Archive for the ‘wajiBBaca’ Category
Rabu, Desember 31st, 2008 |
Satu lagi buku bermutu yang tidak boleh dianggap sepele. Selain tampilan cover dan isi yang full colour, tema yang diangkat pun sangat menarik. Sofia, istri nabi dari keturunan Yahudi adalah sosok yang mungkin masih sangat jarang kita kenal. Atau jangan-jangan ada yang belum tahu sama sekali kalau Rasulullah pernah menikahi seorang Putri Yahudi?
Apa sih kelebihan Sofia hingga Allah memilihnya menjadi salah satu Ummul Mukminin? Kenapa Rasul selalu menghiburnya dengan kalimat berikut jika istri-istri beliau yang lain mengejek Sofia?
“Sesungguhnya engkau adalah putri seorang nabi (Harun) dan pamanmu (Musa) adalah nabi, suamimu (Muhammad) juga seorang nabi. Dengan alasan apa mereka mengejekmu?”
Sofia, seorang wanita dengan kepribadian unggul, bahkan keunggulan itu terus terpancar meski Rasulullah telah tiada.
Buku ini ditulis oleh sahabat saya, Salman Iskandar dengan nama pena Abba Zhahir Bi Amrillah. Alumnus UNPAD yang memang menguasai bidang filologi ini tentu tidak perlu diragukan lagi pengetahuan dan wawasannya tentang peristiwa-peristiwa sejarah dari berbagai sudut pandang.
Salman sudah cukup banyak menulis cerita dengan latar belakang sejarah. Satu cerpennya yang sangat berkesan buat saya adalah Luka Kashyap Pura. Heroik plus romantik, itu kesan saya saat membacanya. Buku-buku non fiksi pun telah banyak lahir dari tangannya. Jadi, jangan lewatkan membaca bukunya yang satu ini! Tuk Salman, terimakasih atas kiriman bukunya ya! (V)
Posted in wajiBBaca | No Comments »
Minggu, Desember 28th, 2008 |
Ini nih buku terbaru yang kita tulis secara bersama alias keroyokan. Bercerita tentang suka duka seorang ibu dalam menjalani peran mulia mereka. Semoga bisa menginspirasi, menghibur dan memandu para ibu di mana pun berada.
Penulis yang ikutan di sini adalah; Asma Nadia, Sinta Yudisia, Beby Haryanti, Nurhayati Pujiastuti, Nadhira Khalid, Tria Barnawi, Yunita Tri Damayanti, Sofie Dewayani, Sari Meutia, Esti Handayani, Mariskova, Reni Nurul Aeni, Andi Sri Suriati, Okti Fitriana dan… tak ketinggalan tentunya penulis favorit kita, Novia Syahidah! Hehehe…gubrak!
Pokoknya kudu beli ya, jangan CUMI, cuma minjem! (V)

Posted in wajiBBaca | No Comments »
Senin, Oktober 13th, 2008 |

“Kita segera berangkat ke Baitullah al Haramain! Air zam-zam akan menyembuhkan jiwa orang-orang yang dihantam kelaliman. Aku ingin mengabarkan dan menjeritkan kedukaanku ini di hadapan para jamaah haji sedunia. Aku ingin mengajak semua kaum muslimin untuk berbondong-bondong membawa bendera tauhid dan membebaskan muslim Turkistan dari belenggu penjajahan kaum komunis!” ungkapku pada Najmah.
Ufuk di belakangku memancarkan sinar emasnya. Senja hampir berganti malam, seperti negeri kami yang kini tenggelam dalam kegelapan. Aku jadi teringat Mansur Darga, sahabatku yang gugur demi membela masjid sebagai rumah Allah. Aku juga teringat Osman Batur, jenderal sekaligus ulama yang berjalan dengan muka terangkat gagah menuju tiang gantungan. Mataku memerah menahan tangis. Dadaku demikian sesaknya menyimpan dendam terhadap penjajah yang telah mengobrak-abrik agama, bangsa dan negara Turkistan.
Demikianlah kisah negeriku yang telah menjadi Andalusia kedua. Kini negeriku telah hilang dan mungkin tak seorang pun lagi yang mengenalnya.
Catatan:
Inilah salah satu karya Najib Kailani yang membuat saya sempat merasakan sesak di dada saat membacanya. Novel berjudul asli Layali Turkistan ini diterbitkan ulang oleh Media Insani dengan judul Komunis Sang Imperialis. Lewat novel ini kita bisa ‘menyaksikan’ bagaimana sebuah negeri yang begitu indah dan damai dikoyak-koyak oleh kekuatan imperialisme. Sungguh kekejaman dan kebiadaban kaum penjajah itu sangat tak masuk akal dan jauh melampaui nilai-nilai kemanusiaan.
Pernahkan terbayang oleh kita seorang jenderal digantung dengan menggunakan usus seorang ulama? Di Turkistan hal itu nyata adanya. Lewat kisah berlatar sejarah ini, saya jadi makin sadar betapa untuk menuju ‘hidup mulia atau mati syahid’ itu amat sangat tidak mudah. Dan ternyata, penderitaan dan perjuangan hidup kita belum ada apa-apanya! (V)
Posted in wajiBBaca | No Comments »
Sabtu, Agustus 23rd, 2008 |
Di tengah kecamuk perang itu, di atas bumi Yamamah, Wahsyi tampak sedang mengedarkan pandangan ke segenap penjuru. Berdiri di atas reruntuhan tembok dengan gagah berani hingga menemukan seseorang yang dicarinya. Seketika Wahsyi berteriak lantang, “Itu dia orangnya, Musailamah al Kadzab!”
Dia menggenggam erat tombaknya, senjata yang juga dia pakai untuk membunuh Hamzah pada perang Uhud. Pada saat yang tepat, ia lepaskan senjatanya dan segera menghunjam di dada Musailamah, tembus hingga ke balik bahu. Ia pun jatuh tersungkur di atas tanah. Peperangan itupun berakhir dan dimenangkan oleh pasukan kebenaran.
Wahsyi menyeret tombaknya lalu duduk melepas lelah. “Tombak inilah yang dahulu membunuh sebaik-baik manusia setelah Muhammad, Hamzah bin Abdul Muthalib. Dan kini menghabisi manusia paling jahat saat ini, Musailamah si Pendusta.”
Sejenak dia tertidur untuk melepaskan penat tubuh dan matanya yang tak terpejam sepanjang malam. Tapi tak lama kemudian ia kembali terbangun dengan perasaan bahagia yang menyelimuti segenap perasaan dan jiwanya. Dengan wajah berseri-seri ia berteriak, “Allahu Akbar! Allahu Akbar!”
Yang lain bertanya, “Apa yang terjadi denganmu, hai Wahsyi?”
Tatapan matanya yang bening menatap cakrawala. Dia bagaikan berada dalam mimpi yang sangat indah, “Aku telah melihatnya dalam tidurku. Dia tampakkan senyumnya padaku. Pada awalnya aku ketakutan, tapi dia segera memelukku erat dan menciumku. Dia katakan bahwa kelak aku akan bersamanya dalam surga.”
“Siapa dia itu, hai Wahsyi?”
“Hamzah bin Abdul Muthalib! Paman sang Kekasih, Rasulullah SAW. Kami menyaksikan di sekitar kami taman indah menghijau dengan aroma semerbak mewangi dan alunan nada yang indah menawan. Benar, cahaya telah terbit menampakkan kebenaran. Dan dia akan menampakkan keindahannya saat dibalut kejujuran dan kebersihan.”
Catatan:
Inilah karya Najib Kailani yang sangat memukau diterbitkan oleh Penerbit Syaamil. Novel sejarah Islam yang mengangkat seorang tokoh penting namun jarang dikenal secara dekat oleh kaum Muslimin. Dialah Wahsyi, seorang budak kulit hitam selain Bilal yang mengukir namanya dalam sejarah. Dia menjadi penting karena keberadaannya sebagai pembunuh Hamzah, paman Rasulullah atas bayaran Hindun. Simaklah ucapan Wahsyi berikut, “Telah kutebus kemerdekaanku dengan membunuh Hamzah paman Muhammad, namun mengapa aku masih merasa sebagai seorang budak? Dimanakah kebebasan hakiki itu?”
Wahsyi ternyata tidak menikmati kemerdekaan yang diberikan Hindun setelah membunuh Hamzah. Ia justru selalu ketakutan, merasa dikejar-kejar oleh bayangan mengerikan. Ia sering berteriak-teriak seolah melihat Hamzah mendatanginya. Bahkan ia sempat ingin kembali menjadi budak seperti dulu, karena ternyata setiap orang masih tetap merendahkannya meskipun kemerdekaan telah diraihnya.
Disinilah sebuah catatan bisa kita petik, bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu bukanlah terletak pada raga yang bebas berkeliaran kesana-kemari, tapi pada jiwa yang memiliki keimanan dan bebas meyakini, mencintai serta mentaati Rabb sang Pencipta langit dan bumi.
Seperti Wahsyi, ia telah menyerahkan sisa hidupnya dalam pelukan Islam, tempat dimana ia baru bisa merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Ia pun baru merasa lega setelah menukar nyawa Hamzah dengan nyawa Musailamah al Kadzab, seorang laki-laki yang mengaku sebagai Nabi setelah Rasulullah meninggal.
Gaya penuturan novel ini sangat khas Najib Kailani. Penuh semangat perjuangan dan mengaduk-aduk emosi pembaca, namun tetap tak kehilangan nilai sastra. (V)
Posted in wajiBBaca | No Comments »
Minggu, Juli 27th, 2008 |
Mata Inayah menjelajahi semua tempat, mencari-cari seorang lelaki. Ia menolak saat suaminya, Abdul Hadi menyuruh kembali. Ia terus berjalan hingga menemukan orang yang dicarinya sedang memecah batu. Faris!
Melihat Inayah, Faris berusaha menyembunyikan wajahnya.
Inayah kembali ke samping suaminya dan berkata, “Kurasa dia tukang listrik yang membetulkan lampu waktu itu.”
“Ingatanmu kuat sekali. Aku sendiri tidak memperhatikan. Ia sama saja dengan narapidana lainnya,” jawab Abdul Hadi sinis.
Inayah tidak dapat menahan perasaan. Ia terus memandang Faris. Saat melihat keringat deras membasahi wajah dan leher Faris yang legam terbakar matahari, ia memejamkan mata. Ia begitu terpesona pada kegagahan lelaki itu. Jantung Inayah berdetak kencang. Kenangan malam ‘surga’ itu membuat gemetar seluruh tubuhnya. Apa yang akan dilakukan Abdul Hadi jika mengetahui Faris berada di ranjangnya pada malam itu?
Tatapan mata Inayah membuat Faris lupa diri. Sorot mata syahdu itu mengoyak batin dan kesadarannya. Ia menegakkan tubuh dan tersenyum pada Inayah.
Ketika sedang terlena menikmati balasan senyum Inayah tiba-tiba cemeti sipir penjara melayang mengenai wajahnya, diikuti suara menghardik, “Teruskan kerjamu, Keledai!”
Faris pun tersentak dan kembali bekerja.
Inayah berteriak kaget, “Heh, Hewan! Kenapa kau pukul dia?”
Abdul Hadi segera ikut campur, “Karena dia tak tahu malu.”
“Kenapa?”
“Dia memandangmu.”
“Apakah memandang itu sebuah kejahatan?”
Abdul Hadi tak lagi menanggapi. Tapi melihat kejadian itu hati Inayah merasa sakit, seolah-olah cemeti itu tidak mengenai tubuh Faris melainkan mendera hatinya. Abdul Hadi tidak tahu apa-apa tentang gejolak yang sedang berkecamuk dalam jiwa istrinya. Sebuah gejolak yang suatu saat akan bisa meledak.
Sementara mulut Faris diam membisu, namun air mata mengalir deras dari hatinya. Ia merasa sangat terhina, lebih baik mati daripada menerima penghinaan seperti ini. Betapa orang-orang keji itu telah merendahkan martabatnya sebagai lelaki di hadapan wanita yang sangat dikaguminya.
Catatan:
Novel karya Najib Kailani ini berjudul Lail wa Qudhban, lalu diterjemahkan oleh Penerbit Navila dengan judul Selingkuh.
Seperti novel-novel beliau yang lain, novel yang satu ini pun tak kalah menggetarkan. Permainan emosi sangat terasa di setiap kata dan kalimat yang dipilih. Di satu sisi kita seakan memihak pada tokoh Inayah yang terzalimi oleh suaminya, Abdul Hadi. Seorang laki-laki yang sombong, kasar dan egois. Tapi di sisi lain kita seolah berada di pihak Abdul Hadi yang telah dikhianati istrinya.
Yang juga sangat mengaduk emosi adalah kehadiran sosok Faris yang berpostur gagah dan berkulit gelap terpanggang matahari, serta selalu dipandang hina karena statusnya sebagai narapidana. Bagaimana bisa seorang Inayah yang cantik dan dihormati berselingkuh dengan Faris, sementara suaminya adalah Kepala Penjara tempat Faris ditahan?
Itulah kejahatan, bisa timbul karena adanya niat dan kesempatan. Niat bisa muncul ketika ada kesempatan, dan kesempatan bisa diciptakan ketika adanya niat.
Temukan ending yang tragis dalam novel ini! (V)
Posted in wajiBBaca | No Comments »
Kamis, Juli 24th, 2008 |
Iyasu tersenyum sinis, “Bagiku kematian tidaklah penting dan aku tidak memikirkannya. Yang kupikirkan adalah jalan kesengsaraan yang harus ditempuh negeri ini akibat ketololanmu yang telah menghilangkan semuanya. Kau telah menyerahkan negeri ini pada Italia dan kini mau melarikan diri dari tanggung jawab. Sesungguhnya kau lari dari kematian dan meninggalkan rakyat dalam kesengsaraan mereka. Aku akan berperang, menang atau syahid!”
“Hanya ada kematian bagimu!” tukas Tafari penuh dendam, lalu memberi isyarat dengan tangannya.
Lima orang algojo berwajah sangar maju mencekik leher Iyasu. Ia tidak merintih ataupun mengaduh sama sekali.
Justru Tafari yang berteriak-teriak seperti orang gila. “Lenyapkan senyum itu dari bibirnya! Pecahkan kepalanya agar darah membanjiri wajahnya!”
Salah seorang dari algojonya dengan bercucuran keringat berkata, “Dia telah mati, Tuan.”
“Bunuh dia untuk kedua, ketiga dan keempat kalinya! Lenyapkan bangkainya dari hadapanku! Bawa dia ke pemakaman yang jauh dan tidak dikenal oleh seorangpun! Orang jelek ini harus disembunyikan selama-lamanya! Keputusanku untuk menghabisi bajingan inilah yang akan meringankan beban kekalahan yang kita terima dari Italia. Huh, orang gila ini tersenyum! Dia masih saja tersenyum! Bagaimana ini?! Padahal dia itu mayat!!”
Tafari makin kalap, “Aku tadi mendengar dia mengucapkan dua kalimah syahadat. Dia begitu berani di depan kematian! Aku kira dia akan bersujud di depan sepatuku sambil mengucapkan kata-kata yang memelas. Aku pikir dia akan menangis dan meminta maaf. Tapi ternyata dia menemui kematiannya dengan tersenyum. Lumuri wajahnya dengan debu agar senyumnya hilang!!!”
Tafari menendang mayat Iyasu. Kemudian ia menoleh ke orang-orangnya dan mencaci maki mereka habis-habisan. Mereka hanya bingung tak tau apa yang harus dilakukan.
Setelah kembali sadar, Tafari bergumam, “Sekarang hatiku merasa tenang dan kebencianku telah hilang.” Tafari kemudian membisu. Air matanya menetes.
Salah seorang yang terdekat dengannya bertanya keheranan, “Kenapa kau menangis, Tuan?”
“Karena aku merasa bahwa aku adalah orang yang lemah. Aku telah membunuh Iyasu tapi aku masih takut padanya. Aku merasa senyum pucatnya itu menghina dan mengejekku. Dan kata-katanya yang memuakkan itu masih menempel di kepalaku dan membayang-bayangiku.”
“Dia telah mati, Tuan, dan urusannya telah selesai.”
“Aku meragukan itu. Orang-orang akan menangisinya, bukan menangisi kekalahan Ethiopia atas Italia. Mereka akan mendendangkan namanya di setiap tempat. Urusannya sama seklai belum selesai. Aku akan lari ke Inggris sebagai pengecut yang dibenci rakyat. Sementara Iyasu, meskipun ia sudah jadi mayat, akan tetap disini dan dielu-elukan sebagai pahlawan! Aku sangat bodoh!!”
Catatan:
Di atas adalah cuplikan dari novel karya Najib Kailani yang berjudul Azh-zhilalul Aswad dan diterbitkan ulang oleh Penerbit Asy Syaamil dengan judul Bayang-bayang Hitam.
Najib Kailani mencoba mengungkap nilai-nilai kemanusiaan dari sebuah pergolakan ideologi yang terjadi di Ethiopia. Membaca novel ini kita akan dilibatkan secara emosional, dan seolah-olah berhadapan dengan tokoh-tokohnya yang memiliki karakter kuat. Selain itu, kita juga akan mendapat sebuah pencerahan dalam memandang kebenaran secara universal dan hakikat dari sebuah perjuangan. Juga pergumulan antara kesetiaan dan penghianatan.
Jadi, jangan lewatkan untuk membaca novel yang satu ini! (V)
Posted in wajiBBaca | 3 Comments »