Archive for the ‘bijaKKocak’ Category
Sabtu, Maret 21st, 2009 |

Nashruddin dan kue baklava
Seorang tetangga yang melihat Nashruddin baru datang dari bepergian langsung berkata, “Hei, Nashruddin! Tadi ada dua orang yang membawa kue baklava!”
“Biarkan saja, itu bukan urusanku!” jawab Nashruddin acuh.
“Tapi mereka membawanya ke rumahmu!” lanjut tetangganya.
“Biarkan saja, itu bukan urusanmu!” jawan Nashruddin sambil bergegas menuju rumahnya. (V)
Nashruddin dan tamunya
Nashruddin kedatangan tamu yang menginap di rumahnya. Tengah malam sang tamu terbangun dan memanggil Nashuddin, “Tuan, tolong ambilkan aku lilin yang ada di sebelah kanan Anda.”
Nashruddin dengan nada heran menjawab, “Kamu ini aneh! Dalam kegelapan begini bagaimana aku tahu mana yang kanan dan mana yang kiri?” (V)
Nashruddin dan tamunya (2)
Di lain hari Nashruddin kembali dikunjungi seorang tamu yang datang menginap. Setelah makan malam, Nashruddin menemaninya mengobrol sambil menikmati minuman ringan. Ketika malam semakin larut, mereka pun beranjak untuk tidur.
Mungkin karena merasa lapar lagi, saat mereka merebahkan tubuh, tiba-tiba tamu Nashruddin berkata, “Kebiasaan di daerahku adalah makan dulu sebelum tidur.”
Nashruddin menyahut, “Sayang sekali di sini kebiasaan itu tidak berlaku!” (V)
Posted in bijaKKocak | No Comments »
Jumat, Juli 25th, 2008 |
Hakim di desa Nashruddin suka menerima suap. Karena itu ia cepat menjadi kaya dan sangat pelit. Suatu hari ia melewati sebuah sungai dan tergelincir jatuh ke sungai.
Salah seorang penduduk datang menolong. Seraya membungkuk orang tersebut berkata, “Ayo berikan tanganmu, nanti aku tarik ke atas!”
Tapi si Hakim diam saja, tidak mau mengulurkan tangannya.
Nashruddin yang melihat kejadian itu mendekat dan berkata, “Kamu tidak tahu cara menyelamatkannya. Dia adalah pejabat yang tidak biasa dengan kata ‘berikan’ tetapi dia akan cepat tanggap dengan kata ‘terimalah’.”
Nashruddin lalu membungkuk di tepi sungai dan berseru pada si Hakim, “Terimalah tanganku, biar kutarik ke atas!”
Si hakim pun langsung mengulurkan tangannya, menyambut uluran tangan Nashruddin. (V)
Posted in bijaKKocak | No Comments »
Jumat, Juli 25th, 2008 |
Seseorang datang pada Nashruddin dan memintanya untuk menjadi saksi palsu, “Aku akan memberimu uang bila kau mau menjadi saksi bahwa aku telah memberi hutang gandum kepada si Fulan.”
“Baiklah tapi serahkan dulu uangnya,” kata Nashruddin.
Nashruddin pun menghadap hakim yang menyidangkan perkara tersebut, dan hakim itu ternyata sudah disuap pula. Nashruddin pun ditanya tentang kesaksiannya.
“Apakah engkau melihat jelas transaksi itu?” tanya hakim.
“Ya, dengan jelas saya melihat karung-karung berisi terigu itu berpindah tangan,” jawab Nashruddin lantang.
“Tapi ini kasus gandum bukan terigu!” tegur hakim.
“Itu bukan masalah. Selama tuntutan yang diajukan bohong, kesaksiannya palsu dan pengadilannya memihak, apa bedanya gandum dengan terigu?”
Wajah hakim dan penuntut pun merah padam menahan malu. (V)
Posted in bijaKKocak | No Comments »
Kamis, Juli 24th, 2008 |
Seorang filsuf dan moralitas terkenal singgah di kota tempat Nashruddin tinggal. Filsuf itu telah banyak mendengar tentang kebijaksanaan Nashruddin. Dia pun bermaksud untuk mengujinya. Untuk itu dia mengundang Nashruddin makan di sebuah restoran. Setelah memesan makanan mereka pun mulai berdiskusi.
Tak lama kemudian pelayan datang menghidangkan dua ekor ikan bakar. Salah satu ikan itu berukuran sangat besar dibanding ikan lainnya.
Tanpa ragu-ragu Nashruddin mengambil ikan yang besar. Sang filsuf mengerutkan kening tak percaya. Beginikah orang yang terkenal bijaksana?
Kemudian sang filsuf mengatakan bahwa apa yang dilakukan Nashruddin itu adalah suatu hal yang hina dan egois, bertentangan dengan prinsip-prinsip moral, etika dan kebijaksanaan. Nashruddin mendengarkan khotbah sang filsuf yang panjang lebar itu sampai selesai.
“Kalau begitu apa yang seharusnya saya lakukan, Tuan?” tanya Nashruddin.
“Saya, sebagai orang yang bijak, tidak akan mementingkan diri sendiri dan tentu akan mengambil ikan yang lebih kecil untuk diri saya,” jawab sang filsuf.
“Silakan kalau begitu. Berarti tidak ada masalah bukan? Semuanya sudah sesuai dengan yang Tuan katakan. Ini, ambillah ikan kecilnya!” kata Nashruddin sambil menyodorkan ikan yang kecil pada sang filsuf, lalu melanjutkan makannya dengan tenang. (V)
Posted in bijaKKocak | 1 Comment »