Archive for the ‘menoreHHikmah’ Category
Kamis, Agustus 6th, 2009 |
Sampai tadi malam saya masih bergumam-gumam dalam hati, kenapa ya Mbah Surip cepat banget perginya? Padahal dibilang cepat juga enggak, karena umurnya yang sudah tua. Mungkin saya menghitungnya dari kepopuleran dan kesuksesan yang diraihnya saat ini.
Lalu kenapa ia baru memperoleh kesuksesan itu di kala tua?
Kenapa Tuhan begitu lama mewujudkan impiannya?
Saya terus bergumam dan bertanya…
Mbah Surip yang berjuang mewujudkan idealismenya sebagai seniman sejak muda, dan baru meraih hasilnya setelah berumur renta.
Mbah Surip yang tak mau bercerita tentang keluarga karena banyak menuai kecewa.
Mbah Surip yang menjalani kesendiriannya dengan tawa jenaka, berharap setiap orang ikut bahagia.
Mbah Surip yang mengungkapkan mimpinya punya helikopter pribadi meskipun dengan nada bercanda.
Mbah Surip yang mendapat tak kurang dari 2 milyar hasil unduhan lagunya namun tetap enjoy naik ojek kemana-mana. (lagi…)
Posted in menoreHHikmah | No Comments »
Senin, Agustus 3rd, 2009 |
Masih ingat kisah si Fulan dalam catatan saya yang berjudul Bu’dunnazar Seorang Syahid tempo hari? Nah, bagaimanakah akhir hidupnya yang menggetarkan? Tak perlu bertanya pada orang-orang beriman, mari kita simak cerita dua orang polisi penjaga penjara yang menyaksikan eksekusi matinya di tahun 1966. Mudah-mudahan ini menguatkan iman kita.
Salah seorang dari polisi itu memulai kisahnya, “Ada banyak peristiwa yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, lalu peristiwa itu menghantam kami dan merubah total kehidupan kami.”
Ia melanjutkan, “Di penjara militer pada saat itu, setiap malam kami menerima orang atau sekelompok orang, laki-laki atau perempuan, tua maupun muda. Setiap orang-orang itu tiba, atasan kami menyampaikan bahwa orang-orang itu adalah para pengkhianat negara. Karena itu, dengan cara apapun kami harus bias mengorek rahasia dari mereka. Kami harus dapat membuat mereka membuka mulut dengan cara apapun, meski itu harus dengan menimpakan siksaan keji pada mereka tanpa pandang bulu.” (lagi…)
Posted in menoreHHikmah | No Comments »
Jumat, September 19th, 2008 |

Alangkah beruntungnya seorang Muslim, setiap amalannya bisa bernilai ibadah dan diganjar pahala oleh Allah. Mulai dari aktifitas ringan sampai yang berat. Dari yang kecil sampai yang besar.Nah, agar setiap amalan kita bernilai ibadah, berikut 5 syarat yang harus ada dalam amalan tersebut:
1. Niat. Dalam melakukan aktifitas apapun, niat yang harus dipasang adalah karena Allah semata. Misalnya seorang suami yang mencari nafkah untuk keluarga, selain karena kewajiban sebagai kepala rumah tangga, ia juga melakukannya untuk mendapat rindho dari Allah.
2. Tentang aktifitas itu sendiri. Aktifitas yang kita lakukan itu tidak boleh sesuatu yang haram seperti mengedarkan narkoba, mencuri, menjual diri dan sebagainya.
3. Bagaimana kita melakukan aktifitas tersebut. Apakah sesuai dengan aturan Allah atau tidak. Misalnya berolahraga. Apakah dalam berolahraga tersebut aurat ditutup sesuai syari’at, apakah tidak bercampur baur dengan lawan jenis, tidak berbohong atau menipu dan sebagainya. Semuanya harus merujuk pada aturan Islam.
4. Sarana yang digunakan. Semua peralatan yang digunakan dalam aktifitas tersebut haruslah halal. Misalnya aktifitas menulis. Apakah buku, pena, komputer dan peralatan yang digunakan lainnya bukan hasil curian, bajakan, selundupan dan sumber tidak sah lainnya.
5. Hasil. Dalam Islam disebut dengan natijah. Yaitu apa yang didapatkan dari aktifitas tersebut. Jadi hasilnya haruslah dipergunakan untuk sesuatu yang baik, sesuai syari’at. Misalnya untuk membiayai keluarga, untuk kesehatan, untuk berdakwah dan sebagainya.
*Dikutip dari nasihat Ibnu Muhammad
Posted in menoreHHikmah | No Comments »
Senin, September 8th, 2008 |

Mau tahu dialog seorang hamba dengan nafsunya di bulan Ramadhan ini? Simaklah!
Nafsu : Kamu sudah melewati seminggu puasa dengan baik.
Hamba : Tapi sebenarnya aku masih banyak kekurangan.
Nafsu : Ah, orang lain jauh lebih banyak kekurangannya.
Hamba : Tapi mereka pasti juga lebih banyak ibadahnya.
Nafsu : Sudahlah! Yang penting nanti malam pergilah tarawih lebih awal.
Hamba : Kenapa?
Nafsu : Agar orang-orang melihatmu.
Hamba : Ah aku tidak mau riya.
Nafsu : Bukan untuk dipuji tapi untuk dicontoh oleh mereka.
Hamba : Betul juga.
Nafsu : Lalu lamakanlah zikirmu.
Hamba : Untuk apa? Aku kan sudah bilang tidak akan riya!
Nafsu : Jangan salah paham dulu.
Hamba : Lalu maksudmu apa?
Nafsu : Hanya agar mereka tahu inilah bulan untuk beribadah dengan khusyuk.
Hamba : Hm, iya juga tuh. Tapi itukan sama saja dengan riya.
Nafsu : Kalau begitu zikirnya di rumah saja, sepulang dari mesjid.
Hamba : Nah, itu baru betul!
Nafsu : Kamu memang pandai menghindari riya.
Hamba : Itu karena Allah.
Nafsu : Disitulah kelebihanmu, kau selalu menyertakan Allah dalam setiap perbuatanmu.
Hamba : Sudahlah, jangan memuji-muji terus!
Nafsu : Aku salut padamu, kau begitu rendah hati.
Hamba : Memang begitulah seharusnya seorang hamba.
Nafsu : Ya, dan aku yakin kau seorang hamba yang baik dan disayang Allah.
Hamba : Apa iya?
Nafsu : Tentu saja, kau selalu bisa menempatkan diri, baik di hadapan Allah maupun manusia.
Begitulah, nafsu akan terus mengejar, membujuk, menghasut dan mengiming-imingi seorang hamba agar jauh dari keikhlasan. Caranya sangat halus hingga nyaris tak disadari oleh kebanyakan manusia. Berpura-pura menjauhkan seseorang dari sifat riya (ingin dipuji manusia) tapi membenamkannya ke sifat yang lebih tercela yaitu ujub (memuji diri sendiri). (V)
Posted in menoreHHikmah | No Comments »
Rabu, Agustus 20th, 2008 |

Sebut saja namanya Iwang. Teman sekelas waktu kuliah dulu. Ada sepenggal kisah yang tak bisa saya lupakan tentang sosok yang satu ini. Karena skenario Allah atas dirinya begitu mengesankan. Kenapa?
Di kampus saya, ada sebuah peraturan yang cukup ketat. Jika saat ujian berlangsung ada yang ketahuan menyontek atau berbuat curang di satu mata kuliah, maka ia dianggap gagal untuk semua mata kuliah pada semester itu. Gawat, kan?
Tak hanya itu, upaya menggalakkan budaya malu juga tak tanggung-tanggung dilakukan. Setiap mahasiswa yang tertangkap menyontek, akan dipajang fotonya di papan pengumuman dengan judul ‘Raja Contek’. Lengkap dengan biodatanya.
Nah, teman saya yang bernama Iwang ini menjadi salah satu mahasiswa bernasib malang. Dia ketahuan membuat ‘jimat’ di telapak tangannya pada saat ujian mata kuliah Manajemen Informatika. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, kan? Ya, foto dan data dirinya muncul di papan pengumuman keesokan harinya. Seluruh mata kuliah yang diikutinya pada semester tersebut gugur semuanya.
Hati saya dan juga teman-teman lainnya terasa miris. Bagaimana tidak, dia bukan termasuk orang berada, untuk biaya kuliah saja ia harus kerja sampingan segala. Kini biaya satu semester hangus akibat ulahnya sendiri. Kasihan, belum lagi rasa malu yang harus ditanggungnya.
Masa ujian pun berlalu. Saya memasuki semester selanjutnya dan mulai melupakan kejadian yang menimpa Iwang tersebut. Tapi apa yang terjadi? Baru memasuki hari kedua di semester baru, saya kembali menemukan foto di papan pengumuman. Apakah foto Iwang masih belum diturunkan? Benar! Foto Iwang masih terpajang di sana. Perasaan kemarin, di hari pertama, saya sudah tidak melihat foto itu di sana. Kok hari ini ada lagi?
Saya mengamati lebih teliti. Astaghfirullah! Apakah ini tidak salah? Judulnya bukan lagi ‘Raja Contek’, melainkan ‘Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun’. Saya tersentak. Jadi foto kali ini adalah foto pengumuman atas kematian teman sekelas saya itu? Allahu Akbar! Begitu ganjilnya perasaan saya memaknai peristiwa yang satu ini. Keganjilan yang terpendam hingga hari ini. (V)
Posted in menoreHHikmah | 1 Comment »
Jumat, Juli 4th, 2008 |
Sebuah artikel yang dimuat oleh harian umum al-Ahraam telah membuat Sang Imam dan murid-muridnya gelisah. Bagaimana tidak, artikel yang ditulis oleh si Fulan itu berisi pemikiran yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Si Fulan mengatakan bahwa tidak ada kewajiban bagi manusia untuk menutup auratnya. Sebab secara fitrah, tiap manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang. Maka ia menyerukan agar budaya telanjang itu dilestarikan di tengah masyarakat Mesir.
Maka para ikhwan yang merasa marah, langsung membuat artikel bantahan dan siap dikirim ke harian umum yang sama. Namun sebelum itu, mereka mengutus seorang ikhwan bernama Mahmoud yang merupakan penulis artikel bantahan itu, untuk meminta pendapat dan izin dari Sang Imam.
“Ya, Ustadz. Bagaimana pendapat anda?” tanya Mahmoud pada Sang Imam yang tampak terdiam lama setelah membaca artikel bantahan itu.
“Saudaraku,” Sang Imam menatap Mahmuod, “Artikelmu ini sangat bagus dan penuh argumentasi yang jitu. Tapi…”
“Tapi apa ya, Ustadz?” tanya Mahmoud heran. Wajah Sang Imam yang teduh itu berubah galau. Ditatapnya artikel bantahan yang tergenggam di tangnnya.
“Dalam pikiranku, tergambar beberapa dampak dari tulisanmu ini jika ia jadi dimuat,” ujar Sang Imam pelan sambil kembali menatap Mahmoud. “Pertama, artikel yang ditulis si Fulan itu sangatlah tajam, menusuk hati kaum Muslimin. Sementara konsumen pembaca harian al-Ahraam itu sendiri relatif sedikit dibanding jumlah penduduk Mesir secara keseluruhan. Dan rata-rata, mereka tidak membacanya dengan serius.”
Mahmoud menyimak uraian Sang Imam dengan hati bertanya-tanya. Ia belum paham maksud gurunya itu.
“Jika kita menurunkan bantahan terhadap artikel tersebut, maka akan timbul beberapa titik rawan. Diantaranya, justru akan mengekspos artikel tersebut dan memancing keingintahuan bagi mereka yang belum membacanya. Sementara yang sudah membaca, akan kembali terpancing untuk membaca dengan serius. Dengan demikian, tanpa sadar kita telah memicu perhatian masyarakat kepada sesuatu yang buruk, yang bisa saja mendatangkan mudharat bagi orang-orang yang berjiwa lemah. Kalau artikel si Fulan itu kita diamkan saja, insya Allah ia akan tenggelam dengan sendirinya,” tutur Sang Imam pelan.
Mahmoud masih tampak belum puas dengan penjelasan itu, meski ia mulai bisa meraba maksud gurunya.
“Saudaraku, bantahan adalah salah satu bentuk tantangan yang akan memancing sikap keras kepala bagi yang dibantah. Dan sekalipun ia menyadari bahwa ia salah, tapi bantahan itu akan membuatnya bersikukuh pada kesalahannya. Ketahuilah, Saudaraku, si Fulan itu telah terpengaruh oleh sebuah lingkungan yang membuatnya berpikir seperti itu. Dan aku melihat, tujuannya menulis artikel itu bukanlah untuk mengungkapkan apa yang menjadi keyakinannya. Melainkan sekedar mencari perhatian dengan cara menghalalkan segala cara.” Sang Imam diam sejenak. Sementara Mahmoud yang duduk di hadapannya masih menunggu kelanjutan kalimatnya dengan raut serius.
“Saudaraku, jika sampai si Fulan bersikukuh dalam kesalahan itu akibat bantahan yang kita sampaikan, maka secara tidak langsung kita telah menghalangi pintu taubat baginya. Si Fulan itu masih muda. Membukakan pintu kebenaran baginya jauh lebih baik daripada melemparkannya jauh-jauh dari kebenaran yang sebenarnya menjadi hak dia. Justru kewajiban kitalah untuk membantunya meraih kebenaran itu. Aku tidak ingin, emosi yang bermain dalam dada kita membuat seseorang terhalang dari hidayah Allah. Begitulah pemikiranku. Bagaimana menurutmu, Saudaraku?” Sang Imam menutup penjelasannya.
Mahmoud yang sejak tadi diam menatapnya, perlahan menunduk. Kini semakin disadarinya betapa Sang Imam adalah manusia yang sangat bijak. Sosok yang penuh kharisma dan telah melebur ke dalam kancah dakwah secara jasad, ruh, akal, dan hartanya. Pengetahuan yang dalam dan hubungannya yang erat dengan Allah telah menjadikan pandangannya demikian luas, nalurinya peka, mata hatinya tajam, jauh menembus ke depan. Ya, ia telah dianugerahi bu’dunnazar*, sesuatu yang jarang dimiliki oleh orang biasa.
Perlahan Mahmoud mengangkat kepalanya. Ditatapnya wajah Sang Imam sambil tersenyum. “Anda benar sekali ya, Ustadz. Saya setuju dengan pendapat anda.” Sang Imam yang tak lain adalah Imam Hasan Al Banna, tersenyum melihat muridnya mau memahami apa yang ada dalam pikirannya. Maka perlahan dirobeknya artikel yang tergenggam di tangannya saat itu.
Epilog
Waktu terus berlalu, dan artikel si Fulan yang membahayakan itupun berlalu begitu saja. Masyarakat sepertinya tidak terusik sama sekali. Namun, apakah yang terjadi pada si Fulan sendiri? Sejarahlah kemudian yang mencatat bahwa ia telah menjelma menjadi sosok paling heroik di kancah dakwah. Ia telah tercatat sebagai salah seorang prajurit Islam yang gagah berani, yang menyuarakan kebenaran dengan suara lantang meski penjara mengurung jasadnya. Ia telah menjadi orang terdepan dalam perjuangan menegakkan kalimatullah di Mesir dan menutup sejarah hidupnya sebagai seorang syuhada di tiang gantungan. Sosok yang selama di penjara telah berhasil menulis kitab Fi Dzilaalil Qur’an, sebuah kitab tafsir yang banyak dijadikan pegangan oleh ummat Islam zaman sekarang. Dialah… Sayyid Quthb! (V)
*bu’dunnazar = pandangan yang jauh ke depan
Posted in menoreHHikmah | 1 Comment »
Rabu, Juli 2nd, 2008 |
Seorang guru mengamati shalat salah satu muridnya dengan seksama. Begitu murid yang diamati selesai, sang guru memanggil dan menanyainya.
“Wahai Fulan, aku perhatikan ketika shalat wajib tadi kamu tampak khusyuk dan tenang. Tapi kenapa ketika shalat sunah kamu tampak tergesa-gesa menyelesaikannya?”
Si murid menjawab, “Bukankah nilai dan hukum kedua shalat itu memang berbeda? Yang satu wajib, yang lain sunah.”
Sang guru menatap muridnya sejenak, lalu berkata, “Tapi apakah kamu lupa bahwa tuhan yang kamu sembah adalah tuhan yang sama?”
Si murid terdiam.
Sang guru melanjutkan, “Dan tahukah kamu, bahwa shalat sunah itu adalah hadiah, tanda kecintaan seorang hamba terhadap tuhannya. Tak ada dosa saat meninggalkannya, namun diganjar pahala saat melakukannya. Apakah pantas kamu menyepelekan ibadah yang merupakan tanda kecintaanmu terhadap-Nya? Apakah hanya karena hukum wajib sebuah ibadah lalu kamu menganggapnya lebih utama daripada yang sunah? Sekali lagi ingatlah, tuhan yang kamu sembah adalah yang itu juga, Allah!”
Si murid tertunduk, seakan baru sadar betapa selama ini ia telah keliru memandang makna sebuah ibadah. (V)
Posted in menoreHHikmah | No Comments »
Minggu, Juni 29th, 2008 |
Seorang guru yang sangat saya hormati pernah menitipkan nasihat:
Jika kamu melakukan dosa, janganlah melihat besar atau kecilnya dosa itu. Tapi lihatlah akan kebesaran Allah yg kamu durhakai. Maka sesungguhnya setiap dosa akan tampak besar di matamu. Demikianlah jalan untuk mencapai ketaqwaan. Dan ketahuilah, dosa-dosa yg di matamu tampak sehalus rambut, pada zaman Rasulullah tampak sebesar bukit. Itu disebabkan oleh kebesaran Allah yang selalu bersemayam di hati mereka. Jadi jangan salah melihat! (V)
Posted in menoreHHikmah | No Comments »