Archive for the ‘curhaTTok!’ Category
Sabtu, November 21st, 2009 |
Siang itu, chat room kuaktifkan karena si kecil sudah tidur, jadi aku bisa ngobrol dengan teman-teman yang juga online. Biasanya kalau waktuku tidak begitu leluasa, maka chat room aku buat offline. Dan sebuah sapaan manis tiba-tiba muncul, ditambah sebuah smile icon yang berkedip-kedip. Aha! Sahabat lamaku!
Sambil tersenyum gembira, aku bertanya kabar dan kesibukannya saat ini. Sekadar pertanyaan ringan sebagai pembuka percakapan kami yang kuharap seru setelah lama berpisah. Dulu, kami sering berbagi cerita tentang apa saja sebelum akhirnya ia menikah dan diajak suaminya ke Surabaya. Setelah itu kami nyaris putus komunikasi.
“Aku single parent sekarang, Yaya,” tulisnya sembari menyebut nama kecilku yang lain. Jika kebanyakan temanku memanggilku Via atau Ia, dia selalu menyapaku Yaya.
Aku mengerutkan alis, urung memencet keyboard. Kutatap nama di monitorku dengan perasaan tak menentu. Ah, aku selalu begitu, serba salah ketika ada temanku yang ‘terpaksa’ mengatakan hal tak menyenangkan akibat harus menjawab pertanyaanku.
“Maksudmu…?” tanyaku mengambang.
“Aku yang memutuskan untuk berpisah dari suamiku.”
Aku bersabar, menunggu kelanjutan ceritanya.
“Mungkin satu-satunya yang tidak pernah aku ceritakan sama kamu selama kita bersahabat adalah sisi kelam hidupku, Ya. Dan kini aku akan menceritakannya, karena semua itu sangat berkaitan dengan perceraianku,” tulisnya. Aku merasakan nada getir disana. Ya, kegetiran yang sangat bisa kurasakan karena dia adalah salah satu sahabat terdekatku. Kami sama-sama merasa nyaman saat berdekatan dan merasa rindu saat berjauhan.
Tapi sisi kelam apa yang akan ia ceritakan padaku? Kenapa aku jadi begitu tegang menunggu kelanjutan ceritanya? Ya, Tuhan, semoga tidak seburuk yang kubayangkan.
“Pada saat umurku enam tahun, aku menemukan selembar foto yang terselip di ventilasi jendela rumah, entah siapa yang meletakkannya di situ. Sebuah foto yang mungkin menurut orang-orang dewasa belum berpengaruh apa-apa bagi anak sekecil aku. Tapi itu salah, otakku merekam jelas sebuah adegan intim di foto itu. Seorang laki-laki dengan dua orang perempuan, di atas tepat tidur, semuanya… telanjang!” tulisnya lagi.
Aku menarik napas, firasatku mengatakan bahwa cerita yang akan kudengar akan lebih tragis dari bayanganku semula. Ya, Tuhan, jangan-jangan aku yang tidak cukup siap mendengarnya.
“Aku memang masih sangat kecil waktu itu, belum mengerti tentang hubungan intim yang dilakukan orang-orang dewasa. Tapi… tapi… kenapa sejak melihat foto itu aku seperti memiliki keinginan untuk mengeksplorasi bagian-bagian vital tubuhku? Aku suka berpura-pura memiliki payudara seperti orang dewasa, suka berpura-pura…,” Ia tak melanjutkan kalimatnya. Pasti berat sekali untuk mengungkapkan beban seberat itu.
Sementara aku mulai merasakan keringat memercik di kedua telapak tanganku, pertanda ketegangan kian menyesak di dadaku. Sungguh, aku takut mendengar kelanjutannya.
“Kamu tahu, Ya, aku sudah mengenal onani di kelas tiga SD,” tulisnya mengejutkan.
“Astaghfirullah…!” Aku spontan sesak napas.
“Mungkin itu adalah akumulasi dari berbagai eksplorasi fisik yang kulakukan, dan semuanya bermula dari selembar foto yang dulu kutemukan di ventilasi jendela itu,” lanjutnya lagi.
Tiba-tiba aku ingin menanyakan, apa yang ia rasakan saat melakukan itu semua sementara usianya masih sangat belia untuk mengenal birahi. Tapi telapak tanganku yang bergetar dan mengembun membuatku tak kuasa menuliskan kata-kata. Aku yakin, dia pasti sedang berusaha menahan sesak di dadanya sendiri.
“Aku hanya mengikuti instingku. Mungkin seperti hewan, karena aku belum memiliki pikiran apa-apa tentang sex dan segala hal yang bisa merangsangnya. Yang kutahu, tiap kali muncul keinginan untuk beronani, maka aku akan melakukannya, entah itu saat belajar di kelas atau saat mengaji di rumah ustad. Pikiran kanak-kanakku tidak mengerti bahwa itu adalah sebuah penyimpangan,” ulasnya lagi, kali ini disertai icon
“Semakin bertambah usiaku, semakin mengertilah aku bahwa sesungguhnya ada yang tidak beres dalam diriku. Aku seperti orang gila yang memperkosa diri sendiri, dan ini tak kalah menyiksa dibanding pemerkosaan yang dilakukan oleh orang lain. Karena dalam kasusku, aku harus melawan diriku sendiri, dan itu tidak ringan!”
Kepalaku menggeleng prihatin tanpa mengalihkan mataku dari layar monitor.
“Sungguh berat menghentikannya! Hingga aku duduk di perguruan tinggi pun aku masih sering kalah oleh nafsu setan itu, dan kembali melakukannya. Berulangkali! Aku sudah sangat muak, tapi aku juga sangat lemah karena dorongan itu begitu kuat. Sangat kuat!” lanjutnya.
Ah, tentu saja sangat sulit menghentikan kebiasaan yang sudah begitu lama dilakukan, apalagi masa kanak-kanak adalah awal tertanamnya sebuah kebiasaan. Sudah sangat sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan, sebab apa yang dilakukan sahabatku itu juga mengandung unsur rasa nikmat, sekalipun kenikmatan semu. Pada saat ia sadar kalau dirinya juga menikmati rasa yang semu itu, pastilah penyesalan akan muncul berlipat-lipat. Seakan-akan ia yang menginginkan hal itu padahal dorongan birahi lah sesungguhnya yang berperan. Birahi yang terpupuk sejak kecil, tanpa ia sadari.
“Aku benci pada ayahku!” getasnya tiba-tiba. “Dialah penyebab semua ini! Dialah pemilik foto cabul itu!”
“Kamu tau dari mana?” tanyaku setelah sekian lama membiarkan dia bercerita tanpa kusela.
“Aku mendengar ayah dan ibuku bertengkar di suatu malam. Lalu keesokan harinya kulihat ibuku membuang foto itu di tempat sampah. Sudah tidak utuh, karena ibu telah merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil. Aku mengintip, lalu diam-diam mengumpulkan serpihan itu, mencoba menyusunnya kembali sambil dalam hati menyayangkan kenapa ibuku merobeknya. Entah apa yang menarik dari foto itu, tapi aku merasakan sebuah dorongan aneh tiap kali memandangnya. Otak kanak-kanakku memang tidak mengerti tapi instingku bekerja dengan cepat untuk menyerap dan menikmati semua itu,” tulisnya panjang lebar, seakan-akan semuanya masih begitu segar dalam memori otaknya.
“Hingga kini, aku selalu dihantui rasa berdosa akibat semua yang telah kulakukan. Aku merasa telah lama ternoda oleh diriku sendiri. Waktu sekolah dulu, aku sering minder di depan teman-teman yang menurutku normal dan bersih.” Sebuah icon
muncul lagi.
“Tapi syukurlah setelah kuliah aku diajak mengikuti pengajian di kampus yang akhirnya membuatku benar-benar kuat meninggalkan semua kebiasaan buruk itu. Sungguh, aku sangat takut jika tiba-tiba aku menyerah dan melakukannya lagi. Untunglah teman-teman di pengajian itu selalu menyemangatiku meski mereka tak tahu masa laluku,” tulisnya melanjutkan. Ah, syukurlah, dadaku mendadak terasa lebih lapang.
Tapi… cerita itu belum selesai.
“Kamu ingin tahu hubungannya dengan perceraianku?” Ia bertanya penuh pancingan, namun aku hanya menunggu penasaran.
“Suamiku suka mengoleksi majalah dan menonton film-film porno. Sesuatu yang sangat tidak aku duga sebelum kami menikah dulu. Dan ketika aku mengetahui hal itu, aku seperti diseret ke dalam sebuah labirin yang panjang sebelum akhirnya terhempas dalam kubangan masa laluku. Aku seperti disodorkan lagi pada sebuah kenyataan yang sangat buruk dan kubenci. Aku seakan dihantui bayangan-bayangan kelam yang menakutkan…,” lanjutnya getir, amat getir kurasa.
Ya, Tuhan, aku menelan ludah membayangkan perasaannya. Kurasakan mataku memanas, tak kuasa menahan iba.
“Aku adalah bukti dan hasil dari sebuah keteledoran orangtua yang suka melihat hal-hal cabul. Dan aku nggak mau anak-anakku mengalami hal yang sama. Jika sebuah foto saja bisa begitu hebat pengaruhnya pada jiwa dan perkembanganku, bagaimana dengan film atau video-video cabul? Pasti akan jauh lebih dahsyat. Bisa-bisa anakku dengan gampang melakukan hubungan intim dengan lawan jenisnya di usia belia. Na’udzubillahi min dzalik!” nada kalimatnya begitu bergelombang, penuh emosi. Sebagai sahabat, tentu aku merasakannya.
Sambil menahan agar air mataku tidak meleleh, kembali kutelan ludah yg menyekat. Berkali-kali aku menghela napas dalam-dalam untuk memberi ruang lebih bagi oksigen yang sejak tadi terasa sempit melewati paru-paruku.
Melintas bayangan dua buah hatiku yang masih balita, hatiku kian terenyuh. Sungguh, jangan sampai mental mereka diracuni oleh pornografi seperti yang dialami sahabatku ini. Mereka adalah amanah Allah yang harus kujaga, bagaimana kelak aku mempertanggungjawabkan mereka dihadapan Allah jika mereka justru rusak oleh kelalaianku sendiri. Oh, no!
Mendadak aku tersadar, inilah cermin bagiku, cermin bagi banyak orang tua, agar mereka berhati-hati menjaga buah hatinya. Jangan sampai akibat perilaku buruk orangtua, anak-anak lah yang jadi korbannya. Begitu pun ketika mendapati anak-anak berperilaku menyimpang, jangan buru-buru memarahi dan menyalahkannya, tapi segeralah bercermin dan lakukan introspeksi diri secara jujur. Orangtua tidak selalu benar, bukan?
“Aku sudah berkali-kali mengingatkan suamiku, mulai dari cara yang paling lembut, sampai cara paling ekstrim yang mampu kulakukan. Tapi dia selalu berkilah dengan sejuta alasan yang kadang sangat menyakitkan bagiku,” lanjutnya lagi dengan nada kecewa yang tak mampu ditutupi.
“Aku bukan orang yang pintar berdalil dengan ayat-ayat, Yaya. Tapi menurutmu, melihat orang berhubungan intim itu dosa, nggak? Jangankan melihat itu, melihat aurat orang lain saja nggak boleh, kan? Jangankan melihat orang berzina, melihat suami istri berhubungan intim saja dilarang, kan?” Kalimat-kalimat penuh tanya yang kurasa tak membutuhkan jawaban dariku.
“Sungguh, kamu kuat bisa melalui semua ini,” tulisku sungguh-sungguh.
“Ya, dan aku merasa sangat kuat ketika membawa anak-anakku pergi, bukan untuk memisahkan dari ayah kandung mereka tapi untuk menjauhkannya dari pengaruh buruk yang mungkin belum mereka sadari. Karena aku ingin rumah tempat anak-anakku tumbuh adalah rumah yang steril dari hal-hal seperti itu, demi melindungi jiwa dan masa depan mereka. Juga demi menghapus ingatanku dari trauma masa lalu.” Kali ini kalimatnya terdengar lebih tegar.
“Mungkin bagi suamiku belum cukup, tapi bagiku sudah cukup. Anak-anakku sudah semakin besar dan semakin mudah menyerap apa-apa yang mereka lihat dan dengar. Apa boleh buat, sebagai seorang ibu aku wajib melindungi anak-anakku. Mereka adalah amanah Allah. Dan aku bertanggung jawab kelak di hadapan Allah atas amanah yang kuterima. Jadi maaf jika akhirnya aku lebih memilih berpisah.” Kalimatnya semakin tegar dan yakin. Syukurlah, aku juga merasa semakin lega. Paru-paruku pun kian lancar dialiri oksigen.
Kami saling terdiam. Sesaat kemudian kami sama-sama melempar senyum di chat room, mewakili hati kami yang saling menguatkan dan mendoakan. Dia, sahabatku tercinta. Seorang sahabat yang kuat dan sangat pandai menyimpan cerita buruk masa lalunya selama puluhan tahun tanpa sempat terbaca sedikit pun olehku. Kini, ia pun menjadi cermin bagiku dalam melangkah. (V)
Posted in curhaTTok! | 2 Comments »
Senin, November 16th, 2009 |
Entah sudah berapa kali para ibu itu datang ke rumah saya, mengucap salam dengan cukup keras, menyalami dan menanyakan kabar saya begitu saya muncul di hadapan mereka, lalu dengan gaya yang masih sangat akrab menanyakan juga kabar anak-anak saya. Mereka adalah tiga orang ibu-ibu dengan usia sekitar 40 tahunan.
Namun yang saya ingat betul adalah saat kedatangan mereka yang terakhir. Saat itu saya tengah bermain dengan kedua anak saya di halaman samping yang kebetulan bersisian langsung dengan jalanan. Jadi siapa pun yang lewat akan bisa melihat kami disana.
“Assalaamualaikum…” Suara salam milik salah satu dari ibu-ibu itu membuat saya menoleh ke halaman depan, tepatnya ke arah pintu pagar. Saya agak menarik napas ketika tahu siapa yang datang, dan terlebih lagi melihat mereka (tanpa basa-basi) langsung membuka pintu pagar padahal salamnya pun belum selesai saya jawab. Biasa, mereka memang selalu menunjukkan sikap akrab yang terlihat agak berlebihan. (lagi…)
Posted in curhaTTok! | 1 Comment »
Rabu, Oktober 7th, 2009 |
Hingga detik ini aku masih terus berpikir, membayangkan, bertanya-tanya pada diri sendiri, seperti apakah gempa yang melanda Sumbar kemarin itu?
Seperti apakah gempa yang meluluhlantakkan Ranah Minangku tercinta?
Yang aku dengar dari berbagai sumber, gempa itu tidak seperti gempa biasa yang rasanya hanya seperti diayun-ayun…
Gempa itu rasanya menyentak-nyentak, menarik-narik, mengguncang dan menghentak dengan dahsyatnya. Yang hendak berjalan maju malah ditarik lagi ke belakang, yang hendak berdiri malah ditarik lagi hingga terduduk… (lagi…)
Posted in curhaTTok! | No Comments »
Jumat, Oktober 2nd, 2009 |
Sejak menjadi seorang ibu, ada satu hal yang sering saya keluhkan. Saya jenuh! Jenuh dengan aktifitas rumahan yang itu-itu saja. Mau jalan-jalan pun repot karena punya anak kecil. Setelah anak kedua lahir, kejenuhan saya seakan bertambah dua kali lipat. Makin lama makin menumpuk dan nyaris mencapai titik kulminasi yang membuat saya uring-uringan.
Saat perempuan lain bisa melenggang ke luar rumah dengan bebas, maka saya tidak demikian. Saya harus membawa anak-anak dengan segala tetek-bengeknya yang merepotkan. Saat perempuan lain bisa aktif di berbagai kegiatan, maka saya tidak demikian. Saya harus puas dengan aktifitas rumahan yang menjenuhkan. Saat perempuan lain bisa bekerja kantoran, berangkat pagi pulang sore, saya justru berkutat dengan urusan dapur, bersih-bersih, sampai mengurusi keperluan anak dan suami yang tak ada habisnya.
Huah! Saya capek! Jenuh! Terkungkung! Kehilangan eksistensi diri! Krisis percaya diri!
Saya ingin jalan-jalan seperti yang lain! Saya rindu kembali menulis seperti dulu! Saya butuh ruang untuk diri saya sendiri! Saya jenuh dan ingin meluahkan segala sesak di dada! Ya, lama-lama kejenuhan ini bisa membunuh kesadaran saya!
Syukurlah di tengah kecamuk batin itu saya dan suami punya ide membeli sebuah modem untuk dipakai di rumah. Mendadak hati saya sumringah. Ya, kenapa saya tidak mencoba mengusir kejenuhan ini dengan berinternet? Bukankah sebelum menikah dulu saya sangat suka menulis blog dan menjajaki milis-milis?
Saya pernah punya pengalaman beberapa tahun silam, saat mem-posting artikel di sebuah website. Belakangan saya baru sadar ternyata tulisan itu begitu banyak di-forward dan di-posting ulang oleh orang lain. Padahal jelas mereka tidak kenal siapa saya. Dari sana saya jadi berpikir, sebuah tulisan yang berkesan bagi orang lain akan menyebar begitu cepat dan luas di internet tanpa peduli siapa penulisnya. Jika demikian, sesungguhnya jalan untuk menebar manfaat di dunia maya ini sangatlah lempang alias praktis dan efektif. Begitupun sebaliknya, saya bisa mengambil banyak manfaat untuk kepentingan saya sebagai individu dan sebagai seorang ibu tentunya.
Saya bisa ngelayap (baca: surfing) kesana-kemari tanpa harus keluar rumah. Saya tetap bisa bersilaturahim dengan teman-teman di chatroom atau jejaring pertemanan tanpa harus menenteng anak-anak dengan segala kerepotannya. Hari-hari saya tentu akan lebih berwarna, tak lagi hanya diisi dengan urusan rumah tangga yang itu-itu saja.
Lalu dengan membuat blog maka saya bisa membuat sebuah ruang pribadi di dunia maya. Dimana saya bisa menuangkan pikiran, perasaan dan pengalaman saya. Dan apa yg saya tulis itu bisa dibaca oleh orang lain di mana pun berada, dan itu sangatlah menyenangkan. Selain bisa saling bersilaturahim, saling bertukar informasi, kita juga bisa saling menasihati. Banyak hal-hal menarik yang bisa jadi inspirasi, banyak pula kisah-kisah menyentuh yang bisa dijadikan pembelajaran diri.
Akhirnya… Bismillah! Saya pun mulai merintis www.noviasyahidah.com sebagai ruang pribadi saya. 
Ternyata setelah mulai keasyikan dengan aktifitas baru ini, begitu banyak yang saya dapatkan. Tak hanya mengusir rasa jenuh tapi juga melecut semangat menulis yang sempat terseok-seok sejak jadi ibu. Saya juga kembali bersemangat menggali bacaan-bacaan yang telah cukup lama saya tinggalkan. Hati dan otak juga jadi lebih terisi dan terasah. Semacam recharge buat saya.
Waktu yang tidak begitu leluasa membuat saya tak banyak mengikuti milis-milis. Hanya milis kepenulisan dan kesehatan. Saya lebih banyak mengunjungi langsung situs-situs yang saya butuhkan. Misalnya saat putra bungsu saya sakit kuping, saya langsung mencari berbagai informasi untuk menghilangkan kekhawatiran dan mencari solusi. Hasil pengumpulan info itu biasanya saya posting di blog dan berharap ada manfaatnya bagi yang membaca.
Di blog itu saya juga membuat link ke alamat web-web yang bagus dan bermanfaat untuk orang banyak. Misalnya web tentang ASI, gizi, panduan mendidik anak, kepenulisan dan sebagainya. Namun manfaat terbesar yang saya rasakan adalah saat bisa bersilaturahmi dan share dengan teman-teman. Ternyata kejenuhan yang saya rasakan selama ini belum ada apa-apanya dibanding apa yang mereka rasakan.
“Kamu beruntung,” kata seorang teman di jendela obrolan Facebook saya. “Punya keluarga, suami dan anak-anak yang lucu. Sementara saya masih sendiri, melarikan kesepian pada kesibukan kerja. Capek lahir batin!”
“Kamu jangan mengeluh, Via, karena kondisimu itu akan membuatmu jauh lebih mandiri dan sigap menangani semua persoalan rumah tangga dibanding aku yang selalu harus dibantu ibu dan seorang baby sitter. Aku gagap jika harus merapikan rumah yang berantakan apalagi jika si kecil rewel,” tulis teman lain di YM.
Seorang teman lama juga berkomentar, “Aku malah ingin kayak dirimu itu. Bisa mengatur kerjaan, karena di rumah kan kita yang jadi bos. Kamu tetap bisa menambah wawasan secara online dan bertemu teman-teman tanpa harus capek-capek keluar, berjibaku dengan berbagai jenis manusia di dalam angkot atau bis. Tetep bisa nulis tanpa harus khawatir anak-anak di bawah asuhan orang lain.”
Ya, mereka senada, mengatakan saya beruntung! Dan sebenarnya saya memang beruntung. Punya suami yang tak meminta (apalagi mengharuskan) istrinya bekerja di luar rumah, karena kami sama-sama berkeyakinan, rizki saya sudah dititipkan Allah padanya. Dan sebagai kepala rumah tangga, dialah yang berkewajiban menjemput rizki itu selagi ia mampu. Suami saya tentu juga merasa tenang bekerja karena tahu anak-anaknya ada di tangan yang tepat, yaitu ibu mereka.
Alhamdulillah juga, sekarang internet di rumah bisa online sepanjang hari hingga di tengah kerepotan mengasuh dua buah hati yang masih balita, saya tetap bisa menyalurkan hobby menulis di blog, bertukar kabar dengan teman-teman serta menggali dan mengumpulkan berbagai info untuk terus mencerdaskan diri serta bekal saya membesarkan buah hati. Dan yang pasti, kejenuhan itu tak perlu sampai membunuh kesadaran saya, apalagi membunuh rasa syukur saya. (V)
Posted in curhaTTok! | No Comments »
Jumat, September 18th, 2009 |

Kepada semua teman, rekan dan juga kawan yang pernah sekali, beberapa kali ataupun yang seringkali mampir ke web ini, saya sebagai tuan rumah mengucapkan Minal Aidin wal Faidzin, mohon dimaafkan segala salah baik yang sengaja ataupun tidak. Taqobbalallohu minna wa minkum…
Posted in curhaTTok! | 2 Comments »
Minggu, Agustus 23rd, 2009 |
Ciputat, dari sebuah rumah mungil yang kutempati kini…
Akhirnya dia benar-benar datang menemuiku setelah bertahun-tahun tak berjumpa. Seorang sahabat yg dulu kukenal seperti aku mengenal diriku sendiri, begitu aku menyebut kedekatan kami. Dia datang ke rumahku pada saat matahari pagi masih terasa hangat di kulit.
“Eh, rumahmu enak ya, mungil tp halamannya lumayan buat nanam-nanam bunga. Eh, ada pohon tebu segala? Gila, kayak di kampung aja!” selorohnya bersahabat. Itulah yg kusuka dari dia, selalu tampak gembira dan akrab.
Kami melanjutkan obrolan di teras depan rumah, duduk di kursi bambu yg menghadap halaman.
“Adem ya disini, anginnya juga seger banget. Aku kok jadi betah ya,” ujarnya sambil tertawa kecil. Aku cuma tersenyum. Dia belum tahu kalau sore hari tempat yg dikatakannya adem ini akan dihantam teriknya matahari.
Waktu bergulir, obrolan pun mengalir.
Mengalir lancar sebelum akhirnya dia berkata dengan tegas, “Aku masih sendiri.” (lagi…)
Posted in curhaTTok! | No Comments »
Senin, Juli 20th, 2009 |
Malam itu saya diliputi ketegangan luar biasa. Begitu sulit memejamkan mata. Bukan cuma karena kondisi saya yang terasa lemah tak berdaya, tapi lebih karena melihat kondisi Dinda. Bagaimana tidak, malam itu saya, suami dan putri saya Dinda sedang sakit. Kata dokter kami semua terkena thypus. Hm, sepertinya kami harus lebih berhati-hati belanja makanan
Malam itu yang membuat saya khawatir adalah kondisi Dinda yg cukup panas. Meski menurut hasil tes di RS kami sama-sama dinyatakan kena thypus tapi cuma Dinda yang benar-benar panas. Saya tidak tega melihatnya mengigau-igau karena demam. Melihat jam di dinding, saya kian gelisah, jam 12 malam. (lagi…)
Posted in curhaTTok! | No Comments »
Sabtu, Juni 20th, 2009 |
Kenapa Diva? Karena ketiga perempuan yang akan saya ceritakan ini memang memiliki kelebihan menonjol di bidang masing-masing. Mereka teman-teman saya, sudah cukup matang secara usia. Dan kini mereka sedang mencari pendamping hidupnya.
Teman yang pertama (C) memiliki kelebihan pada fisiknya. Tak hanya wajahnya yang cantik bak manohara, tapi bodynya juga sliming singset bak model catwalk. Pokoknya sekali mata memandang, rasanya ingin memandang terus. Karena itulah dia layak disebut Diva. (lagi…)
Posted in curhaTTok! | 1 Comment »
Sabtu, Juni 20th, 2009 |
“Terimakasih, Bunda!” Dinda, dengan wajah ceria.
“He-eh…” Saya, sambil lalu.
“Sama-sama dong, jangan cuma he-eh!” Dinda, protes.
“Eh iya, sama-sama, Sayang!” Saya, meralat.
“Thank you, Mami!” Dinda, lagi-lagi dengan cerianya.
“Iya.” Saya, seadanya.
“You are welcome, dong!” Dinda, kembali protes.
“Oh iya, you are welcome!” Saya, tersipu malu.
“Mom, are you okay?” Dinda lagi, sambil mengetuk pintu kamar mandi.
“Iya, ada apa sih ketok-ketok?” Saya, agak sewot.
“Are you okay?” Dinda, dengan nada lebih tegas.
“Iya, emang kenapa sih?” Saya, mulai manyun sendiri. (Paling malas tanya-jawab di kamar mandi)
“Bunda jawabnya yg betul, dong! Iam okay, gitu!” Dinda, terdengar mulai kesal.
“Yes! Iam okay!” Saya, nyaris berteriak. (lagi…)
Posted in curhaTTok! | No Comments »
Kamis, April 16th, 2009 |

MENUJU UPACARA KHIDMAT
Tak ada barisan para punggawa… Tak ada arak-arakan kereta kencana… Tak ada janur dan panji yang berjela-jela… Tak ada tabuhan genderang atau tiupan terompet yang menggema… Tak ada lenggokan gemulai dan senandung merdu para penari dan penyanyi wanita… Sungguh tak ada!
Karena ini adalah upacara khidmat yang digelar oleh kalangan istana, khusus untuk dua mempelai yang akan mewarisi Kerajaan KesejatianJadi…
Jangan berharap bisa melihat deretan tamu yang datang menjura… Jangan berharap melihat hidangan mewah yang melimpah ruah… Jangan berharap!Karena yang akan kau temukan hanyalah taburan bunga Shion di sekeliling halaman istana, yang disemaikan oleh tangan-tangan para dayang yang penuh dzikir
Hanya itu!

KETIKA
Ketika mimpi-mimpi sederhana kami terwujud menjadi kenyataan
Ketika keinginan untuk merawat bunga di taman hati telah coba kami mulai
Maka, saat itulah sujud syukur kami haturkan kepada-Nya, karena hanya Dia yang mampu menegarkan kaki-kaki kecil kami dalam menapaki jalan ini
Dan ketika kami telah saling mengisi hati, maka saat itulah doa restu kami pintakan untuk kesejatian ini
(Dari dua taman hati, lima tahun yg lalu)
Posted in curhaTTok! | No Comments »
Senin, April 13th, 2009 |
Pemilu sudah berlalu, menyisakan banyak ketidakpuasan. Banyak orang yang kecewa karena tidak terdaftar di wilayahnya padahal dia sudah puluhan tahun tinggal di daerah tersebut. Ada pula yang meluapkan ketidak-percayaannya dengan memilih GOLPUT, semacam boikot untuk pemilu. Banyak juga yang bersikap pesimis dan sinis pada sistem pemilu dan demokrasi di negara ini yang katanya produk sekuler.
Yang lebih parah, para caleg yang ikut mempromosikan diri ternyata banyak dari produk instan. Mereka tidak paham politik, tidak paham visi missi partai, tau-tau sudah tercetak di lembar pemilih.
Ada contoh kasus yang sangat kacau, tentang caleg-caleg dengan identitas muslim (berjilbab gitu loh!) tapi terdaftar sebagai caleg partai non muslim.
Alasannya sederhana, “Saya cocok dengan sikap pluralisme partai tersebut. Saya sudah mempelajari semua agama!”
Pluralisme yang mana, jika nyata-nyata ada lambang keagamaan di logo partainya? Lalu kalau dia sudah mempelajari semua agama, apakah itu artinya dia menerima semua agama sebagai keyakinannya? Itukah pluralisme?
Caleg yang satu lagi beralasan, “Saya jadi caleg di partai tersebut karena tidak dipungut biaya untuk modal kampanye, makanya saya bersedia jadi caleg di sana.”
Jika alasannya memang cuma itu apakah masih kurang jelas bahwa dia adalah caleg asal jadi. Sekadar pendongkrak suara atau jalan pintas untuk jadi kaya? Entahlah. Yang pasti caleg tersebut muncul tanpa pemahaman dan visi missi yang jelas. Yang penting jadi anggota DPR!
Sementara partai yang dimaksud tadi, meski dulu mengusung nama agama sebagai azas partainya, kini mengaku sudah berubah haluan menjadi partai yang terbuka untuk siapa saja, pluralisme! Lalu dengan lambang yang tetap sama, partai tersebut mencoba menafsirkan lambang partainya sesuka hati, yang penting terkesan plural lah!
Lalu haruskah kita pertaruhkan masa depan bangsa ini di tangan orang-orang seperti itu? Bukan sentimen keagamaan, tapi sikap yang tidak jelas inilah yang membuat pemilu tambah kacau. Mbok ya jangan plin-plan, jangan merekayasa apalagi memperalat orang lain untuk kepentingan golongan dan pribadi. Ini akan menimbulkan ketegangan dan kesalahpahaman antar masyarakat.
Tapi ada juga yang hebat dari kisah pemilu kali ini. Rumah Sakit Jiwa Pekanbaru, sudah menyiapkan ruang khusus untuk menampung para caleg yang stres dan terganggu mentalnya karena kalah. Kepada keluarga caleg, sejak dini sudah diminta mewaspadai gejala stres pascapemilu. Jika terlihat tanda-tanda stres (seperti susah tidur, gelisah, paranoid, sering keluar keringat dingin, jantung berdebar-debar dan sebagainya) mereka diminta segera berkonsultasi dengan dokter jiwa atau psikolog.
Maklum, bagi caleg yang sudah keluar modal besar (ada yang sampai berhutang, menggadaikan rumah, tanah dsb) ditambah impian muluk untuk duduk di kursi legislatif, plus lupanya menanamkan keimanan dan keikhlasan yang tinggi, maka tentu cukup sudah alasan untuk sakit jiwa.
Istilah kasarnya; sukses berarti kaya, gagal berarati gila.
Waspadalah! (V)
Posted in curhaTTok! | No Comments »
Minggu, April 5th, 2009 |
Saya bukan mau bercerita tentang diri saya, tapi berikut ini adalah catatan seorang teman dan senior saya, penulis produktif bernama Ifa Afianti yang saya copy dari Facebook-nya, tentunya dengan meminta ijin terlebih dahulu. Beliau ini adalah seorang istri, ibu, dan penulis. Baru (baca: Sudah-red) menerbitkan 20 buku karya sendiri dan 18 antologi, serta menulis di beberapa media massa nasional. Senang belajar, bergaul, denger musik, nonton film, creative arts, kopi, teh, dan hujan. Hm… Mbak Ifa ini emang kompit plit, hehe…
Berikut curhatnya…
Mengapa Saya Menulis?
Sering saya menemukan pertanyaan ini. Hampir di tiap acara dimana saya jadi narasumber atau bahkan datang sebagai penggembira doang.
“Mbak, Teh, Jeung, Bu, kenapa menulis?”
Awalnya, I just wondered why. Ada yang salah dengan seseorang yang menulis? Tapi mungkin itu dikaitkan dengan educational background saya yang lulusan FT jurusan Metalurgi pula
. Dari SMA saya sudah masuk jurusan fisika, yang gak ada roman-romannya. Tambahan lagi, nilai bahasa Indonesia saya sejak dulu gak pernah bergeser dari 7-8. Biasa aja. Bukan yang bright.
Tapi kemudian saya menyadari bahwa antara minat dan latar belakang pendidikan bisa jadi adalah 2 hal yg berbeda.
Ya, saya menulis karena HOBI. Belakangan saya membaca, bahwa seseorang yang memilih profesi karena minat dan hobi lebih besar kemungkinannya dia akan sukses. Karena dia bekerja dengan cinta.
Kedua, saya suka belajar. Apa-apa saya masukkan ke dalam otak saya yang kecil dan sangat terbatas ini. Akibatnya otak saya jadi overload. Hang. Error. Dan menjadilah saya seorang yang dodol. Nah, daripada kepala saya meledak, kepenuhan beban, maka menulislah saya. Saya tulis semuuaaaa yang saya tau, yang saya mau, dan yang saya harus tulis!
Ketiga, saya punya kendala dalam berbahasa lisan. Intonasi saya gak jelas, ngomong kumur-kumur, dan cepet banget. Daripada orang pada pusing denger saya ngomong, menulislah saya!
Keempat, saya gak terlalu bisa curhat lisan sama orang. Lucunya lagi, banyak yang suka curhat sama saya. Daripada saya pusing mau curhat kemana, menulislah saya.
Kelima, penulis adalah profesi fleksibel. Dari segi ruang, waktu, dan kesempatan melakukan perbaikan. Jieee… bahasanyaaa
Kelima, jujur, saya menemukan kepuasan dengan portofolio dan financial gain-nya. Puas banget sih ya belum. Tapi saya bersyukur sekali untuk itu.
Keenam, saya senang meneliti. Dan profesi penulis selalu memberi kesempatan saya untuk meneliti banyak hal. Seorang penulis juga seorang peneliti.
Ketujuh (bener gak sih?), saya sangat menyukai proses menggarap sebuah karya kreatif. Dan menulis selalu menghadirkan challenge bagi saya untuk menghayati setiap proses melahirkan karya.
Hehehe, saya ternyata sudah menemukan alasan saya menulis dan menjadikan penulis sebagai profesi. Bagaimana dengan temen-teman?
Begitulah Ifa Afianti dengan sejembreng alasannya. Saya rasa saya gak jauh beda (ehm, ntar kapan-kapan saya juga akan tulis alasan kenapa saya tercemplung ke dunia para penulis ini) dan setuju banget dengan Mbak Ifa. Pertanyaan buat Mbak Ifa, kapan ya kita bisa ketemu lagi? Kok janjian mulu, hehe… (V)
Posted in curhaTTok! | No Comments »
Senin, Maret 30th, 2009 |
Saat perempuan lain bisa melenggang ke luar rumah dengan bebas, maka saya tidak demikian. Saya harus membawa anak-anak dengan segala tetek-bengeknya yang merepotkan. Saat perempuan lain bisa aktif di berbagai kegiatan, maka saya tidak demikian. Saya harus puas dengan aktifitas rumahan yang menjenuhkan. Saat perempuan lain bisa bekerja kantoran, berangkat pagi pulang sore, saya justru berkutat dengan urusan dapur, bersih-bersih, sampai mengurusi keperluan anak dan suami yang tak ada habisnya.
Huah! Saya capek! Jenuh! Terkungkung! Kehilangan eksistensi diri! Krisis percaya diri!
Saya mulai bersungut-sungut sendiri, membiarkan rumah tak tersentuh layaknya kapal pecah. Membiarkan dapur tanpa nyala kompor, itu artinya saya ogah masak!
Biar saja. Biarkan semuanya seperti itu. Saya hanya ingin diam tanpa dipasung oleh aktifitas yang menjemukan itu. Saya tidak sudi dipaksa oleh keadaan. Saya akan mengabaikan setiap suara yang meminta, memerintah, atau merengek sekalipun! Toh saya bukan pembantu, bukan babu yang harus melayani setiap orang di rumah ini, tanpa peduli akan kelelahan saya sendiri. Kenapa semuanya harus saya? Bukankah mengambil makan dan minum serta hal-hal kecil itu bisa mereka lakukan sendiri. Kenapa harus selalu menyuruh, menyuruh dan menyuruh?
Bukankah sebenarnya saya ‘ratu’ dalam rumah ini? Masa ratu diperintah-perintah? Ratu juga perlu bersantai, ke salon, shopping dan sebagainya tanpa dibebani seharian oleh rentetan kewajiban-kewajiban.
“Bunda, ambilin HP Ayah dong!” Tuh, suara suami saya. Cuma mengambil HP, kenapa harus saya?
“Bunda, pakein baju dong!” Itu suara putri saya, Dinda, yang berusia 4 tahun lebih. Padahal biasanya dia bisa bergonta-ganti baju sendiri sampai isi lemarinya berantakan tak karuan. Kenapa sekarang minta dipakein segala?
Belum lagi si kecil Ken yang berusia 9 bulan, setiap tangisannya adalah ‘perintah’ buat saya.
Huah! Lagi-lagi huah! Benar-benar melelahkan! Tapi biarkan saja, saya tidak akan beranjak! Biar suami saya mengambil sendiri HP-nya, biar putri saya tak pakai baju kalau dia tidak mau memakainya sendiri. Biar bungsu saya menangis sepuasnya, toh kata dokter menangis juga bagus untuk paru-parunya. Memangnya saya robot yang nggak kenal lelah? Robot saja bisa terbakar kalau dipaksa kerja terus-menerus.
Tapi suara tangis Ken terdengar kian kencang. Huh, berisik juga. Jangan-jangan dia kesakitan… naluri keibuan saya mulai bekerja. Dan karena naluri itu juga tiba-tiba saya tersentak. Bangun! Oalah, kok saya pake tertidur segala? Mimpi lagi. Ya, ternyata saya tertidur di samping Dinda yang tadi minta dikeloni. Sementara Ken yang tidur di kamar sebelah rupanya sudah terbangun. Suara tangisnya yang kian kencang membuat saya bergegas menemuinya.
O-o! Rupanya anak laki-laki saya itu sudah mandi keringat, kegerahan… Olala! saya baru sadar kalau dia belum mandi sore. Sudah jam lima, euy! Langsung saya siapkan handuk, sabun dan bak mandi mungilnya. Seperti biasa, dia terlihat gembira berendam sambil memukul-mukul air. Keceriaan di bening bola matanya, tawa riangnya… ah!
Saya tertegun menatapnya. Terseret sisa-sisa mimpi tadi…
“Kamu beruntung,” kata seorang teman di jendela obrolan Facebook saya. “Punya keluarga, suami dan anak-anak yang lucu. Sementara saya masih sendiri, melarikan kesepian pada kesibukan kerja. Capek lahir batin!”
Di lain waktu dengan teman yang lain, “Kamu beruntung diberi anak-anak yang sehat, sementara anak saya sakit-sakitan dan mengalami keterbelakangan mental, repot sekali mengasuh ‘bayi’ bertahun-tahun,” tulisnya sedih.
“Meskipun sudah punya rumah sendiri, nggak ngontrak lagi kayak kamu, tapi kurasa kamu lebih bahagia. Rumahku sepi, nggak ada suara anak-anak yang menceriakannya,” tulis teman yang lain lagi dengan nada tak kalah sedih.
“Kamu jangan mengeluh, Via, meski nggak ada orang tua atau pembantu yang meringankan tugasmu. Kamu tuh beruntung lagi, karena kondisimu itu akan membuatmu jauh lebih mandiri dan sigap menangani semua persoalan rumah tangga dibanding aku yang selalu dibantu ibu dan seorang baby sitter. Aku gagap jika harus merapikan rumah yang berantakan apalagi jika si kecil rewel,” tulis teman lain yang tahu kerepotan saya sejak pembantu saya pulkam.
Seorang teman lama juga berkomentar, “Aku malah ngimpiin kayak dirimu itu. Bisa mengatur kerjaan, karena di rumah kan kita yang jadi bos. Kalau bosan bisa ngenet, berhaha-hihi sama teman tanpa harus capek-capek keluar, berjibaku dengan berbagai jenis manusia di dalam angkot atau bis. Tetep bisa nulis tanpa harus khawatir anak-anak dibawah asuhan orang lain.”
Ya, mereka senada, mengatakan saya beruntung! Dan sebenarnya saya memang beruntung. Punya suami yang tak meminta (apalagi mengharuskan) istrinya bekerja di luar rumah, karena kami sama-sama berkeyakinan, rizki saya sudah dititipkan Allah padanya. Dan sebagai kepala rumah tangga, dialah yang berkewajiban menjemput rizki itu.
Alhamdulilah, saya langsung dikaruniai buah hati tanpa perlu menunggu lama, buah hati yang sehat, tidak cacat.
Alhamdulillah, Allah anugerahi saya kepandaian dalam menulis, hingga bisa melakukan kegiatan yang saya senangi itu di rumah.
Alhamdulillah juga, internet di rumah online sepanjang hari hingga di tengah kerepotan mengasuh kedua buah hati yang masih balita, saya tetap bisa menyalurkan hobby menulis di web dan blog, atau sekadar bertukar kabar dengan teman-teman.
Sekali lagi alhamdulillah, meski tak ada orang tua atau pembantu yang mendampingi saya, masih ada pembantu part time yang datang tiap pagi untuk mencuci, menggosok, mengepel, cuci piring dan buang sampah. Hingga tugas saya tinggal memasak dan mengurus anak-anak.
Alhamdulillah lagi, di sela-sela rasa jenuh itu suami saya masih rajin mengajak saya jalan-jalan, bersama anak-anak tentunya. Bahkan tak perlu menunggu week end seperti orang lain, asal ada waktu luang kami pasti jalan-jalan naik motor. Entah itu ke mal, makan bakso, nyari duren, silaturahmi ke rumah teman dan sebagainya. Mau siang, sore, malam, tetap jalan. Maklum, kami semua hobby jalan-jalan.
Saya memang capek, jenuh…
Tapi saya tak perlu bantuan formal, karena masing-masing sudah memiliki aktifitas dan kelelahan yang berbeda, saya sadari itu. Mungkin yang saya butuhkan hanya kalimat-kalimat ringan yang membahagiakan…
“Bunda pasti capek, maaf ya, Ayah gak bisa bantu…” Itu suami saya.
“Bunda lagi masak ya, Dinda bantuin, ya?” Ini tentu suara Dinda.
“Bunda, mau dibeliin apa? Sate? Martabak?” Suami saya lagi, saat hendak keluar rumah.
“Bunda, ayo kita sholat, yuk!” Dinda lagi, siap dengan mukenanya.
“Bunda mau dipanggilin tukang pijat?” Tawaran suami saya, menarik sekali.
“Aku sayang sama Bunda.” Pasti Dinda, sambil mencium pipi saya.
“Ba…ba…ba…” Aha! Itu pasti Ken, sambil tertawa ceria.
Alhamdulillah…
Begitu banyak pujian untuk Allah, yang telah memberi saya begitu banyak anugerah di tengah-tengah kesempatan menuai pahala saat melayani anak-anak dan suami, di tengah-tengah kerepotan yang mendewasakan, dan di tengah-tengah keletihan yang membahagiakan. Andai saya bisa selalu bersyukur, tentu segala keluh-kesah itu tak perlu ada… meskipun hanya dalam mimpi! (V)
Posted in curhaTTok! | No Comments »
Minggu, Maret 15th, 2009 |
Kebiasaan mendongengkan anak sebelum tidur sepertinya tidak mentradisi dalam keluarga saya. Entahlah, mungkin karena itu bukan kebiasaan orang-orang di kampung saya. Jadi dongeng Cinderella dan Putri Salju itu hanya saya dapatkan dari buku-buku cerita saja, bukan dari penuturan orang tua saya. Bagi kami, ketika tiba waktunya tidur, maka kami akan berangkat ke tempat tidur tanpa ada dongeng yang mengantar kami ke alam mimpi.
Tapi saya memiliki kenangan tersendiri tentang dongeng waktu kecil. Dongeng yang selalu saya dengar pada malam hari, meski tidak tiap malam dan bukan pula sebelum tidur. Bukan tentang Cinderella, Putri Salju dan berbagai dongeng indah lainnya. Melainkan tentang cerita hantu!
Ya, cerita hantu itu sangat sering saya simak ketika kecil dari mulut orang tua-tua. Yang paling sering menceritakannya pada saya adalah seorang bibi yang saya panggil Odang. Meski selalu takut mendengarnya, tapi saya pula yang sering meminta beliau bercerita. Dan meskipun ceritanya itu-itu saja, saya seakan tak pernah bosan mendengarnya.
Cerita yang paling saya ingat adalah tentang seorang perempuan yang suka menumbuk pada malam hari. Bunyi lesung yang beradu dengan alu sebenarnya tak begitu berisik jika yang ditumbuk cuma beras atau padi. Tapi orang tersebut selalu mengeluarkan suara berisik jika menumbuk, apalagi ia menumbuk pada malam hari, dimana orang-orang sudah berselimut dalam malam. Apakah yang ditumbuk perempuan itu malam-malam begini? Kenapa suara benda yang ditumbuknya begitu keras seperti suara…
Tulang! Itulah yang sedang ditumbuknya. Ternyata perempuan itu bukanlah manusia. Dia adalah hantu! Hantu yang selalu berkata, “Lalu angin, lalu den…”
Artinya kira-kira begini; jika ada lobang sekecil apapun yang bisa dilewati angin maka ia akan bisa pula melewatinya bersama angin yang bertiup itu. Hiiiyyy… jiwa kanak-kanak saya selalu bergidik membayangkannya. Angin yang bertiup dari ventilasi rumah mendadak terasa lebih dingin dan mistis, hehehe…
Jangan bayangkan kampung saya terang benderang di malam hari seperti di kota. Tidak, kampung saya waktu itu belum kenal PLN. Malam dan keheningannya yang mutlak masih menjadi selimut kegelapan yang mencekam. Kondisi yang sangat membangun bagi cerita yang didongengkan oleh Odang saya tadi.
Ada lagi cerita berkesan, yaitu tentang sekelompok orang yang menggotong mayat di tengah malam. Wih, ceritanya nggak kalah serem dibanding yang tadi. Namun seperti yang saya katakan di atas, meski takut dan tidak berani tidur sendirian, saya tidak bosan meminta beliau mengulang-ulang ceritanya.
Dan bagi saya, itulah dongeng yang sangat saya nikmati ketika kecil. Bukan Cinderella atau Putri Salju, melainkan cerita hantu! (V)
Posted in curhaTTok! | No Comments »
Kamis, Maret 12th, 2009 |
Pernah main jelangkung? Sebenarnya main beginian kan nggak boleh, bisa merusak aqidah lho! Tapi saya punya pengalaman yang mirip dengan jelangkung-jelangkungan ini. Ceritanya begini…
Dulu waktu masih SMA, saya dan beberapa teman kost sering kehilangan barang-barang seperti sisir, aksesoris, minyak goreng, minyak tanah dan sebagainya. Awalnya kami menyangka ada yang minjem tapi lupa mengembalikan. Tapi lama-lama kok jadi heran dan curiga juga. Setiap barang yang hilang nggak pernah balik lagi. Maka yakinlah kami bahwa ada yang sengaja mengambilnya. Tapi siapa? Meski sebagian kecurigaan sudah menemukan muaranya, namun tak ada bukti yang menguatkannya.
Maka seorang teman mengajukan usul untuk membacakan surat Yasin agar si pengutil itu ketahuan. Perdebatan kecil pun terjadi di antara teman-teman saya.
“Tapi kan tetap nggak ada bukti dengan membacakan Yasin.”
“Minimal kan lebih meyakinkan dari pada sekadar menduga-duga.”
“Tapi serem, nggak?”
“Kita kan rame-rame.”
“Dibacainnya siang atau malam?”
“Ya malam lah!”
“Tuh, serem kan kalo malam.”
“Kalo siang kan nggak afdhol!”
“Ntar yang datang arwah manusia, jin atau malaikat?”
“Terserah, yang penting kita dapat petunjuk!”
“Lho, kalau setan aku nggak mau ah!”
“Ya nggak mungkin lah, setan kan takut sama ayat al Quran.”
“Tapi gimana dulu caranya?”
Maka seorang teman yang sudah berpengalaman menunjukkan caranya. Saya sebagai orang awam dalam hal begituan sempat merinding juga.
Maka akhirnya diputuskan malam itu juga kami akan melakukan ‘upacara’ pemanggilan dan meminta petunjuk dengan cara membacakan surat Yasin.
Malam itu, kami berkumpul bersama di kamar saya sebagai tempat pelaksanaannya. Semuanya kira-kira sepuluh orang. Seperti arisan, setiap nama anak kost ditulis dalam selembar kertas kecil. Lalu diambil lah sebuah al Quran yang diikat dengan tali, dan ujung tali tersebut diikatkan pada sebuah kunci. Dua orang anak kost diminta menahan kunci tersebut dengan telunjuk masing-masing hingga al Quran yang terikat pada kunci itu jadi tergantung di bawahnya.
Lalu salah seorang dari kami membacakan surat Yasin di dekat kunci tersebut setelah satu nama diselipkan ke dalam al Quran yang tergantung tadi. Kami memperhatikan dengan seksama, juga deg-degan tentunya. Tak ada reaksi apa-apa padahal sudah hampir satu halaman dibacakan oleh teman saya tadi.
“Ganti dengan nama lain!” perintah teman yang memegang kunci.
Nama lain pun dimasukkan ke dalam al Quran. Dan surat Yasin kembali dibacakan. Lagi-lagi tak ada sesuatu yang terjadi. Saya, meskipun agak takut tapi tetap penasaran. Terlebih ketika nama saya mendapat giliran. Meski yakin saya bukan ‘terdakwa’ namun hati saya tetap kebat-kebit.
Satu persatu nama anak-anak kost dimasukkan secara bergantian. Hingga sampai pada sebuah nama yang kebetulan tidak mau mengikuti acara malam itu dengan alasan yang saya sudah lupa. Surat Yasin kembali dibacakan, dan baru beberapa ayat saja, tiba-tiba al Quran yang tergantung pada kunci tersebut berputar kencang. Hampir saja terjatuh ke lantai, untung teman yang menahan kunci cukup sigap menangkapnya. Saya menahan napas kaget. Duh, horor banget!
“Tuh kan, bener dia!” celetuk salah seorang teman saya yang memang sudah mencurigai si pemilik nama yang menolak hadir dalam acara kami malam itu.
“Eh, ulangi lagi, siapa tau keliru!” pinta teman yang lain.
“Sudah ah!” ujar saya yang merasakan kehadiran makhluk halus di sekeliling kami. Hiyyy… Perasaan orang yang lagi takut kan emang sensitif, hehe…
Pembacaan Yasin diulang untuk nama tersebut, dan hasilnya sama, al Quran berputar kencang. Begitu diganti dengan nama lain, al Quran diam tak bergerak. Nah!
Percaya nggak percaya, itulah yang terjadi malam itu. Itu jugalah pengalaman pertama yang tidak ingin saya ulangi kedua kali, apalagi sejak itu kasus kehilangan di tempat kost saya juga tidak pernah terjadi lagi. Mungkin si pengutil sudah tahu kejadian kejadian malam itu hingga tidak berani lagi melakukan aksinya.
Dan yang lebih penting lagi, kepercayaan akan hal-hal gaib yang tidak ada anjurannya dalam al Quran atau hadis bisa membawa seseorang pada kemusyrikan. Meskipun aktifitas tersebut melibatkan kitab suci atau ayat-ayat illahi. Naudzubullahi min dzalik! (V)
Posted in curhaTTok! | No Comments »
Rabu, Maret 11th, 2009 |
Pemilu makin dekat, kampanye partai mulai melakukan pemanasan. Iklan di TV dan internet kian rame, partai-partai mendadak jadi idealis semua. Jalan-jalan mulai bertaburan foto-foto caleg dan lambang partai. Pemilu benar-benar sebuah pesta kenegaraan.
Mendadak hati kecil saya bergumam, “Berapa ya biaya kampanye dan iklan itu?”
Konon pemegang ranking tertinggi adalah Gerindra dengan dana awal 15 miliar. Pantes, iklannya kenceng banget. Seorang temen yang ikut menangani iklan partai baru ini mengatakan bahwa ia ikut mengerjakan proyek iklan di Sumatra. Wuih! Tidak heran kalau begitu. Bikin iklannya aja antar pulau, gitu loh!
Ini kan baru satu partai, kalau dihitung semua partai yang ikut kampanye, berapa ya biaya keseluruhannya? Ini baru yang mengaku, yang tidak mengakui secara terus-terang tentu juga ada. Dan jumlah dana kampanye ini pasti membuat rakyat Indonesia yang miskin tak sanggup menghitungnya saking besarnya. Lha wong tiap hari yang dihitung cuma angka ribuan, ratusan ribu, dan paling banter sampai jutaan doang. Mana kenal angka miliaran. Berapa jumlah nolnya saja masih mikir-mikir, takut salah hitung
Yah, semoga saja penggelontoran dana yang demikian besar tak hanya menghasilkan pemubaziran dan kesia-siaan, sekadar modal awal untuk mengorupsi jumlah yang lebih besar lagi, yang pada akhirnya berakibat pada pemelaratan yang lebih akut bagi bangsa ini. Ya, semoga tidak. Seperti harapan saya yang sederhana, agar nanti seusai kampanye dan pemilu, jalan-jalan kembali dibersihkan dari foto-foto dan lambang partai yang jelas mengotori dan merusak keindahan. Pesan dari sponsor saya; tolong gunakan bahan daur ulang untuk iklan kampanye demi Indonesia yang lebih hijau!
Meski begitu banyak rasa prihatin di hati, saya masih menimbang-nimbang untuk mengikuti ajakan seorang teman agar saya memilih Golput saja di pemilu nanti. Bukan sok tahu, tapi hati kecil saya nggak rela satu suara milik saya malah disalah gunakan oleh oknum tertentu nantinya. Lagi pula saya masih punya setitik harapan untuk memiliki wakil yang baik di parlemen. Masa semuanya buruk, sih? Siapa tahu orang yang saya coblos nanti, yang saya yakini sebagai orang baik itu, benar-benar bisa dipercaya sebagai wakil rakyat. Itu harapan besar saya. Semoga dia bukan tipe orang yang gelap hati ketika memiliki jabatan dan tidak gelap mata ketika memiliki kekayaan.
Maklum, gaji anggota legislatif itu kan buesar banget. Bayangkan, anggota legislatif dari PKS saja masih menerima gaji puluhan juta perbulan padahal sudah dipotong cukup besar oleh partainya. Bagaimana dengan anggota partai lain yang mungkin tidak melakukan pemotongan gaji seperti di PKS?
Wajar jika saya prihatin, karena kata Nabi, harta itu ibarat air laut, makin diminum makin membuat haus. Makin kaya seseorang, makin rakus ia akan kekayaan.
Tapi sekali lagi, tentu tidak semua orang seperti itu. Ada yang masih punya iman, iman yang bisa mengontrol kerakusan akan harta, serta tetap membuat mereka ingat akan amanah dan kewajiban awal sebagai pejuang nasib rakyat.
Terlepas dari pro-kontra Golput, saya menganggap ini sebagai sebuah pilihan. Dan saya memilih untuk tetap berikhtiar, berharap dan berdoa, karena Allah melarang hamba-Nya berputus asa. Dan saya, Insya Allah, masih belum putus asa, tuh! (V)
Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.
Posted in curhaTTok! | No Comments »
Senin, Maret 9th, 2009 |
Setelah bertahun-tahun kenal internet (lho, kok jadi singkatan nama temen2 saya; Indra, Terry, dan Neti) saya baru nyadar begitu banyak kejutan yang saya temui.
Terutama bertemunya saya dengan teman-teman lama, teman-teman sekampung (maksudnya satu daerah asal, bukan semua orang kampung), teman-teman sekolah yang udah lamaaaa banget nggak ketemu. Benar-benar mendadak jumpa!
Surprise banget, karena ternyata masing-masing sudah banyak berubah, namun tetap akrab diajak ngobrol. Anehnya, mereka pada bingung, kok saya bisa-bisanya jadi penulis? Padahal dulu kayaknya lebih berpotensi jadi model, hahaha… (ups!)
Setelah semakin banyak bertemu orang-orang dari masa lalu, saya mendadak nggak pede. Dunia saya jadi terasa sempit. Saya nggak leluasa lagi berekspresi. Takut jika tiba-tiba ada temen lama yg nyeletuk, “Via, elo dulu kan begini-begini.”
Ah, jika sudah begini, baru terasa beratnya jadi seleb (halah, ini mah geer yg keliwatan!). Hehe gak ding, seingat saya, saya nggak punya jejak silam yang kelam kok. Semuanya masih normal-normal aja, kayak yang lain-lain. Kelamnya paling saat saya keluar rumah dan PLN belum masuk ke desa saya. Dih! Jaka Sembung lewat, gak nyambung gawat, hehe…
Yang penting saya sebenarnya masih bangga kok jika ada yg tahu saya adalah seorang anak yang dilahirkan dan dibesarkan di sebuah desa yang rada-rada terpelosok. Namanya Padang Kandis, di sebuah kecamatan bernama Guguk dalam wilayah kabupaten 50 Kota.
Ya, jika dihitung-hitung, sudah belasan temen lama yg saya jumpai di dunia maya ini. Ada yg lewat milis SMA Dangung-Dangung (nama SMA saya unik, ya?), lewat milis daerah, facebook, multiply, dan ada lagi grup-grup lain yg mempertemukan saya dengan temen-teman lama tadi.
Kadang geli bin surprise juga saat pertama bertemu, soalnya ada yang sudah belasan tahun nggak ketemu, eh mendadak jumpa di milis. Atau ada lagi tetangga sebelah rumah saya di kampung, yang juga teman sejak SD, ketemunya malah di facebook.
Trus ada lagi temen ngebreak alias cuap-cuap di udara yang ketemu di sebuah milis dan dia masih ingat sama saya. Begitu tau siapa saya, dia langsung menyapa, “Ini Amoy yang dulu bla…bla…bla…”
Hehe, saya pun dengan bersemangat menjawab, “Indian Yongky Oscar, ganti!”
Yang lebih seru lagi, saya ketemu ponakan juga, yang masih ABG dan ngefans berat sama saya hihihi… Ini sih bukan kejutan tapi mempersempit dunia saya aja. Masih banyak lagi teman yang saya jumpai di internet (kali ini singkatan dari Indah, Terang dan Netral, apaan coba?) yang terlalu panjang jika saya sebutkan satu persatu.
Intinya, dunia terasa semakin kecil dan sempit namun juga semakin asyik 
Sekarang tinggal menunggu, siapa lagi ya temen lama yang bakal ketemu… (V)
Posted in curhaTTok! | No Comments »
Selasa, Februari 10th, 2009 |
Huaaaaa! Asli, saya gak tau, penyakit saya yang sejati saat ini adalah repot atau malas ya? Kok mau nulis buku sebiji aja susahnya minta ampyun! Beberapa hari yang lalu saya chatting dengan seorang teman, Arlen Ara Guci namanya, mengabarkan kalau cerpen saya sudah selesai. Dia itu kalau chatting sama saya pasti ngobrolnya soal nulis melulu. Ujung-ujungnya selalu nyemangatin saya biar nulis, nulis dan nulis!
Nah, kira-kira dua bulan yang lalu kami juga chatting. Seperti biasa, dia menanyakan apa yang sedang saya tulis saat ini. Dan seperti biasa juga, jawaban saya tak beranjak dari kalimat berikut, “Gak tau nih, cuma nulis blog doang. Lagi males!”
Dia mungkin geleng-geleng kepala di Malaysia sana (soalnya doi kan lagi di Malaysia) membaca jawaban saya, sambil mikir, “Nih orang penulis atau pemalas, sih?” Hehehe… kalau dua-duanya bisa digabung, maka itulah saya.
Akhirnya karena udah kebanyakan alasan, saya pun mengiyakan, “Oke deh, 1 cerpen dalam 1 bulan.”
Sebenarnya kelewatan banget, 1 cerpen doang nulisnya segitu lama. Tapi dari pada enggak sama sekali, hayo? Begitulah janji saya.
Akhirnya setelah dua-tiga minggu berlalu, saya baru ingat dengan janji itu. Tepatnya, ingat bahwa saya harus menepati janji hehe… Maka mulailah malam itu, setelah dua buah hati saya terlelap, saya membawa laptop ke kamar dan mulai sibuk sendiri. Kadang terhenti begitu melihat si kecil menggeliat, mungkin terganggu mendengar suara tuts keyboard.
Singkatnya, saya pun akhirnya menyelesaikan cerpen itu beberapa hari kemudian. Yang penting enggak lewat 1 bulan seperti janji saya. Alhamdulillah. Dan cerpen itu langsung saya kirim ke milis FLP DKI, biar yang lain baca dan tau, inilah cerpen pertama yang saya tulis setelah blank sejak pertengahan 2007. What?! 2007?! Iya, sejak 2007!
Sebenarnya suami saya tercinta juga sering nyemangatin biar saya nulis buku lagi. Dia bahkan juga nyodorin naskah untuk saya edit. Cuma ngedit doang, gak nulis! Tapi toh saya tetap gak bergerak dari titik yang sama.
Oya, ada juga sih yang saya tulis belakangan ini, yaitu kisah sejati kayak di buku La Tahzan for Mothers bareng Mbak Asma itu. Heheh itu pun karena nulisnya gak ribet, cuma nulis curhatan doang.
Puncaknya barusan ini, sesaat setelah Penerbit Mizan nelpon, nanya-nanya kabar dan… ujungnya pastilah soal tulisan saya. Whooo… my God! Saya gak punya stok tulisan apapun! Saya juga gak punya sepotong tulisan yang belum selesai pun! Yang ada adalah halaman kosong!
Padahal sebelum dapat telpon itu saya baru aja nulis di Facebook kalo saya mau nulis sebuah buku yang ceritanya heroik tapi romantik ala Najib Kailani, penulis favorit saya. Ya, baru sebatas niat dan rencana. Duh, apa saya bisa merealisasikannya, ya? Ayo dong, buat yang baca tulisan ini, minta doanya ya…
Dan semoga Allah memudahkan saya… Amin. (V)
Posted in curhaTTok! | 2 Comments »
Kamis, Februari 5th, 2009 |
Jantung saya rasa berhenti berdetak tatkala menyaksikan seorang gadis melompat dari lantai 3 sebuah gedung. Tayangan yang sangat jelas itu membuat saya menjerit tertahan di depan TV. Ini gayanya sesaat sebelum terjun bebas ke bawah.

Ia juga sempat meringis-ringis akibat sakit di pergelangan tangannya yang sudah ia sayat dengan pisau. Benar-benar niat bunuh diri! Akibat sayatan itu kondisinya juga terlihat sudah semakin lemah. Bayangkan perasaan orang-orang yang menyaksikan langsung adegan itu. Saya aja yang nonton di rumah, jadi sangat tegang.
Dan seperti niat semula, akhirnya gadis itu benar-benar terjun seiring tubuhnya yang kian melemah. Saat itulah terdengar jeritan dari semua orang yang menyaksikan kejadian tersebut. Termasuk saya tentunya. Saya sampai menutup muka putri saya yang ikut berdiri di samping saya. Untunglah sebuah tim sudah menyiapkan matras untuk menyambut tubuh gadis itu di bawah.
Alhamdulillah, aksi bunuh diri itu gagal meski aksinya itu tetap menjadi tontonan dahsyat bagi banyak orang. Dan saya yang sangat ngeri dengan ketinggian, jadi terus dibayang-bayangi adegan demi adegan, mulai dari si gadis berdiri di pinggir gedung sampai ia terhempas di atas matras. Luar biasa dan tragis! Acrophobia saya terpantik, ngilu di persendian dan denyutan di kepala kembali terasa hebat. Fiuuuhhh…
Oya sekadar informasi, diduga gadis ini bunuh diri gara-gara uang sejumlah 50 juta yang dimintai pertanggungjawabannya oleh pemilik counter HP tempat ia bekerja di Pasaraya Citra, Jl Letnan Idham Muara Enim. (V)
Posted in curhaTTok! | 2 Comments »