Berlalu Dalam Sunyi
Aku melewati rumah susun itu dengan langkah agak cepat karena hari sudah hampir Magrib. Dan tanpa bisa dicegah, mataku melirik ke arah jendela salah satu rumah susun yang sedang terbuka di lantai dua. Seperti biasa, aku kembali mendapati seraut wajah lelaki yang tengah menatapku dengan sorot matanya yang tajam. Ups! Aku cepat-cepat berpaling dan mempercepat langkahku melewati halaman samping rumah susun tersebut. Tatapan itu… kenapa membuatku gelisah?
Sudah lebih dua bulan aku melewati rumah susun itu jika hendak pergi dan pulang mengaji di hari Sabtu. Berarti jika dihitung-hitung, sudah lebih delapan kali aku melihat sosok itu berdiri di depan jendela rumahnya dan menatapku tak berkedip. Sosok yang tampak agak dekil dengan rambut gondrong sebahu. Rambut yang sedikit ikal dan terlihat kusut seperti jarang disisir.
Kadang, jika aku berjalan bersama teman-temanku yang lain, aku berusaha untuk tidak melihat ke atas. Namun tetap saja firasatku mengatakan bahwa ada seseorang yang tengah menatapku dari lantai dua rumah susun itu. Dan tetap saja kegelisahan itu mengekori perasaanku sampai pulang. Ah, sebenarnya siapa lelaki itu? Apa maunya menatapku sedemikian rupa? Aku benar-benar tak mengerti.
@@@
Ini adalah Sabtu kesekian aku melewati rumah susun itu. Namun langkahku agak tertahan ketika mau melewati halaman samping. Dia… lelaki bermata tajam itu ada di sana. Duduk membisu di teras yang berada tepat di sisi jalan yang akan kulalui. Tapi… tunggu! Ada yang berbeda pada penampilannya kali ini. Rambut ikal sebahunya terlihat rapi sore ini, begitupun pakaiannya. Dan kalau mau jujur, sebenarnya dia sangat menarik seandainya saja dia tidak…
Ia terus menatapku dengan sorot mata yang aneh. Sungguh, langkahku jadi kikuk ketika melewatinya. Aku pun cepat memalingkan muka dan mempercepat ayunan langkahku, meninggalkan halaman samping rumah susun tersebut.
@@@
Andai saja ada jalan lain yang tidak terlalu jauh, pasti aku akan menghindari rumah susun itu jika berangkat atau pulang mengaji. Sayangnya, hanya ada satu jalan selain jalan ini, dan itu harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk sampai ke jalan raya yang ada angkotnya. Bahkan kalau dihitung lama perjalanan yang harus ditempuh, bisa memakan waktu tiga kali lipat dibanding dengan jalan ini.
Uh, sungguh aku tidak nyaman tiap kali harus melihat tatapan lelaki itu. Seperti hari ini, aku merasa begitu berdebar ketika semakin dekat dengan rumah susun itu. Dan semakin berdebar ketika kulihat lelaki itu kembali duduk di pinggir teras seperti Sabtu kemarin. Melihat tatapannya dari lantai dua saja sudah membuatku gelisah, apalagi dari teras yang berhadapan langsung dengan jalan yang kulewati ini.
Langkahku yang sudah kusiapkan secepat mungkin untuk melewatinya mendadak terhenti ketika ia dengan tiba-tiba berdiri, menghadang jalanku.
“Sandra…” Ia menyapaku dengan suara nyaris mendesis. Aku tertegun. Sandra? Dia memanggilku Sandra?
“Kau banyak berubah…” ujarnya lagi, masih mendesis. “Tapi kau terlihat semakin cantik dengan kerudung itu. Aku… aku…”
“Haris!” Sebuah suara yang lain memenggal kalimatnya. Seorang perempuan tua datang tergopoh ke arah kami. Pasti ibunya. Wajah mereka mirip satu sama lain.
“Haris, kenapa mengganggu orang lewat, Nak? Ayo kita masuk!” ajak perempuan itu lembut. Aku masih membisu tak mengerti.
“Tapi, Bu… dia istri saya! Sandra itu menantu Ibu! Kenapa Ibu menganggapnya orang lain?” Lelaki bernama Haris itu menoleh ke arahku sambil menepiskan tangan ibunya.
“Haris, dengarkan Ibu! Dia bukan San…”
“Bu, coba Ibu lihat baik-baik. Dia benar-benar Sandra. Istri saya!”
“Haris…”
“Ibu tidak suka dia kembali?”
“Sudahlah, Haris.”
“Bu! Ini kesempatan saya untuk minta maaf padanya, agar dia mau kembali pada saya!”
“Haris…”
“Bu!”
Aku masih terpaku menatap dua orang di depanku itu. Dua orang yang sedang membicarakan diriku tanpa kumengerti apa maksud mereka.
“Nak, pergilah! Maaf jika anak saya telah menganggu,” ujar perempuan tua itu padaku. Aku hanya bisa mengangguk bingung sambil cepat-cepat berlalu, membawa segumpal keheranan di benakku.
@@@
Dunia memang aneh. Apa yang terjadi kemudian dalam hidupku benar-benar membingungkan. Haris, lelaki di rumah susun itu ternyata sedang mengalami stress berat akibat kehilangan istrinya setahun yang lalu. Dan kini… aku diminta untuk pura-pura jadi Sandra demi menyembuhkan jiwanya.
“Kenapa tidak dibawa ke Rumah Sakit Jiwa saja? Kenapa harus saya?” protesku waktu itu pada Bu Sumi, ibunya lelaki bernama Haris itu.
“Kami tidak punya uang, Nak. Rumah susun ini, adalah pemberian dari seorang dermawan. Jika tidak, mungkin kami sudah tidak punya tempat tinggal lagi. Dulu, waktu masih sehat, Haris lah yang bekerja dan memenuhi semua kebutuhan kami. Tapi sejak istrinya hilang… semuanya berubah.” Perempuan tua itu tertunduk.
“Hilang kenapa?” tanyaku heran.
“Ketika Haris ditugaskan oleh kantornya ke Kalimantan, Sandra diajaknya serta. Suatu hari, ketika istrinya sedang meniti jembatan di sebuah sungai yang cukup deras, jembatan itu roboh dan Sandra hanyut terbawa arus sungai. Sejak saat itu ia tak pernah ditemukan lagi. Haris merasa sangat bersalah karena telah membiarkan istrinya pergi sendirian waktu itu.”
“Lalu rasa bersalah itu kemudian membuatnya jadi…” Aku tak tega melanjutkan kalimatku.
“Ya.” Perempuan itu mengangguk. “Haris sangat mencintai Sandra. Dia begitu terpukul dan merasa telah menyia-nyiakan hidup istrinya.”
Aku terdiam.
“Haris adalah anak saya satu-satunya. Dia tumpuan hidup saya, yang saya harapkan bisa menopang hidup saya di hari tua ini. Tapi… kenyataan telah merampasnya. Karena itulah, ketika melihat perhatiannya pada Nak Nefi, saya merasa punya harapan untuk kesembuhannya kembali,” imbuhnya lagi.
Aku masih terdiam bisu.
“Tidak apa-apa, Mbak Nefi. Hanya pura-pura saja kok. Lagi pula, ini kan cuma sementara, sampai Mas Haris kembali pulih. Sekarang saja sudah sangat bagus dia mau mandi tiap hari, mau merapikan penampilannya. Dan itu karena kehadiran Mbak Nefi,” timpal Bu Atik, tetangga Bu Sumi yang sejak tadi menemani kami ngobrol.
“Saya juga sudah berusaha menjelaskan pada Haris bahwa Nak Nefi ini bukan Sandra. Tapi dia malah mengamuk dan mengurung diri di kamar. Tidak mau disuruh makan, apalagi mandi.” Bu Sumi tampak begitu memelas.
Duh, aku jadi serba salah. Walau bagaimanapun, aku masih punya rasa iba pada sesama. Percuma aku mengaji setiap minggu jika tidak peduli pada nasib orang lain yang sangat membutuhkan aku. Tapi… dengan pura-pura jadi istri seorang lelaki yang tidak waras? Ah, ini sungguh berat bagiku. Sungguh tidak masuk akal!
Namun itulah yang kemudian terjadi. Aku harus menyempatkan diri untuk berhenti sejenak di rumah susun itu, tiap kali pulang dari pengajian. Menyapa Haris dengan raut manis, dan menekan perasaanku sendiri. Perasaan jengkel tiap kali dia ingin berlama-lama duduk di dekatku, rasa kaget tiap kali dia bermaksud menyentuhku, dan rasa bosan tiap kali harus menyimak celotehnya yang kadang tak berujung pangkal itu. Semuanya sangat menyiksaku.
“Kamu kan istriku, kok nggak boleh dipegang sih?” tanyanya suatu hari.
“Mas kan sudah janji, selama setahun ini tidak akan menyentuhku jika ingin mendapatkan maaf dariku,” kataku mengingatkan. Ia mengangguk lemah, ingat akan janjinya di awal-awal aku ‘kembali’ padanya.
“Mas juga janji, tidak akan memaksaku tinggal di sini sampai Mas menamatkan Qur’an ini,” kataku sambil menunjuk al-Qur’an di pangkuannya. Ia kembali mengangguk lugu. Ya, aku juga pernah mengatakan padanya, bahwa ia tak boleh memaksaku tinggal bersamanya di rumah susun itu, sebelum ia menamatkan al-Qur’an dari awal sampai akhir. Dan aku yakin ia tak kan pernah mampu menamatkan al-Qur’an itu selagi jiwanya tidak stabil.
Syarat itu sengaja kukarang agar ia tidak terus-terusan merengek, memintaku tinggal bersamanya.
“Aku janji aku tidak akan menyentuhmu seujung rambut pun! Ayolah, San… kau mau kan tinggal di sini bersamaku? Bagiku yang penting adalah selalu bisa memandangmu setiap hari.” Ia menatapku penuh harap. Jika melihat mimik wajahnya saat itu, orang akan sulit percaya bahwa jiwanya sedang tidak stabil.
Perlahan aku menggeleng. Aku tidak akan pernah bisa mengabulkan permohonan konyolnya itu. Aku masih waras dan sehat jiwa raga. Kenapa aku harus menuruti permintaan orang stress seperti dia? Apa kata dunia, melihat aku tinggal serumah dengan seorang lelaki tanpa ikatan pernikahan? Meskipun jiwanya sedang tidak normal, toh dia tetap seorang lelaki yang jelas-jelas bukan mahramku! Duh, aku jadi pusing. Sampai kapan aku sanggup bertahan?
@@@
“Kamu hebat sekali Nef, bisa-bisanya jadi istri orang gila,” olok Wati, teman akrabku. Wati adalah satu-satunya orang yang tahu ‘status’ baruku itu.
Aku manyun. “Please, Wat…! Jangan menyebutnya gila. Dia tidak gila seperti yang kamu kira. Haris itu cuma stress!” ujarku kurang suka. Dan entah kenapa, meski Haris bisa saja dikelompokkan ke dalam golongan ‘orang gila’ tapi hati kecilku selalu menolak menyebutnya gila. Menurutku, dia tidak separah orang-orang gila di luaran. Dia hanya tampak tertekan dan sulit bersosialisasi. Hah! Aku sendiri malah sulit membuat definisi tentang Haris.
“Iya, Nefi sayang! Tapi bagiku itu sama saja. Yang penting jiwanya nggak stabil. Dan hati-hati lho, Nef, jangan sampai kamu jatuh cinta beneran sama dia. Hehe, soalnya kulihat Haris itu lumayan keren.” Wati cengengesan. Aku makin manyun.
@@@
Ini Sabtu kesekian yang kulalui sebagai ‘istri’ Haris. Entah kenapa kali ini aku merasa malas sekali untuk mampir. Aku tiba-tiba merasa bahwa lelaki itu telah merampas sebagian kebebasanku. Aku pun tidak tahu bagaimana hukum dari kepura-puraanku ini dalam kacamata agama. Sungguh, aku tidak berani bertanya pada guru mengajiku, namun yang kutahu, aku mulai bosan dan muak dengan permainan yang tidak masuk akal ini.
Sekilas aku sempat menangkap punggung Haris dari balik jendela di lantai dua. Aku tertegun sejenak, ragu dengan diriku sendiri. Huh! Tidak ada cerita ragu-ragu! Cepat kuayun langkah melewati rumah susun itu sebelum Haris melihatku. Hari ini aku tidak akan mampir, bahkan mungkin juga untuk selanjutnya. Kalau perlu aku akan melewati jalan lain mulai minggu depan, meskipun aku harus menempuh jarak tiga kali lipat dibanding yang biasanya. Yah, apa boleh buat.
Dan ketika aku telah berada di dalam angkot, rasanya hatiku lega sekali. Aku bisa sampai di rumah lebih sore, tidak harus malam-malam seperti Sabtu sebelumnya. Sebab biasanya aku baru bisa pulang dari rumah susun yang berisik itu setelah shalat Magrib. Bahkan kadang setelah shalat Isya, sebab Haris sering membujukku agar mau mengajarinya membaca al-Qur’an sampai waktu Isya masuk. Dan itu sulit untuk kutolak.
@@@
Aku tengah bersiap-siap hendak berangkat ke pengajian ketika sebuah tekad kupancang kuat-kuat di hati. Aku sudah membulatkan tekad bahwa aku akan melewati jalan lain untuk pulang, meski jaraknya lebih jauh. Ya, mulai Sabtu ini aku akan bebas dari lelaki bernama Haris itu. Aku tidak sanggup lagi berpura-pura jadi istrinya.
Aku juga merasa berdosa atas kepura-puraanku selama ini, seolah-olah aku telah membohonginya. Aku tahu, ini demi kesembuhannya, tapi… aku tetap saja tidak tenang. Sebab aku merasa bahwa aku tak kan mampu menyembuhkannya. Ini pasti keliru. Aku bukan dokter ahli jiwa! Jangan-jangan aku malah hanya akan memperparah kondisinya saja.
Aku juga merasa berdosa melihat tatapan matanya yang penuh cinta itu. Seolah-olah aku telah melanggar rambu-rambu hijab yang selalu kujaga selama ini. Belum lagi kalimat-kalimatnya yang mesra penuh sanjungan, serta perlakuannya yang menurutku hanya boleh ia tujukan pada istrinya yang sah. Ya, menurutku semua itu tidak seharusnya terjadi. Aku tidak mau terlibat semakin jauh. Tapi…
Kriiing… kriiing…
“Hallo.” Aku yang telah siap hendak berangkat langsung menyambar telepon di ruang depan.
“Nef, jangan lupa bawa uang lebih!” Suara Rina, teman mengajiku di seberang telepon.
“Untuk apa?” tanyaku heran.
“Kita mau takziah ke rumah susun bareng-bareng habis pengajian nanti,”
“Takziah ke rumah susun?” ulangku bingung.
“Iya. Salah seorang penghuninya ada yang meninggal. Kecelakaan dua hari yang lalu di jalan raya dekat rumah susun itu,” jelas Rina.
“Oya?” Aku masih merasa linglung. Mendengar kata-kata rumah susun saja rasanya aku sudah trauma sendiri. Jangankan masuk ke sana, melewatinya saja aku sudah tidak sudi. Kalau nanti aku bertemu Haris di sana bagaimana? Kan bisa berabe urusannya! Bisa-bisa tak hanya setahun aku disekap di sana, tapi seumur hidup. Hiii… amit-amit!
“Kita kan tiap minggu lewat sana. Rasanya tidak sopan kalau kita nggak mampir menunjukkan belasungkawa. Apalagi mereka tahu, bahwa kita orang-orang pengajian. Kita harus ke sana, sebagai wujud rasa persaudaraan kita terhadap mereka. Siapa tahu, rumah susun itu bisa jadi ladang dakwah, ya kan?” Nada suara Rina terdengar bijak. “Apalagi… kematian almarhum itu sangat mengenaskan. Kepalanya remuk dihantam bemper angkot yang sedang melaju kencang.”
“Kok bisa begitu?” tanyaku bergidik ngeri.
“Menurut cerita orang-orang di sana, lelaki itu kurang waras. Dia bermaksud mencari seorang wanita yang mirip dengan almarhumah istrinya. Wanita itu telah beberapa minggu ini pura-pura jadi istrinya demi kesembuhan lelaki itu. Setiap minggu wanita itu selalu muncul untuk menghiburnya. Dan entah kenapa, minggu terakhir sebelum kecelakaan itu, wanita tersebut tidak muncul.”
“Apa?” Aku tersentak kaget.
“Bener, Nef. Lelaki itu begitu gelisah dan akhirnya nekat mencari wanita tersebut malam-malam tanpa setahu ibunya,” imbuh Rina lagi.
Aku semakin tegang dalam keterkejutanku. Kurasakan tubuhku agak gemetar ketika menutup telepon kembali. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Berbagai pikiran berkecamuk di otakku. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk tidak pergi ke pengajian hari ini. Aku tidak sanggup.
@@@
Kini, aku kembali melewati rumah susun itu seperti biasa. Memang tak ada lagi rasa was-was karena tatapan seorang lelaki bernama Haris, namun rasa bersalah dan kehilangan kini selalu menghantuiku tiap kali melangkah di halaman samping rumah susun tersebut. Kadang, aku sengaja menoleh ke jendela di lantai dua, berharap seraut wajah polos itu masih ada di sana. Menatapku sambil tersenyum, lalu berkata, “Kau tidak bersalah, Nefi. Kau memang bukan Sandra…”
Namun kalimat itu sama sekali tak pernah aku dengar, meskipun sekedar lewat terbawa desauan angin. Ya, semuanya seakan berlalu dalam sunyi, tersimpan bersama jasad Haris yang telah beku. (NoS)








