Pro-Kontra Boikot Israel
Mau tahu sebagian komentar bernada kontra soal ini?
“Emangnya dengan memboikot produk perusahaan Israel maka Palestina akan menang?”
“Ngapain sih boikot-boikot segala? Apa untungnya buat kita?”
“Kalau kita boikot produk perusahaan Israel yang bejibun jumlahnya itu, lalu ribuan karyawan yang bekerja di sana mau diapain? Bisa membludak pengangguran!”
“Memangnya ada pengaruh bagi Israel jika Indonesia memboikot? Toh perusahaan mereka nggak cuma di negeri ini. Iya kalau negara-negara lain ikut memboikot, kalau tidak?”
“Aduh kurang kerjaan banget! Dari pada mikirin boikot-boikotan, mending pikirin tuh orang-orang Indonesia yang masih menderita, kelaparan, kebanjiran dan sebagainya.”
Kira-kira demikian sebagian cuplikan komentar anak bangsa yang memang punya hak untuk berpendapat. Kita hargai. Selanjutnya mau tahu kenapa seruan boikot ini bergema dimana-mana? Berikut cuplikan dari berbagai media.
Keganasan Israel dalam memerangi Palestina tidak lepas dari dukungan yang sangat besar oleh berbagai perusahaan. Yang namanya perang (apalagi pakai mesin canggih, roket, bom dsb) ya pastilah memakan biaya sangat besar. Konon untuk biaya perang di Iraq kemaren, Amerika sampai kalang-kabut menutupi dananya. Jadi sudah jelas di setiap perang pasti ada pendonornya. Entah itu dari perusahaan milik pribadi ataupun sumbangan dari perusahaan lain.
Nah, bagi Israel, ada sebuah penghargaan khusus bagi pendonor yang mau mendukung kepentingan mereka. Penghargaan itu bernama Jubilee Award. Perusahaan yang pernah memperoleh penghargaan tertinggi Jubilee Award adalah Coca-cola Company dan Sara Lee. Bahkan Israel sudah menyediakan tanah bagi perusahaan minuman bersoda tersebut (di wilayah Palestina yang sudah mereka rebut) untuk dijadikan pabrik Coca-cola.
Mengutip dakwatuna.com, menyebutkan bahwa Cafe Starbucks telah menyumbang ke Israel setiap tahunnya dua milyar dollar AS dari keuntungannya. Sedangkan pabrik rokok Marlboro menyumbang 12 % keuntungannya ke Israel setiap tahunnya. Inilah dukungan nyata perusahaan-perusahaan Amerika kepada Zionis Israel, yang dengannya Israel membantai warga Palestina.
So, ini cuma contoh produk yang paling beken. Jadi, dengan alasan pendanaan inilah makanya seruan boikot itu muncul. Ini pun hak setiap orang, hingga juga patut dihargai.
Trus, pengaruhnya apa sih bagi Indonesia? Apa untungnya? Yup! Dalam kamus dagang, untung rugi memang sangat penting diperhitungkan. Berikut pendapat yang lain.
“Bagi mereka yang berdagang atas nama Allah, tentu keuntungan pahala yang mereka harapkan. Gimana gak berpahala, lha wong yang dibantu sesama Muslim. Membantu yang non Muslim aja berpahala kok. Kan ada hadis yang mengatakan bahwa ummat Islam itu ibarat satu tubuh, jika satu anggota sakit maka anggota yang lain ikut merasakannya. Jelas, kan?”
Nah buat yang hitung-hitungannya bukan berdasarkan pahala, maka berikut alasannya, “Membantu Palestina merupakan bentuk solidaritas sebagai sesama manusia dan sesama warga dunia. Misalkan tragedi ini terjadi di Negara kita, lalu Negara-negara lain cuek saja, tentu ini akan sangat menyedihkan dan mengecewakan kita, kan? Makanya kita harus menunjukkan solidaritas kita biar kalau kelak kita mengalami hal yang sama, negara lain juga memberikan solidaritasnya.”
Pendapat selanjutnya, “Terlepas ini masalah agama atau pun masalah kemanusiaan, sesungguhnya yang dilakukan Israel itu adalah sebuah kebiadaban! Pelanggaran HAM berat dan juga hukum internasional. Sebuah imperialisme alias penjajahan yang sangat dipaksakan. Tak memandang anak-anak atau perempuan, tak peduli militer atau sipil, tak membedakan gudang senjata atau gudang makanan dan obat-obatan, semuanya dihancurkan. Yang penting missi Zionis untuk mendirikan Negara Israel bisa terwujud.”
Ya, itulah pendapat anak bangsa ini, yang semuanya patut dihargai. Lalu jika memang harus diboikot, apa mungkin? Dilematis memang, dengan begitu banyaknya produk perusahaan pendonor pro Israel yang kita gunakan sehari-hari. Gaya hidup hedonis membuat kita terbiasa untuk berkunjung ke restoran siap saji milik pendonor. Terbiasa mengikuti segala model handphone rakitan pendonor, terbiasa menggunakan odol, sabun, shampoo sampai software buatan perusahaan pendonor Israel.
Bagaimana tidak, sejak puluhan tahun yang lalu semua produk itu sudah ada dan menjadi konsumsi kita yang nota bene masih belum bisa menghasilkan sendiri barang-barang tersebut. Apalagi jika rendah pula kepercayaan terhadap produk dalam negeri dan kurangnya kesabaran untuk mendapatkan barang yang cukup ‘aman’ sebagai pemenuh kebutuhan kita sehari-hari, maka meninggalkan produk perusahaan pendonor ini akan semakin mustahil dilakukan.
Lalu bagaimana dong solusinya? Kita simak saja pendapat anak bangsa yang lain.
“Kita boikot aja semampu kita. Mengalihkan kunjungan dari Pizza Hut ke Rumah Makan Wong Solo misalnya. Yang sekadar demi gengsi coba ditinggalkan, ambil yang memang jadi kebutuhan. Kalau memang punya keinginan dan sedikit usaha, bisa aja kok!”
“Lakukan aja sesuai hati nurani masing-masing, sebab kalau dipaksakan malah jadi pro-kontra yang tak ada habisnya. Karena setiap orang kan memiliki tingkat pemahaman dan cara pandang yang berbeda. Yang mau boikot monggo, yang tidak mau no problemo!”
“Boikot terhadap produk pro Israel pasti akan berdampak pada perekonomian Israel. Hanya saja ini harus dilakukan secara bersama di seluruh dunia, terutama Negara-negara Timur Tengah yang merupakan sentral minyak dunia. Bisa apa Amerika dan Israel jika minyak diblokir ke Negara mereka. Sebulan aja pemblokiran itu dilakukan pasti sudah kalang-kabut.”
Fiuuuh…begitu banyak dan beragam pendapat orang tentang boikot-memboikot ini. Semuanya kita hargai. Yang sulit dihargai adalah orang yang tidak punya pendapat sama sekali alias cuma memikirkan dirinya sendiri, Palestina mau hilang dari muka bumi ini kek, dia tetap EGP. Yang penting dia tetap bisa makan enak, shooping, jalan-jalan, melakukan hobby dan kesenangannya, tanpa terganggu oleh segala macam isu di luar sana. Pokoknya happy dewe! (Uh, yang begini mending ke laut aja deh!)
Jadi sekarang tinggal mengembalikan persoalan ini ke diri kita masing-masing. Yang penting jangan sampai kita saling menghujat karena perbedaan pendapat, karena itu jauh lebih tidak menyelesaikan masalah melainkan justru menimbulkan masalah baru saja. Jadi tetap hangatkan hati dan dinginkan kepala! Oke
(V)








2 Responses to “Pro-Kontra Boikot Israel”
By hasan on Jan 13, 2010 | Reply
FANTASTIS……. andai separuh dari pemuda pemudi Islam memiliki pemikiran seperti ukh. Novia, saya yakin akan datang kebangkitan Islam. Lalu sudahkah anda sendiri memboikot Israel dan sekutunya untk masuk ke rumah anda..???
saya mengundang anda yang pduli ekonomi ummat, mari kita berjihad ekonomi melalui perusahaan Muslim yg menerapkan sistem dan etika Islami. Anda tertantang….??? saya tunggu balasan anda. syukron. Jazakillah
By Via on Jan 14, 2010 | Reply
saya mencoba dari yg kecil dan ringan2 dulu pak hasan, karena mampunya baru segitu. memulai dari penggunaan bank syariah, ikut memajukan bisnis islami, dan hal2 semacam itulah. semoga kelak bisa berbuat lebih byk dan lbh besar lagi. Doakan saya ya…