Ikatlah ilmu dengan menuliskannya!

Empati itu!

Written on 21 Desember 2008 – 15:47 | by Via |

50rbMe-rewind ingatan ke masa beberapa tahun silam, ada satu kejadian yang akan tetap saya simpan di kepala. Saat di mana saya sedang dalam perjalanan dari Kampung Melayu menuju Cawang. Entah karena buru-buru atau salah perhitungan, saya baru sadar kalau uang kecil tak ada di kantong dan di dompet saya untuk membayar ongkos. Yang ada uang 50 ribuan. Mana ada sih sopir angkot yang mau dibayar dengan uang sebesar itu sementara ongkos yang harus dibayar cuma 1500 rupiah. logam

Mau menukar dengan penumpang yang lain, rasanya tidak mungkin karena cuma ada satu penumpang selain saya, seorang wanita berusia sekitar 30 tahunan. Entah kenapa saya berat untuk menukar uang padanya karena dia tampak acuh dan asyik dengan pikirannya. Saat itu saya duduk di bangku panjang agak ke belakang, sementara wanita itu di bangku pendek dekat pintu.

Wah, saya sudah harus turun, tujuan saya sudah sangat dekat. Sementara uang di tangan membuat saya ragu untuk turun. Tapi bukankah di mana pun saya turun, uang itu tidak akan berubah menjadi uang recehan atau pecahan yang lebih kecil? Tidak, saya harus turun!

Wajah galak dan omelan panjang lebar sopir angkot sudah terngiang duluan di telinga saya. Duh, gimana nih? Padahal saya benar-benar sudah harus turun. Ah, sudahlah! Apapun yang terjadi terima sajalah… pasrah tapi rada ciut juga :-)

Bismillah…

“Pak, kiri, Pak!” seru saya sambil bersiap turun. Angkot pun menepi.

Tapi saya urung turun. Saya hanya menggeser duduk ke arah depan, tepat di bangku belakang sopir, mengulurkan uang 50 ribu itu, seraya berkata, “Pak, maaf. Saya tadi tidak tahu kalau ternyata uang saya tinggal ini, tidak ada uang recehan. Kalau Bapak tidak punya kembalian, saya turunnya nanti saja. Siapa tahu di depan ada loper majalah yang bisa saya beli, sekalian menukarkan uang ini.”

Panjang juga ya kalimat saya saat itu :-) Dan Pak Sopir yang kelihatan galak itu hanya terdiam sambil menatap uang di tangan saya. Saya deg-degan. Siap disemprot.

“Turun saja, Mbak, nanti saya yang bayar,” ujar wanita muda yang duduk di dekat pintu turun tadi tiba-tiba.

Saya melongo, namun secepatnya tersenyum, “Terimakasih banyak ya, Mbak.”

Saya pun turun dengan lega bercampur haru. Duh, wanita yang saya lihat terkesan cuek itu ternyata memiliki empati yang hingga kini terus saya ingat. (V)

  • Share/Bookmark

Related Posts

Put your related posts code here

Post a Comment


Salam

Selamat datang di web pribadi saya! Semoga kita sama-sama mendapat manfaat darinya... More


Status YM

Internet Sehat

lencana


Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Find entries :