Archive for the ‘mediAAksara’ Category
Rabu, Maret 3rd, 2010 |
Banyak sekali orang yang saya temui bertanya bagaimana caranya jadi Penulis? Ternyata mereka semua bercita-cita jadi Penulis! Kadang ada yang menggelikan, ketika tiba-tiba ada pesan di chatroom saya, pesan yang to the point, tanpa basa basi apalagi pakai salam, “Mbak, gimana sih caranya jadi Penulis?”
Hehe, dalam hati saya ingin tertawa. Tapi saya mencoba maklum, mungkin dia saking kepinginnya jadi Penulis. Apakah karena sebutan Penulis itu terkesan keren dan pintar ya? Buktinya para artis saja banyak yang ingin disebut Penulis biarpun cuma menerbitkan satu buku, yang penting dia sudah bisa mengaku sebagai Penulis
Bukan apa-apa, saya sendiri sebenarnya belum merasa layak disebut Penulis, hingga seringkali kebingungan harus menjawab apa jika ditanya bagaimana caranya jadi Penulis.
Terus-terang saja, menurut saya Penulis itu bukanlah sebuah gelar yang bisa diraih seperti meraih gelar Dokter . Gelar Dokter bisa didapat dengan menempuh pendidikan di bidang yang bersangkutan. Sementara sekolah untuk jadi Penulis kan tidak ada. Yang ada paling jurusan berbasis kepenulisan seperti Bahasa, Sastra, Jurnalistik dan sejenisnya. Tapi kenyataannya tak semua jebolan sekolah tersebut jadi Penulis dan tak semua Penulis adalah jebolan sekolah tersebut.
Kalaupun ada yang mendirikan sarana pendidikan bagi calon Penulis maka itu tak lebih dari sekadar pelatihan singkat atau bersifat non formal, bahkan sebagian non profit.
Sebenarnya Penulis itu adalah gelar yang cara meraihnya terbalik dibanding gelar Dokter tadi. Kalau Dokter, harus dapat gelar dulu baru bisa praktek, sementara Penulis harus praktek dulu baru dapat gelar. Nah, untuk mendapatkan gelar Penulis itu seseorang memerlukan waktu panjang dalam berproses atau prakteknya. Jika ia punya gelar Penulis Diary, maka harus ada bukti catatan-catatan diary yang ia miliki.
Biasanya orang yang memang suka menulis diary pasti tak hanya memiliki satu diary saja. Begitupun Penulis Buku, Penulis Cerpen, Penulis Artikel dan sebagainya. Masing-masing pastilah memiliki banyak koleksi tulisan karena (sekali lagi) menulis itu adalah proses panjang untuk bisa disebut sebagai Penulis.
Jadi jika seseorang ingin disebut sebagai Penulis, maka lewatilah proses panjang itu terlebih dahulu maka dengan sendirinya gelar Penulis itu akan menempel di dirinya. Tak perlu gembar-gembor, karena waktulah yang akan memutuskan apakah seseorang itu layak disebut Penulis atau tidak.
Yang membingungkan saya lagi, bagaimana dengan orang yang telah menulis cukup banyak cerpen atau artikel, buku dan sebagainya, tapi mendadak berhenti karena suatu alasan? Seperti saya misalnya hehe…
Sejak tahun 2008 saya sama sekali tidak menerbitkan buku apapun. Menulis cerpen hanya sesekali saja. Dua kali ikut menulis kisah sejati di buku keroyokan bareng Mbak Asma Nadia dkk. Meski sempat menang lomba beberapa waktu yang lalu, namun aktifitas menulis saya tak lebih dari sekadar menulis catatan di facebook atau blog pribadi saya ini. Penulis semacam apakah saya? Sudah pantaskan saya disebut Penulis yang sesungguhnya? Rasanya kok belum ya…
Rasanya proses yang harus saya lewati masih panjang, masih berliku, masih belum teruji… untuk disebut sebagai Penulis meski saya sama sekali tak pernah bercita-cita jadi Penulis! Karena itulah ketika ada orang yang bertanya (kesannya berguru) tentang cara jadi Penulis maka saya pun masih sering kebingungan menjawabnya. Mungkin karena proses saya yang masih belum cukup panjang hingga yang bisa saya bagi pun masih sangat sedikit. Dari yang sedikit itupun sebagiannya adalah contekan dari penulis senior.
Makanya saya pesankan, kalau bisa janganlah jadi Penulis itu dijadikan cita-cita. Itu hanyalah sebuah proses yang harus dilewati dengan sabar dan tekun. Jangan malas-malasan seperti saya hehe…
OK, selamat jadi Penulis! (V)
Posted in curhaTTok!, mediAAksara | No Comments »
Jumat, Februari 26th, 2010 |
Keanehan yang menimpa Ucok benar-benar membuatku heran. Bahkan seluruh penduduk di kampung mulai mengatakan bahwa dia sudah tidak waras. Ada denyut nyeri menyengat dadaku mendengar hal itu.
“Coba kau bayangkan, Yan. Setiap hari dia mengurung diri di surau. Melantunkan zikir yang entah apa maksudnya. Lalu malam hari dia ngelantak mengitari kampung, sambil mengoceh sendirian,” lapor sepupuku, Togar. “Bahkan Nande-nya pun sudah tak sanggup melihat kelakuan anaknya itu.”
“Memangnya apa sih, Gar, yang dia lakukan? Kok sampai begitu?” tanyaku heran. Maklum, aku sudah empat tahun tidak pulang ke kampung ini.
“Dia ikut suluk di surau Haji Ahmad. Padahal orang-orang tua sudah bilang bahwa anak muda macam kita ini, belum boleh ikut suluk. Masih banyak keinginan duniawi, begitu katanya,” jelas Togar bersemangat. “Tapi si Ucok keras kepala. Ikut juga dia suluk 40 hari itu. Akibatnya, sakit saraf lah dia! Majedup kata orang-orang!”
“Hus! Maseh ngerana! Terdengar orang nanti, bisa celaka kau! Kecilkan dikit bicara kau itu!” kibasku mengingatkan.
Tapi aku jadi berpikir juga. Surau Haji Ahmad? Haji Ahmad yang telah meninggal puluhan tahun silam itu? Ya, aku sering mendengar nama itu. Beliau dikenal sebagai tokoh tarekat yang konon telah mencapai maqam wali. Tentunya dengan berbagai macam karomah yang dimilikinya. Entah benar entah tidak, tak ada yang bisa memastikan.
Namun yang jelas orang-orang di kampung pernah bercerita bahwa semasa hidupnya, Haji Ahmad sering terlihat keluar dari suraunya dalam keadaan telanjang bulat. Entah apa maksudnya, tak seorangpun yang tahu. Konon pula tingkah ganjil seperti itu memang biasa dilakukan oleh seorang sufi. Bah! Aku sendiri merasa itu adalah kelakuan sufi yang konyol. Tidak pantas disebut sebagai wali Allah.
Tapi kenyataannya, sampai sekarang masih banyak orang yang datang berziarah ke makamnya. Juga mengambil tarekat di surau tersebut.
“Masa sih, Gar, Ucok seperti itu?” Aku masih tak percaya.
“Bah! Semua orang di kampung ini pun sudah taunya itu! Kawan kau itu cuma bikin malu kita saja! Di kampung ini kan cuma keluarga kita dan keluarga dia saja kalak Karo yang Muslim. Bisa dicibir kita sama kalak Karo yang lain! Jadi Muslim kok malah gila!” Togar nampak kesal, suaranya jadi kian keras.
Aku yang akhirnya diam, sibuk memikirkan apa yang sedang menimpa teman akrabku itu. Ya, aku dan Ucok sudah berteman sejak SMP. Tapi setelah tamat SMP, aku melanjutkan SMA di Jakarta dan sekarang kuliah di Bogor. Sementara Ucok, setamat SMP hanya membantu-bantu Nande-nya di ladang. Sebab untuk melanjutkan sekolahnya tidak ada biaya. Maklum, Bapaknya telah lama meninggal.
“Hei! Kau masih dengar aku tidak? Mekkir kau lalap! Mentang-mentang mahasiswa,” sentak Togar mengagetkanku. Aku mendelik kesal pada sepupuku itu. Apa dia tidak tahu kalau aku sedang memikirkan nasib sahabatku?
@@@
Siang itu Togar menemaniku ke rumah Ucok. Kami sengaja menempuh jalan kampung agar bisa sampai lebih cepat. Tapi sebelum sampai ke rumah sahabatku itu, langkah kami terhenti mendadak. Bagaimana tidak, di pinggir jalan kampung yang lengang itu, kami melihat Ucok sedang memanjat sebatang pohon yang cukup tinggi. Lalu duduk di salah satu cabangnya yang paling besar.
Dengan kepala manggak ke langit, sahabatku itu mulai menceracau. “Aku rindu pada-Mu, Tuhan! Tolonglah tunjukkan wujud-Mu padaku! Dimana Engkau berada wahai, Kekasih?” serunya cukup keras.
“Huahaha.., inilah yang membuat perutku geli minta ampun! Kawan kau itu selalu mencari tahu dimana Tuhan berada. Mungkin dipikirnya Tuhan sedang bersantai di pucuk pohon itu,” kata Togar tertawa ngakak.
“Kau ini! Malah ketawa. Kasihan dia!” Aku melotot ke arah sepupuku itu.
“Bagaimana tidak ketawa? Gayanya yang bak penyair itu sangat lucu. Dia lebih lucu dari Ketoprak Humor yang di TV itu,” jawab Togar masih mengumbar tawa.
Aku menarik napas, kembali mengamati Ucok yang kian asyik di atas sana.
“Wahai, Rasulullah yang mulia! Dimanakah dikau kini? Aku rindu menatap wajahmu yang bak bulan purnama, rindu mencium tubuhmu yang seharum kesturi. Aku rindu…, sangat merindu!” serunya lagi setengah meratap. Lalu sesaat kemudian kulihat ia tertunduk dalam dengan bahu terguncang. Seperti menangis sesegukan.
“Ya, Allah…, apa yang menimpanya?” gumamku iba.
“Yang pasti dia sedang berkelana, mencari Tuhan. Seperti seorang Arjuna yang sedang mencari cinta,” komentar Togar terkikik. Aku kembali melotot. Anak ini benar-benar tidak punya rasa kasihan. Bah!
“Jangan menatapku macam itu, sepupu! Kau jadi kasihan karena kau baru kali ini melihatnya. Sedang aku sudah hampir enam bulan melihat kawanmu itu begitu. Jadi sudah biasalah. Malah kadang menghibur juga kurasa. Wadaawww..!!” Kusikut keras perutnya. Bicara kok tidak mikir, rutukku dalam hati.
“Kasihan! Anak ah enggo mering. Kapate kita ngenehen ia. Itulah akibatnya kalau salah menjalankan agama. Bisa majedup.” Tiba-tiba seorang lelaki tua berhenti di dekat kami seraya berkomentar iba. Aku dan Togar hanya mengangguk kecil. Setelah itu ia melanjutkan langkahnya, menyusuri jalan kampung yang lengang. (lagi…)
Posted in mediAAksara | No Comments »
Senin, Januari 11th, 2010 |
“Ini berbahaya, Niang! Apalagi Uniang sudah berumur,” ujar Naih khawatir. Tangannya yang sejak tadi melinting-linting daun enau berisi tembakau terdiam sejenak.
“Berumur, berumur! Kau menghina aku, Naih?!” seru Uniang Juwai berang. Wajahnya memerah karena tersinggung. Ia tahu kalau dirinya sudah tua, tapi jika ada yang mengatakan secara terang-terangan seperti itu, ia tetap tidak bisa terima. Sekalipun yang mengucapkannya adalah Naih, adik kandungnya sendiri.
Bukan apa-apa, selama ini perempuan berumur lebih dari setengah abad itu selalu berusaha tampil semuda dan secantik mungkin. Bahkan terakhir ia diprotes anak-anaknya karena memangkas rambutnya yang mulai beruban itu hingga sebatas bahu. Sungguh kurang pantas terlihat apalagi untuk ukuran kampung tempat tinggal mereka. Tapi Uniang Juwai tak peduli. Ia malah sangat puas dengan penampilan barunya itu. Jika orang-orang seusianya memiliki bibir merah karena mengunyah sirih, maka Uniang Juwai lebih canggih, ia memakai gincu alias lipstik. Meski murahan tapi setidaknya itu lebih hebat dibanding yang lain.
“Bukan begitu maksudku, Niang. Uniang kan saudaraku satu-satunya, wajar kan jika aku khawatir?” jawab Naih sambil mulai mengisap kretek daun enaunya dalam-dalam.
“Kalau memang kau masih merasa sebagai adikku, maka turuti semua yang kukatakan!”ketus Uniang Juwai seraya memperbaiki simpuhnya.
Naih terdiam, seperti berpikir keras.
“Kau keberatan?” tanya Uniang Juwai dengan kerlingan curiga.
Naih menggeleng. “Bukan begitu. Aku memang dukun, Niang. Tapi untuk memasang jimat pamanih itu di tubuh Uniang, terus-terang saja aku ragu. Tidak saja karena usia Uniang yang sudah melewati batas, tapi juga karena syarat dan resikonya yang berat.”
“Sekali lagi kuingatkan, jangan menyebut-nyebut soal umurku! Apa kau tidak dengar, Naih?! Aku tidak suka!” bentak Uniang Juwai dengan mata nyalang.
“Iya, iya. Tapi itu memang berkaitan dengan permintaan Uniang. Adalah kewajibanku mengingatkan.” Lelaki bernama Naih itu membela diri.
“Tapi tidak perlu sering-sering kau ulang! Aku tahu kalau aku sudah tua!” sengit Uniang Juwai marah. “Sekarang yang penting adalah, kau mau atau tidak?!”
Naih menarik napas agak panjang. Kumis dan cambangnya yang berantakan bergerak-gerak seirama dengan gigitan gusarnya pada daun enau yang terselip di bibirnya. Sesekali giginya yang menghitam karena candu tembakau menyembul di antara celah bibirnya yang juga menghitam.
“Kalau kau tidak mau, maka tidak usah memanggilku Uniang lagi! Anggap saja aku sudah mati!” kata Uniang Juwai lagi bersungut.
Naih menoleh terkejut. Ancaman kakaknya itu terdengar serius. Dan jika itu benar, maka alamat ia akan kehilangan sumber keuangan. Selama ini, Uniang Juwai lah tempat ia begantung, yang paling rajin memberinya uang. Perempuan berusia 55 tahun itu memang tak pernah pelit soal uang. Mungkin karena ia termasuk orang kaya di kampung itu dan Naih adalah satu-satunya saudara yang ia miliki.
Selain itu, Uniang Juwai juga sering memanfaatkan profesi Naih sebagai dukun kampung untuk kepentingan-kepentingan pribadinya, termasuk memantra-mantrai harta kekayaannya agar terus bertambah dan terhindar dari bahaya rampok atau maling. Juga untuk menjaga agar suami barunya tak melirik perempuan lain. Naih sendiri tidak tahu, apakah mantra-mantra yang diucapkannya itu memang ada pengaruhnya atau tidak.
“Baiklah,” akhirnya Naik bersuara juga. “Tapi sebenarnya apa yang membuat Uniang mengambil keputusan ini? Bukankah Wan Madi itu cukup baik dan tidak pernah macam-macam?”
“Uwan-mu itu memang tak pernah macam-macam. Tapi bukan cuma itu masalahnya! Apa kau tidak lihat, di kampung ini sekarang banyak bermunculan janda-janda baru yang umurnya masih sangat muda-muda? Aku tidak mau uwan-mu itu sampai membanding-bandingkan aku dengan mereka. Jadi kupikir, lebih baik aku berjaga-jaga sebelum hal buruk itu terjadi,” jawab Uniang Juwai.
“Mm… begini saja,” kata Naih setelah berpikir sejenak. “Bagaimana kalau jimat yang Uniang minta itu tidak ditanam di badan, tapi di dalam rumah saja.”
“Tidak! Aku tidak mau!” sentak Uniang Juwai. “Jimat yang ditanam di badan lebih awet dan lebih jelas khasiatnya.”
“Tapi syarat dan resikonya lebih besar juga, Niang!”
“Aku tidak peduli! Soal syarat, itu urusanku. Aku yang akan memenuhi! Dan soal resiko, itu urusanmu sebagai dukun. Kau yang bertanggungjawab atas keselamatanku!” Mata Uniang Juwai membesar.
“Tapi tidak bisa begitu, Niang! Jika terjadi apa-apa, tetap saja Uniang yang akan celaka,” Naih berusaha meyakinkan.
“Cukup, Naih! Percuma kau jadi dukun bertahun-tahun jika tak bisa menyingkirkan resiko-resiko keparat itu dari uniang-mu ini!”
“Tapi, Niang…”
“Sudah! Aku mau pulang! Besok aku akan kembali kemari dan kau sudah harus menyiapkan jimat itu!” Uniang Juwai langsung bangkit dari duduknya dan melangkah cepat menuruni tangga rumah Naih.
Tinggallah Naih dengan pikiran yang kusut. Sungguh ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Kakak perempuannya itu terlalu keras untuk dilawan. Dan Naih, selalu tak kuasa menolak apapun perintahnya. Selalu patah lidah jika berdebat dengan Uniang Juwai.
@@@
“Naih! Naih!” panggil Uniang Juwai di depan tangga rumah Naih. Pintu dan jendela rumah Naih yang masih tertutup menandakan bahwa penghuninya belum bangun. Hari memang masih pagi, tapi Uniang Juwai sudah tidak sabar untuk melihat hasil kerja Naih. Tepatnya, ia sudah tak sabar untuk dipasangakan jimat pemikat itu di tubuhnya.
“Naih! Sudah bangun kau, Naih?”
Tak ada sahutan.
“Jangan-jangan masih mendengkur si Pemalas itu!” gerutu Uniang Juwai sambil bergegas menaiki tangga. Didorongnya pintu rumah Naih dengan kuat. Tidak terkunci. Rumah itu terasa pengap dan gelap. Dengan agak meraba-raba Uniang Juwai membuka jendela.
“Hei! Kenapa kau, Naih?” seru Uniang Juwai heran. Naih tampak tidur bergelung kain sarung di atas kasur tipisnya.
“Ada apa denganmu, ha?” Uniang Juwai menggoyang-goyang tubuh adiknya itu dengan agak keras.
“Aku sakit, Niang,” jawab Naih lemah.
“Berarti jimat itu belum kau kerjakan?” selidik Uniang Juwai, tetap tak lupa dengan tujuan awalnya.
Naih menelan ludah. Ternyata kakaknya itu lebih memikirkan jimat pesanannya dibanding keadaan dirinya yang sedang sakit. Tepatnya pura-pura sakit, demi menghindari urusan jimat pesanan kakaknya itu.
“Sudah. Semalaman aku mengerjakannya,” jawab Naih kemudian dengan suara pelan.
Wajah Uniang Juwai menyeri lega. “Syukurlah. Berarti kau hanya kelelahan karena bergadang semalaman. Tapi kau tetap bisa memasang jimat itu, kan?”
“Dalam keadaan sakit begini?” Mata Naih mengerjap kaget.
“Apa salahnya? Ini kubawakan nasi untukmu. Setelah makan nanti, kau akan merasa lebih sehat. Ayo, makan!” ujar Uniang Juwai sambil membantu Naih bangun. Lelaki berusia 40 tahunan itu lagi-lagi hanya bisa menurut.
Naih tampak terpaksa menghabiskan nasi yang dibawakan kakaknya. Sebenarnya ia memang sangat lapar tapi karena pikirannya terus tertuju pada jimat pemikat itu, seleranya seakan hilang.
“Nah, sekarang bagaimana?” tanya Uniang Juwai setelah Naih menyelesaikan suapan terakhirnya.
“Agak baikan,” jawab Naih singkat.
“Apa kubilang, kau pasti akan lebih sehat. Kau hanya kelelahan.”
“Niang, apa tidak sebaiknya jimat itu dipasang besok saja?” tanya Naih menawar.
“Kenapa?” Kening Uniang Juwai mengerut.
“Aku khawatir tidak bisa konsentrasi memasangnya. Tangan dan tubuhku masih gemetar. Aku harus sembuh dulu, Niang.” Naih melilitkan lagi kain sarungnya.
“Sembuh dulu? Kapan itu?” Uniang Juwai langsung terlihat gusar.
“Mudah-mudahan besok sudah sembuh,” jawab Naih sambil memandang Uniang Juwai memelas, mohon pengertian. “Sebab jika salah pasang, bisa-bisa Uniang malah kelihatan makin buruk dan tua.”
Uniang Juwai terkesiap.
“Aku serius, Niang. Sabarlah sedikit lagi,” kata Naih meyakinkan.
Akhirnya Uniang Juwai terpaksa menerima. “Baiklah. Tapi besok kau sudah harus sembuh. Aku tidak mau menunggu lagi!”
“Iya, aku janji.”
@@@
Keesokan harinya Uniang Juwai kembali ke rumah Naih, dan kali ini lebih pagi lagi. Tak lupa ia membawa sebuah rantang nasi untuk Naih, agar adiknya itu lebih bersemangat melaksanakan tugasnya.
“Kurasa sakitku ini agak lama, Niang. Soalnya aku kan jarang sakit,” kata Naih ketika Uniang Juwai sudah duduk di hadapannya.
“Jangan terlalu melebih-lebihkan, Naih! Kalau ingin bermanja-manja jangan denganku, tapi cari istri!” sembur Uniang Juwai gemas.
Naih meringis. “Kalau aku punya istri, aku tak kan mau lagi jadi dukun. Aku juga tak kan menggantungkan hidupku lagi pada Uniang. Aku akan bekerja keras demi anak dan istriku.”
“Hah! Kenapa baru sekarang kau punya pikiran seperti itu, Naih?” Uniang Juwai tak kuasa menahan tawanya.
“Kenapa Uniang tertawa?” Naih memandangnya tak suka.
“Jika suratan tanganmu memang hanya jadi dukun kampung, maka itulah yang akan kau jalani seumur hidup. Dan jika suratan tanganmu pula menjadi bujang lapuk, maka selamanya kau akan jadi bujang lapuk. Naih, Naih, berangan-angan sajalah kerja kau!” Uniang Juwai tersenyum mengejek sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Uniang jangan asal bicara! Aku memang tak punya apa-apa sebagai modal hidup selain berdukun, tapi Uniang juga lihat diri Uniang sendiri!” Naih tampak tersinggung.
“Kenapa dengan aku?”
“Apa Uniang tidak sadar dengan umur? Sebentar lagi mau masuk liang kubur tapi masih sibuk dengan penampilan. Yang namanya umur, jika sudah tua, tetap saja tua! Mana bisa dirubah jadi muda! Dan yang namanya wajah, jika memang sudah buruk dari sananya, maka akan tetap saja buruk selamanya!”
“Kurang ajar kau, Naih! Tak kuberi uang lagi, baru tahu rasa kau!” bentak Uniang Juwai dengan mata nyalang.
“Uniang yang memulai! Meski aku orang miskin, tapi aku tidak sudi dihina terus!” Naih tak mau kalah. Sebagai laki-laki, harga dirinya tersentil juga oleh kata-kata kakaknya yang kasar itu. Seperti Uniang Juwai yang begitu marah jika soal umurnya disebut-sebut, maka bagi Naih soal julukan bujang lapuk itu adalah hal yang paling sensitif untuk diungkit-ungkit.
Ia pun tak peduli ketika Uniang Juwai bergegas bangkit sambil kembali meraih rantang nasinya dengan gerakan kasar. Rantang yang belum sempat disentuh oleh Naih.
“Jadi kau benar-benar tidak mau memasang jimat itu untukku?” tanya Uniang Juwai di dekat pintu. Naih hanya diam sambil membuang muka. Rupanya ia masih marah.
“Baiklah. Tapi kau tidak akan kubagi hasil penjualan durian dekat bukit!” ancam Uniang Juwai sambil bergegas turun. Terus-terang ia masih penasaran pada jimat itu dan berharap Naih mau mengalah.
“Aku akan memasangnya jika hasil panen cengkeh tempo hari juga Uniang bagi denganku!” seru Naih dari atas rumahnya. Kepalanya tampak menjulur sedikit di sudut jendela. Rupanya jiwa parasit Naih terusik juga.
Uniang Juwai memandangnya dari halaman dengan wajah agak kecut. “Kau boleh ambil nanti petang di rumahku. Tapi ingat, setelah itu jimat itu harus kau pasang!”
“Tinggalkan juga rantang nasi itu!”
Uniang Juwai melengos jengkel, merasa dipermainkan oleh adiknya sendiri. Tapi ia tak lagi berkata apa-apa selain meletakkan rantang nasi bawaannya itu di atas anak tangga paling bawah. Setelah itu ia kembali melanjutkan langkahnya dengan agak menghentak. Diam-diam Naih menarik senyum penuh kemenangan.
@@@
“Uniang benar-benar sudah siap?” tanya Naih sambil memegang sebuah jarum yang disebutnya jimat pamanih itu.
“Siap apalagi? Sudah dari bulan lalu aku siap!” Uniang Juwai yang duduk bersimpuh membelakanginya menjawab tak sabar. “Semua syarat yang kau minta juga sudah kupenuhi. Habis sudah uangku!”
“Tapi pemasangan jimat ini sangat sakit. Uniang tak boleh menjerit,” kata Naih lagi sambil mencelupkan jarum di tangannya ke dalam segelas air.
“Kata orang-orang kenapa tidak sakit? Malah katanya tak terasa sama sekali.”
“Kan aku sudah bilang, umur Uniang sudah tak memungkinkan lagi.”
“Sudah! Sudah! Lagi-lagi umur yang kau bicarakan! Sekarang cepat pasang! Aku tak peduli mau sesakit apapun!” Wajah Uniang Juwai memerah menahan kesal.
Akhirnya dengan sedikit mantra-mantra, mulailah Naih menusukkan jarum itu ke bagian kuduk kakaknya. Tapi baru dua detik, Uniang Juwai sudah menjerit.
“Kau ingin membunuhku, ya?!” serunya lantang.
“Kan aku sudah bilang, ini memang sakit sekali.” Naih yang duduk menghadap ke punggung kakaknya membela diri.
“Apa tidak ada penawar rasa sakitnya? Itu air apa? Bukannya air penawar rasa sakit?” Uniang Juwai menunjuk air dalam gelas yang tadi dijadikan Naih untuk mencelup jarum.
“Itu air penguat, agar jimat ini tahan sampai bertahun-tahun,” jelas Naih.
Akhirnya Uniang Juwai tak bisa berbuat apa-apa selain diam menahan sakit saat jarum itu kembali ditusukkan ke kuduknya. Detik demi detik pun berlalu. Namun ternyata Uniang Juwai tak sekuat yang dibayangkannya. Beberapa saat kemudian ia sudah kembali menjerit.
“Aku tak tahan lagi! Jarum itu benar-benar celaka!” umpat Uniang Juwai sambil meraba kuduknya yang mulai meneteskan darah. Di sana masih tertancap sebuah jarum ukuran sedang. “Cepat cabut jarum itu dari kudukku!”
Naih buru-buru mencabut jarum itu disusul jeritan keras Uniang Juwai, lalu langsung memasukkan jarum itu ke dalam gelas berisi air di sampingnya.
“Aku minta kembali semua uangku yang kau jadikan syarat itu! Percuma saja kerjamu! Aku tak sudi lagi meminta jimat darimu!” hardik Uniang Juwai marah. Setelah itu ia cepat-cepat pergi meninggalkan rumah Naih. Sebelah tangannya masih tampak mengusap-usap kuduknya yang sakit.
Naih memandang kepergian kakaknya dengan seulas senyum puas. Sungguh ia sendiri tak pernah mengerti kenapa nasib mengantarnya pada profesi dukun seperti sekarang. Sekadar membaca-baca mantra dan memberi air penawar mungkin masih bisa ia lakukan karena itu tak beresiko apa-apa. Jika pun gagal, Naih punya segudang alasan untuk membela diri.
Tapi untuk memasang jimat pemikat di tubuh seperti permintaan kakaknya? Sungguh Naih jadi kelimpungan. Ia tak pernah tahu-menahu cara memasangnya dan ia juga takut dengan resikonya. Bagaimana jika terjadi infeksi atau bahaya lainnya? Bisa-bisa hidupnya berakhir di penjara.
Dan jika memang ia mampu membuat jimat pemikat, untuk apa ia repot-repot memberikannya pada orang lain? Bukankah ia sendiri lebih membutuhkan jimat itu untuk mendapatkan seorang istri? Setidaknya agar julukan bujang lapuk yang menyebalkan itu segera enyah dari dirinya. Tapi apa daya seorang Naih? Ia selalu saja lebih suka tidur sampai siang, mengandalkan isi perutnya dari pemberian Uniang Juwai, dan mengisi hari-hari dengan berangan-angan kosong.
“Air penguat…” gumam Naih sambil mengangkat gelas di sampingnya. Hatinya terasa geli. Sebab air dalam gelas itu hanya air cuka untuk lebih menimbulkan rasa sakit. Dengan begitu, Uniang Juwai pasti tak kan mampu bertahan lama. Dan ia telah berhasil. Berhasil bebas dari keinginan kakaknya yang aneh-aneh itu.
Tapi kapan ia akan berhasil bebas dari statusnya sebagai parasit yang penuh angan-angan, sebagai dukun tanpa masa depan, dan sebagai bujang lapuk tanpa harapan? Sungguh Naih tak punya jawaban apa-apa, hanya matanya yang terus memandangi jarum di dalam gelas itu dengan tatapan nanar. Dan seulas senyum kemudian terukir di bibirnya yang kering menghitam, senyum yang kali ini terlihat getir. (V)
Niang, Uniang=kakak (perempuan)
Wan, Uwan=kakak (laki-laki)
Pamanih=pemanis, pemikat
Note: Cerpen ini telah dimuat dalam buku antologi bersama yg berjudul Bulan Kertas diterbitkan oleh FBA Press.
Posted in mediAAksara | No Comments »
Minggu, Januari 3rd, 2010 |
Perempuan itu menatap foto buram yang tergantung di dinding. Entah sudah berapa kali foto itu ditatapnya, namun tetap saja ia tak jemu-jemu. Seolah-olah ia baru pertama kali melihatnya. Berulangkali pula jemarinya yang mulai keriput mengusap kaca pigura ukuran 10 R tersebut, seakan tak rela secuil debu pun menempel di sana.
“Maafkan aku, Sutan. Aku tidak bisa percaya padamu karena ternyata dia tak pernah lagi kembali,” bisiknya parau. Ah…, ia menghela napas panjang, seperti ingin meluahkan segala sumbat yang menyumpal di tenggorokannya.
“Aku sudah tak berharap lagi…” Kali ini keparauan itu berujung sedu. Ia sudah tak kuasa menahan air bening yang merembes di pelupuk matanya.
Ia hempaskan tubuh rentanya di atas kursi rotan yang tak kalah renta pula. Suara deritnya seperti mengejek duka perempuan itu. Namun ia tak peduli. Jangankan kursi tua itu, seluruh alam bahkan sudah mengejeknya, mengatakan dirinya gila. Dan ia sudah tak pernah peduli dengan semua itu.
“Kau perempuan yang tak tahu menjaga kehormatan! Tak pantas jadi ibu bagi cucu-cucuku!” Makian Tuangku Bijo, ayah mertuanya, masih terus terngiang di telinganya. Dan bayang-bayang silam itu kini seakan mengepungnya, mengaraknya untuk kembali ke masa 30 tahun yang lalu.
@@@
“Damiah! Aku tidak percaya kalau si Jamal itu adalah anakku! Kau pasti telah menghianatiku!” Kalimat pedas itu meluncur dari mulut Angku Banso, suami Damiah.
“Apa maksud, Angku?” Damiah terdongak kaget.
“Masih mau bertanya? Masih pura-pura tidak tahu? Kau telah mengkhianati aku selama aku berada di Pasaman!” Mata Angku Banso membesar, penuh amarah.
Damiah tertegun. “Berkhianat dengan siapa? Sedikitpun saya tidak…”
“Aaah, sudah! Tidak usah mengelak, Damiah! Kau telah merusak rumah tangga kita. Jadi jangan salahkan aku jika mulai detik ini kau bukan istriku lagi! Kau kutalak tiga!”
Petir menyambar jiwa Damiah. Melalap segala harapan di hatinya serta menghanguskan semua kedamaian yang ia rasakan. Untuk beberapa menit ia hanya mematung, menahan oleng yang tiba-tiba datang. Napasnya tertahan di tenggorokan, akibat guncangan di dadanya yang begitu hebat.
Ya, kalimat Angku Banso itu bukanlah kalimat main-main. Tak ada kalimat yang lebih serius dari pada sebuah pernyataan talak dari seorang suami. Talak tiga! Dua kata itu telah menutup pintu harapannya. Siapa lagi yang bisa menyatukan mereka jika talak telah jatuh tiga. Alamat bahtera akan ia layarkan sendiri. Atau akan karam dihempas gelombang. Jika di dunia ini memang ada neraka, maka neraka itulah yang kini sedang bergejolak di depannya.
Damiah benar-benar tidak percaya suaminya tega menuduh sekejam itu. Justru di saat mereka telah dikaruniai tiga orang anak. Mengapa tiba-tiba Angku Banso mengingkari Jamal sebagai darah dagingnya? Jamal yang kini sudah berumur empat tahun, usia dimana ia mulai mengenali siapa ayah dan ibunya. Ya, suaminya memang pernah pergi ke Pasaman beberapa bulan saat ia mengandung putra bungsu mereka. Tapi mengapa baru sekarang suaminya membantah hal itu? Mengapa tidak ketika ia mengandung Jamal dulu?
Dan apalah daya seorang perempuan lemah semacam Damiah? Anak seorang lelaki buta yang telah lama jadi piatu. Ya, perempuan itu hanya bisa menerima nasibnya dengan hati hancur. Dan semakin hancur ketika putra bungsunya bertanya, mengapa ayahnya tak pernah pulang lagi? Mengapa ayahnya tak pernah memberinya uang jajan seperti anak-anak yang lain? Dan mengapa ayahnya tak pernah memangku atau memanggulnya di pundak seperti yang dilakukan ayah teman-temannya? Mengapa? Mengapa?
Semua pertanyaan itu hanya dijawab Damiah dengan mata berkaca-kaca. Ya, Damiah tak pernah bisa menjelaskan semua itu pada si Bungsu. Sebagaimana ia pun tak bisa menjelaskan mengapa Zamri dan Warman, kedua abangnya, diperlakukan berbeda oleh ayah mereka. Mengapa Zamri dan Warman sering diajak ke rumah Datuk mereka, yaitu Tuangku Bijo? Sementara ia hanya diajak Damiah ke rumah Datuknya yang buta.
Rentetan pertanyaan itu senantiasa terlontar sebelum kemudian diredam Damiah dengan seribu satu alasan. Damiah memang tak bisa berbuat apa-apa. Pun ketika bekas suaminya itu menikah lagi, empat bulan setelah ia ditalak. Angku Banso telah menikahi seorang gadis dari kampung sebelah. Gadis dengan tubuh semampai dan wajah rupawan.
Ah, Damiah seakan tertikam untuk kedua kalinya. Gadis yang dinikahi Angku Banso itu tak lain adalah perempuan yang dulu diisukan orang-orang sebagai kekasih gelap Angku Banso. Tapi Damiah selalu membela suaminya di depan orang-orang itu, bahwa Angku Banso tidak mungkin sebejat itu.
Dan kini, setelah bekas suaminya menikahi gadis itu, barulah gejolak amarah itu muncul di hatinya. Gejolak yang kemudian menggumpal menjadi dendam. Ya, dendam yang terus ia simpan sampai kemudian seorang lelaki terpandang bernama Sutan Malin datang padanya.
“Saya sungguh-sungguh, Damiah. Saya tidak memandangmu sebagai seorang janda, tapi saya memandangmu sebagai seorang perempuan berhati mulia. Perempuan setia yang telah dizalimi oleh suaminya sendiri,” kata Sutan Malin sungguh-sungguh.
Damiah terpana. Seorang janda beranak tiga dilamar oleh seorang perjaka terpandang? Sungguh, ia tak percaya.
“Saya tidak akan meminta jawaban secepatnya. Saya akan sabar menunggu sampai kau benar-benar yakin dengan keputusanmu.” Senyum teduh di bibir pemuda itu seakan meluluhkan jiwa Damiah.
“Sutan…” Suara Damiah bergetar. “Saya tidaklah sebaik yang Sutan kira. Hati saya telah dilumuri dendam. Dendam pada bekas suami saya! Saya bukan orang yang layak berada di sisi Sutan.”
Sutan Malin tersenyum arif. “Damiah, saya mengerti. Saya juga yakin, dendam di hatimu tidak akan bertahan selamanya sebab kau tidak pantas memiliki sifat yang keji itu.”
Damiah menunduk dalam. Alangkah ia merasa tersanjung mendengar kalimat itu. Alangkah semua ini seperti mimpi baginya.
“Pikirkanlah, Damiah. Saya akan…”
“Bukan saya yang harus memikirkannya, Sutan. Tapi Sutan lah yang harus berpikir lagi. Jangan sampai Sutan menyesal kelak,” sahut Damiah cepat.
Mata Sutan Malin membulat. “Apakah itu artinya kau tidak keberatan, Damiah?”
Damiah menghela napas panjang sebelum kemudian menunduk dalam.
@@@
“Kau adalah seorang janda, Damiah. Kau lebih berhak memilih pasangan hidupmu selanjutnya. Meskipun mata Ayah buta, namun hati Ayah bisa melihat bahwa lelaki itu adalah orang yang baik,” ujar ayah Damiah bijak. Damiah menatapnya haru. Alangkah sifat arif dan bijak ayahnya tak pernah pudar ditelan masa. Matanya memang buta, tapi hatinya tidak. Dan memandang raut teduh di hadapannya itu, Damiah pun tak lagi ragu-ragu. Ia siap membangun bahtera yang baru dan melayarkannya bersama Sutan Malin.
@@@
Haripun berganti minggu, dan minggupun berganti bulan. Pernikahan kedua Damiah telah membuat perempuan itu seperti menghirup udara segar kembali, setelah tersekap lara selama hampir dua tahun. Namun prahara memang tak pernah usai. Angku Banso kembali hadir mengusik ketenangannya.
“Ho, rupanya dia lelaki yang dulu mencuri kesempatan dariku!” Sinis nada bicara lelaki itu. “Dialah rupanya ayah dari si Jamal. Huh, hebat sekali kau, Damiah. Bisa memikat pemuda terpandang di kampung ini!”
Damiah menatapnya tajam, menahan emosi di dadanya.
“Apakah kau sudah katakan pada si Jamal bahwa lelaki munafik itulah ayahnya?”
“Cukup, Angku! Jangan mencoba merusak rumah tanggaku! Sudah sangat jelas bahwa kaulah pengkhianat itu! Aku memang bodoh telah mempercayaimu!” geram Damiah dengan muka merah padam.
“Hm, sudah bisa melawan kau rupanya sekarang, sejak dapat suami orang terpandang. Baiklah, aku akan pergi. Tapi jangan lupa katakan pada anak harammu itu bahwa ayahnya yang sebenarnya adalah Sutan Malin. Bukan aku!” Angku Banso tersenyum licik sebelum menuruni tangga.
Damiah terkesiap. Wajahnya langsung pucat ketika mendapati Jamal telah berdiri di belakangnya. Anak lelakinya yang kini sudah berusia tujuh tahun itu menatapnya tak berkedip.
“Jamal…?” Damiah mendekat, merunduk di samping bocah itu dengan perasaan tak menentu.
“Anak haram itu apa, Bu? Mengapa Ayah mengatakan Jamal anak haram?”
Damiah kian terkesiap. “Tidak, Nak! Kau bukan anak haram. Jangan hiraukan kata-kata ayahmu itu! Suatu saat nanti kau akan mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kau percaya pada Ibu, kan?”
Jamal hanya diam. Wajahnya menyiratkan rasa asing yang membuat Damiah merasa sangat bersalah. Dan rasa bersalah itu semakin menjadi ketika disadarinya Jamal kemudian tumbuh sebagai anak yang pendiam dan tertutup. Ya, ia lebih suka bermenung dan menyendiri. Perhatian yang dicurahkan Sutan Malin padanya tak membuat anak itu bergeming.
Masalah yang menggempur Damiah tak hanya itu. Sejak ia menikah lagi, Zamri dan Warman ikut berubah. Mereka kini lebih sering ke rumah ayah mereka. Jika dalam sepekan kedua anak itu tidak kesana, maka Angku Banso yang akan datang mencari mereka. Dan entah apa yang terjadi, yang Damiah tahu, kedua anaknya itu kini seakan membencinya. Membenci ibu mereka sendiri. Bahkan ketika Sutan Malin mencoba menasehati mereka, kedua anak lelaki yang mulai remaja itu malah membalas dengan makian.
Hingga suatu hari, Tuangku Bijo datang meminta Zamri dan Warman untuk tinggal bersamanya. Ayah mertuanya itu ingin mengasuh sendiri kedua cucunya.
“Kau perempuan yang tak tahu menjaga kehormatan! Tak pantas jadi ibu bagi cucu-cucuku!” sembur Tuangku Bijo kasar. Sia-sia Damiah membela diri dan mempertahankan anak-anaknya. Sutan Malin yang mencoba menengahi, malah ikut kena maki. Maka sadarlah Damiah, betapa lemahnya ia.
Kini Rumah Gadang itu terasa sangat sunyi. Damiah tidak pernah membayangkan jika setahun kemudian, anak yang tinggal satu-satunya, juga pergi meninggalkannya. Jamal, si Bungsu yang pemurung itu telah pergi entah kemana. Anak yang paling ia cintai itu tiba-tiba saja menghilang tak tahu rimbanya. Sutan Malin telah mencarinya kemana-mana, namun hasilnya nihil.
Damiah merasa dunia mulai gelap baginya. Kalimat-kalimat Sutan Malin yang menghibur tak lagi mampu membuatnya tersenyum. Bahteranya kembali oleng.
@@@
Perempuan itu beranjak menutup jendela, karena senja telah turun. Namun ia tetap membiarkan pintu masuk terbuka lebar. Kebiasaan yang membuat tetangga-tetangganya semakin yakin bahwa ia telah gila. Namun perempuan itu benar-benar sudah tak peduli.
Terngiang lagi ucapan Sutan Malin tiga tahun silam, sebelum suaminya itu berpulang dengan tenang. “Kau boleh menunggu Jamal sampai kapanpun, tapi jangan membiarkan angin malam masuk ke rumah, Damiah. Nanti kau makin sakit-sakitan. Aku tidak mau kau meninggal lebih cepat. Jamal pasti masih ingin bertemu dengan ibunya jika dia kembali kelak.”
Tapi apa yang kemudian terjadi? Sutan Malin malah meninggal lebih dahulu dari dirinya. Bahkan ia dengar, Angku Banso pun kini sedang terbaring sakit menunggu ajal. Mungkin sebentar lagi juga akan mati, tanpa didampingi oleh istri mudanya. Sebab perempuan bertubuh semampai itu telah lama pergi dengan lelaki lain yang lebih kaya.
Ya, semuanya begitu cepat berubah. Lalu buah hatinya? Sudah hampir lima belas tahun ia menghilang, namun sekalipun si Bungsu itu tak pernah datang. Dan Damiah telah letih menunggu.
“Sutan…” Perempuan itu kembali berdiri menghadap dinding, mengusap foto buram Sutan Malin yang tergantung di sana. “Aku sudah tak percaya lagi pada kata-katamu. Mengapa tidak kau katakan saja bahwa kau hanya ingin menghiburku?”
“Tahukan kau, Sutan, dia tak pernah ingin bertemu lagi denganku. Sama seperti Zamri dan Warman, mereka tak lagi menganggapku sebagai ibu mereka.” Mata perempuan itu kembali berlinang. Ia menangkupkan mukanya ke dinding dengan bahu yang mulai terguncang sedu. Ah, sungguh harapan itu benar-benar telah menguap dari hatinya. Andai saja bunuh diri bukan suatu dosa, telah lama ia ingin menyusul Sutan Malin ke alam baka.
“Kata siapa aku tidak ingin bertemu Ibu lagi? Ini aku pulang.”
Perempuan itu kian merapatkankan wajahnya ke dinding. Suara si Bungsu yang menyusupi gendang telinganya barusan bukan kali pertamanya ia dengar. Suara-suara yang hanya lahir dari sebuah halusinasi seorang perempuan tua yang kesepian. Dan ia tahu, semua itu hanyalah hiburan yang muncul dari alam bawah sadarnya. Ya, ia memang selalu berharap Jamal datang dan mengucapkan kalimat itu padanya.
“Berpisah dengan Ibu telah membuatku sadar, betapa tidak dewasanya aku karena telah lari dari kenyataan. Aku telah berdosa karena membiarkan Ibu terluka. Bahkan…, aku tidak tahu bahwa Ayah telah meninggal. Meski aku tahu dia hanyalah ayah tiri bagiku, tapi aku mencintainya karena dia juga mencintai aku, Bu!”
Perempuan itu tersentak. Kalimat itu berbeda! Terdengar sendu dan lebih panjang dari biasanya. Ya, kalimat itu belum pernah melintasi halusinasinya. Cepat ia membalik. Dan perempuan itu kian tersentak mendapati satu sosok gagah berdiri di pintu masuk. Sosok yang kini menatapnya dengan binar kerinduan yang memancar nyata dari mata hitamnya.
“Bu…, saya Jamal!” Sosok tersebut mendekat.
Perempuan itu masih tak bergerak dari tempatnya. Tiba-tiba ia jadi ragu pada dirinya sendiri. Benarkah ia sudah gila seperti kata orang-orang? Sungguh, kini ia merasa sulit mempercayai penglihatan dan pendengarannya sendiri. Ah, pasti kali ini malaikat lah yang datang menghiburku, bisik hatinya yakin. Ia pun seperti mengingat-ingat sesuatu. Jika penglihatan dan pendengarannya sudah tak bisa dipercaya, maka ia harap ingatannya tidak keliru. Benarkah dari sepuluh nama malaikat yang ia hapal ketika kecil, salah satunya memang bernama Jamal? (V)
Note: Cerpen ini telah dibacakan dalam acara Temu Sastrawan Jakarta di Taman Ismail Marzuki dan telah dimuat dalam buku antologi cerpen Kota Bernama dan Tak Bernama yang diterbitkan oleh Bentang Budaya.
Posted in mediAAksara | 1 Comment »
Rabu, Oktober 21st, 2009 |
Begitu banyak teman-teman lama yang heran dan bertanya, kok saya bisa jadi penulis? Seolah-olah saya adalah penulis jadi-jadian hihihi… Pingin sebenarnya menjawab keheranan mereka dengan sebuah uraian panjang, kenapa saya akhirnya terjun ke dunia penulisan tapi sulit sekali menjelaskannya karena memang banyak sekali alasan yang ingin saya kemukakan (selain karena merasa belum pede disebut penulis).
Akhirnya dari pada pusing sendiri, saya tanya teman-teman penulis lainnya, apakah mereka memiliki alasan yang sama dengan saya. Ternyata mereka memiliki alasan yang jauh lebih beragam. Hingga otomatis alasan saya pun bertambah hehe…plagiator! Nah, bagi yang masih penasaran lebih baik simak alasan teman-teman saya yang sengaja nggak saya edit berikut: (lagi…)
Posted in mediAAksara | Comments Off
Minggu, September 13th, 2009 |
Larto masih bolak-balik di ruang depan. Lelaki 70 tahunan itu tiba-tiba berubah aneh sejak kemarin. Bejo, sampai heran melihat perubahan bapaknya itu.
“Saya lihat, dari kemarin Bapak tampak gelisah. Bapak memikirkan sesuatu?” tanya Bejo heran.
“Tidak!” jawab Larto cepat.
“Atau Bapak tidak betah di sini?” pancing Bejo lagi. Bapaknya itu memang baru dua minggu berada di Jakarta, sekedar ingin menjenguk Bejo yang telah dua tahun bekerja di kota metropolitan tersebut.
“Ora!”
“Lalu kenapa Bapak jadi aneh begitu?”
“Aneh bagaimana?” tanya Larto sambil mentap Bejo yang sedang menyetrika seragam kerjanya.
“Sejak pagi tadi saya lihat Bapak bolak-balik terus. Sebentar ke belakang, sebentar ke kamar, dan sebentar ke teras. Apa ada yang Bapak tunggu?” Bejo tak menghentikan kegiatannya. “Biasanya kan Bapak tidak begitu.”
“Biasanya? Biasanya kan kamu pergi kerja. Mana tahu aku suka mondar-mandir atau tidak!” jawab Larto agak ketus.
“Wah, kalau hari-hari biasa Bapak juga seperti ini, berarti itu sudah menjadi kebiasaan yang serius. Bisa jadi penyakit lho, Pak,” ujar Bejo dengan senyum ditahan.
“Ngawur kowe!” Larto setengah membentak. Dengan agak kesal ia pun melangkah cepat ke kamarnya, diiringi tatapan heran Bejo. Pemuda berusia 25 tahun itu menarik napas panjang, tak habis mengerti akan perubahan bapaknya yang mendadak itu. (lagi…)
Posted in mediAAksara | No Comments »
Rabu, September 9th, 2009 |
Hidup memang tak ada yang sempurna!
Seorang teman, sudah menikah tapi tidak dengan orang yang disukainya
Seorang teman, sudah menikah dengan orang yang diidamkannya tapi tak diterima oleh mertua
Seorang teman, sudah menikah tapi bertahun-tahun belum jua dikarunia keturunan
Seorang teman, punya suami tampan luar biasa tapi makan hati karena suaminya tak setia
Seorang teman, cantik dan pintar tapi susah menemukan pendamping hidup
Seorang teman, memiliki segalanya tapi miskin sanak saudara
Seorang teman, cerdas luar biasa tapi tak punya biaya untuk pendidikannya
Seorang teman, memiliki keluarga penyayang tapi ia malu karena kemiskinannya
Seorang teman, senantiasa mengeluh karena kekurangannya
Seorang teman, selalu bersyukur karena berharap ridho tuhannya
Seorang teman, menulis di catatannya bahwa hidup tak ada yang sempurna!
Taman Kedaung, Ramadhan 1430 H
Posted in mediAAksara | No Comments »
Selasa, September 8th, 2009 |
Saya bukan guru
Tapi mereka belajar dari saya
Saya bukan orang hebat
Tapi mereka belajar dari saya
Saya bukan orang sukses
Tapi mereka belajar dari saya
Mereka belajar dari kegagalan saya
Mereka belajar dari kesalahan saya
Mereka belajar dari kelemahan saya
Mereka belajar dari kekurangan saya
Mereka belajar dari saya
Agar mereka tak mengulanginya!
Taman Kedaung, Ramadhan 1430 H
qfapjzep4j
Posted in mediAAksara | No Comments »
Senin, September 7th, 2009 |
Gelanggang yang dibuka untuk memilih calon suami bagi Puti Nilam Cayo terlihat makin ramai. Dia adalah adik kandung Rajo Duo Baleh yang berkuasa di daerah Singkarak. Mereka yang hadir semakin penasaran, hingga kini, masih belum ada juga pemuda yang terpilih. Padahal sudah masuk minggu ketiga sejak gelanggang itu dibuka. Setiap yang ikut dalam gelanggang itu selalu saja mengalami kekalahan. Bukan kalah bertanding, tapi kalah berjudi dengan Rajo Duo Baleh. Dan hari ini mereka masih menanti munculnya seorang penjudi ulung yang akan menyunting Puti Nilam Cayo.
Ketika matahari naik sepenggalahan, tiba-tiba semua mata mengarah ke Timur. Ke arah munculnya seorang pemuda bertubuh gagah dan wajah tampan menawan. Beberapa perempuan saling berbisik tanpa mengalihkan pandangan mereka dari sosok yang baru datang itu. “Eh, siapakah pemuda tampan itu? Sepertinya hari ini gelanggang akan ditutup. Pemuda itu sangat cocok dengan Puti Nilam Cayo. Dia juga terlihat pintar, pasti bisa mengalahkan Rajo Duo Baleh.”
“Sepertinya begitu. Tapi siapa dia?” tanya yang lain.
“Masa kalian tidak kenal? Itu kan Magek Manandin, putra Datuak Bandaro dan Puti Linduang Bulan.” Seorang perempuan tua berbisik.
Mereka kian melongo. “Oh, benarkah dia Magek Manandin? Kemenakan Rajo Kuaso yang bertahta di daerah Sandiang Baka? Tapi bukankah dia sudah bertunangan dengan Puti Subang Bagelang, putri pamannya sendiri?”
“Benarkah? Lalu untuk apa lagi dia ikut di gelanggang ini?” (lagi…)
Posted in mediAAksara | No Comments »
Minggu, September 6th, 2009 |
Kami bertemu di sebuah situs pertemanan yang lagi banyak digandrungi saat ini. Awalnya sekadar saling komentar status, lama-lama kami jadi saling kirim pesan di inbox pribadi. Saling menanti komentar atau pesan pribadi, merasa dekat satu sama lain. Kalau akhirnya kami saling merindu tidak ada salahnya, bukan? Toh di statusnya dia belum menikah dan aku juga masih lajang.
Sampai akhirnya kami memutuskan untuk bertemu. Janji pun dibuat, berikut jam dan tempat yang tepat. Hm, apakah ini pertanda jodohku sudah dekat? Rasanya sudah bosan meniti hari-hari sendirian. Aku butuh seorang teman, seorang belahan jiwa yang siap saling berbagi. Ah, indahnya…
Akhirnya hari yang ditunggu itu datang juga. Sabtu sore, di sebuah food counter yang tidak terlalu ramai dan bernuansa romantis, aku menunggu lelaki itu. Lelaki yang sepakat memakai baju berwarna biru seperti yang kupakai saat ini. Warna kesukaan kami berdua. Hal lain yang membuat kami sama adalah keengganan untuk memasang foto secara jelas di jejaring pertemanan itu.
Aku memasang foto waktu ramai-ramai dengan temanku, hingga sulit melihat wajahku secara jelas. Kadang kuganti dengan foto ponakan yang lucu atau foto kucing kesayanganku. Sementara dia memasang foto waktu hiking, hingga sosoknya tampak sangat kecil di tengah pemandangan gunung dan hutan. Sudah kucoba memperbesar zoomnya tapi tetap tidak begitu jelas apalagi kepalanya ditutup topi gunung yang rapat. Hih, jadi penasaran deh! (lagi…)
Posted in mediAAksara | No Comments »
Rabu, September 2nd, 2009 |
Aku melewati rumah susun itu dengan langkah agak cepat karena hari sudah hampir Magrib. Dan tanpa bisa dicegah, mataku melirik ke arah jendela salah satu rumah susun yang sedang terbuka di lantai dua. Seperti biasa, aku kembali mendapati seraut wajah lelaki yang tengah menatapku dengan sorot matanya yang tajam. Ups! Aku cepat-cepat berpaling dan mempercepat langkahku melewati halaman samping rumah susun tersebut. Tatapan itu… kenapa membuatku gelisah?
Sudah lebih dua bulan aku melewati rumah susun itu jika hendak pergi dan pulang mengaji di hari Sabtu. Berarti jika dihitung-hitung, sudah lebih delapan kali aku melihat sosok itu berdiri di depan jendela rumahnya dan menatapku tak berkedip. Sosok yang tampak agak dekil dengan rambut gondrong sebahu. Rambut yang sedikit ikal dan terlihat kusut seperti jarang disisir.
Kadang, jika aku berjalan bersama teman-temanku yang lain, aku berusaha untuk tidak melihat ke atas. Namun tetap saja firasatku mengatakan bahwa ada seseorang yang tengah menatapku dari lantai dua rumah susun itu. Dan tetap saja kegelisahan itu mengekori perasaanku sampai pulang. Ah, sebenarnya siapa lelaki itu? Apa maunya menatapku sedemikian rupa? Aku benar-benar tak mengerti. (lagi…)
Posted in mediAAksara | No Comments »