Archive for the ‘curhaTTok!’ Category
Rabu, Maret 3rd, 2010 |
Banyak sekali orang yang saya temui bertanya bagaimana caranya jadi Penulis? Ternyata mereka semua bercita-cita jadi Penulis! Kadang ada yang menggelikan, ketika tiba-tiba ada pesan di chatroom saya, pesan yang to the point, tanpa basa basi apalagi pakai salam, “Mbak, gimana sih caranya jadi Penulis?”
Hehe, dalam hati saya ingin tertawa. Tapi saya mencoba maklum, mungkin dia saking kepinginnya jadi Penulis. Apakah karena sebutan Penulis itu terkesan keren dan pintar ya? Buktinya para artis saja banyak yang ingin disebut Penulis biarpun cuma menerbitkan satu buku, yang penting dia sudah bisa mengaku sebagai Penulis
Bukan apa-apa, saya sendiri sebenarnya belum merasa layak disebut Penulis, hingga seringkali kebingungan harus menjawab apa jika ditanya bagaimana caranya jadi Penulis.
Terus-terang saja, menurut saya Penulis itu bukanlah sebuah gelar yang bisa diraih seperti meraih gelar Dokter . Gelar Dokter bisa didapat dengan menempuh pendidikan di bidang yang bersangkutan. Sementara sekolah untuk jadi Penulis kan tidak ada. Yang ada paling jurusan berbasis kepenulisan seperti Bahasa, Sastra, Jurnalistik dan sejenisnya. Tapi kenyataannya tak semua jebolan sekolah tersebut jadi Penulis dan tak semua Penulis adalah jebolan sekolah tersebut.
Kalaupun ada yang mendirikan sarana pendidikan bagi calon Penulis maka itu tak lebih dari sekadar pelatihan singkat atau bersifat non formal, bahkan sebagian non profit.
Sebenarnya Penulis itu adalah gelar yang cara meraihnya terbalik dibanding gelar Dokter tadi. Kalau Dokter, harus dapat gelar dulu baru bisa praktek, sementara Penulis harus praktek dulu baru dapat gelar. Nah, untuk mendapatkan gelar Penulis itu seseorang memerlukan waktu panjang dalam berproses atau prakteknya. Jika ia punya gelar Penulis Diary, maka harus ada bukti catatan-catatan diary yang ia miliki.
Biasanya orang yang memang suka menulis diary pasti tak hanya memiliki satu diary saja. Begitupun Penulis Buku, Penulis Cerpen, Penulis Artikel dan sebagainya. Masing-masing pastilah memiliki banyak koleksi tulisan karena (sekali lagi) menulis itu adalah proses panjang untuk bisa disebut sebagai Penulis.
Jadi jika seseorang ingin disebut sebagai Penulis, maka lewatilah proses panjang itu terlebih dahulu maka dengan sendirinya gelar Penulis itu akan menempel di dirinya. Tak perlu gembar-gembor, karena waktulah yang akan memutuskan apakah seseorang itu layak disebut Penulis atau tidak.
Yang membingungkan saya lagi, bagaimana dengan orang yang telah menulis cukup banyak cerpen atau artikel, buku dan sebagainya, tapi mendadak berhenti karena suatu alasan? Seperti saya misalnya hehe…
Sejak tahun 2008 saya sama sekali tidak menerbitkan buku apapun. Menulis cerpen hanya sesekali saja. Dua kali ikut menulis kisah sejati di buku keroyokan bareng Mbak Asma Nadia dkk. Meski sempat menang lomba beberapa waktu yang lalu, namun aktifitas menulis saya tak lebih dari sekadar menulis catatan di facebook atau blog pribadi saya ini. Penulis semacam apakah saya? Sudah pantaskan saya disebut Penulis yang sesungguhnya? Rasanya kok belum ya…
Rasanya proses yang harus saya lewati masih panjang, masih berliku, masih belum teruji… untuk disebut sebagai Penulis meski saya sama sekali tak pernah bercita-cita jadi Penulis! Karena itulah ketika ada orang yang bertanya (kesannya berguru) tentang cara jadi Penulis maka saya pun masih sering kebingungan menjawabnya. Mungkin karena proses saya yang masih belum cukup panjang hingga yang bisa saya bagi pun masih sangat sedikit. Dari yang sedikit itupun sebagiannya adalah contekan dari penulis senior.
Makanya saya pesankan, kalau bisa janganlah jadi Penulis itu dijadikan cita-cita. Itu hanyalah sebuah proses yang harus dilewati dengan sabar dan tekun. Jangan malas-malasan seperti saya hehe…
OK, selamat jadi Penulis! (V)
Posted in curhaTTok!, mediAAksara | No Comments »
Sabtu, November 21st, 2009 |
Siang itu, chat room kuaktifkan karena si kecil sudah tidur, jadi aku bisa ngobrol dengan teman-teman yang juga online. Biasanya kalau waktuku tidak begitu leluasa, maka chat room aku buat offline. Dan sebuah sapaan manis tiba-tiba muncul, ditambah sebuah smile icon yang berkedip-kedip. Aha! Sahabat lamaku!
Sambil tersenyum gembira, aku bertanya kabar dan kesibukannya saat ini. Sekadar pertanyaan ringan sebagai pembuka percakapan kami yang kuharap seru setelah lama berpisah. Dulu, kami sering berbagi cerita tentang apa saja sebelum akhirnya ia menikah dan diajak suaminya ke Surabaya. Setelah itu kami nyaris putus komunikasi.
“Aku single parent sekarang, Yaya,” tulisnya sembari menyebut nama kecilku yang lain. Jika kebanyakan temanku memanggilku Via atau Ia, dia selalu menyapaku Yaya.
Aku mengerutkan alis, urung memencet keyboard. Kutatap nama di monitorku dengan perasaan tak menentu. Ah, aku selalu begitu, serba salah ketika ada temanku yang ‘terpaksa’ mengatakan hal tak menyenangkan akibat harus menjawab pertanyaanku.
“Maksudmu…?” tanyaku mengambang.
“Aku yang memutuskan untuk berpisah dari suamiku.”
Aku bersabar, menunggu kelanjutan ceritanya.
“Mungkin satu-satunya yang tidak pernah aku ceritakan sama kamu selama kita bersahabat adalah sisi kelam hidupku, Ya. Dan kini aku akan menceritakannya, karena semua itu sangat berkaitan dengan perceraianku,” tulisnya. Aku merasakan nada getir disana. Ya, kegetiran yang sangat bisa kurasakan karena dia adalah salah satu sahabat terdekatku. Kami sama-sama merasa nyaman saat berdekatan dan merasa rindu saat berjauhan.
Tapi sisi kelam apa yang akan ia ceritakan padaku? Kenapa aku jadi begitu tegang menunggu kelanjutan ceritanya? Ya, Tuhan, semoga tidak seburuk yang kubayangkan.
“Pada saat umurku enam tahun, aku menemukan selembar foto yang terselip di ventilasi jendela rumah, entah siapa yang meletakkannya di situ. Sebuah foto yang mungkin menurut orang-orang dewasa belum berpengaruh apa-apa bagi anak sekecil aku. Tapi itu salah, otakku merekam jelas sebuah adegan intim di foto itu. Seorang laki-laki dengan dua orang perempuan, di atas tepat tidur, semuanya… telanjang!” tulisnya lagi.
Aku menarik napas, firasatku mengatakan bahwa cerita yang akan kudengar akan lebih tragis dari bayanganku semula. Ya, Tuhan, jangan-jangan aku yang tidak cukup siap mendengarnya.
“Aku memang masih sangat kecil waktu itu, belum mengerti tentang hubungan intim yang dilakukan orang-orang dewasa. Tapi… tapi… kenapa sejak melihat foto itu aku seperti memiliki keinginan untuk mengeksplorasi bagian-bagian vital tubuhku? Aku suka berpura-pura memiliki payudara seperti orang dewasa, suka berpura-pura…,” Ia tak melanjutkan kalimatnya. Pasti berat sekali untuk mengungkapkan beban seberat itu.
Sementara aku mulai merasakan keringat memercik di kedua telapak tanganku, pertanda ketegangan kian menyesak di dadaku. Sungguh, aku takut mendengar kelanjutannya.
“Kamu tahu, Ya, aku sudah mengenal onani di kelas tiga SD,” tulisnya mengejutkan.
“Astaghfirullah…!” Aku spontan sesak napas.
“Mungkin itu adalah akumulasi dari berbagai eksplorasi fisik yang kulakukan, dan semuanya bermula dari selembar foto yang dulu kutemukan di ventilasi jendela itu,” lanjutnya lagi.
Tiba-tiba aku ingin menanyakan, apa yang ia rasakan saat melakukan itu semua sementara usianya masih sangat belia untuk mengenal birahi. Tapi telapak tanganku yang bergetar dan mengembun membuatku tak kuasa menuliskan kata-kata. Aku yakin, dia pasti sedang berusaha menahan sesak di dadanya sendiri.
“Aku hanya mengikuti instingku. Mungkin seperti hewan, karena aku belum memiliki pikiran apa-apa tentang sex dan segala hal yang bisa merangsangnya. Yang kutahu, tiap kali muncul keinginan untuk beronani, maka aku akan melakukannya, entah itu saat belajar di kelas atau saat mengaji di rumah ustad. Pikiran kanak-kanakku tidak mengerti bahwa itu adalah sebuah penyimpangan,” ulasnya lagi, kali ini disertai icon
“Semakin bertambah usiaku, semakin mengertilah aku bahwa sesungguhnya ada yang tidak beres dalam diriku. Aku seperti orang gila yang memperkosa diri sendiri, dan ini tak kalah menyiksa dibanding pemerkosaan yang dilakukan oleh orang lain. Karena dalam kasusku, aku harus melawan diriku sendiri, dan itu tidak ringan!”
Kepalaku menggeleng prihatin tanpa mengalihkan mataku dari layar monitor.
“Sungguh berat menghentikannya! Hingga aku duduk di perguruan tinggi pun aku masih sering kalah oleh nafsu setan itu, dan kembali melakukannya. Berulangkali! Aku sudah sangat muak, tapi aku juga sangat lemah karena dorongan itu begitu kuat. Sangat kuat!” lanjutnya.
Ah, tentu saja sangat sulit menghentikan kebiasaan yang sudah begitu lama dilakukan, apalagi masa kanak-kanak adalah awal tertanamnya sebuah kebiasaan. Sudah sangat sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan, sebab apa yang dilakukan sahabatku itu juga mengandung unsur rasa nikmat, sekalipun kenikmatan semu. Pada saat ia sadar kalau dirinya juga menikmati rasa yang semu itu, pastilah penyesalan akan muncul berlipat-lipat. Seakan-akan ia yang menginginkan hal itu padahal dorongan birahi lah sesungguhnya yang berperan. Birahi yang terpupuk sejak kecil, tanpa ia sadari.
“Aku benci pada ayahku!” getasnya tiba-tiba. “Dialah penyebab semua ini! Dialah pemilik foto cabul itu!”
“Kamu tau dari mana?” tanyaku setelah sekian lama membiarkan dia bercerita tanpa kusela.
“Aku mendengar ayah dan ibuku bertengkar di suatu malam. Lalu keesokan harinya kulihat ibuku membuang foto itu di tempat sampah. Sudah tidak utuh, karena ibu telah merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil. Aku mengintip, lalu diam-diam mengumpulkan serpihan itu, mencoba menyusunnya kembali sambil dalam hati menyayangkan kenapa ibuku merobeknya. Entah apa yang menarik dari foto itu, tapi aku merasakan sebuah dorongan aneh tiap kali memandangnya. Otak kanak-kanakku memang tidak mengerti tapi instingku bekerja dengan cepat untuk menyerap dan menikmati semua itu,” tulisnya panjang lebar, seakan-akan semuanya masih begitu segar dalam memori otaknya.
“Hingga kini, aku selalu dihantui rasa berdosa akibat semua yang telah kulakukan. Aku merasa telah lama ternoda oleh diriku sendiri. Waktu sekolah dulu, aku sering minder di depan teman-teman yang menurutku normal dan bersih.” Sebuah icon
muncul lagi.
“Tapi syukurlah setelah kuliah aku diajak mengikuti pengajian di kampus yang akhirnya membuatku benar-benar kuat meninggalkan semua kebiasaan buruk itu. Sungguh, aku sangat takut jika tiba-tiba aku menyerah dan melakukannya lagi. Untunglah teman-teman di pengajian itu selalu menyemangatiku meski mereka tak tahu masa laluku,” tulisnya melanjutkan. Ah, syukurlah, dadaku mendadak terasa lebih lapang.
Tapi… cerita itu belum selesai.
“Kamu ingin tahu hubungannya dengan perceraianku?” Ia bertanya penuh pancingan, namun aku hanya menunggu penasaran.
“Suamiku suka mengoleksi majalah dan menonton film-film porno. Sesuatu yang sangat tidak aku duga sebelum kami menikah dulu. Dan ketika aku mengetahui hal itu, aku seperti diseret ke dalam sebuah labirin yang panjang sebelum akhirnya terhempas dalam kubangan masa laluku. Aku seperti disodorkan lagi pada sebuah kenyataan yang sangat buruk dan kubenci. Aku seakan dihantui bayangan-bayangan kelam yang menakutkan…,” lanjutnya getir, amat getir kurasa.
Ya, Tuhan, aku menelan ludah membayangkan perasaannya. Kurasakan mataku memanas, tak kuasa menahan iba.
“Aku adalah bukti dan hasil dari sebuah keteledoran orangtua yang suka melihat hal-hal cabul. Dan aku nggak mau anak-anakku mengalami hal yang sama. Jika sebuah foto saja bisa begitu hebat pengaruhnya pada jiwa dan perkembanganku, bagaimana dengan film atau video-video cabul? Pasti akan jauh lebih dahsyat. Bisa-bisa anakku dengan gampang melakukan hubungan intim dengan lawan jenisnya di usia belia. Na’udzubillahi min dzalik!” nada kalimatnya begitu bergelombang, penuh emosi. Sebagai sahabat, tentu aku merasakannya.
Sambil menahan agar air mataku tidak meleleh, kembali kutelan ludah yg menyekat. Berkali-kali aku menghela napas dalam-dalam untuk memberi ruang lebih bagi oksigen yang sejak tadi terasa sempit melewati paru-paruku.
Melintas bayangan dua buah hatiku yang masih balita, hatiku kian terenyuh. Sungguh, jangan sampai mental mereka diracuni oleh pornografi seperti yang dialami sahabatku ini. Mereka adalah amanah Allah yang harus kujaga, bagaimana kelak aku mempertanggungjawabkan mereka dihadapan Allah jika mereka justru rusak oleh kelalaianku sendiri. Oh, no!
Mendadak aku tersadar, inilah cermin bagiku, cermin bagi banyak orang tua, agar mereka berhati-hati menjaga buah hatinya. Jangan sampai akibat perilaku buruk orangtua, anak-anak lah yang jadi korbannya. Begitu pun ketika mendapati anak-anak berperilaku menyimpang, jangan buru-buru memarahi dan menyalahkannya, tapi segeralah bercermin dan lakukan introspeksi diri secara jujur. Orangtua tidak selalu benar, bukan?
“Aku sudah berkali-kali mengingatkan suamiku, mulai dari cara yang paling lembut, sampai cara paling ekstrim yang mampu kulakukan. Tapi dia selalu berkilah dengan sejuta alasan yang kadang sangat menyakitkan bagiku,” lanjutnya lagi dengan nada kecewa yang tak mampu ditutupi.
“Aku bukan orang yang pintar berdalil dengan ayat-ayat, Yaya. Tapi menurutmu, melihat orang berhubungan intim itu dosa, nggak? Jangankan melihat itu, melihat aurat orang lain saja nggak boleh, kan? Jangankan melihat orang berzina, melihat suami istri berhubungan intim saja dilarang, kan?” Kalimat-kalimat penuh tanya yang kurasa tak membutuhkan jawaban dariku.
“Sungguh, kamu kuat bisa melalui semua ini,” tulisku sungguh-sungguh.
“Ya, dan aku merasa sangat kuat ketika membawa anak-anakku pergi, bukan untuk memisahkan dari ayah kandung mereka tapi untuk menjauhkannya dari pengaruh buruk yang mungkin belum mereka sadari. Karena aku ingin rumah tempat anak-anakku tumbuh adalah rumah yang steril dari hal-hal seperti itu, demi melindungi jiwa dan masa depan mereka. Juga demi menghapus ingatanku dari trauma masa lalu.” Kali ini kalimatnya terdengar lebih tegar.
“Mungkin bagi suamiku belum cukup, tapi bagiku sudah cukup. Anak-anakku sudah semakin besar dan semakin mudah menyerap apa-apa yang mereka lihat dan dengar. Apa boleh buat, sebagai seorang ibu aku wajib melindungi anak-anakku. Mereka adalah amanah Allah. Dan aku bertanggung jawab kelak di hadapan Allah atas amanah yang kuterima. Jadi maaf jika akhirnya aku lebih memilih berpisah.” Kalimatnya semakin tegar dan yakin. Syukurlah, aku juga merasa semakin lega. Paru-paruku pun kian lancar dialiri oksigen.
Kami saling terdiam. Sesaat kemudian kami sama-sama melempar senyum di chat room, mewakili hati kami yang saling menguatkan dan mendoakan. Dia, sahabatku tercinta. Seorang sahabat yang kuat dan sangat pandai menyimpan cerita buruk masa lalunya selama puluhan tahun tanpa sempat terbaca sedikit pun olehku. Kini, ia pun menjadi cermin bagiku dalam melangkah. (V)
Posted in curhaTTok! | No Comments »
Senin, November 16th, 2009 |
Entah sudah berapa kali para ibu itu datang ke rumah saya, mengucap salam dengan cukup keras, menyalami dan menanyakan kabar saya begitu saya muncul di hadapan mereka, lalu dengan gaya yang masih sangat akrab menanyakan juga kabar anak-anak saya. Mereka adalah tiga orang ibu-ibu dengan usia sekitar 40 tahunan.
Namun yang saya ingat betul adalah saat kedatangan mereka yang terakhir. Saat itu saya tengah bermain dengan kedua anak saya di halaman samping yang kebetulan bersisian langsung dengan jalanan. Jadi siapa pun yang lewat akan bisa melihat kami disana.
“Assalaamualaikum…” Suara salam milik salah satu dari ibu-ibu itu membuat saya menoleh ke halaman depan, tepatnya ke arah pintu pagar. Saya agak menarik napas ketika tahu siapa yang datang, dan terlebih lagi melihat mereka (tanpa basa-basi) langsung membuka pintu pagar padahal salamnya pun belum selesai saya jawab. Biasa, mereka memang selalu menunjukkan sikap akrab yang terlihat agak berlebihan. (lagi…)
Posted in curhaTTok! | 1 Comment »
Rabu, Oktober 7th, 2009 |
Hingga detik ini aku masih terus berpikir, membayangkan, bertanya-tanya pada diri sendiri, seperti apakah gempa yang melanda Sumbar kemarin itu?
Seperti apakah gempa yang meluluhlantakkan Ranah Minangku tercinta?
Yang aku dengar dari berbagai sumber, gempa itu tidak seperti gempa biasa yang rasanya hanya seperti diayun-ayun…
Gempa itu rasanya menyentak-nyentak, menarik-narik, mengguncang dan menghentak dengan dahsyatnya. Yang hendak berjalan maju malah ditarik lagi ke belakang, yang hendak berdiri malah ditarik lagi hingga terduduk… (lagi…)
Posted in curhaTTok! | No Comments »
Jumat, Oktober 2nd, 2009 |
Sejak menjadi seorang ibu, ada satu hal yang sering saya keluhkan. Saya jenuh! Jenuh dengan aktifitas rumahan yang itu-itu saja. Mau jalan-jalan pun repot karena punya anak kecil. Setelah anak kedua lahir, kejenuhan saya seakan bertambah dua kali lipat. Makin lama makin menumpuk dan nyaris mencapai titik kulminasi yang membuat saya uring-uringan.
Saat perempuan lain bisa melenggang ke luar rumah dengan bebas, maka saya tidak demikian. Saya harus membawa anak-anak dengan segala tetek-bengeknya yang merepotkan. Saat perempuan lain bisa aktif di berbagai kegiatan, maka saya tidak demikian. Saya harus puas dengan aktifitas rumahan yang menjenuhkan. Saat perempuan lain bisa bekerja kantoran, berangkat pagi pulang sore, saya justru berkutat dengan urusan dapur, bersih-bersih, sampai mengurusi keperluan anak dan suami yang tak ada habisnya.
Huah! Saya capek! Jenuh! Terkungkung! Kehilangan eksistensi diri! Krisis percaya diri!
Saya ingin jalan-jalan seperti yang lain! Saya rindu kembali menulis seperti dulu! Saya butuh ruang untuk diri saya sendiri! Saya jenuh dan ingin meluahkan segala sesak di dada! Ya, lama-lama kejenuhan ini bisa membunuh kesadaran saya!
Syukurlah di tengah kecamuk batin itu saya dan suami punya ide membeli sebuah modem untuk dipakai di rumah. Mendadak hati saya sumringah. Ya, kenapa saya tidak mencoba mengusir kejenuhan ini dengan berinternet? Bukankah sebelum menikah dulu saya sangat suka menulis blog dan menjajaki milis-milis?
Saya pernah punya pengalaman beberapa tahun silam, saat mem-posting artikel di sebuah website. Belakangan saya baru sadar ternyata tulisan itu begitu banyak di-forward dan di-posting ulang oleh orang lain. Padahal jelas mereka tidak kenal siapa saya. Dari sana saya jadi berpikir, sebuah tulisan yang berkesan bagi orang lain akan menyebar begitu cepat dan luas di internet tanpa peduli siapa penulisnya. Jika demikian, sesungguhnya jalan untuk menebar manfaat di dunia maya ini sangatlah lempang alias praktis dan efektif. Begitupun sebaliknya, saya bisa mengambil banyak manfaat untuk kepentingan saya sebagai individu dan sebagai seorang ibu tentunya.
Saya bisa ngelayap (baca: surfing) kesana-kemari tanpa harus keluar rumah. Saya tetap bisa bersilaturahim dengan teman-teman di chatroom atau jejaring pertemanan tanpa harus menenteng anak-anak dengan segala kerepotannya. Hari-hari saya tentu akan lebih berwarna, tak lagi hanya diisi dengan urusan rumah tangga yang itu-itu saja.
Lalu dengan membuat blog maka saya bisa membuat sebuah ruang pribadi di dunia maya. Dimana saya bisa menuangkan pikiran, perasaan dan pengalaman saya. Dan apa yg saya tulis itu bisa dibaca oleh orang lain di mana pun berada, dan itu sangatlah menyenangkan. Selain bisa saling bersilaturahim, saling bertukar informasi, kita juga bisa saling menasihati. Banyak hal-hal menarik yang bisa jadi inspirasi, banyak pula kisah-kisah menyentuh yang bisa dijadikan pembelajaran diri.
Akhirnya… Bismillah! Saya pun mulai merintis www.noviasyahidah.com sebagai ruang pribadi saya. 
Ternyata setelah mulai keasyikan dengan aktifitas baru ini, begitu banyak yang saya dapatkan. Tak hanya mengusir rasa jenuh tapi juga melecut semangat menulis yang sempat terseok-seok sejak jadi ibu. Saya juga kembali bersemangat menggali bacaan-bacaan yang telah cukup lama saya tinggalkan. Hati dan otak juga jadi lebih terisi dan terasah. Semacam recharge buat saya.
Waktu yang tidak begitu leluasa membuat saya tak banyak mengikuti milis-milis. Hanya milis kepenulisan dan kesehatan. Saya lebih banyak mengunjungi langsung situs-situs yang saya butuhkan. Misalnya saat putra bungsu saya sakit kuping, saya langsung mencari berbagai informasi untuk menghilangkan kekhawatiran dan mencari solusi. Hasil pengumpulan info itu biasanya saya posting di blog dan berharap ada manfaatnya bagi yang membaca.
Di blog itu saya juga membuat link ke alamat web-web yang bagus dan bermanfaat untuk orang banyak. Misalnya web tentang ASI, gizi, panduan mendidik anak, kepenulisan dan sebagainya. Namun manfaat terbesar yang saya rasakan adalah saat bisa bersilaturahmi dan share dengan teman-teman. Ternyata kejenuhan yang saya rasakan selama ini belum ada apa-apanya dibanding apa yang mereka rasakan.
“Kamu beruntung,” kata seorang teman di jendela obrolan Facebook saya. “Punya keluarga, suami dan anak-anak yang lucu. Sementara saya masih sendiri, melarikan kesepian pada kesibukan kerja. Capek lahir batin!”
“Kamu jangan mengeluh, Via, karena kondisimu itu akan membuatmu jauh lebih mandiri dan sigap menangani semua persoalan rumah tangga dibanding aku yang selalu harus dibantu ibu dan seorang baby sitter. Aku gagap jika harus merapikan rumah yang berantakan apalagi jika si kecil rewel,” tulis teman lain di YM.
Seorang teman lama juga berkomentar, “Aku malah ingin kayak dirimu itu. Bisa mengatur kerjaan, karena di rumah kan kita yang jadi bos. Kamu tetap bisa menambah wawasan secara online dan bertemu teman-teman tanpa harus capek-capek keluar, berjibaku dengan berbagai jenis manusia di dalam angkot atau bis. Tetep bisa nulis tanpa harus khawatir anak-anak di bawah asuhan orang lain.”
Ya, mereka senada, mengatakan saya beruntung! Dan sebenarnya saya memang beruntung. Punya suami yang tak meminta (apalagi mengharuskan) istrinya bekerja di luar rumah, karena kami sama-sama berkeyakinan, rizki saya sudah dititipkan Allah padanya. Dan sebagai kepala rumah tangga, dialah yang berkewajiban menjemput rizki itu selagi ia mampu. Suami saya tentu juga merasa tenang bekerja karena tahu anak-anaknya ada di tangan yang tepat, yaitu ibu mereka.
Alhamdulillah juga, sekarang internet di rumah bisa online sepanjang hari hingga di tengah kerepotan mengasuh dua buah hati yang masih balita, saya tetap bisa menyalurkan hobby menulis di blog, bertukar kabar dengan teman-teman serta menggali dan mengumpulkan berbagai info untuk terus mencerdaskan diri serta bekal saya membesarkan buah hati. Dan yang pasti, kejenuhan itu tak perlu sampai membunuh kesadaran saya, apalagi membunuh rasa syukur saya. (V)
Posted in curhaTTok! | No Comments »
Jumat, September 18th, 2009 |

Kepada semua teman, rekan dan juga kawan yang pernah sekali, beberapa kali ataupun yang seringkali mampir ke web ini, saya sebagai tuan rumah mengucapkan Minal Aidin wal Faidzin, mohon dimaafkan segala salah baik yang sengaja ataupun tidak. Taqobbalallohu minna wa minkum…
Posted in curhaTTok! | 2 Comments »
Minggu, Agustus 23rd, 2009 |
Ciputat, dari sebuah rumah mungil yang kutempati kini…
Akhirnya dia benar-benar datang menemuiku setelah bertahun-tahun tak berjumpa. Seorang sahabat yg dulu kukenal seperti aku mengenal diriku sendiri, begitu aku menyebut kedekatan kami. Dia datang ke rumahku pada saat matahari pagi masih terasa hangat di kulit.
“Eh, rumahmu enak ya, mungil tp halamannya lumayan buat nanam-nanam bunga. Eh, ada pohon tebu segala? Gila, kayak di kampung aja!” selorohnya bersahabat. Itulah yg kusuka dari dia, selalu tampak gembira dan akrab.
Kami melanjutkan obrolan di teras depan rumah, duduk di kursi bambu yg menghadap halaman.
“Adem ya disini, anginnya juga seger banget. Aku kok jadi betah ya,” ujarnya sambil tertawa kecil. Aku cuma tersenyum. Dia belum tahu kalau sore hari tempat yg dikatakannya adem ini akan dihantam teriknya matahari.
Waktu bergulir, obrolan pun mengalir.
Mengalir lancar sebelum akhirnya dia berkata dengan tegas, “Aku masih sendiri.” (lagi…)
Posted in curhaTTok! | No Comments »
Senin, Juli 20th, 2009 |
Malam itu saya diliputi ketegangan luar biasa. Begitu sulit memejamkan mata. Bukan cuma karena kondisi saya yang terasa lemah tak berdaya, tapi lebih karena melihat kondisi Dinda. Bagaimana tidak, malam itu saya, suami dan putri saya Dinda sedang sakit. Kata dokter kami semua terkena thypus. Hm, sepertinya kami harus lebih berhati-hati belanja makanan
Malam itu yang membuat saya khawatir adalah kondisi Dinda yg cukup panas. Meski menurut hasil tes di RS kami sama-sama dinyatakan kena thypus tapi cuma Dinda yang benar-benar panas. Saya tidak tega melihatnya mengigau-igau karena demam. Melihat jam di dinding, saya kian gelisah, jam 12 malam. (lagi…)
Posted in curhaTTok! | No Comments »
Sabtu, Juni 20th, 2009 |
Kenapa Diva? Karena ketiga perempuan yang akan saya ceritakan ini memang memiliki kelebihan menonjol di bidang masing-masing. Mereka teman-teman saya, sudah cukup matang secara usia. Dan kini mereka sedang mencari pendamping hidupnya.
Teman yang pertama (C) memiliki kelebihan pada fisiknya. Tak hanya wajahnya yang cantik bak manohara, tapi bodynya juga sliming singset bak model catwalk. Pokoknya sekali mata memandang, rasanya ingin memandang terus. Karena itulah dia layak disebut Diva. (lagi…)
Posted in curhaTTok! | 1 Comment »
Sabtu, Juni 20th, 2009 |
“Terimakasih, Bunda!” Dinda, dengan wajah ceria.
“He-eh…” Saya, sambil lalu.
“Sama-sama dong, jangan cuma he-eh!” Dinda, protes.
“Eh iya, sama-sama, Sayang!” Saya, meralat.
“Thank you, Mami!” Dinda, lagi-lagi dengan cerianya.
“Iya.” Saya, seadanya.
“You are welcome, dong!” Dinda, kembali protes.
“Oh iya, you are welcome!” Saya, tersipu malu.
“Mom, are you okay?” Dinda lagi, sambil mengetuk pintu kamar mandi.
“Iya, ada apa sih ketok-ketok?” Saya, agak sewot.
“Are you okay?” Dinda, dengan nada lebih tegas.
“Iya, emang kenapa sih?” Saya, mulai manyun sendiri. (Paling malas tanya-jawab di kamar mandi)
“Bunda jawabnya yg betul, dong! Iam okay, gitu!” Dinda, terdengar mulai kesal.
“Yes! Iam okay!” Saya, nyaris berteriak. (lagi…)
Posted in curhaTTok! | No Comments »
Kamis, April 16th, 2009 |

MENUJU UPACARA KHIDMAT
Tak ada barisan para punggawa… Tak ada arak-arakan kereta kencana… Tak ada janur dan panji yang berjela-jela… Tak ada tabuhan genderang atau tiupan terompet yang menggema… Tak ada lenggokan gemulai dan senandung merdu para penari dan penyanyi wanita… Sungguh tak ada!
Karena ini adalah upacara khidmat yang digelar oleh kalangan istana, khusus untuk dua mempelai yang akan mewarisi Kerajaan KesejatianJadi…
Jangan berharap bisa melihat deretan tamu yang datang menjura… Jangan berharap melihat hidangan mewah yang melimpah ruah… Jangan berharap!Karena yang akan kau temukan hanyalah taburan bunga Shion di sekeliling halaman istana, yang disemaikan oleh tangan-tangan para dayang yang penuh dzikir
Hanya itu!

KETIKA
Ketika mimpi-mimpi sederhana kami terwujud menjadi kenyataan
Ketika keinginan untuk merawat bunga di taman hati telah coba kami mulai
Maka, saat itulah sujud syukur kami haturkan kepada-Nya, karena hanya Dia yang mampu menegarkan kaki-kaki kecil kami dalam menapaki jalan ini
Dan ketika kami telah saling mengisi hati, maka saat itulah doa restu kami pintakan untuk kesejatian ini
(Dari dua taman hati, lima tahun yg lalu)
Posted in curhaTTok! | No Comments »