Ikatlah ilmu dengan menuliskannya!


Archive for the ‘sosoKKharismatik’ Category

Sekilas Tentang Hasan al Banna

Senin, Desember 15th, 2008 |

Ia dilahirkan di desa Mahmudiyah kawasan Buhairah, Mesir tahun 1906 M. Ayahnya, Syaikh Ahmad al-Banna adalah seorang ulama fiqh dan hadits. Sejak masa kecilnya, Hasan al Banna sudah menunjukkan tanda-tanda kecemerlangan otaknya. Pada usia 12 tahun, atas anugerah Allah, Hasan kecil telah menghafal separuh isi Al-Qur’an.

Sang ayah terus menerus memotivasi Hasan agar melengkapi hafalannya. Semenjak itu Hasan kecil mendisiplinkan kegiatannya menjadi empat. Siang hari dipergunakannya untuk belajar di sekolah. Kemudian belajar membuat dan memperbaiki jam dengan orang tuanya hingga sore. Waktu sore hingga menjelang tidur digunakannya untuk mengulang pelajaran sekolah. Sementara membaca dan mengulang-ulang hafalan Al-Qur’an ia lakukan selesai shalat Shubuh. Maka tak mengherankan apabila Hasan al Banna mencetak berbagai prestasi gemilang di kemudian hari. (lagi…)

  • Share/Bookmark

Yuk mengenal Buya HAMKA!

Jumat, November 21st, 2008 |

HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Beliau adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara. Beliau lahir pada 17 Februari 1908 di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya ialah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Ishlah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.

HAMKA mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga Darjah Dua. Ketika usia HAMKA mencecah 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ HAMKA telah mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. HAMKA juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjoparonto dan Ki Bagus Hadikusumo.

Bakti HAMKA bermula sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. HAMKA kemudian dilantik sebagai pensyarah di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau dilantik sebagai Rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau dilantik sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan saat Sukarno memberi dua tugas, baik menjadi pegawai kerajaan atau bergiat dalam politik Majlis Syura Muslim Indonesia (Masyumi).

HAMKA lebih banyak belajar sendiri dan melakukan penyelidikan meliputi pelbagai bidang ilmu pengetahuan seperti falsafah, kesusasteraan, sejarah, sosiologi dan politik, sama ada Islam ataupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Freud, Toynbee, Jean Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. HAMKA juga rajin membaca dan bertukar-tukar fikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Chokroaminoto, Raden Mas Surjoparonoto, Haji Fakrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang pemidato yang handal.

HAMKA juga aktif dalam gerakan Islam melalui perkumpulan Muhammadiyah. Beliau menyertai perkumpulan itu mulai tahu 1925 untuk menentang khurafat, bid’ah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, HAMKA mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar.

Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S. Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Beliau menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Jogjakarta pada tahun 1950. Pada tahun 1953, HAMKA dipilih sebagai Penasihat Pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Julai 1957, Menteri Agama Indonesia yaitu Mukti Ali melantik HAMKA sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudian meletakkan jabatan pada tahun 1981 karena nasihatnya diketepikan oleh pemerintah Indonesia.

Kegiatan politik HAMKA bermula pada tahun 1925 saat beliau menjadi anggota partai politik Syarikat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang kembalinyai penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, HAMKA dilantik sebagai ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Beliau menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun1966, HAMKA telah dipenjarakan oleh Presiden Sukarno kerana dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakan itulah beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, HAMKA dilantik sebagai ahli Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majlis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.

Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, HAMKA merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an HAMKA menjadi wartawan beberapa buah koran seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. HAMKA juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.

HAMKA juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Merantau ke Deli.

HAMKA pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan Doktor Honoris Causa, Universiti al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universiti Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.

HAMKA telah pulang ke rahmatullah pada 24 Julai 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Beliau bukan saja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sastrawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai. (V)

  • Share/Bookmark

Siapakah Najib Kailani?

Rabu, November 19th, 2008 |

Najib lbrahim bin Abd al-Lathiif al-Kailani dilahirkan tanggal 10 Juni 1931 di Syarsyabah, suatu desa di wilayah bagian barat Republik Arab Mesir, sebagai anak pertama dari keluarga petani. Ketika meletus Perang Dunia II, ia berusia 8 tahun. Perang Dunia II menimbulkan pengaruh buruk pada kehidupan di Mesir, termasuk di tanah kelahirannya, Syarsyabah. Mesir dilanda krisis ekonomi ditambah dengan tekanan penjajah Inggris yang membuat para petani menanggung berbagai derita. Demikianlah Najib al-Kailani lahir dan tumbuh dalam situasi politik dan ekonomi yang sangat sulit.

Pendidikan Najib al-Kailani, sebagaimana kebanyakan anak-anak di Mesir, dimulai di Kuttab, di mana ia belajar membaca dan menulis, menghafal banyak surat-surat dari Al-Qur’an, Perjalanan Hidup Nabi saw, dan kisah-kisah para Nabi lainnya. Kemudian ia melanjutkan pelajaran ibtidaiyyahnya di Sinbath, dan Tsanawiyahnya (5 tahun, setingkat dengan SLTP-SLTA) di Thontho.

Pada tahun 1951, ia melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Fuad I (sekarang Universitas Kairo). Pada tahun keempat di fakultas tersebut, Najib al-Kailani diajukan ke pengadilan, berkenaan keterlibatannya dalam masalah politik (ia bergabung dengan gerakan Ikhwanul Muslimin) dan divonis hukuman penjara selama 10 tahun, tapi setelah menjalani hukuman selama 3,5 tahun, ia dikeluarkan. Setelah keluar dari penjara ia menyelesaikan kuliahnya. Pada tahun 1960, ia kembali dimasukan penjara selama 1,5 tahun.

Setelah tamat dari Fakultas Kedokteran, Najib al-Kailani bekerja sebagai dokter pada Kementrian Perhubungan dan Jawatan Kereta Api Mesir. Pada tahun 1967, ia meninggalkan Mesir dan bekerja sebagai dokter di Kuwait, kemudian di Dubai. Selanjutnya ia berpindah-pindah dari satu jabatan ke jabatan lain, terakhir ia menjabat sebagai Direktur Departemen Budaya pada Kementrian Kesehatan Persatuan Emirat Arab, di samping menjadi anggota panitia-panitia yang bergerak dalam bidang kesehatan masyarakat untuk negara-negara teluk. Ia telah banyak menghadiri berbagai muktamar para Menteri Kesehatan negara-negara Arab. Ia kembali ke Kairo pada tahun 1992.

Kiprah Najib al-Kailani dalam dunia sastra sebagai cerpenis, novelis dan penyair, bermula dari kegemarannya membaca, terutama membaca majalah-majalah sastra yang terbit pada masa itu, seperti Ar-Risalah, Ats-Tsaqofah, Al-hilaal, dan Al-Muqtathof. Melalui majalah-majalah tersebut, ia dapat berkenalan dengan banyak para sastrawan, seperti Sayyid Quthb, Mushthofa Shodiq ar-Rofi’i, Al-’Aqqod, Al-Mazini, Al-Manfaluthi, Thoha Husen dan Taufiq El-Hakim.

Najib Al-Kailani menulis puisi sejak di Tsanawiyah. Ketika dipenjara ia menulis beberapa novel. Di antara novel-novelnya adalah : Ardlu al-Anbiyaa, Hikayat Jaad Alloh, Hamamah Salaam, Damm li Fathir Shuhyuun, Alladzima Yahtariquun, Ro’s asy-Syaithoon, Ar-Robii’ al-’Ashif, Rihlah Ila Alloh, Romadloon Habiibii, Ath-Thoriq ath-Thowiil, Tholai’ al-Fajr, Adh-Dhillu al-Aswad, ‘Adzroo’ Jakarta, ‘Alaa Abwaah Khoibar, ‘Amaliqoh asy-Syamaal, Fi adh-Dholaam, Qootil Hamzah, Layaalii Turkistaan, Lail al-Khothooyaa, Marookib al-Abroor, An-Nidaa’ al-Khoolid, Nuur Alloh, Al-Yaum al-Mau’uud, Imroat ‘Abdal-Mutajalli, dan Ar-Rojul Alladzii Aamana.

Di antara antologi-antologi cerpennya adalah: Ibtisaamah fi Qolb asy-Syaithoon, Ardl al-Asywaaq, Amiroh al-Jabal, Ar-Rooyaat as-Suud, ‘Adzroo ‘ al-Qoryah, Al-Ka’sal-Farighoh, Liqoo’ ‘Inda Zamzam, Lail al-’Abiid, Yaumiyyaat al-Kalb Syamluul, Dumu’ al-Amiir, Hikaayaat Thobiib, ‘Inda ar-Rohiil, Faaris Hawaazin, Mao ‘idunaa Ghodan, dan Al- ‘Alam adl-Dloyyiq.

Di antara antologi puisi-puisinya adalah : ‘Ashr asy-Syahiid (1971), Aghooni al-Ghurobaa’ (1972), Kaifa Alqooka (1980), dan Madiinah al-Kabaa-ir (1988).

Najib Al-Kailani termasuk sastrawan Arab penggagas Sastra Islam dan Teater Islam. Di samping cerpen dan novel dan bahasan tentang sastra, Najib Al-Kailani juga menulis karya-karya ilmiah dalam bidang kedokteran, keagamaan dan politik. Di antara karya-karya ilmiahnya adalah : Haula ad-Diin wa ad-Daulah, Ath-Thoriiq ilaa Ittihaad Islaami, Nahnu wa al-islaam, Tahta Rooyat al-islam, Al-Mujtama’ al-Mariidl, Iqbaal asy-Syaa ‘ir ats-Tsaair, Syauqii fii Rokb al-Khoolidiin, Fi Rihaah ath-Thibb an-Nabawi, Ash-Shoum wa ash-Shihhah, dan Mustaqbal al- ‘Alam fii Shihhah ath-Thifl.

Berbagai hadiah dan penghargaan ilmiah dan sastra yang diterimanya, di antaranya yang terpenting adalah : (1) Hadiah Kementrian Pendidikan dan Pengajaran atas novelnya : Ath-Thoriiq ath-Thowiil (1957). (2) Hadiah Kementrian Pendidikan dan Pengajaran atas novelnya : Fii adh-Dholaam (1958). (3) Hadiah Kementrian Pendidikan dan Pengajaran atas bukunya : Iqbaal asy-Syaa’ir ats-Tsaair (1958). (4) Hadiah Mentri Pendidikan dan Pengajaran atas bukunya : Syauqy fii Rokb al-Khoolidiin (1958). (5) Hadiah Kementrian Pendidikan dan Pengajaran atas bukunya : Al-Mujtama’ al-Mariidl (1958). (6) Hadiah Klab Novel dan Medali Emas dari Thoha Husen atas kumpulan cerpennya: Mao’iduna Ghodan (1959). (7) Hadiah Majlis A’laa untuk Perlindungan Seni dan Sastra atas novelnya : Al-Yaum al-Mau’uud (1960). (8) Hadiah Kementrian Pendidikan dan Pengajaran atas antologi cerpennya : Dumuu’ al-Amiir. (9) Hadiah Majma’ al-Lughoh al-’Arobiyah atas novelnya: Qootil Hamzah (1972). (10) Medali Emas dari Presiden Pakistan, Ziaul Haqq, atas bukunya: Iqbaal asy-Sya’ir ats-Tsaair (1980). Beberapa karyanya telah diterjemahkan ke dalamberbagai bahasa, di antaranya ke dalam bahasa Inggris, Itali, Rusia, Turki dan Indonesia.

  • Share/Bookmark

Salam

Selamat datang di web pribadi saya! Semoga kita sama-sama mendapat manfaat darinya... More


Status YM

Internet Sehat

lencana


Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Find entries :