yang tebal, hingga cukup kuat untuk menahan hawa dingin atau hawa panas. Ya, begitulah kehidupan mereka. Suku asli Tibet yang percaya bahwa mereka adalah suku mulia. Karena dari negeri merekalah mengalirnya sungai-sungai besar dunia. Mulai dari sungai Mekong yang mengalir menuju Vietnam, sungai Indus yang mengalir menuju Pakistan serta sungai Tsangpo yang mengalir ke India dan dikenal sebagai sungai Brahmaputra.
“Kek, apakah kehidupan kita hanya seperti ini saja?” Tritsun tiba-tiba kembali bertanya. Rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai melambai ditiup angin pegunungan.
Lelaki tua itu bangkit, berdiri di samping cucunya. “Tritsun, apa kau merasa bosan, Nak?” tanyanya lembut. Gadis belia itu tak menjawab. Sebab ia sendiri tidak tahu apa yang dirasakannya saat ini.
“Kalau kau mau, pergilah jalan-jalan ke Lhasa. Tapi jaga dirimu baik-baik,” pesan lelaki itu sebelum duduk kembali di dekat tungku yang menyala. “Dan sebelum pergi, kau harus makan dulu. Daging sapi yang kemaren masih ada, juga keju. Kau bisa memakannya dengan tsamba panas ini.”
Tritsun hanya menoleh sekilas, melihat kakek Congka mengangkat panci berisi tsamba yang sudah matang. Kadang ia sangat terharu melihat kakek memperlakukannya. Beliau sangat perhatian dan selalu berusaha menyenangkan hatinya. Jika Tritsun sedang malas memasak, maka kakek tak akan banyak bicara, beliau akan melakukannya sendiri. Namun semua itu tetap tak mampu menyemarakkan hatinya.
“Aku ingin bertemu dengan ibuku, Kek,” katanya setengah bergumam.
Kakek Congka menatapnya tertegun. Lagi-lagi gadis itu berkata demikian. Kini lelaki tua itu seperti kehilangan kata-kata. Lima belas tahun sudah ia selalu berusaha menghibur agar cucunya tidak terus-terusan mengungkit hal itu.
“Sudahlah, Tritsun. Lebih baik kau pergi saja ke wihara. Berdo’a untuk Ibumu.” Kakek Congka berusaha membuat cucunya tenang.
Tritsun terdiam agak lama. Menyapu pegunungan Himalaya dengan pandangan hambar.
“Baiklah. Besok aku akan ke wihara saja. Sudah lama aku tidak ke sana,” katanya kemudian.
Lelaki tua itu tersenyum lega. “Itu bagus. Kau memang harus sering-sering berdo’a agar hatimu tenang. Agar kau merasa bahagia, Tritsun!” katanya senang seraya menuangkan tsamba ke piring milik Tritsun. Gadis itu hanya mengamati, tetap dengan raut wajahnya yang murung dan beku.
@@@
Tritsun mematut pakaiannya. Baju lengan panjang dan celana panjang yang luarnya dilapisi chuba. Rambut panjangnya disanggul dan digelungkan beberapa kali lewat ubun-ubun. Kulitnya yang agak gelap dengan mata sedikit sipit, memberi kesan klasik pada sosok gadis itu. Ditambah penampilannya yang sangat khas suku Tibet, benar-benar mencerminkan sosok seorang gadis di abad pertengahan. Hanya saja, suku Tibet selalu tampak dekil karena mereka memang jarang mandi. Mandi bagi mereka hanya dilakukan pada bulan pesta air.
“Jangan pulang terlalu sore,” pesan kakek Congka seraya menyerahkan seuntai tasbih dan kincir do’a. Tritsun mengangguk.
Perlahan ia melangkah, meninggalkan gerobak dan tenda tempat tinggalnya menuju Lhasa. Kota yang sejak kedatangan orang-orang RRC terbagi jadi dua. Kota Baru dan Kota Tua, yang dibatasi oleh sebuah tembok tinggi dan dijaga ketat oleh tentara RRC. Kota Tua lebih menggambarkan kehidupan penduduk asli Tibet, sementara Kota Baru nampak lebih maju dan banyak dihuni oleh suku Han dan suku Tibet yang sudah moderen.
Ketika semakin dekat ke Lhasa, Tritsun sempat tertegun menatap puncak Istana Potala nun jauh di sana. Tempat disemayamkannya stupa para Dalai Lama, yang pernah memimpin Tibet selama berabad-abad. Sebelum kemudian tergusur oleh kedatangan tentara-tentara RRC. Istana Potala merupakan pusat Kota Baru.
Tritsun sering bertanya-tanya dalam hati, kapankah ia bisa masuk ke Istana tersebut dan melihat stupa para Dalai Lama yang selalu diceritakan kakek dengan penuh semangat. Istana dengan ketinggian 300 meter itu nampak menjulang tinggi di puncak bukit Putuo. Dengan jarak puluhan kilo meter dari luar Lhasa, menara Istana itu sudah dapat dilihat.
Kata kakek, itu adalah Istana tertinggi di dunia, yang didirikan oleh raja pertama mereka, Songzan Ganbu. Raja yang telah menyatukan rakyat Tibet. Ia memiliki dua orang istri, dan salah satu dari istrinya bernama Tritsun. Seorang putri cantik yang berasal dari Nepal. Inilah yang membuatnya sangat terkesan. Kakek memberinya nama seperti nama seorang Ratu yang diagungkan suku Tibet.
“Kau cantik seperti Ratu Tritsun.” Begitu kata kakek, yang tentu hanya melihat raut wajah Ratu Tritsun melalui patungnya yang terdapat dalam wihara Jokhang. Wihara yang terletak di pusat Kota Tua.
Gadis itu kembali melangkah dengan cepat. Matanya mulai menangkap kibaran pita berwarna-warni, berisi tulisan do’a dan mantra-mantra, yang direntangkan di sepanjang jalan menuju Lhasa. Tritsun menarik nafas lega. Puncak wihara Jokhang sudah kelihatan jelas. Ada sepasang genta besar yang mengapit roda do’a dengan patung dua ekor kambing di sebelah kiri dan kanannya. Warnanya yang dilapisi emas nampak berkilau, diterpa bias matahari pagi.
@@@
Tritsun duduk di hadapan patung Sakyamuni setinggi dua meter yang berdiri megah di hadapannya. Patung yang diletakkan di atas singgasana dari perak murni. Ia telah berkali-kali mengusap dan menciumnya sambil mengucapkan do’a-do’a. Telah pula dilemparkannya butiran sorghum di sekitar patung tersebut. Namun kenapa tak jua hadir kedamaian seperti yang ia harapkan? Apakah karena ia tak bisa menghilangkan kerinduan yang mendalam terhadap Ibunya? Ataukah karena ia tak pernah yakin bahwa ibunya ada di nirwana seperti kata kakek Congka?
Ditatapnya patung Sakyamuni itu tak berkedip. Entah sudah berapa ratus kali ia berdo’a di sini, namun tetap saja tak ada yang berubah dalam dirinya. Ia tetap merasa sunyi. Seolah-olah ruang hatinya selalu kosong tanpa warna. Ruang yang selalu ia siapkan untuk satu sosok. Ibunya! Meskipun kakeknya selalu mengatakan bahwa ibunya ada di nirwana, tapi kenapa ia tak bisa berhenti berharap? Seolah-olah wanita yang telah melahirkannya itu akan datang suatu saat kelak. Tapi entah kapan…
Tergesa ia memutar tubuh. Melangkah cepat keluar halaman wihara yang dipenuhi oleh puluhan manusia yang tengah berdo’a dan bersujud. Ia ingin segera meninggalkan tempat itu. Tempat yang membuatnya tiba-tiba jadi bosan dan kecewa karena tidak pernah mendapatkan apa yang diinginkannya. Tapi tiba-tiba… BRUK!
“Oh, maaf, saya tidak sengaja!” seru Tritsun tertahan. Ia tak sengaja telah menabrak seorang wanita di depan wihara. Wanita itu nyaris terjatuh, untunglah Tritsun cepat menangkap tangannya.
“Tidak apa-apa. Saya yang berdiri terlalu ke tengah,” jawab wanita itu sambil tersenyum. Tritsun tertegun sejenak. Wanita itu berpakaian agak aneh. Seluruh tubuhnya tertutup kecuali mukanya saja. Mungkin dia orang baru disini, hingga masih merasa sangat kedinginan. Tritsun membatin, iba.
“Sekali lagi maafkan saya. Oya, terimalah ini sebagai ungkapan maaf saya.” Tritsun mengulurkan kincir do’a-nya kepada wanita itu.
“Ini…?” Wanita itu malah menatap kincir do’a tersebut dengan kening berkerut.
Tritsun mengangguk meyakinkan. Ia yakin wanita itu pasti membutuhkannya sebab di tangannya tak tergenggam benda apapun untuk dibawa berdo’a.
“Saya tidak memakai benda itu. Maaf, saya bukan penganut Lamaisme. Saya seorang Kache.” Wanita itu menjelaskan dengan hati-hati.
Tritsun menarik tangannya yang terulur. Kache? Heran ditatapnya wanita itu.
“Oh, maaf. Lalu untuk apa Anda datang ke sini?” tanyanya ingin tahu.
Sejenak wanita itu terdiam. Matanya nampak berpendar sendu. “Saya…, mencari seseorang,” jawabnya kemudian. Suaranya nyaris berbisik.
“Kalau begitu saya permisi dulu. Sekali lagi maafkan saya.” Tritsun melangkah meninggalkan wanita itu.
“Maaf, Nak! Sebentar!” Tiba-tiba wanita itu menyusul langkahnya. Tritsun membalik.
“Apakah kau tiap hari datang ke sini?” tanya wanita itu.
Tritsun menggeleng. “Tidak. Dan mungkin saya tidak akan pernah datang lagi ke tempat ini,” jawabnya dengan nada tawar.
“Kenapa?” tanya wanita itu heran.
Tritsun menatap wanita di hadapannya itu lekat-lekat. Ah.., andai saja kau adalah ibuku, tentu aku akan mengatakan alasannya. Hatinya berbisik sendu.
“Tidak. Saya tidak bisa mengatakannya,” katanya kembali menggeleng.
“Oh, maafkan kalau saya bertanya lancang. Silakan, Nak, lanjutkan perjalananmu.” Wanita itu kembali tersenyum. Ah, senyum itu begitu lembut dan tulus. Tritsun merasakan sesuatu yang hangat mengaliri jiwanya saat melihat senyuman itu. Ya, sesuatu yang sudah lama dirindukannya. Sosok seorang ibu! Ada sesal yang menyusupi hatinya, kenapa bukan ibunya yang tersenyum seperti itu padanya?
“Permisi.” Akhirnya ia kembali melangkah meninggalkan wanita itu. Wanita yang masih nampak terpaku menatap kepergiannya, hingga Tritsun menghilang di kejauhan.
“Ya, Allah, andai saja dia adalah putriku…! Buah hatiku yang telah lama aku rindukan! Andai saja…!” Wanita Kanche itu berdesah dengan mata berkaca-kaca.
Kerinduannya benar-benar sudah membuncah. Kerinduan yang kadang-kadang membuat imannya goyah. Andai saja dulu ia tidak memilih menjadi seorang Kache…, tentu ia tak harus terpisah dari suami dan buah hatinya. Namun begitu tersadar, ia segera beristighfar. Ia harus paham, bahwa ini adalah ujian keimanan baginya. Dan ia harus yakin bahwa di balik semua ini, tersimpan rahasia Allah.
“Ya, Rabbi, pertemukanlah aku dengannya sekali lagi…, sekali saja!” desahnya lagi. Entah kenapa ia benar-benar seperti menatap putrinya saat melihat gadis itu.
Ah, andai saja ia punya keberanian untuk menahan gadis itu barang sejenak. Setidaknya untuk meyakinkan dirinya bahwa ia hanya berangan-angan saja. Atau untuk membuktikan bahwa perasaannya tidak keliru. Ya, andai saja ia punya keberanian untuk meminta gadis itu mengurai gelungan rambutnya hingga ia bisa melihat apakah di puncak kepala gadis itu ada tanda hitam atau tidak. Ah, andai saja…
@@@
Musim dingin mulai merajai dataran tinggi Tibet yang terletak di ketinggian 4500 meter dari permukaan laut itu. Suhu daerah yang dikelilingi oleh pegunungan-pegunungan tertinggi di dunia itu semakin menggigit tulang. Barisan pegunungan Kwen Lun di Utara, pegunungan Karakorum di Barat, sampai pegunungan Himalaya di Selatan seakan ingin membekukan wilayah tersebut dengan hamparan salju yang menutupi puncak-puncaknya.
“Kek..,” panggil Tritsun pelan, saat mereka sudah mulai menuju ke Selatan. Tangan kirinya asyik mengusap-usap kepala yak yang berjalan di sampingnya.
“Ada apa, Tritsun?” tanya kakek Congka dari atas gerobak.
“Tadi aku bertemu dengan seorang wanita.”
“Lalu kenapa?”
“Waktu melihatnya…, aku jadi berhayal. Andai saja dia adalah ibuku.”
“Tritsun, sudahlah. Lupakan saja semua itu. Jangan membuat hatimu susah dengan pikiran-pikiran seperti itu,” kata kakek Congka prihatin. “Lebih baik kau naik saja ke gerobak. Apa kau tidak letih berjalan sejak tadi?” Ia berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Tapi, Kek, dia…dia nampak berbeda. Entahlah! Yang pasti aku merasa terkesan padanya. Dan aku jadi berpikir tentang ibuku.” Tritsun memandang kakeknya. Ada senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum yang nampak begitu berbeda!
Lelaki tua itu tertegun. Senyum itu…, meskipun tipis, ternyata sangat menakjubkan baginya. Adalah keajaiban melihat gadis belianya itu tersenyum dengan penuh perasaan. Dan…, apakah ia bermimpi melihat binar di mata itu? Ya, mata itu nampak berbinar! Binar yang tak pernah dilihatnya selama ini, selama hampir lima belas tahun Tritsun diasuhnya. Binar yang telah menepis kabut di bola mata kecil itu.
“Setelah musim dingin berakhir, mungkin aku akan kembali ke sana. Aku ingin bertemu dengannya sekali lagi, Kek. Sekali saja!” kata gadis itu bersemangat.
Lelaki tua itu kian tertegun dalam diam. Belum pernah ia melihat cucunya itu begitu bersemangat seperti hari ini.
“Kek…, apakah mungkin wanita itu mau jadi ibuku?” tanya Tritsun lagi seperti berharap.
Lelaki itu masih membisu.
“Soalnya…, dia seorang Kache, Kek.”
“Apa? Kache?” Kakek Congka tersedak.
Tritsun mengangguk tanpa menoleh, hingga tak sempat menangkap kilatan tajam di mata kakeknya. Sementara lelaki tua itu berusaha menahan detak jantungnya yang tiba-tiba berdegup dua kali lipat. Lidahnya terasa kelu. Ditenangkannya napasnya yang terasa memburu.
“Hei, Kakek tua! Percuma saja kau menghalangi cucumu untuk bertemu dengan ibunya. Karena ia pasti akan terus mencarinya!” Barisan pegunungan Himalaya yang menjulang di kejauhan tiba-tiba seperti mengejeknya. Cepat ia palingkan wajahnya. Gunung itu kini tak lagi terasa bersahabat.
Ah, tiba-tiba firasatnya kembali mengatakan bahwa suatu hari nanti ia akan kehilangan cucu tercintanya. Tritsun akan meninggalkannya! Firasat yang selalu ia nafikan sejak lima belas tahun yang lalu. Dan selama itu pula sebuah kebohongan telah ia bangun di hadapan cucunya. Kebohongan bahwa ibunya telah damai di nirwana!
Kabut semakin tebal, menyambut datangnya musim dingin di daerah yang terkenal sebagai Negeri Atap Dunia itu. Namun Tritsun seakan tak peduli ketika angin bertiup semakin kencang, mengibarkan chuba yang dipakainya. Juga ketika angin nakal itu melonggarkan gelungan sanggulnya hingga rambut panjangnya jatuh tergerai. Dan sekilas nampaklah tanda hitam di kulit kepala gadis itu. (NoS)
_________________________________________________
Kosa Kata :
* lamaisme = agama yang dianut suku Tibet
* dalai lama = pemegang kekuasaan tertinggi di bidang politik dan spiritual di Tibet
* panchen lama = orang kedua setelah Dalai Lama
* lama = guru
* kache = sebutan untuk Muslim Tibet
* stupa = jenazah yang dimasak dalam mentega lalu dibalsem dan disemen dalam posisi duduk bersila
* liangyu = sejenis pohon yang tumbuh di dataran tinggi
* yak = sejenis sapi berbulu panjang dan tebal
* sorghum = sejenis gandum
* tsamba = makanan pokok suku Tibet, yaitu tepung sorghum yang diaduk dengan mentega dan dimasak dengan sup
* chuba = pakaian luar yang mirip kimono
* pesta air = pesta mandi yang diadakan selama seminggu, yaitu selama bintang nampak di cakrawala pada bulan ke tujuh menurut almanak Tibet
* lhasa = ibu kota Tibet
* nirwana = surga
Note: Cerpen ini telah dimuat di majalah Annida dan diterbitkan dalam buku antologi Gadis Lembah Tsang Po








